
makan malam sudah berakhir hari sudah berganti
semua kembali pada aktifitas masing masing
hanya lidya yang masih saja terkulai lemas karena bawaan hamilnya membuat mirza tidak tega meninggalkannya lama lama
pagi hari
mirza sudah rapih hendak pergi ke kantor, sementara lidya masih diatas tidur belum mandi belum berdandan tidak seperti biasannya
"sayang kita sarapan yuk," ajak mirza yang sedang memakai dasi
"nanti saja, kamu duluan ya" ucap lidya yang masih berbalut selimut
berhubung waktu sudah siang ahirnya mirza pergi sarapan sendiri
"yasudah, tapi kamu nanti juga sarapan ya, biar pak mus antar kesini" ucap mirza kemudian "muah" mengecup kening lidya dan mengusap perut lidya
"aku duluan ya sayang, udah siang ini" mirza keluar dari kamar
kenapa dia gak peluk dulu kek apa kek, gusar lidya dalam hati dengan ekspresi cemberut
tak lama kemudian pak muslih datang ke kamar lidya membawakan sarapan
tuktuktuk pintu diketuk
"nona, pak mus bawakan sarapan"
"iya masuk" lidya segera bangun dari tidurnya kemudian duduk diatas tempat tidur
"nona ini sarapannya" pak mus menyodorkan makanan
"apa itu pak? aku gak mau makan itu. bawa lagi aja ke dapur" ucap lidya datar
"tapi nona, nanti tuan marah kalo tau nona tidak sarapan"
"aku gak berselera pak mus. udah itu buat pak mus aja. aku mau tidur" kemudian lidya berbaring lagi
"tapi nona.."
"pak mus keluar aja, bawa makanannya"
pak mus mulai kuatir, takut tuan mirza marah dan dia kena omel. tapi kalo dipaksa nona lidya juga gak bakalan mau
"yasudah nona, saya bawakan yang lain"
"hmm"
pak mus kemudian pergi lagi ke dapur mengambil makanan yang lain
kemudian mengantarnya lagi ke kamar lidya, dan lagi lagi makanannya ditolak. pak mus jadi bingung sendiri dan kembali lagi ke dapur
dreddd dreed hp pak mus berbunyi tuan mirza menelpon. pak mus harus siap kena marah
"halo tuan?
"lidya sudah sarapan?"
"belum tuan, nona menolak semua makanan yang saya suguhkan"
"apa?" mirza dengan nada tinggi
tut tut tut hp langsung dimatikan oleh mirza
"haduh gimana ini" gusar pak mus
__ADS_1
"kenapa pak mus?" tanya ayu yang baru keluar dari kamarnya
"nona menolak untuk sarapan ayu." ucap pak mus
"ohh yasudah biar saya buatkan"
kemudian ayu membuatkan brownis dengan lumeran coklat yang melimpah
dan membuatkan lagi jus mangga
lima belas menit kemudaian semua sudah jadi
kemudian ayu menatanya di nampan dan juga menyiapkan satu gelas air hangat
"pak mus tolong siapkan potongan buah buahan ya" pinta ayu
"iya ayu"
semua sudah tertata di dalam nampan lalu ayu mengantarnya ke kamar lidya
tuktuktuk pintu diketuk ayu
"nona saya ayu"
"masuk mbak ayu"
kemudian ayu masuk dan meletakan yang dibawanya tadi dimeja samping tempat tidur
"nona sarapan dulu"
"aku gak berselera mba ayu" lidya masih berbaring
"ini buatan saya nona, nona pasti suka"
"itu apa mba ayu?"
"ini brownis. cobain" ayu menyuapi lidya
dan lidya memakannya
"enak..hm" lidya tersenyum
"kalau gitu nona minum dulu air hangat lalu makan brownisnya ya" ucap ayu disertai anggukan lidya "nona mau mandi? biar saya siapkan" sambung ayu
"emm boleh" ucap lidya yang mulai lahap memakan brownis "aku ingin berendam di air hangat" sambung lidya
"baik nona"
kemudian ayu ke kamar mandi menyiapkan air hangat di bathub
lidya memakan habis brownis dan juga jus yang dibuatkan mbak ayu
kemudian lidya mandi dibantu ayu dengan telaten. lima belas menit kemudian mereka selesai dan lidya berpakaian
kemudian ayu membantu merias dan menyisir lidya
"mbak ayu kenapa bantuin aku, kan aku gak minta" ucap lidya sambil bercermin dan ayu sedang menyisir rambut lidya
"gapapa nona, saya senang.. saya juga merasakan gimana rasanya waktu hamil, selera makan berkurang dan mau mandi aja malas rasanya:" jelas ayu
"makasih ya mbak" ucap lidya tersenyum manis
"iya nona sudah cantik sekarang" ucap ayu
ketika sedang asik mengobrol
__ADS_1
krek pintu dibuka oleh mirza
kemudian mirza dan sam masuk
"sayang" mirza langsung menghampiri lidya dan memeluknya
"kamu kenapa sayang" tanya lidya
"kalian keluar dulu" ucap mirza pada sam dan ayu untuk keluar
"baik tuan"
sam dan ayu keluar dan menutup pintu
"ayu tunggu disini. siapa tau tuan butuh bantuan" ucap sam dengan lembut
kemudian sam keruang kerja mirza.
"baik tuan" ayu menunggu dibalik pintu
"kata pak mus kamu gak mau makan kenapa?" tanya mirza sambil memeluk lidya dari belakang yang sedang bercermin
"kata siapa?, aku habis makan perutku udah kenyang, aku juga udah mandi, lihat wangi kan" ucap lidya
"emmm iya udah wangi udah cantik. muahh" mirza mencium kepala lidya
"habis makan apa?" sambungnya.
"itu dipiring. habis minum jus dan makan brownis buatan mbak ayu. enak loh sayang, mbak ayu juga bantuin aku mandi dan berdandan" lidya dengan senyum manja
"emm iya syukurlah, tadi aku sangat kuatir dengar kamu belum makan" ucapnya
"ayu.!" mirza memanggil ayu yang sedang dibalik pintu
"iya tuan"
ayu masuk
"mulai sekarang. kamu urus keperluan lidya ya" ucap mirza
"baik tuan"
"dan ini bawa keluar, biar buahnya disana saja nanti dimakan lagi" mirza menunjuk piring dan gelas yang telah habis makanannya
"baik tuan"
ayu keluar dan menutup pintu
"aku gak bisa ke kantor lagi hari ini" ucap mirza dan menarik lidya ke atas kasur
"kenapa?"
hupp mirza tidak menjawab dan langsung menciumi bibir lidya
kemudian turun ke leher dan dadanya
"kamu sangat menggoda sayang. aku ingin sekarang" ucap mirza sambil membuka baju nya
lidya tidak menjawab hanya tersenyum malu
"ahh .. pelan pelan sayang.. ada bayi kita diperut" lirihnya saat tubuh lidya dibaringkan
"iya aku pasti sangat pelan" keduanya tersenyum dan mulai bercumbu satu sama lain
bersambung
__ADS_1