Lidya Cinta Matiku

Lidya Cinta Matiku
wanita bercadar


__ADS_3

waktu sudah malam


sam mengemudi mobilnya menyusuri jalan yang tampak lengang menuju ke rumahnya


diperjalanan ia melihat dari kejauhan seorang wanita bercadar sedang mempertahankan tasnya yang direbut oleh seorang laki-laki yang memakai helm


wanita tersebut berhasil melawan dengan membela diri dan mengikat tangan laki-laki itu dengan tasnya dan membelitkan ke leher lelaki tersebut


ditepi jalan ada teman lelaki itu yang membawa motor dan menembakan senjata api ke arah wanita tersebut dorr. dan mengenai tangannya


arrgghh. wanita itu kesakitan namun masih bisa melempar lelaki yang menembaknya dengan helm yang digunakan lelaki yang telah diikatnya


bukkk helm itu mengenai kepala lelaki yang nenembaknya lalu jatuh tersungkur tidak sadarkan diri


sedangkan sam baru sampai didekat wanita bercadar itu dan langsung menelpon polisi


kemudian sam turun dari mobil menghampiri untuk menolongnya


namun wanita itu menghindar


"nona mari biar saya tolong" sam hendak memapahnya


namun wanita itu menolaknya dengan menggelengkan kepala dan merintih kesakitan


tidak lama polisi datang dan langsung memborgol kedua penjambret itu


sam mengambil tas wanita bercadar itu lalu menyimpannya di kursi belakang dan membawa wanita itu ke rumah sakit


"nona biar saya bawa ke rumah sakit, mari masuk ke dalam mobil"


sam membukakan pintu mobil akhirnya wanita itu masuk dengan tertatih-tatih karena tidak tahan dengan lukanya dan darah terus mengalir


sam dan polisi berbincang sebentar lalu sam melaju mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit


sementara polisi membawa penjambret itu ke kantor polisi


diperjalanan sam menelpon pihak rumah sakit untuk siap-siap karena akan kedatangan pasien gawat darurat


sesampainya dirumah sakit wanita itu langsung dibawa ke ruangan UGD untuk dilakukan pembedahan


sam yang mengantar lalu mengambil tas wanita itu untuk mencari identitas wanita tersebut


dan di dalamnya hanya terdapat satu buah foto keluarga,ktp yang bertuliskan nama rahayu 28 tahun beralamatkan kampung xx dengan status menikah, dan beberapa lembar uang


tidak ada nomor keluarga yang bisa dihubungi


sam kemudian memotret foto dan ktp tersebut


"suster tolong berikan pelayanan yang terbaik saya yang akan menjamin semuanya, ini tas wanita itu" sam berbicara pada suster dan menyerahkan tasnya


"baik tuan" suster


"besok saya akan kesini lagi"


"baik tuan, selamat malam" suster


****


keesokan harinya sam mulai kembali menjemput tuan mirza untuk pergi ke kantor


sesampainya di halaman sam menunggu diluar


sementara mirza dan lidya sedang menikmati sarapan


"sayang sekertaris sam sudah sampai kayaknya" lidya


"iya, biarkan dia menunggu sebentar"


mirza


tiba-tiba lidya merasakan sakit di perutnya dan langsung gemetar tubuhnya


"aww" lidya memegang perutnya


"kamu kenapa sayang?" mirza menghentikan makannya

__ADS_1


"hari ini tanggal haidku sayang"


"terus? kamu gapapa?"


"hanya nyeri sedikit..hehe"


"pak muslih tolong panggilkan pelayan untuk belikan pembalut dan obat pereda nyeri haid di apotek ya" lidya pada pak muslih


"baik nona"


pak muslih langsung ke belakang


"perutnya sakit?" mirza kuatir


"ya sakitlah kak, aku aja sampe guling-guling kalo lagi haid" amanda yang jawab


"iyaa gapapa ko udah biasa hehe" lidya meyakinkan


"beneran?" mirza mengusap kepala lidya


lidya tersenyum dan menganggukan kepala


wajahnya mulai pucat menahan sakit


"yaudah,,aku mau berangkat dulu yah"


"iya" lidya mengantar ke depan pintu cium tangan dan mirza mengecup keningnya


"hati-hati sayang" lidya melambaikan tangan


mirza berangkat ke kantor


tidak lama kemudian pelayan datang menyerahkan pesanan lidya


dan bergegas lidya pergi ke kamar untuk memakai pembalut


amanda hari ini libur sekolah


menghabiskan waktu menonton tv di ruang keluarga


menahan sakit diperutnya


hingga ahirnya dia tidak tahan lagi


"aaaaa sakiit" lidya teriak dan terus memegang perutnya


bersimpuh di lantai dan merintih kesakitan sampai menangis


amanda dan pak muslih yang mendengar langsung menghampiri


amanda langsung membuka pintu kamar dan melihat kondisi lidya


"haaaa ya ampun kakak, ayo naik ke tempat tidur amanda bantu" amanda memapahnya


"sakiiiit.."lidya menangis wajahnya pucat dan badannya lemas


pak muslih terlihat panik langsung menelpon dokter untuk segera datang


kemudian ia juga menelpon tuan mirza


"apaa?" mirza mengangkat telpon


"sam kita kembali ke rumah, cepat sam.!!" mirza yang baru sampai di kantor meminta putar balik ke rumah


"baik tuan"


mirza tidak tenang dan kuatir pada lidya


sesampainya digerbang rumah, mobil mirza berpaspasan dengan mobil dokter sarah


mereka masuk langsung menemui lidya


sesampainya di kamar mirza menghampiri


"sayang" mirza panik melihat istrinya pucat dan lemas

__ADS_1


mirza langsung memeluknya


"sakiiit..huuu" lidya menangis


"dokter tolong cepat periksa istri saya"


"baik tuan" dokter sarah


setelah selesai dokter sarah langsung menghela nafas


"bagaimana dokter?" mirza


"ini sudah biasa dialami oleh wanita tuan, namun ada yang sakitnya ringan dan bisa dibawa aktifitas ada juga yang parah seperti nona ini, saya sarankan agar nona tidak kelelahan apalagi terbentur perutnya, menjaga pola makan dan perbanyak minum air putih" dokter sarah menjelaskan


"apa itu normal dokter?"


"iya tuan,hanya wanita hamil, wanita yang belum baligh dan wanita yang sudah lanjut usia yang tidak mengalaminya"


"saya akan memberikan resep obat yang bisa dibeli di apotek dan resep herbal yang bisa dibuat dirumah,,,, ini resepnya" dokter sarah memberikan secarik kertas


mirza menerimanya


dan langsung memberikan pada pak muslih


"pak mus cepat buatkan ramuan


herbalnya"


"baik tuan" pak mus segera ke dapur untuk membuatkan


"dokter amanda boleh meminumnya juga gak kalo lagi haid?" amanda


"tentu nona" dokter tersenyum


"kalau begitu saya pamit dulu, semoga nona cepat sembuh"


"iya terimakasih dokter" mirza


"amanda antar dokter ke depan.!"


"iya kak!"


pak mus datang membawa ramuan herbalnya dan air putih untuk lidya


"tuan ini ramuannya" pak mus meletakan dimeja


"terimakasih pak"


"saya permisi tuan"


"iya"


mirza segera meminumkan ramuan itu pada lidya


"sayang kamu minum ya"


"iya"


"kasihan sekali, sakit ya?" mirza memeluk istrinya


"maaf aku sudah bikin semua kuatir"


lidya


"emm nggak ko, kamu lebih penting" mirza


"gimana perutnya sudah enakan?"


"iya sedikit"


"yaudah aku temenin kamu disini ya"


lidya terus memeluk suaminya diatas tempat tidur dan menonton televisi


mirza membelai istrinya penuh perhatian

__ADS_1


bersambung


__ADS_2