Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
mempersiapkan pernikahan


__ADS_3

mereka sudah berada di dalam mobil,


sam siap mengemudi, sementara lidya terus menatap ke arah makam orangtuanya dari balik kaca mobil.


mirza yang berada di samping lidya terlihat haru, memeriksa hp lalu meletakannya lagi.


"lidya..?"


lidya terdiam dalam lamunannya, melihat ke arah pemakaman sampai hilang dari pandangannya.


"dya" mirza menepuk bahu lidya dengan halus


"eh.,iya.. sayang. kenapa?" lidya terperanjat


"kamu baik baik saja kan?" memastikan


"iya aku baik baik saja" lidya meyakinkan


"matamu sembab,, kamu nangis terus dari tadi" mirza mengusap pipi lidya dengan lembut


"sam, kita ke butik"


"baik tuan"


"kenapa kita ke butik?" tanya lidya


"kita kan mau nikah. kamu nanti pilih baju pengantinnya ya"


mirza membelai rambut lidya


"ohh iya"


karena kelelahan, lidya terlihat mengantuk hingga ahirnya tertidur bersandar dibahu mirza.


"sam, bagaimana menurutmu lidya?"


"nona gadis yang baik tuan"


"menurutmu apa dia menyukaiku"


"iya tuan"


"benar sam??"


"benar tuan"


mirza senang dalam hatinya, terlihat senyum senyum tipis dari bibirnya


sam memerhatikan dari kaca spion


"sam"


"iya tuan"


"kapan kamu akan melamar liana?"


deg. hati sam terkejut mendengarnya.


"liana akan menikah tuan"


"haah?? dengan siapa sam?


"dengan laki laki lain"


"tapii bukannya kamu menyukainya, kenapa kamu bisa kecolongan sam?

__ADS_1


itu pasti karena kamu tidak pernah mengajaknya kencan kan?"


karena saya sibuk mengurusmu tuan! tapi tidak apa apa, karena anda lebih penting..sam dalam hati


"iya tuan, tidak apa apa.. masih banyak wanita lain"


"bagus sam"


mereka larut dalam pikirannya masing masing..tidak terasa waktu sudah malam mereka sampai dibutik ternama milik teman mirza, yang juga butik tersebut dibangun dengan bantuan mirza.


mobil terparkir, mirza membangunkan lidya dengan lembut sampai terbangun.


"hmm..maaf aku ketiduran ya" lidya sambil mengucek matanya


"tidak apa, kamu pasti kelelahan kan?. kita sudah sampai di butik"


"silahkan tuan nona" sam membukakan pintu mobil


mereka bergandengan berjalan ke dalam butik tersebut


dari dalam sudah disambut oleh rio pemilik butik tersebut


"haii tuan mirza..apa kabar? haha". rio menyapa sambil menjabat tangan


"wiidiiih siapa nih..cantik banget. kenalin dong" melirik lidya


"ee diem ya.. macem2..dia calon istri gue" tukas mirza


mereka bicara ala sahabat


"oooh calon istri lo..siapa namanya ,? dapet dari mana? bidadari dari langit ya?" celutak rio


lidya menunduk malu


"berisik lo,, namanya lidya.. udah cepat mana busana nya?" mirza


"iya" lidya menunduk hormat


"mari ikut saya nona cantik" goda rio


"heii rio.. inget istri lo lagi hamil, goda goda istri gue, minggir" gusar mirza kesal


"hahaa santai mir.. jadi sensitif gitu yang mau nikah."


" minggir.. jangan deket deket" gusar mirza


" tempatnya disebelah sini tuan mirza, bukan disana" rio menunjuk arah


mirza salah arah.


"hahaha " mereka tertawa.


sementara lidya hanya tersenyum melihat mereka bicara.


sampai di suatu ruangan


"aku mau ke toilet dulu ya" lidya pada mirza


"toiletnya disebelah sana nona cantik" rio yang jawab


"udah gue bilang jangan goda lidya" mirza menendang kecil kaki rio


"haha emang dia cantik kan mirza"


mirza kesal

__ADS_1


"udah sana bawa desain gaun kamu semuanya!!" perintah mirza


"siiap tuan muda,, haha"


mirza menunggu duduk sofa


lidya datang dari toilet


"lidya duduk sini. kita tunggu gaunnya datang" mirza menepuk sofa di sisinya


"ohh.iya"


rio datang membawa gaun pengantin dibantu pegawainya.


"silahkan nona cantik, pilih gaun yang pas untuk anda. ini semua desain terbaru dari kami.." rio menjelaskan


"hee rio" mirza menatap tajam


"ee maaf tuan. saya keceplosan..haha"


rio emang celutak orangnya


lidya mencoba gaun yang ini,yang itu hingga beberapa gaun. dibantu pegawai perempuan dibutik itu. lidya bingung gaunnya bagus semua. hingga ahirnya cocok di salah satu gaun yang cantik berwarna putih dengan riasan bunga yang rapih dan memperlihatkan pada mirza.


mirza lagi lagi terpesona pada sosok lidya yang terlihat anggun dengan gaun pengantinnya..


orang yang berada diruangan itupun terpesona pada lidya sampai tidak berkedip mata mereka


hingga ahirnya mirza tersadar


"heii apa yang kalian lakukan.? tutup mata kalian!!" mirza dengan mimik tidak suka


kemudian mereka menunduk, kecuali rio tidak memperdulikan apa yang dikatakan mirza


"waaww" rio terpesona pada lidya


mirza terlihat kesal lalu melempar rio dengan kotak tissu yang ada di depannya


bugg.. kotak tissu tersebut pas mengenai kepala rio


"aduhh mirza kejam sekali kau" rio mengusap usap kepalanya yang tidak sakit sakit amat


sam membiarkan rio dan tuan mirza, karena itu sudah terbiasa setiap mereka bertemu ada saja keusilan rio


sementara lidya tersenyum, merasa tidak enak.


"aku memilih yang ini yaa.. gaunnya cantik" lidya sambil melirik gaunnya


"siap nona lidya,, itu akan menjadi gaun yang sangat spesial untuk anda" rio dengan pede berkata


"terima kasih" lidya


rio mengacungkan dua jempol


"kamu suka sayang?" tanya mirza


"aku suka sekali, terima kasih"


"iya sayang" mirza tersenyum


"rio jaga gaun itu. awas jangan sampai kotor sedikitpun!."


"baaik tuan muda" rio mengangguk


kemudian lidya ijin mengganti lagi pakaian dan kembali menghampiri mirza. setelah itu mereka pulang dengan raut wajah yang bahagia.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2