
What the fxck is happening right now?
Kenapa si Kutu Kupret ini sudah ada di dalam kamarku? Dari mana dia muncul? Siapa yang mengizinkannya masuk? Kenapa bisa sampai di sini? Kenapa dia tahu aku ada di rumah?
Apa? Kenapa? Siapa? Kapan? Di mana? Bagaimana?
"Woy! Bengong aja lo. Gue tahu gue semenakjubkan itu, tapi, ya, gak gitu juga kali ngelihatinnya." Beckham berdiri di tepi tempat tidurku dan memperbaiki letak kacamata yang melorot dengan—you guess it—jari tengahnya yang terhormat.
"Bisa gak lo kalau lurusin kacamata yang sopan sedikit? Pakai telunjuk, kek. Ibu jari, kek. Kenapa harus pakai jari tengah, coba? Setidakmenyenangkan itukah kehidupan lo sampai-sampai lo pengen kasih jari tengah terus buat dunia?" Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak memprovokasinya.
Cowok genius kebanggaan kota kini lantas berkacak pinggang. Matanya menyorot tidak senang padaku yang masih saja betah berbaring. "Lo dan mulut sembarangan lo itu," geramnya dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga.
"Lo dan kesombongan lo yang ngalahin langit ketujuh." Aku menimpali juga tak kalah seriusnya. Kesadaranku yang satu detik lalu masih mengambang di dunia mimpi kini sudah kembali sepenuhnya. Thanks to the satan spawn that standing beside my deb right the fxck now.
"Kenapa, sih, lo gak mau ngalah?"
"Kenapa gue harus ngalah?"
Beckham mengumpat lunak, nyaris tak terdengar. Akan tetapi, apa mau dikata? Telingaku sudah hafal betul dengan bunyi-bunyian semacam itu. Apalagi akhir-akhir ini, ketika kami sudah mulai terbiasa dengan kelakuan aneh masing-masing. Aku tidak mengerti kenapa dia harus menyembunyikan kata-kata itu. Bukannya telingaku masih "suci" dari kontaminasinya.
"Ngutuk gue lo?" tuduhku tanpa basa-basi.
Kata itu sekali lagi keluar dari mulutnya.
"Apa-apaan lo?" Aku serta-merta bangkit. Sebuah bantal tahu-tahu telah ada dalam genggaman. Benda bersarung lavender bermotif bunga-bunga melayang dan bertemu dengan dadanya.
Untuk kali ketiga, dia menyumpah. Kali ini secara terang-terangan. "Fxck." Tubuhnya menjadi agak oyong sebab efek dari pukulanku sehingga dia menyeimbangkan badan dengan mundur selangkah.
"Kan? Masih aja seenak jidat lo maki-maki orang. Emang gak punya adab lo!"
Sebelum aku berhasil memukulnya kembali, pemuda itu sempat menghindar. Beck bahkan menangkap pergelangan tanganku. "Bisa, gak, lo gak usah pakai kekerasan?"
Kusentakkan genggamannya. "Bisa, gak, lo gak usah pegang-pegang?"
"Fxck this!" serunya sembari mengangkat kedua tangan tanda menyerah dan berbalik. "Seharusnya gue gak ke sini. Seharusnya gue tahu bakal gini kejadiannya." Dia mengomel sendiri.
Melihat Beckham yang berjalan ke arah pintu, aku tiba-tiba dilingkupi rasa bingung. Loh, kok, dia pergi? "Woy, Beck!" panggilku sembari terburu-buru berdiri untuk mengejarnya. "Mau ke mana lo?"
"Pulang," sahutnya tanpa merasa perlu melihat ke belakang. "Nyesal gue nyamperin lo."
__ADS_1
"Eh, eh, eh, gak bisa gitu, dong!" Aku menentang keputusannya meninggalkanku. "Lo, kan, udah di sini. Mana boleh langsung balik kayak gini," repetku pada punggung Beck.
Yang kukejar sekonyong-konyongnya berhenti dan berbalik. Akibat aksi mendadak itu, aku tidak bisa mengendalikan langkah dan menabraknya. "Ow!" Aku kontan memekik kala tulang pipi kananku beradu dengan sesuatu yang keras.
"Fxck." Di arkian Beckham ikut mendesis.
Namun, aku tidak peduli. Yang menjadi pusat perhatianku adalah rasa sakit yang mengaburkan pandangan. Kutangkup sebelah tangan di atas bagian yang nyeri sambil terus meringis.
"Fxck, Nikita. You okay?" Terdengar Beck bertanya, rasa cemas menghiasi nada bicaranya.
Belum sempat aku menyahut, sebuah suara yang lain bergabung dengan kami. "Non Niki! Non kenapa?" Tangan-tangan hangat nan kasar seketika menyentuh kulit. Dengan hati-hati Mrs. Crane menggiring tanganku meninggalkan wajah. "Kenapa, Non? Tadi Bibi dengar ada teriakan."
Lagi-lagi sebelum aku berkesempatan untuk menjawab, Beckham sudah memotong terlebih dahulu. "Saya yang salah, Bi. Tadi saya kurang hati-hati dan menabrak Nikita. Sepertinya dagu saya mengenai tulang pipi kanan dia."
Yes, Beckham Lee Pierce. You are abso-fxcking-lutely right. Memang lo yang salah.
"Oh, begitu. Ya, sudah. Tunggu sebentar, ya, Non. Bibi ambilkan ice pack dulu buat ngompres. Tolong bantu Non Nikita masuk ke dalam kamarnya lagi, ya, Nak Beckham." Lalu terdengar suara langkah tergesa menuruni tangga.
Telapak tanganku terus kembali ke pipiku yang kini telah terasa panas dan berdenyut-denyut. Rasanya agak familier. Ibarat ....
Oh, my God. No!
"Nikita, hey." Suara Beck kini terdengar lembut, akan tetapi lebih lembut lagi jamahan tangannya yang bergetar di daguku. "Maafin gue. Pasti sakit banget, ya?"
Aku hanya bisa menggigit bibir demi menahan tangis yang ingin meledak. Aku tidak ingin membuat Beckham salah paham dan merasa tambah bersalah dengan tangisanku. Dan aku juga tidak mau memikirkan hal di masa lalu yang menjadi alasan sebenarnya sedu sedan ini.
Kubersihkan tenggorokan sebelum berucap, "Gak, kok. Gue gak apa-apa."
"Gak apa-apa gimana? Lo sampai nangis gitu," bantahnya. "Mata lo juga gak dibuka lagi. Apa yang kena mata, bukannya pipi?"
Kebingungan di dalam suara Beck membuat pemuda itu terdengar lebih lugu. Apakah dia sungguh-sungguh ketika mempertanyakannya? "Pipi gue. Tapi, gue belum bisa buka mata karena perih dan panasnya terasa sampai sana." Aku memberi tahu.
"Duh, gue betul-betul minta maaf, Nik. Gue gak sengaja. Sumpah!"
"Iya, gak apa-apa. Lagian gue juga yang salah udah nabrak lo." Aku menyahut, mencoba membuatnya terlepas dari rasa yang tidak berguna yang menggerogoti dia.
"Loh? Kok masih pada di sini? Bantuin Non Nikita-nya ke kamar, dong, Nak Beckham! Gimana, sih?" Mrs. Crane yang tak disangka-sangka sudah kembali menegur kami. Terutama sekali pada si cowok yang dianggapnya bertanggung jawab penuh atas kemalangan yang baru saja menimpaku.
Masih dengan mata terpejam, aku terkekeh-kekeh membayangkan ekspresi Mrs. Crane yang tentu saja setengah kesal sekarang. "Gak apa-apa, Bi. Mana, sini ice pack-nya biar Niki yang pakai sendiri. Bibi istirahat aja."
__ADS_1
"Tapi, Non—"
"Gak apa-apa, Bi." Aku meyakinkan.
Dan Beckham cukup membantu ketika dia menimbrung dan menyokong pernyataanku. "Iya, Bi. Sini, biar saya yang pegang. Nanti saya yang awasin Nikita."
"Tapi, itu matanya Non masih–"
Belum-belum kalimat Mrs. Crane sudah kena potong lagi. "Udah, kok, Bi. Lihat, nih." Perlahan-lahan kubuka mata kanan yang jujur saja sudah tidak terlalu perih. Kemudian aku mengerjap. Pada saat itu, jatuhlah air mata satu. Untuk menghapus khawatir yang mencoreng wajahnya, aku tertawa. "Udah, Bi. Aman."
Perempuan separuh baya itu masih nampak ragu.
"Hm. Kalau gitu Bibi bisa tolong bikinin kita sandwich, gak, ya? Aku lapar banget, belum makan siang."
Mendengar pengakuanku, air muka Mrs. Crane berubah menjadi lebih horor lagi. "Ya, Tuhan, Non Nikita! Kok masih belum makan, sih? Ya, sudah. Tunggu, ya. Bibi bikinkan untuk temannya juga sekalian," katanya seperti Beckham tidak ada di sana. "Mau lemonade apa teh dingin?"
"Minuman energi aja kalau ada, Bi," tandas Beck.
Aku mengerling padanya. Ini anak udah dikasih hati malah minta jantung. Hadeh. Dasar. "Buat aku lemonade aja, Bi. Thank you."
Mrs. Crane segera menuju ke dapur.
"Nih." Beckham menyodorkan sebuah ice pack instan yang dibawakan oleh Mrs. Crane. "Buruan pakai."
"Thanks," tuturku seraya meletakkannya di area yang ngilu. Rasanya, ya, Tuhan .... Aku mendesis saat hawa dingin itu bertemu dengan bagian yang panas dan mulai membengkak.
Beckham mengekor langkahku kembali ke kamar. "Duh, kenapa jadi begini, sih?" gumamnya lebih kepada diri sendiri.
"Entah, gak tahu gue." Aku mengedikkan bahu.
Kuhempaskan tubuh ke atas kasur. Sementara cowok berambut bergelombang itu lebih memilih untuk duduk di kursi depan meja belajarku. "Gue bakal dapat masalah lagi, kan?"
"Maksud lo?" tanyaku tak paham.
"Tuh." Dia mengangguk ke arah wajahku. "Gue pasti bakal dapat masalah lagi dari cowok lo." Ditariknya napas dalam sebelum menyandarkan tubuh sepenuhnya dan mengembuskan karbondioksida ke udara. "Kenapa setiap pertemuan kita gak pernah gak diwarnai drama, ya? Adaaa aja kejadiannya. Heran gue."
Sama, Beckham. Gue juga heran. Selalu saja ada hal yang memicu emosi dalam diri ini setiap kali kita berinteraksi. Memangnya ada apa dengan kita?
To be continued ....
__ADS_1