
Kayden menggeleng dan lantas meraih tanganku. "Kamu pikir aku gak mau ikut gaya-gayaan dan senang-senang kayak anak-anak yang lain, hm? Mau, Yang, mau banget. Tapi, aku masih berusaha untuk mengontrol keinginan aku itu karena aku punya tujuan. Aku punya target yang harus aku capai. Dan aku rafu aku bisa mencapai semuanya kalau aku mengikuti arus senang-senang kayak yang lain. Aku tahu aku harus buktikan ke dunia kalau aku bisa jadi seseorang tanpa bantuan dari nama belakang aku. Dan aku juga pengen kamu begitu. Aku sayang, sayang, sayang banget sama kamu, Yang. Aku mau kamu sukses dan bahagia lebih dari aku menginginkan keberhasilan aku sendiri. So, aku tetap harus nolak. Kita gak akan ke sana. Aku, kan, udah janji kita bakal liburan. Dan kamu tahu aku selalu menepati janji aku, kan? Apa itu gak cukup buat kamu?"
Awan kelabu yang berat akan rasa bersalah sekonyong-konyongnya menaungii diri. Lagi. Lagi dan lagi. Rintik-rintiknya mulai jatuh, membasahi hati. Gerimis mengundang semakin banyak lagi emosi. Entah kapan akan berhenti.
Di depanku duduk seorang pemuda luar biasa—yang sedang menggenggam erat tanganku, yang menjadi pemilik hatiku, yang mencintaiku dengan terlalu—dengan tujuan hidup yang sudah jelas sekali. Di umurnya yang baru akan delapan belas, dia sudah bisa menentukan apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dia sudah mampu melihat dengan jelas apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Dia sudah memiliki disiplin diri yang kuat untuk memastikan agar tujuan yang sudah ditetapkannya bisa diraih dengan mudah. Meskipun dia hanya mengatakan tujuannya dalam jangka waktu yang dekat, akan tetapi hal itu sama saja, bukan? Jangka panjang, jangka pendek, semua tetap membutuhkan dedikasi yang sama. Namun, apa yang dia dapat sebagai seorang pasangan? Di hadapannya hanya ada aku yang masih saja tergila-gila pada hari ini.
Kesadaran ini benar-benar memberikan sebuah tamparan yang keras di dalam diriku. Tamparan yang membuat mataku terbuka dengan sangat lebar dan membuat aku paham dengan apa yanh sebenarnya terjadi. Atau ... mungkin ini hanya menjadi pengingat untuk sesuatu yang sudah aku ketahui dari dulu, akan tetapi masih kesanggah keberadaannya? Ah, entahlah.
Keheningan menerpa kamarku untuk sejumlah waktu.
Entah setelah berapa lama, di kalakian aku hanya bisa mengangguk lemah. "Okay," lirihku. "Thank you."
"Yeah?" ujarnya dengan alis terangkat, mungkin karena tidak menyangka aku akan menyerah dengan mudah. "Kamu gak marah?"
Dia masih saja lebih memedulikan perasaanku. Oh, Kayden. "Enggak."
"Terus kenapa jawabnya pendek gitu?" selidiknya terus.
Kupaksakan bibir mengukir sebuah senyum. "Gak apa-apa, kok."
"Benar?"
Kenapa kamu harus seintuitif ini, sih, Kay? "Iya," timpalku dengan level kepura-puraan setingkat lebih tinggi.
"Alrighty, then."
Akhirnya. Berakhir jua.
Kesenyapan selanjutnya mengambil alih suasana, melingkupi kami yang lagi-lagi duduk dengan posisi yang sama dengan sebelumnya. Sebelum pesan-pesan di gawai menyerang. That damn texts. Kumatikan benda yang menjadi sumber ketidaknyamanan itu.
No, that's not right. Akulah dari mana segala masalah berasal.
Ya.
__ADS_1
Setengah mati aku mencoba untuk mengalihkan fokus kembali pada buku yang kupegang, akan tetapi apalah daya, kepala ini sudah berkelana ke mana-mana. Kini yang ada hanya aku yang memandang kosong ke huruf dan angka nan berserakan di atas kertas, kepalaku kosong. Tidak satu pun tulisan-tulisan itu terekam di benak.
"You know I love you, right?" Kayden menyudahi keheningan yang kembali menyebar dengan pertanyaan yang jujur saja semakin membikin perasaanku tidak aman.
"I know." Aku menjawab. Lagi-lagi merasa perlu untuk menaikkan nada agar dia tidak menangkap perasaanku yang asli.
"Jadi, kamu juga tahu kalau aku masih nunggu, kan, Yang?"
Jantungku mulai berlari. Apa yang dia maksud? Menunggu apa? Apa lagi ini? "Maksud kamu? Kamu lagi nunggu apa?"
Lalu dia mengutarakan kalimat yang tidak ingin aku dengar sama sekali. "Aku masih nunggu cerita dari kamu."
Dunia seakan berhenti ketika sepotong percakapan berkelebat di dalam ingatan. "Oh."
"Aku berharap aku cukup berarti buat jadi tempat kamu berbagi, ya."
"Of course you are."
"Yeah?"
"Glad to know that."
Kamu tidak akan menyangka seberapa besar arti kamu buat aku, Kayden.
Kamu adalah orang yang paling penting di dalam hidup aku, sampai-sampai rasa itu membuat aku takut, sungguh takut. Kala nanti pada akhirnya aku menceritakan semua borok ini pada kamu, dan kamu berpikir ketidaksempurnaan aku hanya akan membuang-buang waktu berharga milikmu saja, lalu kamu memilih pergi karena aku tidak punya harga apa-apa lagi di mata kamu, aku akan hancur lebur, Yang. Binasa.
Karena tanpa kamu, aku tidak akan pernah ada.
Lantas, bagaimana menurut kamu, Kay? Apakah aku bodoh dengan memilih menyembunyikan ini dari kamu, hm? Apakah aku terlalu tolol karena berpikir lebih baik menelan rasa sakit ini sendiri daripada kehilangan kamu di kemudian hari?
Andaikata aku disuruh untuk menentukan pilihan antara kehilangan kamu atau gagal menjadi diri sendiri, kamu juga pasti tahu mana yang akan aku pilih, bukan?
Karena aku juga sayang, sayang, sayang banget sama kamu.
__ADS_1
****
"So ...."
Aku menggeleng. Menolak tawaran yang diberikan Kayden melalui satu kata itu.
So, apa yang sebenarnya terjadi? Ayo, cerita sama aku sekarang!
"No, Sayang. I'm so sorry, tapi kayaknya aku masih belum bisa cerita ke kamu sekarang." Or never.
"But, why?" tanyanya.
Aku menoleh dan mengembalikan tanda tanya itu padanya melalui tatapanku. "But why, what?"
Sejumlah sangkala terlampau dan kami masih berlihat-lihatan. Cara Kay menatapku; tepat di titik mata, membuat diri ini merasa ditelanjangi. Tak ada satu hal pun yang luput dari ainnya. Sekalipun demikian, sorot netra yang teduh, tulus, dan penuh penerimaanlah yang kesudahannya membikin hati ini semakin silu.
I'm definitely going to go to hell.
"Okay," desahnya kemudian. Dia merapikan anak-anak rambut yang acakadut sebelum melabuhkan sebuah kecupan di keningku. Lumayan lama bibir ditahannya di sana. Laksana hendak menyampaikan sesuatu lewat sentuhan itu. "Tapi, kamu ingat kalau kamu udah janji sama aku, kan?" imbuhnya lagi.
Selain anggukan kepala nan lemah, gumaman tak jelas jua menjadi jawaban. "Hm-mm."
"Aku akan selalu ada di sini buat kamu, Yang. Whatever it was, is, and will be, I'm right here." Dirangkulnya aku erat, punggung beradu dengan badannya yang kokoh kuat. Lengan yang kencang melingkari dada, memancang diri dalam rasa yang selalu diciptakannya. "I'm never going away. Not from you. Not from this, us. Never."
Itulah Kayden. Dia tidak hanya berucap, akan tetapi juga bersikap. Setiap perkataan yang ke luar dari mulut, didukung oleh bahasa tubuh, dibuktikan oleh pendiriannya yang teguh.
"Thank you," bisikku sembari ikut mengetatkan jalinan jemari kami. Mencoba meniru keutuhan caranya mencintai. Akan tetapi, tidak akan pernah bisa. Tiada seorang pun yang dapat menandingi dia.
Kay lagi-lagi membenamkan hidungnya ke rambutku.
Dalam kusut pikiran, aku teringat soal pencari bakat yang kucuri dengar sewaktu habis pertandingan tempo hari. "Kamu tahu aku juga sama, kan?"
"Hm?" gumamnya sembari masih saja menenggelamkan hidungg, dan mukanya, di dalam rambutku. Bahkan kini lebih dalam lagi hingga hangat napasnya terasa di tengkuk. "Maksud kamu?"
__ADS_1
To be continued ....