Love Me, Please

Love Me, Please
27. Me Too


__ADS_3

Aku selalu beranggapan bahwa dunia menjadi tidak begitu menyebalkan lagi setelah mandi.


Right?


Apalagi kalau selesai berendam dengan bath bomb favoritku dari Lush, Tisty Tosty, yang beraroma mawar. Beuh! Coba saja kalau tidak percaya.


Setelah kurang lebih lima belas menit menghirup wangi dan dikelilingi kelopak bunganya, aku bangkit dan membuka sumbat lubang pembuangan. Melihat air yang berpusar mengalir ke luar dari bak terasa sangat memuaskan. Air itu seakan membawa setiap kesialan, keburukan, dan hal-hal jahat yang pernah melekat di badan. Bahkan membuang kelopak bunga mawar yang tersaring terasa sangat sakral karena dengan begitu berarti aku telah menyelesaikan satu ritual penting.


Benar. Berendam di bathtub akhir-akhir ini adalah selayaknya ritual buang sial bagiku.


Sekarang aku merasa lebih bersih, jauh lebih ringan, jauh lebih segar. Aku merasa seperti terlahir kembali. Meski hidup masih menjengkelkan, masalah masih bergentayangan, dan global warming semakin menggila, aku rasanya sudah agak siap untuk kembali menghadapi itu semua.


Dan tibalah saatnya untuk memilih pakaian. Setelan seperti apa yang digunakan oleh seseorang yang baru saja terlahir kembali? Yep. Celana jins pendek putih dan tanktop berwarna lavender.


Whatever.


Maafkan aku dan sisi dramatis yang tiba-tiba saja muncul ini.


Berendam—dan menjadi seseorang yang mendramatisasi kegiatan mandinya—aku sadari, juga bisa membuat kita lupa akan pacar sendiri. Itulah kenapa aku agak terkejut mendapati Kayden yang tahu-tahu sudah berselonjor di kursi malas berwarna burgundy—satu-satunya perabotan dengan warna mencolok di kamarku yang bernuansa lembut ini. Dia juga sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos putih polos.


Look at us all matchy-matchy.


Yang tidak mengejutkan adalah meja di sebelahnya yang penuh dengan makanan. Di atas baki ada piring dengan beberapa potong sandwich yang aku tebak tidak hanya berisi tuna pesananku, dua gelas besar teh lemon dingin, kentang goreng, dan sekotak stroberi.


Dasar gentong memang.


Untung saja dia rajin berolahraga, kalau tidak .... Jangan dipikirkan.


"Sayaaang!" serunya sambil mengembangkan kedua lengan lebar-lebar saat melihatku keluar dari ruang ganti.


Kuputar bola mata, tak habis pikir melihat kelakuan pemuda yang genap berusia delapan belas tahun pada bulan Juli lalu. Dia boleh saja garang di lapangan, akan tetapi kalau sedang bersamaku? Sikap dan sifat Kayden akan berubah menjadi lebih dari biasanya. Lebih baik. Lebih pengertian. Lebih sabar. Lebih protektif. Lebih ... manja.


Diam-diam, aku sering menyamakan kelakuan suka "nempel"nya dengan tingkah polah koala. Meskipun begitu, diam-diam saja, ya. Ini adalah rahasia kita karena dia tidak tahu soal ini. Hihi.


Let me keep this as my dirty little secret, di antara rahasia-rahasia lain yang kusembunyikan darinya, okay?

__ADS_1


Walau tak habis pikir dan sering berlagak tidak senang, sesungguhnya aku sangaaaaat menyukai fakta bahwa dia dan aku mempunyai bahasa cinta yang sama. Kayden bahkan melakukan semuanya. Tidak pernah lupa mengucapkan I love you, perhatian, suka memberi hadiah, dan jangan tanya soal physical touch serta quality time yang kami bagi.


It's mind-boggling dan vomit-inducing for other people. Namun, mau dibilang terlalu bucin? Ya, silakan saja. Toh, kami tidak akan peduli. He loves me. I love him. So, what? Dan aku of course bersyukur sekali bisa dicintai oleh pemuda seperti dirinya.


Aku melangkah mendekat dan masuk ke dalam dekap hangat si Koala Besarku itu.


"Kamu wangi banget, sih, Yang," puji Kayden seraya membenamkan hidung di spot kesukaannya di leherku.


"Dan kamu makannya banyak banget," komentarku agak serius, akan tetapi lebih banyak lagi porsi bercandanya.


Dia berdecak tak acuh. "Kamu aja yang gak tahu gimana rasanya jadi anak laki-laki dalam masa pertumbuhan," kelitnya. Kay kemudian merenggangkan pagutan. "Lapar terus, Yang. Apalagi kalau yang masak Mama sama Lizza. Gah! Gak bisa nolak aku."


"Oh, my God, kamu masih dalam masa pertumbuhan?" jeritku berlebihan sembari mengambil sepotong sandwich dari piring yang disodorkan oleh pacar paling sempurna di dunia itu. Aku kemudian mundur dan ikut mengunjurkan kaki berhadapan dengannya. "Mau tumbuh sampai kayak gimana lagi kamu, Yang? Mau saingan sama Burj Khalifa, ha?"


"Dih, kamu ngeledek aku?" Dia meletakkan piring kembali ke atas meja, lalu menyambar sepotong roti lapis untuknya sendiri. "Yakin?" uji Kay sambil menggerak-gerakkan jari-jari kaki kiri yang berada tepat di sebelah paha kananku.


Aku bergidik. Sudah terbayang dengan apa yang akan dilakukan oleh ujung jari nakalnya itu. "Enggak, enggak, enggak," jawabku cepat. Aku tidak mau menghadapi serangan gelitikan mereka. "Ampun, Yang, ampun."


Dia tersenyum penuh kemenangan. "Nah, gitu, dong. Jadi pacar itu yang suportif. Bagus, kan, kalau selera makan aku tinggi? Berarti aku sehat, aku happy," terangnya sebelum menggigit hampir setengah porsi sekaligus.


Kayden terkakah, paham akan cemeeh terselubung dariku. "Resek," tuturnya. Dia menyenggol pahaku dengan kakinya. Aku balas menyenggol pahanya dengan kaki kiriku. Segenap waktu berlalu dalam senggol-senggolan sementara kami melahap makan siang.


Sepotong yang aku rencanakan di awal berubah menjadi satu setengah, sedang tiga setengah potong sisa dari lima yang ada di atas piring dilahap si Koala.


Eh, aku baru ingat, selain menempel di pohon untuk tidur, kerjaan lain koala adalah makan, bukan? Berarti julukan rahasiaku untuknya benar-benar tepat.


"God, I'm full," erang Kayden yang seraya menepuk-nepuk perutnya yang secara ajaib masih datar dan ketat.


Aku memutar bola mata dan berusaha dengan seluruh jiwa raga menahan komentar yang hendak melompat ke luar. Perut kami terlalu padat untuk diajak bergelut. "Sini, biar aku bawa piring kotornya ke bawah. Teh kamu mau ditambah lagi?"


"Eh, gak usah. Biar aku aja," sanggah Kay. Dia segera membereskan peralatan makan yang berserak.


"Gak apa-apa, aku aja. Tadi kamu, kan, udah bawain ke sini. Lagian aku mau jalan biar makanannya cepat diproses. Perut aku rasanya penuh banget." Aku menjelaskan.


"Oh, ya udah kalau gitu." Dia menyerahkan baki yang berisi peralatan makan kotor kami.

__ADS_1


"Jadi, tehnya nambah, gak?" tanyaku kembali sebelum berbalik.


"Gak, Yang. Thank you."


"Okay, then."


"Hati-hati bawa bakinya."


Itu, kan? Lebih cerewet.


****


Sekembalinya aku ke kamar, Kayden sudah beralih ke kursi meja belajar. Dia duduk bersandar, kursi diputar ke kanan dan ke kiri seraya membolak-balik lembaran-lembaran sebuah buku. "Buku siapa ini, Yang?" tanyanya setelah melihat padaku sepintas. "Tulisannya rapi banget ngalahin rapinya barisan tentara."


Apa iya? Aku malah belum tahu dan sama sekali belum mengecek isi buku tersebut. Tadi setelah masuk ke kamar dan memegang ponsel, buku itu langsung lenyap dari ingatan.


"Itu yang diantar tamu yang aku bilang ke kamu tadi," jelasku dan kemudian duduk bersila di tepi tempat tidur di seberang Kayden.


"Oh, ya? Siapa? Perasaan teman-teman kamu catatannya gak ada yang serapi dan selengkap ini, deh," kelakarnya.


Dia benar. Aku tergelak mengingat Paulina dan Marina. "Tapi, Isobel gak separah kami, sih. Dia yang paling pintar di antara kami berempat."


"Oh. Aku gak terlalu kenal dia, jadi aku gak tahu." Kay mengangkat sebelah bahu. "Jadi ini catatan punya dia?"


Aku menggeleng. "Bukan dia yang pinjamin aku buku itu."


"Terus, siapa?"


"Beckham."


Gerakannya sontak terhenti. "Say what?" tanya Kayden seakan tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Yeah, me too, Ayang. Me too.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2