
Baru saja turun dari mobil sekonyong-konyongnya seseorang sudah berada di samping dan bergelayutan di lengan kiriku. "Gimana? Gimana? Gimana?" todongnya dengan kehebohan yang tidak cocok dengan pagiku yang baru akan membaik karena Kayden.
Otak yang tidak mendapat jatah istirahat semalaman tentu tidak berfungsi dengan optimal dan lantas menjadi lemot. Butuh sejumlah waktu untuk memproses data yang masuk agar aku bisa menempatkan apa yang orang ini katakan sebenarnya. "Gimana apanya?" Aku bertanya dengan kesabaran yang genting dan hampir putus.
"Gimana soal belajar tambahan lo kemarin? Kan udah beberapa hari jalan, nih! Udah ada kesempatan, dong, ngomongin gue sama Beckham? Dia mau dikenalin sama gue? Udah mau PDKT sama gue? Atau gimana? Gue udah gak sabaran, tahu. Ayo, dong! Ayo, dong! Ayo, dong! Cerita, cerita. Kasih tahu ke gue apa aja yang udah kalian bahas!"
Oh, shxt. Paulina bertanya soal Beckham.
Kalau saja dia tahu apa yang terjadi di setiap pertemuan kami.
"Sorry, Pol. Tapi, lo harus–"
Aku memotong kalimat Kayden dengan kerlingan yang "agak" tajam. Aku tidak mau orang-orang mengetahui semua itu. Dan aku rasa ini ada kaitannya dengan apa yang terjadi kemarin dan rasa bersalahku yang bagaimanapun kucoba hapus, tetap ada di sana.
"Maksud Kayden itu, lo harus sabar. Oke? Gue, kan, baru beberapa hari kenal sama Beck. Itu pun kita sibuk belajar. Belum sempat ngobrol yang gimana-gimana. Jadi ... I need more time, okay? Sabar, ya." Aku tersenyum kaku.
Energinya menguap seketika mendengar penjelasanku. "Yaaah," desahnya kecewa.
"Sorry, Neng. Tapi, lo jangan kecil hati dulu. Gue pasti bakal bantu lo. Cuma, ya, butuh waktu." Aku mengangkat sebelah bahu.
Walaupun kekecewaan jelas mengeruhkan air mukanya yang tadi terlihat sangat antusias, Paulina tetap menjawab, "Iya, deh. Yang penting lo bantuin gue. Lo, kan, udah janji."
"Iya, iyaaaa." Aku di kalakian melihat ke sekeliling. "Marina sama Isobel mana?"
"Oh, itu. Mereka udah di dalam. Marina katanya mau siap-siap buat presentasi tugas kelompoknya. Si Is lagi ngurus soal cheers sama Mrs. Lekovich."
Ouch. That stings. "Oh, oke. Ya, udah kalau gitu. Gak ada yang ditungguin lagi. Yuk, ah, masuk!" Aku menariknya menuju ke gedung.
Kini giliran Kayden yang berjalan di sisi kananku yang mengerling. Melalui tatapan mata dan kerutan di keningnya, dia seakan bertanya, "What the heck are you doing, Yang?"
Aku hanya mengangkat bahu sekilas. Tidak ada jawaban yang bisa kuberikan pada pemuda itu karena memang aku sendiri tidak mengetahui apa yang sedang aku perbuat.
What the heck, indeed, Yang. What the heck indeed.
****
Kian tinggi matahari, kian pendek sumbu amarah ini. Ada-ada saja yang membikin sakit hati. Baru saja aku menghardik seseorang yang terlihat seperti siswa kelas sembilan yang secara tidak sengaja menyenggolku di koridor. "Woy! Lihat-lihat kalau jalan!" semburku.
Gadis berkacamata dan memakai kawat gigi yang berhenti di sisiku itu sampai membungkuk sembilan puluh derajat saat meminta maaf dengan gagap. "Ma-maaf, Kak. Maaf. Maaf." Diucapkannya berulang-ulang sembari membungkuk, lalu tegak, dan membungkuk lagi.
Aku berlalu tanpa memedulikan permintaan maaf tulus atas kesalahan yang tidak dia lakukan pada bungkukan kelima.
__ADS_1
Menu makan siang yang disiapkan pihak sekolah juga nampak sangat menyinggung perasaan. Bagaimana tidak? Sayur di campuran salad-nya tidak ceria; pisang dan apel yang dipajang terlalu menyedihkan; sandwich-sandwich itu terkesan begitu lembek untuk dijadikan penambah stamina dalam mencerna isi pelajaran. Dan, jangan mulai menanyaiku soal pizza mereka! Bagaimana bisa mengharapkan remaja-remaja negara kita untuk mengembangkan kemampuan jikalau makanan yang dikonsumsi adalah potongan-potongan bantat ini?
God damned it!
Tidak ada yang selesai.
Aku berakhir dengan sebuah yogurt tanpa rasa karena rasa-rasanya semua serba salah.
Duh!
"Kenapa lo? Itu muka, kok, kusut banget," tanya Marina yang baru datang. Di tangannya terdapat sebuah baki yang berisi sebuah pisang, apel, dan yogurt.
Akan tetapi, lain halnya dengan baki Paulina dan Isobel. Tentu saja hal ini mendatangkan kekesalanku lagi.
"Serius, deh, Nik. Lo kenapa, ha?" Paulina sekarang yang mengintrogasi.
"Seharusnya gue yang nanya itu sama lo," tuturku seraya menatap Paulina dan Isobel yang duduk di seberang. "Lo serius mau makan gituan?"
"Maksud lo gituan apa?" Si Pirang memeriksa bakinya dengan terheran-heran.
"Itu yang–" Namun, tak jadi kuselesaikan kalimat itu.
"Sehat lo?"
"Are you okay?"
Berturut-turut pertanyaan-pertanyaan tersebut keluar dari mulut tiga sahabatku. Pun kali ini aku bisa merasakan pandangan bingung mereka menusuk wajah.
"Sorry," pintaku masih dengan mata tertutup. "Gue lagi ngantuk aja. Semalam begadang." Kuhentikan penjelasan sampai di situ.
Marina sontak merangkul bahuku. "Ah, Girl. Pasti lo begadang buat belajar, kan?" Dia mengelus-elus lenganku lembut. "Kasihan Nikita kita." Ditepuk-tepuknya bahuku juga, menyampaikan rasa simpatinya.
"Iyaaa." Paulina ikut mencebik. "Yang semangat, ya, Neng. Lo pasti bisa. Demi masuk tim lagi." Dia ikut meyakinkan. "Gue kangen banget bisa cheers bareng-bareng lagi. Benaran gak asyik tanpa lo, tahu!"
"Apa lo gak sebaiknya istirahat aja dulu?" usul Isobel sekarang. "Di ruang kesehatan gue rasa bisa, kok."
Tanpa berpikir panjang, kutolak idenya. Meski terdengar sangat nikmat, masuk ke ruang kesehatan akan menambah deretan masalahku. Dokter Sophie tidak akan tinggal diam. Dia akan memeriksa apa yang bisa diperiksanya untuk memastikan keadaanku.
Dan aku tidak akan jadi beristirahat.
"Enggak mau gue. Lagi gak mood direcokin Dokter Sophie. Lagian tinggal satu jam pelajaran lagi. Selesai itu gue bisa pulang." Apalagi dengan jadwal belajar tambahanku yang entah masih ada atau sudah berakhir dengan kejadian kemarin.
__ADS_1
"Okay kalau itu mau lo. Tapi, lo yakin?"
Kalimat yang baru saja dukatakan Isobel entah kenapa terdengar sangat menyinggung di telingaku. "Udah, deh, Is! Kalau gue bilang gak mau, ya, gak mau. Berarti gue yakin. Gimana, sih, lo? Masih aja pake nanya!" sentakku.
Mata Is seketika membulat. "O-okay," gagapnya yang kemudian tertunduk.
"Niki!" tegur Marina dan Paulina bersamaan. "She's just being nice, you know." Marina kemudian menambahkan.
Kuembuskan napas panjang. Shxt. Shxt. Shxt.
Bergadang memang hanya membuahkan rugi bagi diri.
****
Setelah mencuci muka berkali-kali, dan berusaha tetap fokus dengan mengkonsumsi permen pedas, aku berhasil sampai di rumah tanpa kekurangan suatu apa pun. Terima kasih banyak, Tuhan.
Kuseret kakiku yang semakin lama terasa semakin berat. Rasa-rasanya tak akan terdaki tangga ini. Namun, kukuatkan niat dalam hati. Aku harus sampai di kamar agar bisa segera bertemu dengan kasur empuk dan bantal bulu angsaku nan selembut awan.
Manusia betul-betul butuh motivasi yang tepat untuk membuat perhatian mereka tak lari dari tujuan. Saat melihat pintu kamar saja, rasanya sudah ibarat melihat pintu surga.
Langsung saja aku menghambur ke atas kasur.
Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
****
Tubuhku bergoyang-goyang. Wait, wait. Bukan kusengaja. Akan tetapi, ada yang mengguncangnya.
Alhasil, dengan terpaksa kesadaranku berkumpul sedikit demi sedikit. Siapa, sih, yang berani mengganggu tidurku?
Kutepis tangan yang masih saja menggaduh. "Kayden, stop!" Tak dapat kupikirkan kemungkinan lain. Pastilah saja dia oknum yang berani berbuat seperti ini.
Dia masih saja merundungku. "Yang, stop, please! Aku masih ngantuk." Kini kuubah taktik dengan merengek. Dia pasti luluh.
Namun, nyatanya tidak.
"Gak ada gunanya lo merengek sama gue. Gak bakal mempan. Bangun! Jangan pikir lo bisa lari dari jadwal belajar tambahan kita!"
Mataku seketika menyalang mendengar suara itu. What the fxck??????
To be continued ....
__ADS_1