Love Me, Please

Love Me, Please
22. Here We Go Again


__ADS_3

"Aku boleh nginap, kan, Yang? Udah sampai sini, malas banget buat balik."


Wajah kuyu dan mata yang sudah sayu Kayden membuatku tak jadi memutar bola mata. Kalau saja tampangnya tidak selesu itu, tentu aku akan mengejeknya karena menggunakan alasan yang sungguh lame seperti malas yang baru saja keluar dari mulutnya. Lagi pula, memang, ini sudah lewat dari tengah malam. Aku tidak tega untuk menyuruhnya berjalan sendirian selarut ini.


"Ya udah, ganti baju sana. Habis itu aku yang pakai kamar mandi."


"Thank you, Sayang," tuturnya sambil mengecup keningku sekilas.


Kuembuskan napas panjang. Kalbu tak pelak menggundah lagi.


God.


Berupaya aku untuk menata rasa seraya menyiapkan baju ganti untuk Kayden di walk-in closet yang juga terhubung dengan kamar mandi. Dia memang sudah mulai menyisipkan pakaiannya di sela-sela wardrobe-ku semenjak kelas sepuluh, saat kami mulai mengenal dan ikut serta dalam kegiatan yang namanya after party setelah pertandingan The Lions. Kuletakkan baju kaus tipis putih dan sweatpants abu-abu di atas meja yang ada di sebelah pintu.


Yep, you guess it. Saking seringnya menginap, Kayden kini memiliki bagian khusus untuk pakaiannya di dalam lemariku.


Aku segera menggantikannya sesaat setelah dia selesai. Kulucuti semua pakaian di badan. Benda-benda itu lantas bergabung bersama kain kotor yang dikenakan Kayden tadi di dalam keranjang.


Melangkah aku ke bawah kucuran air yang berasal dari shower system. Kuresapi rasa nan ditimbulkan oleh titik-titik yang bak hujan air hangat jatuh membasahi kulit. Aku mendesah. Seketika otot-otot yang seharian ini sudah dipaksa untuk bekerja menjadi lebih kendur. Seluruhnya. Tak terkecuali ... hati.


Bebas sudah kesudahannya. Apa-apa yang sedari tadi, seharian ini, ditekan kuat-kuat, dibenamkan dalam-dalam, dipalsukan sehingga terasa begitu nyata; meluluh. Pertahanan telah runtuh. Topengku luruh.


Entah mana yang apa. Air mandi dan air mata tak lagi ada beda. Keduanya telah berbaur menjadi satu. Mengalir dan membasuh seluruh tubuhku.


Cukup lama aku berdiri di bawah pancuran sebelum memutuskan untuk selesai. Aku kemudian beralih ke wastafel. Setelah menyeka uap yang menutupi cermin, akhirnya aku bersemuka dengan pantulanku.


Gadis itu berdiri dalam balutan handuk sedada. Kulitnya yang terbuka tampak merona merah akibat terkena serangan air hangat yang terlalu lama. Begitu jua dengan wajahnya. Tak hanya berona merah muda, matanya sembap pula.


Tatapannya sungguh memantulkan apa yang ada dalam hatinya yang kompleks; bimbang, takut, sedih, marah, dan kecewa berenang-renang di dalam lautan pupil berwarna cokelat terang itu. Sudut-sudut bibirnya tak lagi tinggi, kini terlalu mudah mengikut gravitasi.


Air mukanya sendu.


Pun jatuh bahunya membikin dia terlihat lebih pilu.


Siapa dia? Mana aku?


Kugelengkan kepala cepat-cepat untuk menahan laju air mata yang kembali menggenang. Setelah itu, kuhela napas panjang dan menantang bayangan yang ada di hadapan.


Padanya kukatakan, "No, Nikita. Kamu gak boleh nangis. Gak boleh rapuh. Gak boleh jadi batu sandungan lagi buat Kayden. Kamu harus kuat demi dia. Dia udah berkorban banyak buat kamu. Sekarang saatnya kamu balas semua kebaikannya."


Saat keluar dari kamar ganti, aku menemukan Kay yang sudah berlayar ke alam mimpi. Tubuhnya dibaringkan ke samping, menghadap ke sisi tempat tidur bagianku. Lampu tidur di nakasnya pun sudah pudur.

__ADS_1


Walau karpet dapat meredam suara langkah, tetap saja aku bersijengket menuju kasur. Kusibak ujung selimut dengan hati-hati sebelum membaringkan tubuh pelan-pelan di sampingnya.


Kuperhatikan wajahnya yang tampan tenang dibuai rasian. Ingin hati ini menelusuri setiap lekuk, garis, seluruh bagian dengan ujung jari, akan tetapi kuurungkan. Tak mau mengganggu lelapnya dan membuatnya terjaga.


Berbagai emosi tadi kembali berkecamuk di dalam dada. Diam-diam butir-butir bening menyelinap keluar, meluncur dari sudut mata, dan berakhir di atas bantal dari bulu leher angsa.


"I love you, Sayang. Maafin aku, ya."


****


Suara ketukan di pintu membangunkanku. Setengah sadar, kulirik jam di nakas. Cahaya LED-nya menunjukkan pukul 7.35 AM. Aku mengerang.


It's too early.


"What is it?" Otakku langsung meregistrasi suara Kayden. Kantuk dan posisi tengkurap membuat kalimatnya terdengar seperti "whut us ut".


"Nothing. Paling Mrs. Crane," jawabku tak kalah serak. Sebuah kuap menyela. "Sleep. I'll be right back." Kukecup sudut bibirnya sebelum bangkit dengan setengah hati.


Benar saja, aku menemukan Mrs. Crane sedang berdiri di balik pintu. Seorang Mrs. Crane yang terlihat agak ... tidak biasa.


"Iya, Bi?" Aku lagi-lagi menguap.


"Ng, itu, Non." Mrs. Crane menghindari tatapanku sebelum kembali melanjutkan. "Ng, Tuan. Tuan sedang nu-nunggu Non di me-meja makan."


Gail terlihat semakin resah. "I-iya, Non."


"Kapan Papa pulang?"


"Se-semalam, Non."


"Sama siapa?" cecarku lagi dengan setengah terburu setengah berbisik.


"S-sendiri."


Aku ... aku tidak merasa senang Papa ada di rumah, akan tetapi, di satu sisi, aku juga tidak merasa tidak senang dia tidak membawa perempuan itu ke dalam rumah kami lagi. "Oke, deh, Bi. Thank you. Aku cuci muka bentar baru ke bawah, ya."


"Baik, Non."


Aku sengaja menggunakan kamar mandi di kamar yang ada di bagian lain lantai ini. Aku tidak ingin membangunkan Kay dan menjelaskan apa-apa kepadanya.


Sudah kubilang bahwasanya aku terlalu malu dengan kondisi keluargaku sekarang.

__ADS_1


Di ruang makan—shxt, ruang makan ini lagi—aku menemukan Papa yang sedang duduk di kursi di kepala meja sambil membaca koran. Secangkir kopi mengepul sudah tersedia di depannya. Belum pukul delapan pagi di hari Sabtu, dia sudah siap dengan setelan lengkap.


Hm.


Betapa aku merindukan akhir pekan yang dihabiskan dengan sarapan di atas kasur sambil menonton kartun diapit Papa dan Mama yang juga masih menggunakan piama. Atau menonton Papa membuat sarapan, kemudian makan bersama dengan Mama yang sudah terlalu lemah untuk turun dan hanya menunggu di kamar mereka. Ah, betapa aku merindukan scrambled egg juara buatan Papa itu.


I've been getting seriously jealous of the old me lately.


"Duduk, Nikita."


Aku tidak sadar jikalau Papa telah menyadari kedatanganku. Kuturuti kemauan satu-satunya orang tuaku yang tersisa itu tanpa suara dengan menghempaskan bokong di kursi di seberangnya.


Tiga setengah meter lebih jarak yang terhampar di antara kami rasa-rasanya tidak cukup jauh.


Betapa aku merindukan kedekatan yang pernah kami punya.


"Kayden masih tidur?"


Aku mendongak. Menatap pria paruh baya yang DNA-nya mengalir di dalam tubuhku. Dia menyeruput seduhan kopi hitam Arabika Mandheling Sumatra kesukaannya yang langsung didatangkan dari Indonesia di dalam cangkirnya dengan syahdu.


"Yes," sahutku singkat. Pasti Mrs. Crane yang sudah memberitahukan pada Papa kalau Kay semalam menginap di sini.


"Bagaimana kabarnya?"


Aku tersedak air ludah sendiri. What the heck? Bagaimana kabarnya? Bagaimana KABAR DIA?Screw that! How about, sebelum bertanya bagaimana kabar anak orang, kau bertanya bagaimana kabar anakmu sendiri dulu, wahai Bapak Adam Patrick Levine yang terhormat?


Dada ini mulai menyempit, rasanya agak sulit untuk bernapas. Akan tetapi, sekuat tenaga aku berjuang agar terlihat seperti pertanyaan Papa barusm saja dilontarkannya tidak berdampak apa-apa pada diri ini. "Good," jawabku sembari menyilangkan tangan di dada.


Papa mengangguk dari balik lembaran kertas koran. "Masih jadi bintang football?"


Aku berdeham. "Yep."


"Dia memang betul-betul berbakat."


Ada satu nada yang membuat kalimat yang baru saja diucapkan bermakna ... beda. Ada satu titik—di dalam intonasi yang dipakainya tidak dapat dipungkiri berhasil membikin diri ini merasa tersindir. Oleh karena itu, aku hanya menanggapi kalimat Papa dengan sebuah "hm" sebagai tanda bahwa aku masih mendengarkannya.


Mendengar, merasa, akan tetapi tidak dengan lapang dada.


Belakangan Papa melipat koran dan menghimpitnya dengan kedua lengan di atas meja. Jari-jemarinya saling berjalinan. "Papa terima telepon dari Wakil Kepala Sekolah kemarin."


Oh, soal ini. Here we go.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2