
"Lo gak boleh gitu, dong." Tangan Paulina langsung saja mendarat di lengan Kayden sesaat setelah kami bergabung bersama mereka yang sedang berkumpul di lobi gedung utama.
"Buset, Pol! Salah gue apa pagi-pagi udah sarapan tepakan dari lo?" protesnya seraya menyentuh lengan korban kekerasan sahabatku itu.
Si Pirang menatapnya dengan garang. "Yeee, jangan pura-pura gak ngerti deh lo!"
"Siapa yang pura-pura, ha? Gue beneran gagal paham sama kebarbaran lo ini." Kay kemudian menoleh padaku. "Ini anak maksudnya apaan, sih, Yang?"
Aku hanya mengedikkan bahu. Menolak ikut serta dengan urusan mereka. Lagi pula, aku tidak akan mengorbankan diri demi obsesi Paulina yang baru terungkap terhadap Beckham.
"Lo belum kasih tahu dia? Eerrgh. Please, deh, Nik." Paulina memutar bola mata hijaunya padaku dan Kay. "Besok-besok jaga sikap, ye. Jangan asal ngamuk sama calon pacar gue. Ngerti lo?"
Marina tergelak, akan tetapi tidak menjelaskan apa-apa. Ternyata kami punya kesimpulan yang sama.
Kayden menatap mereka bergantian. Kala matanya menangkap manik hijau Is, yang ditatap sekonyong-konyongnya langsung tertunduk. Pacarku itu segera beralih pandang. Dengan seribu kerut di keningnya, cowok dengan tinggi 185 sentimeter itu lalu mengirim tatapan memohon padaku.
Aku tetap bungkam.
"Udah, ah. Gak ngerti gue. Terserah lo, deh, Pol," gusar Kay sembari menggeleng.
"Iiiih, gemes gue. Kalau gak kasihan sama Niki udah gue kremesin lo!" geram gadis yang paling tidak suka dipanggil Pol oleh Kayden itu sambil mengepal kedua tangannya.
Untung betul Kay bisa menghindari tinju Paulina yang tahu-tahu sudah melayang dengan gesit.
Aku tak dapat menahan tawa. Walaupun dia selalu memberi dukungan atas hubungan kami dan mengelu-elukan Kayden di balik punggung pemuda itu, Paulina tetap saja tidak bisa menyembunyikan kekesalannya terhadap ketidakmengertian Kay. "Udah, udah, udah. Gak ada yang bakal dikremesin hari ini. Kalau gitu kita masuk dulu, ya, Neng Sekalian. Gue mau ngambil buku di loker. Yuk, Yang. Bye."
__ADS_1
"Jelasin sama dia, Nik! Harus!" Terdengar teriakan khas suara cempreng Paulina kala kami sudah berjalan beberapa langkah di depan mereka.
"Gue gak janji, yaaa," sahutku seraya berbalik dan berjalan mundur.
"Jangan ikutan jadi nyebelin kayak pacar lo, deh!" imbuhnya lagi, membikin beberapa kepala siswa-siswi yang ada di sana menoleh.
"Bye, Guys!" sorakku sembari berbalik, meninggalkan ketiga cewek tersebut di balik punggungku.
Kayden lantas saja merangkul pundak dan merapatkan tubuhku padanya. "Si Paulin kenapa, sih? Kok gak jelas gitu."
Kutautkan jemari tangan kiri dengan jemarinya yang menggantung di bahuku. "Au, ah," jawabku singkat. Aku hendak memindai sidik jari di panel kunci loker ketika tiba-tiba saja dia memutarku dengan mudah, membuatku tersandar ke lemari besi di belakangku.
"Apa, sih, au ah-au ah, hm?" Kay kontan mengungkungku di antara loker dan tubuhnya yang kekar. Dihujaninya wajahku dengan kecupan. "Nah, aku udah bayar. Sekarang kasih aku informasinya, Pretty Lady."
Kikihku pun memudar. Dasar si Paulina! Dia mau enaknya aja. Kenapa gak dijelasin sendiri tadi, sih, hm? Huh. "Dia suka sama Beckham," ungkapku di kesudahan.
"Iya, dia suka sama si Songong itu. Udah lama katanya. Dia baru ngaku hari Minggu kemarin," jelasku dengan sebelah bahu terangkat.
"Terus kenapa kamu gak cerita aja ke aku?"
Kedua alis yang kurawat dengan sepenuh hati hampir berada di garis rambut seakan hendak bertanya "oh, really?" pada pemuda yang sedang cengir-cengir kuda itu. "Hm, let me think about it, ya, Yang," ujarku sembari mengetuk-ngetuk dagu dengan ujung tunjuk berlagak mempertimbangkan sesuatu. "Karena aku pikir detail ini gak penting buat kamu? Atau karena kamu yang selalu kayak kebakaran jenggot kalau berurusan sama dia? Kira-kira apa, ya?"
Dicubitnya daguku gemas. "Iya, iya. Gak usah pakai ngeledek juga kali." Dia mencibir. "Tapi, kamu ada benarnya juga, sih, Yang. Kalau aku tahu soal ini pun gak akan ada pengaruhnya buat aku dan penilaian aku terhadap si Berengsek bin Songong bin Belagu itu."
Aku menggeleng dan berbalik. Kuambil buku panduan kelas sejarah dunia pagi ini ketika pintu loker berhasil terbuka. Kuembuskan napas agak panjang. "Yang, kamu masih ingat sama janji kamu ke aku, kan?"
__ADS_1
Kay menyandarkan sisi kirinya di loker di sebelahku. Diperbaikinya letak tali tas punggung yang tersampir di bahu. "Ingat, kok. Cuma, ya, urusan aku sama kamu beda, dong, sama urusan aku sama dia. So ...."
Kuembuskan napas panjang sekali lagi. Kadang tidak dapat kumengerti kenapa dia bisa sekeras kepala ini. Aku menoleh padanya. "Kayden, please," mohonku dengan suara memelas. Di dalam diriku, hati ini juga melakukan hal yang sama.
Cepat-cepat dia memberikan tanggapan, akurasa karena dia tahu aku betul-betul serius sekarang. "Iya, Yang, iyaaa," jawabnya sambil mengitarkan bola mata versi jantan. "Aku bakal jaga sikap."
Sejumlah sekon berlalu selagi aku menatapnya dengan sungguh-sungguh. Selepas kurasa dimengerti keseriusanku olehnya, aku mengangguk kecil. "Thank you."
"But, all bets are off kalau dia macam-macam sama kamu, ya. Apa pun bentuknya. Mau dia melirik kamu dengan cara yang salah sedikit aja, he will be done for."
Oh, my God. Masih saja. "Aku gak tahu kalau kamu ternyata bisa sebuas ini," lontarku dari balik pintu loker sambil menjeling pada cowok yang kini sedang melipat tangan di dadanya itu.
"Semua laki-laki yang beneran sayang sama pasangannya bakal jadi liar kalau menyangkut soal wanita mereka, Yang." Dia berkilah. Jelas tidak ingin meninggalkan ruang untuk perdebatan.
"Iya, ya?" Namun, tentu saja aku masih ingin melakukan hal yang terlarang.
"Hm-mm."
"Jadi kamu beneran sayang sama aku?" lontarku setengah bercanda setengah menguji. Aku tahu aku seharusnya tidak menanyakan ini pada pemuda yang sudah melakukan sebanyak apa yang dilakukan oleh Kayden untukku. Namun, sudah kubilang. Aku tidak bisa melewatkan kesempatan untuk menantangnya. Sedikit.
"Aku gak bakal jawab pertanyaan konyol itu, ya." Kayden mengarahkan telunjuknya pada hidungku. "Kalau kamu merasa harus mempertanyakannya lagi, mungkin ada yang salah dari cara aku mengungkapkan perasaan aku ke kamu."
Oh, no. Tidak, jika jawaban yang ke luar dari mulut Kayden seperti itu. "No, no, nononono," tampikku lekas-lekas. Kututup pintu lemari. "Aku cuma bercanda, Yang," ungkapku seraya menjalari dadanya dengan tangan sebelum mencekau kemeja yang dipakai. Kutarik bajunya hingga wajah Kayden hanya berada seangin di atas wajahku. "You're perfect." Sebuah kecupan berlabuh di bibirnya yang semakin hari terasa semakin memabukkan. "Too perfect."
"No, Sayang. I'm not," sangkal Kay sambil berbisik di bibirku. "Our relationship feels so perfect because you are."
__ADS_1
Ya Tuhan.
To be continued ....