Love Me, Please

Love Me, Please
17. Have A Good Day


__ADS_3

Sesal menghimpit dada sepanjang pelajaran kalkulus. Angka dan rumus yang sebelumnya bahkan tak becus kukuasai dengan otak lapang kini semakin membuatku gila. Setengah mati aku berupaya untuk berada di dalam kelas, mencoba mengerti apa yang dijelaskan oleh Mr. Rodriguez, akan tetapi tetap saja pikiran ini mengambang.


Pada Kayden.


Kami ke luar dari toilet tak lama setelah bel pertama berbunyi—sebagai penanda jam pelajaran akan dimulai dalam lima belas menit kemudian. Di depan kelas, dia mencium keningku, mengucapkan I love you dan sampai nanti, lalu berlalu.


Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh lamat-lamat. Aku sadar akan keberuntunganku. Aku sadar bahwa dia dapat dikatakan sebagai anugerah dari Tuhan. Aku tahu persis bagaimana jadinya hidupku tanpa dia.


Akan tetapi, rasa ini tidak dapat dipungkiri. Aku bukanlah aku yang dulu lagi. Bukan Nikita yang sempurna lagi. Keluargaku hancur. Yang ada dari sosok Mama kini hanya batu nisannya. Yang ada dari sosok Papa kini hanya uangnya. Walau aku dan Mama berbeda dunia, perbedaanku dengan Papalah yang terasa begitu kentara.


Aku membutuhkan keberadaan Papa sedang dia menginginkan keluarga yang lain.


Bukan hanya itu, perlakuan Papa terhadapku di saat terakhir kali kami bertemu benar-benar membuatku malu. Ayah macam apa yang tega menyakiti darah dagingnya sendiri?


Aku tidak bisa membayangkan apa reaksi Kayden seandainya dia tahu. Tidak, tidak. Aku tidak mau memikirkannya. Oleh sebab itu hal ini harus tetap menjadi rahasiaku.


Tak hanya masalah rumah, di sekolah pun aku menyalah. Nilai mata pelajaran yang merah menjadi sumber dari segala buncah. Kalau saja aku tidak bisa mencari jalan keluarnya segera ....


Pekikan bel tanda pelajaran berakhir menyentakku dari lamunan. Suara buku-buku tebal yang ditutup dengan terlalu bersemangat menjadi latar. Kaki-kaki kursi yang bergesekan dengan lantai pualam mengeluarkan decit yang ikut bergabung barang sebentar, sebelum lantas terbenam oleh langkah-langkah berbalut sepatu bermerek dengan tapak seharga ratusan dolar.


Cenung cepat-cepat kuganti dengan seringai palsu. Nada yang kupakai saat membalas sapaan teman sekelas yang melintasi mejaku pun tak kalah lancung.


Coba katakan, apalagi yang bisa diperbuat oleh seorang gadis yang dianggap sempurna untuk menyempurnakan ketidaksempurnaannya selain dengan berpura-pura sempurna?


Honestly, I hate it. I hate this faux smile, my fake cheery voice, my empty happiness. The only time when everything that I am was true is when I was with Kay. Even that now is tainted by my lie.


I hate myself.


"Miss Levine, can I have a second, please?"

__ADS_1


Gelegar suara Mr. Rodriguez menarikku kembali ke kekinian, membuatku tergugu-gugu. "Y-yes, Mr. Rod-Rodriguez. C-can I help y-you?"


Sang guru bertubuh gempal itu meletakkan kacamata baca yang dipakainya dan menatapku lebih tajam. "In the matter of fact, yes, Miss Levine. Can you help me with getting here so we could have a talk?"


Oh, shxt.


Lekas kumasukkan buku dan alat tulis tak berguna yang sedari tadi hanya menjadi pajangan di atas meja. Menjadi properti untuk membuat seolah-olah aku "ada" di sini. Menjadi sarana bagi pencitraan sempurnaku.


Doc Martens leather lace up boots yang kupakai mengantarkan aku ke depan meja Mr. Rodriguez tanpa suara.


"Nikita." Mr. Rodriguez memulai. Suaranya terasa lebih keras di ruang kelas yang kosong. Thank God it's empty now. "Ujian semester hanya tinggal dua bulan lagi. Kamu tahu itu, bukan?"


"Yes, Sir." Aku berdeham sebelum menjawab dengan lirih.


"Dan kau tahu bahwa sekolah mewajibkan semua siswa tanpa terkecuali untuk lulus di setiap mata pelajaran saat akhir tahun ajaran?"


"Yes, Sir."


****


Kuketuk pintu kelas Sejarah Dunia yang berada di lantai dua. Tubuh ceking Mr. Khan muncul dari balik pintu setelah tak berapa lama. "Miss Levine, kamu terlambat," tegur guru berdarah India tersebut. Dia menatapku dengan kening berkerut.


Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, kusodorkan kertas celaka itu.


"Oh. Baiklah kalau begitu," simpulnya setelah memindai tulisan di atas lembaran. "Good luck."


Yeah, Mr. Khan. A good fxcking luck is what I need most right now, isn't it?


****

__ADS_1


"Come in."


Resah merajai aku, debar jantung seperti kuda yang sedang berpacu. Telapak bergelimang peluh yang mengucur layaknya perigi. Gemetar mengambil alih tubuh ini.


Belum lama ini ruangan Miss Valencia yang menjabat sebagai Penasihat Akademis Rockefeller High kukunjungi. Sekarang, beberapa hari kemudian, aku sudah berada di ruangan atasannya.


And, I definitely am not prepared for what I'm facing at this second. Perasaan sudah begitu tak karuan membayangkan pertemuan dengan Mrs. Contreras seorang. Akan tetapi, kini? Ketika aku akhirnya tahu bahwa akan menghadang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Miss Valencia, Mr. Rodriguez, dan Mrs. Lekovich secara bersamaan?


God, death seems like it would be so much easier than this.


"Silakan duduk, Miss Levine," ucap wanita paruh baya berkacamata bingkai tanduk. Sebuah senyum ramah merekah di bibirnya nan merah. Namun, jangan salah sangka. Lengkungan itu hanya sebatas formalitas belaka. Lihat saja dari cara duduk, jari yang bertangkup, dan lengannya yang lurus di atas meja.


It will be one hell of a ride, folks.


Lagi-lagi aku menurut tanpa berkata-kata. Kukepal kedua tangan di atas paha dalam upaya meredam gegarnya. Meski mental pecah seribu, bukan berarti aku harus tampak seperti itu, bukan?


At least I could try.


"Okay, langsung saja," putusnya setelah mengerling pada tiga orang guru yang berada di samping kanannya—kiriku; ketiga-tiganya berdiri tegap, tangan menyilang di belakang punggung, ekspresi dibuat sedatar mungkin. Akan tetapi, bahasa tubuh tak menipu; bibir terkatup Mrs. Lekovich menandakan dirinya merasa agak kesal, tungkai tak tenang Miss Valencia mengungkap ketidaknyamanannya, dan lima belas kerutan di kening Mr. Rodriguez menandakan dia juga mengalami konflik emosional.


Khusus bagi guru kalkulusku, lipatan di dahi menambah panjang daftar lipatan yang ada di tubuhnya membikin dia terkesan ... lucu dengan muka yang luar biasa merah dan perut buncit yang terlalu mencuat.


Yeah, you got me. Aku memang sedang mencari jalan untuk mendistraksi diri. Namun, tetap saja. Hidup tak membiarkan kau lupa akan realita. Suara Mrs. Contreras kembali merenggut perhatian.


"Kami menganggap kau sudah paham kenapa kau dipanggil ke sini, Miss Levine, dan kami pikir, sebagai murid senior, kau juga sudah hafal betul dengan visi sekolah kita. Tidak dipungkiri, prestasimu di bidang ekstrakurikuler sangatlah bagus. Kau penari yang cemerlang. Bisa dikatakan kau adalah kapten tim cheerleader terbaik yang Rockefeller High punya dalam beberapa tahun terakhir.


"Akan tetapi, sekolah tetaplah sekolah. Fungsi utamanya adalah untuk memberikan fasilitas terbaik demi memaksimalkan perkembangan potensi para siswa, terutama di bidang akademis. Kau sudah berada di tahun terakhirmu, Miss Levine. Kau seharusnya lebih fokus untuk mempersiapkan masa depan. Aku lihat kau belum mulai perbincangan soal perkuliahan dengan Miss Valencia. Aku juga belum mendapatkan laporan soal progresmu di mata pelajaran Mr. Rodriguez. Yang kudengar, Miss Levine, adalah kejadian yang melibatkan kau, Mr. Ford, dan Mr. Pierce. Sangat disayangkan.


"Kepala sekolah boleh saja menaruh simpati padamu, tapi aku tidak bisa. Kalau saja aku mengedepankan perasaan, mungkin sekolah ini tidak akan bisa mencetak murid-murid andalan seperti yang sudah-sudah. Kau paham, kan? Tidak ada yang lebih berarti bagi kami selain kesuksesan siswa-siswi Rockefeller High. Oleh karena itu, dengan persetujuan dari Mrs. Lekovich, aku putuskan posisimu sebagai kapten sekaligus anggota tim pemandu sorak dicabut. Effective immediately. Kami berharap ketetapan ini dapat membuat perubahan yang positif bagi prestasi akademismu. Kau bisa lebih fokus memperbaiki nilai mulai dari sekarang. Aku rasa itu saja. Have a good day, Miss Levine. Kau boleh ke luar dan kembali ke kelas."

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2