Love Me, Please

Love Me, Please
30. That's Not Why


__ADS_3

Marina mengirimkan sebuah gambar hasil swafotonya menggunakan baju yang terlalu seksi untuk ukuran gadis berusia tujuh belas tahun; crop top mengkilat hitam, rok pendek hitam, dan heels berwarna silver. Sedang mukanya dirias dengan lumayan menor. Nope, bukan menor. Namun, memang dandanannya membuat temanku itu terlihat sedikit agak jauh lebih dewasa dari umur kami yang belum legal ini.


Marina : look at me getting ready to pop the cherry of my fake id!!!!


Marina : going out with my cousin toniiiite


Marina : Heaven, I'm comiinggggg!!!


Marina : are YOU excited, girls?


Pesan itu diikuti oleh serangkaian emoji bundar kuning bermata hati. Her heart-eyed emojis are sooooo freaking annoying.


Paulina : marina, u didn't!!!!!


Paulina : lo beneran mau ke Heaven?????


Paulina : teganya lo gak ngajak gue


Paulina : marinaaaaaaaa


Paulina lalu mengirimkan sebuah animasi bergerak yang memperlihatkan si anjing putih Snoopy sedang meratap dengan air mata yang tumpah ruah dengan deras seperti air mancur.


"Apaan, Yanh?" Suara kekasihku yang tetiba terdengar mengerem kehendak hati untuk ikut menimbrung dan mengetik balasan pesan-pesan tersebut.


Aku mengonyokkan layar ponsel padanya, nyaris mengenai ujung hidung Kayden.


Dia tersentak. Mujur refleksnya bagus sehingga dia dapat menghindar dengan cepat. "Buset!" serunya, tentu saja kaget setengah mati karena manuver tak terduga dariku.


"Ya ampun! Sorry, Yang, sorry," pintaku tanpa sungguh-sungguh merasa bersalah. Hm, ada rasa bersalahnya sedikit, sih, akan tetapi semuanya worth it juka aku dapat menyaksikan ekspresi yang jarang ada di mukanya sekarang. Kaget, tak percaya, dan ... tidak marah jika dinilai daei sudut bibirnya yang berkedut-kedut hendak naik. Dia sedang menahan tawa. Kugigit bibir agar tawa yang dapat menegasikan nilai kata maafku sebelumnya tak berhamburan. "Ini, nih. Si Marina mau ke Heaven sama sepupunya malam ini." Aku berupaya untuk mengalihkan perhatiannya kembali ke skrin di depan mata.

__ADS_1


"Kamu sadar, kan, Yang, aku gak bisa lihat sama sekali kalau layar hape kamu itu like, literally, di depan muka aku begini?" keluh Kay yang kini manik-manik penglihatannya telah menjadi juling itu.


"Yang!" Secara otomatis sebuah tamparan yang "agak" lembut melayang ke wajahnya. "Ngapain, sih, kamu? Seram, tahu!" seruku takut. Terkejut melihat apa yang terjadi pada mata yang selalu kupuja itu. Kenapa dia bisa melakukan itu, sih?


"Duh!" Dia meringis sambil memegangi pipi seketika setelah tanganku melekat di tempat yang sama. "Kamunya yang gak kira-kira," protesnya balik.


Lantas saja kekagetanku terkikis dan menjelma geli. Aku terkikih-kikih lagi. Namun, melihatnya mengusap-usap bagian yang ku-abuse dengan tidak sengaja tadi, rasa bersalah kini benar-benar hadir. Ah, Niki! "Sorry, Sayang," bujukku dengan sungguh-sungguh kali ini. Kutangkup wajahnya dengan kedua tangan meski yang kiri masih mengawai gawai. "Uuuu, jangan ngambek, dong. Kayden ganteng gak boleh ambekan gitu, entar gantengnya luntur, loh!" Meskipun demikian, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menggodanya dengan mulut yang dimonyong-monyongkan.


Pun tanpa sadar dia ikut termonyong-monyong.


Satu kecupan mendarat mulus di bantalan lembut bibir Kayden James Ford. "Udah, ya?" Aku merayunya dengan sekali kecup lagi. Lalu lagi. "Udah. Udah. No more merajuk like a baby," suruhku dengan tepukan yang kali ini betul-betul lunak di pipinya.


Bibir itu menyabit setelah mendapat jatah kecupan berulang. "Yes, Ma'am," sambut Kauden dengan patuh.


Kami kembali mengambil posisi yang sama. Akan tetapi, perhatianku kini terpusat pada percakapan di layar. Ternyata sudah masuk pesan baru.


Marina : sorry, girls


Marina : jadi gue duluan aja


Pesan yang membikin iri itu diakhiri oleh emoji menjulurkan lidah.


Yep, yang dimaksudnya itu adalah aku.


Kami—dengan hasutan Marina tentu saja—sebenarnya sudah menyelesaikan agenda wajib para siswa sekolah menengah atas di seluruh dunia saat kami berusia enam belas; membuat kartu identitas palsu. Waktu itu kami dibantu oleh yang Marina akui sebagai kenalan. Namun, kami belum memperoleh kesempatan untuk mencoba menyaksikan keajaiban kartu seharga seratus dolar itu.


Atau, lebih tepatnya, aku masih tidak mendapatkan izin untuk menggunakannya. Aku yakin kalian tahu dari siapa.


Sampai hari ini. Bagi Marina.

__ADS_1


That's why Paulina is crying the poor Snoopy's eyes out judging by the gif she sent.


And that's why I'm making eyes with my boyfriend right about now.


"Yang," panggilku sambil menaik-turunkan alis dengan seringai yang sudah siap sedia dari tadi.


"What?" sahutnya menantang dengan satu alis yang tinggi di dahi.


Aku menggoyang-goyangkan telepon genggamku.


"What is that supposed to mean?" imbuhnya lagi, pura-pura tidak mengerti. Kayden ingin aku mengucapkan apa yang ada di dalam kepalaku sehingga dia bisa menjawabnya dengan apa yang ada di dalam kepalanya juga.


Walau aku sudah bisa menebak apa yang akan aku terima. "Ini, Yaaang." Aku merengek, mulai mengeluarkan jurus-jurusku lagi.


Dia masih saja mempertahankan benteng kura-kura dalam perahunya. "Iya. Apa?"


"Huh!" Aku mendengkus sebelum akhirnya menyerah. "Si Marina mau ke Heaven sama sepupunya."


Heaven merupakan klub malam paling hype saat ini di pusat Kota Los Angeles.


"Terus?"


"Kita ikut, yuk?" There, there I said it. Akhirnya aku menyatakan apa yang hendak didengar oleh Kayden dari tadi.


Cowok itu menatapku sejenak. Kalakian dia mengembuskan napas panjang. Aroma mint dari permen yang selalu diemutnya seketika memenuhi paru-paruku. "Yang," ucapnya dengan berat di kesudahan, air mukanya kini berubah serius. Dia menegakkan tubuh, memutarku dengan enteng karena dia juga menyimpan tenaga yang kuat di dalam tubuhnya yang kekar tersebut sehingga kini kami menjadi duduk berhadapan. "There's a reason why we never use our fake ids. Dan kamu tahu alasannya apa, kan?"


"Yeah, because you're a total control freak," jawabku ceplas-ceplos dengan tangan bersilang di depan dada.


"What? No! You know that's not why," sanggahnya kilat. Lalu Kay terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Oke." Dia mengangguk. "Kamu boleh bilang aku control freak karena itu memang benar banget, apalagi menyangkut hal-hal yang berhubungan sama kamu. And in case it hasn't get through that beautiful yet hard head of yours, dengarin aku, ya, my beloved Nikita Bliss Levine, the love of my life. Aku bersikukuh untuk gak pernah masuk ke klub mana pun sebelum waktunya, atau seenggaknya sampai kita lulus SMA, karena aku pengen jaga kamu. Aku udah bilang ini ribuan kali. Aku gak mau sesuatu yang buruk terjadi sama kamu.

__ADS_1


"I know you, okay? Aku kenal kamu dan aku bisa bayangkan apa yang akan terjadi nanti seandainya kamu terbiasa sama scene kayak gitu. Kamu adalah gadis yang mudah penasaran, Yang. And I love you for that. I really do. Aku suka jiwa kamu yang penuh dengan rasa ingin tahu itu. But, at least for now, rein it in a little. Okay? Coba ditekan dulu kehendak kamu untuk mengikuti arus yang, sorry to say, gak akan menguntungkan sama sekali buat kamu. Kamu mau nilai kamu naik dan kembali ke tim? Kamu harus fokus. Kamu harus bisa disiplin. Kamu harus menang dalam melawan diri kamu sendiri. Kalau enggak ...."


To be continued ....


__ADS_2