
Burger dan milkshake di Lounge memang tidak ada duanya. Aku bisa bersumpah soal ini. "Kalau makan banyak terus kayak gini fix aku bakalan gendut, nih, Yang," komentarku sambil menepuk perut dengan lembut.
Kayden yang baru saja menutup pintu mobil menoleh padaku. "So?" tanyanya sembari memasang sabuk pengaman.
"So, aku harus lebihin porsi workout aku. Apalagi sekarang aku udah gak latihan cheers lagi. Aaaa, aku gak mau gendut, Yang," rengekku. Sudah terbayang saja bagaimana mimpi buruk ini akan berakhir.
Dengan lebih buruk lagi.
Oh, god damn it, no.
Dibukanya lagi sabuk yang sebelumnya sudah mengungkung tubuhnya itu. Dia di kemudian memutar badannya, dan badanku, sehingga kini kami saling berhadapan. Dipegangnya daguku dengan ibu jari dan telunjuk dengan lembut, ditatapnya mataku dalam. "Dengar, ya, Nikita Bliss Levine. Kamu dengar aku. Yang pertama, kamu gak bakalan gendut. Kedua, kalaupun iya, masalahnya ada di mana, ha? Aku gak lihat ada masalah apa pun di sana."
Masih saja aku merengeki pacarku itu. "Menurut kamu emang gak masalah, tapi menurut akunya?"
"Udah. Gak usah terlalu dipikirin," katanya sebelum mengecup puncak hidungku. "Sebuah keadaan akan menjadi masalah jika kita menjadikannya masalah. Jangan biarkan apa yang orang pikirkan menjadi fokus hidup, atau kita tidak akan benar-benar hidup."
Jiwa ini tersentak mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Kayden tersebut. Dia sebenarnya hanya mengomentari soal kecemasanku menjadi gemuk. Akan tetapi, Kay tidak sadar bahwasanya dia juga telah menyebabkan efek yang lebih besar. Seolah-olah dia tahu ada banyak sekali hal-hal yang sedang merajalela di dalam kepala dan aku perlu mendengar kalimat itu.
Sungguhpun begitu, tetap saja tidak akan ada yang berbeda. Aku tetap seorang gadis yang merintang masa depan sang calon bintang. "Huuu." Aku melipur hati dan mengalihkan perhatian dengan mencibir.
"Ya elah," decaknya. "Ha-hu ha-hu aja kamu. Benar, gak, yang aku bilang?"
"Iya, iyaaaa, Mr. Kayden si Paling Bijaksana." Aku menjawab.
"Kamu, ya. Hobi banget ngeledekin aku sekarang," ucapnya seraya menyalakan mesin.
"Ih, aku gak ngeledek, kok. Mana berani." Sibuk dengan sabuk pengaman, aku tidak melihat tangan Kayden yang terulur mengarah ke pinggangku. Sudah terasa gelinya saja baru aku tahu. "Eh, eh, eh, jangan! Jangan, Yang, ampun! Ampun!" Aku sudah berusaha mengelak, akan tetapi apa yang bisa dilakukan di dalam kabin mobil sebesar ini?
__ADS_1
****
Satu jam kemudian kami sampai di rumahku. Seperti biasa, kalau tidak masuk, Kayden hani mengantarkan aku sampai ke pintu depan. "Thank you, ya, udah mau aku repotin," ungkapku. Entah apa yang terjadi di dalam diri sehingga menyebabkan perkataan itu keluar dari mulut ini.
"Ngerepotin apaan? Jangan ngawur, deh! Kamu, kan, pacar aku," tampik Kayden jelas sangat tidak setuju dengan kata itu.
"Iya, tapi aku merasa aku sering banget ngerepotin kamu." Aku tidak bisa untuk tidak bersikeras. Karena memang begitulah kenyataan yang ada.
"Jangan suka mikir yang aneh-aneh, deh, ah!" tegurnya sambil merapikan anak-anak rambut yang lolos dari kunciran. Sentuhan lembut dan berulang-ulang yang dia lakukan itu tak hanya menenangkan raga, melainkan juga menenteramkan jiwa. Kalakian Kayden mengetukkan ujung jari telunjuknya ke keningku sejumlah kali pula. "Hapus semua pikiran yang enggak-enggak itu dari sini, ya. Aku gak mau kamu merasa kayak kamu cuma bikin aku repot karena memang tidak ada yang direpotkan. Aku senang bisa jagain dan bahagiain kamu. Aku senang bisa bareng sama kamu terus. Aku emang pengennya begitu."
"Tapiโ"
Dia cepat-cepat memutus kalimatku dengan gelengan. "Hu-uh. Gak ada tapi-tapian. Kamu dengar?"
Aku dengar. Namun, apa artinya jikalau hanya sekedar mendengar. "Iya, iya."
"Nah, gitu baru benar." Dia menghadiahi kepatuhanku dengan sebuah kecupan di dahi. "Oh, iya. Besok kita bawa si Cantik aja, ya, soalnya tadi coach bilang kalau besok bakal ada scrimmage ekstra buat persiapan pertandingan minggu ini. Gak apa-apa, kan, Yang?"
"Ih, bandel!" Dicubitnya pipiku. "Kan, aku udah bilang kalau aku gak merasa repot."
"Ya, tapi, kanโ"
Lagi-lagi Kayden memotong ucapanku. "Gak mau! Aku maunya berangkat sama kamu. Pulang itu soal gampang. Minta antar sama si Gyan juga pasti dia mau."
Aku memutar bola mata. "Dasar!"
"Ya, udah, kamu masuk, gih. Aku balik, ya, Yang." Saat bibir kami bertemu, aku masih bisa mengecap rasa manis dari sisa-sisa lemonade yang diminumnya tadi. Dia kemudian mencium kening, kedua pipi, dagu, dan ujung hidungku bergantian. "I love you, Sayang. See you later."
__ADS_1
Aku serta-merta berjinjit untuk mencium dagunya. "I love you. See you soon."
****
"Baru pulang, Non?" Suara Mrs. Crane menyambutku saat aku masuk ke dapur untuk mengambil air di lemari pendingin. Dia sepertinya sedang membersihkan peralatan memasak yang ada di sana. Entah untuk apa. Panci dan wajan itu padahal begitu jarang digunakan.
"Hai, Bibi," sapaku. "Iya, nih."
"Udah makan malam? Mau Bibi bikinin apa?" tanyanya sambil terus mengelap wajan.
"Udah, Bi. Terima kasih." Kututup pintu kulkas. "Aku tadi udah makan bareng Kayden, kok."
"Oh, iya, Non. Baguslah kalau begitu." Mrs. Crane lalu melipat lap yang baru saja dipakai untuk mengeringkan barang-barang tersebut. Diletakkannya wajan itu kembali ke dalam lemari penyimpanan. "Gimana belajar tambahannya, Non?"
Keningku berkerut. "Kok Bibi tahu aku ada jadwal belajar tambahan?"
Si wanita paruh baya melemparkan sebuah senyum malu-malu ke arahku. "Bibi gak sengaja dengar pas manggang daging sama Chef Bruno sore kemarin lusa itu, Non."
"Oh, iya, iya." Maksudnya saat para gadis sedang berkumpul hari Minggu yang lampau.
Mrs. Crane terlihat sedang menunggu jawabanku penuh harap.
"Hm. Lancar, Bi." Kukirim sebuah senyum setengah jadi ke arahnya. Sebuah dusta itu juga mengalir dengan lancar dari bibir.
"Syukurlah, Non," ucapnya sembari menghela napas panjang. Seperti dia sedang menahan napasnya sebelum mendengar jawaban dariku. "Bibi juga udah minta sama Tuhan supaya semua urusan Non dimudahkan."
Lintuh hati ini mendengar perkataan Mrs. Crane. Betapa seorang yang tidak ada hubungan darah denganku saja bisa seperhatian ini. Tidak seperti .... Kubersihkan tenggorokan dari apa-apa yang tiba-tiba saja menyumbat. "Terima kasih banyak, ya, Bi."
__ADS_1
"Sama-sama," balasnya lembut, selembut senyum dan tatapannya. "Non tahu, kan, selain jago masak Bibi juga bisa jadi pendengar yang baik?"
To be continued ....