Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
restu ayah ibu


__ADS_3

pagi hari disebuah apartmen, gadis itu masih terlelap dalam tidurnya, terlihat nyenyak dengan selimut yang membalut tubuhnya.


dreedd dreedd. ada pesan masuk di handphonnya


beberapa menit kemudian lidya bangun dan mengucek nngucek matanya, melihat jam dinding


huamm sudah siang ternyata. gumamnya


lidya memeriksa hp. dan ada pesan dari sekertaris sam


" nona siap siap, tuan muda akan ajak nona bertemu tuan dan nyonya". pesan sam


"tuan dan nyonya? berarti ayah dan ibu tuan mirza??.." lidya bicara sendiri


"baik sekertaris sam" lidya membalas pesan


masih ditempat tidur, kemudian bergegas ke kamar mandi untuk mandi


 


sementara itu sam sudah melaju mobilnya ke arah rumah tuan muda.


sesampainya dihalaman, sam masuk ke dalam. seperti biasa disambut pak muslih


"selamat pagi tuan, tuan muda sudah menunggu dimeja makan" pak mus menyapa


"oh. iya pak" *tumben tuan mirza sudah siap*. berjalan ke arah tuan mirza.


"hei sam, saya sarapan dulu" mirza


"iya tuan"


"kamu sudah memberitahu lidya?" tanya mirza


"sudah tuan" sahutnya


"bagus kalau begitu, kita berangkat, saya sudah selesai" mirza semangat sekali


"baik tuan" sam


"kakak, kakak mau kemana?" tanya amanda


"kakak akan ajak lidya ke rumah ayah ibu dek." mirza senyum lebar


"oooh namanya lidya ya kak,, hati hati ka" amanda yang masih menyantap sarapannya


"iya dek, habiskan sarapannya lalu berangkat sekolah ya" mirza sambil mengusap kepala adiknya


mereka bergegas untuk menjemput lidya.


diperjalanan, sam mengemudi dengan cepat, karena jarak ke apartmen lumayan jauh


sementara tuan mirza terlihat senyum senyum sendiri sambil melihat ke arah kaca mobil. seperti sedang memikirkan sesuatu


"sam, setelah dari rumah ibu kita antar lidya ke kontrakannya untuk membawa barang barangnya."


"baik tuan"


__ADS_1


setelah mandi lidya berpakaian dan merapihkan rambutnya, berdandan dengan makeup tipis dandanan anak gadis, walaupun tanpa make up sudah terlihat cantik. meskipun begitu lidya tidak pernah nemuji dirinya sendiri, dia tetap rendah hati.



setelah selesai


"aku lapar" lidya memegang perutnya yang sudah keroncongan sedari tadi.



lidya berjalan menuju ruang makan dan disambut pelayan dengan menunduk



"selamat pagi nona" pelayan



"pagi.. saya mau sarapan mbak" lidya



"silahkan nona"



lidya sedang menyantap sarapannya, kemudian pintu terbuka dan ternyata tuan mirza sudah datang



mirza menghampiri lidya


sementara sam menunggu di ruang tengah.




"emm hei,,selamat pagi..aku sedang sarapan, sayang kamu sudah sarapan?" lidya mengunyah makanan



"iya aku sudah.. yang banyak makan nya ya" mirza terus memandangi lidya dengan senyum merekah



"iya" senyum manis


"kenapa liatin aku terus? apa ada yang aneh ya? lidya sambil mengusap ngusap pipinya



"kamu manis sekali" dengan nada sedikit tertawa



lidya malu malu pipinya memerah sembari tersenyum


__ADS_1


setelah selesai sarapan



mereka menuju ke rumah orang tua mirza.


diperjalanan mereka tertawa, mengobrol, bercanda, lidya yang dulu kembali lagi, lidya yang ceria dan asik diajak ngobrol namun tetap rendah hati


sesampainya di halaman, sam membukakan pintu mobil


tapi lidya ragu ragu, ini pertama kalinya dia bertemu orang tua mirza.


bagaimana kalau orangtuanya tidak suka padaku.lidya dalam hati


"silahkan nona" sam


"kamu kenapa?" tanya mirza


"ehh..enggak" lidya menunduk dan tersenyum


"tenang aja, orangtuaku pasti menyukaimu juga" mirza seolah tau isi hati lidya


kemudian mereka turun bergandengan tangan dan didepan pintu orang tua mirza berdiri menyambut kedatangan putranya.


"ayah..ibu" mirza mencium tangan orang tuanya, disusul idya


sam menunduk menghormati


"mirza..ini siapa nak?" ibu bertanya


"ibu kenalkan ini lidya" mirza meraih bahu lidya


"salam kenal om tante" sapa lidya


melihat sedari tadi orang tua mirza tidak berhenti tersenyum merekah melihat putranya menggandeng seorang wanita.


"ooh iya iya nak. mari masuk" ibu mengajak ke dalam meraih tangan lidya. terlihant senyum hangat di bibirnya.


ibu mirza orang yang baik hati, ramah dan penyayang


sesampainya diruangan mereka mengobrol berbincang bincang, kehangatan terasa dikeluarga itu.


mengingat jarang sekali mereka bertemu anaknya


lidya juga tidak canggum disana dia asik mengobrol dengan ibu mirza


setelah beberapa saat. mirza menyatakan apa tujuan sebenarnya ia kemari


"ayah ibu,, aku akan menikah satu minggu lagi" mirza to the poin aja


"nak ibu dan ayah ikut bahagia. ahirnya kamu telah membukakan hati untuk wanita,,hehe"


"ayah juga setuju,, siapapun yang kamu pilih, semoga kamu bahagia nak." ayah mirza menepuk punggung anaknya


"jadii ayah dan ibu merestui?" mirza


"tentu saja" ayah tersenyum lebar


sementara lidya tersipu. senyum bahagia dari raut wajahnya..

__ADS_1


bersambung


 


__ADS_2