
"Ya, sama. Sama seperti apa yang kamu rela lakukan buat aku, aku juga ada di sini untuk kamu. Kalau kamu punya sesuatu yang mau kamu bagi, aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik. Soal apa pun itu."
Hening menyapa sepintas lalu. Kemudian Kayden berdeham. "Yeah, about that," tuturnya. Dia terdengar sedikit ragu.
"What is it?" Aku bertanya dengan lembut, mendorongnya bercerita. Ini memang bukan hal yang adil, tidak ada di dunia ini yang adil, akan tetapi lebih baik daripada perhatian dari Kayden, dan rasa bersalahku, menguasai suasana. Sekarang, dengan mengalihkan pokok pembicaraan kepadanya, aku jadi memiliki alasan untuk tidak terlalu larut dalam perasaanku sendiri.
"Memang ada satu hal yang mau aku bahas sama kamu, sih," ungkap Kayden di kalakian, tanpa harus berpikir lama.
Aku kembali menoleh. "Iya? Soal apa, Yang?"
"Ng ... anu." Dia menggigit bibir bawahnya yang empuk.
Alis kiriku terangkat. Akal yang centang-perenang tadi otomatis saja mengarah pada satu pasal. Mungkinkah yang dimaksudnya adalah ... itu? Jawaban yang ternyata di luar perkiraan kalau dia benar-benar membahas soal ... itu.
"Tapi, kamu harus janji dulu kalau kamu gak bakal marah," lanjutnya lagi.
Alis kananku kini ikut bergabung tinggi di dahi. "Marah kenapa emang?" Entah kenapa suaraku tiba-tiba bergetar.
"Ya, soal itu, Beb. Ngg, anu ... itu. Anu. Eh."
Cepat-cepat kupalingkan muka, tak ingin Kayden membaca apa yang mengapung di airnya. Aku tidak tahu bagaimana bisa percakapan yang awalnya aku mulai demi membahas tentang pencari bakat malah menjadi masalah anu-anuan begini.
Apakah anu yang dimaksudkannya adalah ... itu? Benarkah? Benarkah? Tapi ... tapi, kami sudah sepakat bahwa kami tidak akan melakukannya sebelum tamat sekolah. Setidaknya sampai kami masuk kuliah dan mempunyai tempat tinggal sendiri.
Lalu, apa yang membuat Kayden memikirkannya sekarang? Kenapa dia ingin membahas soal ini hanya beberapa bulan sebelum kelulusan? Apa yang mendorongnya untuk mengubah pikiran? Apakah dia sudah tidak sabar lagi menunggu Apakah ...?
Apa ...? Aku harus apa? Kalau benar dia menginginkan "itu" terjadi dalam waktu dekat, aku harus apa? Harus bagaimana? Rasanya ... rasanya ....
Aku ... aku ....
Percayakah jikalau kukatakan bahwasanya separuh hati ini juga ingin sekali melakukan, mengecap rasa yang teman-teman lain suka panggakkan, akan tetapi separuhnya lagi menentang kemauan diri? Karena .... Karena apa? Prinsip? Kesepakatan bersama yang sudah kami buat? Atau hanya karena aku merasa belum siap?
__ADS_1
Apa pun itu ....
What the heck, World? Kerumitan kepala soal yang sebelumnya ada digantikan oleh kekacau-balauan akan hal lain. Tidak bisakah kau berhenti merecoki hidup ini?
What the fxck, Niki? Kenapa lo nyalahin gue? Jelas-jelas lo sendiri yang bikin hidup lo ribet dengan sikap over-thinking dan buruk sangka lo itu.
What the ...? Apakah baru saja ada yang berbicara? Siapa? Bagaimana bisa?
Ya Tuhan! Jangan bilang kalau aku mulai mendengar suara-suara yang sebenarnya hanya ada di dalam otakku sendiri.
Kupicingkan mata. Kutarik napas panjang dan kuembuskan perlahan. Sepelan mungkin agar Kayden tidak menyadari bahwa aku baru saja sibuk berkontemplasi. Bahwa aku mendengar suara yang entah siapa di dalam kepala ini. Lagi pula kenapa pikiranku harus mengarah ke sana, sih? Siapa yang suruh? Siapa juga yang menyuruh Kayden ngomong dengan menggunakan anu ... anu? Argh! "Itu apa, Yang? Anu-anu apa, sih?" dorongku dengan tak sabar.
"Aku gak tahu cara bilangnya gimana. Ng, anu, Yang," ulangnya lagi.
Oh, God. Please. Not another anu again. "Bilang apa? Anu, anu. Kamu nyolong, ya?" tuduhku seraya menepuk punggung tangan Kayden. Akhirnya aku memutuskan untuk memilih jalan bergurau dan mengakhiri spekulasi yang sudah kian kemari, mengalihkan pemikiran lagi. Alu tidak kuat jika harus meladeni otakku yang hobi belerja dengan terlalu keras setiap hari seperti ini.
"No! What the what, Yang? Kok kamu ngomongnya gitu?" protesnya.
Dia mengeratkan pagutannya, gemas. "Asal kamu tahu, ya, satu-satunya hal yang pernah aku curi itu adalah hati kamu."
Dengan cepat kudebat pernyataannya. "Kamu tahu dari mana kalau kamu udah nyuri hati aku? Siapa tahu aku yang kasih ke kamu dengan sukarela, kan?"
"Jiaah." Kayden tergelak. "Udah pintar ngegombal juga dia."
"Iya, dong," selorohku. "The perk of being with the most cheesy boyfriend on the whole wide world."
"Ih, kamu, ya." Dicubitnya pinggangku halus. "Aku, kan, ngelawak buat kamu doang. Biar kamu ketawa."
Aku memang berhasil dibuatnya terkikih-kikih. "Iya, iya. Thank you." Helaan napas menjadi pemberi jeda. "Aku bahagia banget sama kamu," akuku di kesudahan, dari lubuk hati nan paling dalam.
"Thank you, Sayang. It makes me happy to know that I can make you happy."
__ADS_1
Yeah, he's perfect. And he's mine. I don't know what I did right in my previous life, but I thank my lucky star for him. "Jadi, apa, dong?" tanyaku setelah menerima ungkapan terima kasih yang disampaikan Kayden lewat gumulan lidahnya. "Kalau kamu gak nyolong, kamu ... selingkuh, ya?"
Mata bermanik biru itu membulat, besar. "What the heck? Yang! No, I will not! Never!" sergah Kayden gusar dan penuh rasa tidak percaya. "How could you say that?"
Well, maksud hati masih hendak melucu, apalah daya salah topik. "Eh, sorry, sorry, Yang. Aku cuma bercanda. Sorry." Berulang kali aku meminta maaf dengan gugup.
Dia mendengkus. "Iya, aku tahu. Tapi, kamu pikir itu bahan bercandaan yang bagus? Enggak, Yang. Aku serius, ya, aku gak akan pernah menyakiti kamu. Apalagi menghancurkan kamu dengan melakukan hal yang completely gak jantan begitu. Fxck those fxcking puxsy who did that."
"Iya, aku minta maaf. Aku tahu," sesalku pula.
Pemuda itu kemudian menempatkan daguku di antara ibu jari dan telunjuk kanannya, lalu memalingkan mukaku hingga mata kami bertemu. "So, please, hapus kata itu dari kamus hubungan kita. Okay? Aku gak mau dengar kamu bilang itu lagi. Ever. You hear me?"
"Yeah. Okay," janjiku. "Sorry." Aku meminta maaf untuk kesekian kali.
"Good." Kayden mengangguk begitu dia puas melihat apa pun yang dia cari dalam pancaran wajahku.
"So ...."
Dia menghela napas panjang. "So," sambutnya. "Aku gak tahu gimana kamu akan menanggapi hal ini, tapi, please, dengar aku dulu. Okay?"
Sekarang giliranku yang mengangguk. Aku kemudian mengacungkan jempol, berpura-pura memasang ritsleting khayalan di bibir, dan membuang kuncinya sembarangan.
Pacar paling sempurna di dunia itu tergelak dan menjentik puncak hidungku. "Coach bilang ada scout yang datang ke pertandingan di Palmdale kemarin buat lihat permainan aku."
"Sebenarnya ini sudah diindikasikan," lanjut Kayden sambil membuat tanda kutip dengan jari-jarinya saat dia mengucapkan kata indikasi, "Oleh Coach Jordan dari jauh-jauh hari. Semenjak latihan pramusim malah. Tapi, waktu itu aku gak terlalu ambil pusing, maunya fokus sama kasih yang terbaik aja buat tim. Nah, sehabis pertandingan kemarin, dia baru bilang lagi."
Dia cengengesan, menertawakan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri. Aku hanya diam memperhatikan, berusaha menunjukkan reaksi yang senetral mungkin. Atau senetral yang aku bjsa karena sudah mengetahui apa yang akan dikatakan. "Intinya aku disuruh mulai mikirin soal karir aku ke depannya. Aku tadi sempat bahas sepintas lalu sama Mama soal ini, dan untungnya Mama mendukung. Dia bilang bagus kalau aku mulai lihat-lihat kampus yang lain selain Harvard."
You heard it right, ladies and gentlemen. Kayden sudah dipastikan akan menjadi salah satu dari sejumlah orang yang beruntung menjadi mahasiswa Harvard Business School, sama seperti papanya, Mr. Nicholas Ford. Masa depannya sudah tertata rapi sejak orang tua Kay merencanakan kehadirannya.
Now look at me. Aku tidak tahu akan berada di mana setelah lulus nanti. Jangankan untuk bersaing dengan orang-orang pintar itu, bergumul dengan kalkulus saja aku masih tidak mampu.
__ADS_1
To be continued ....