
"Kenapa ketemuannya di sana, sih, Yang?" gerundel Kayden kala dia memutar setir agar mobil yang dikemudikan berbelok ke kiri.
"Gak tahu, Yang. Dia cuma kirim nama taman ini aja ke aku, gak pakai alasan kenapa dia milih tempat ini." Aku menjawab dari kursi penumpang sebelah pengemudi sembari mengedarkan pandangan ke arah tempat-tempat yang ada di luar jendela.
"Apa-apaan coba? Mau belajar, kok, di taman."
"Yaang," tegurku. Kuhela napas perlahan. Aku paham maksud Kayden. Aku paham dari mana rasa frustrasinya berasal. Namun, aku tidak dapat melakukan apa pun terhadap rasa itu selain meyakinkan dia kalau ini hanya pertemuan untuk belajar, bukan hal-hal lain yang bersifat pribadi.
Dia mengerang. "Iya, iyaa. Aku, kan, cuma nanya doang, Yang."
Aku tidak tahan untuk tidak menyindirnya. "Mungkin karena taman ini lebih luas. Biar seandainya kalian mau berantem gak usah nyari tempat lain lagi. Langsung aja guling-guling di rumput situ."
"Dih, berantem di sana yang ada ditangkap polisi aku, Yang. Kena pasal membuat kerusuhan di tempat umum," tukasnya. Namun, aku bisa mendengar senyum di antara kata-katanya itu.
"Nah, itu tahu."
Kabin mobil lantas diselimuti hening jangka kala Kayden menginjak rem dan mobil berhenti di salah satu spot parkir taman kota.
"Yang, kamu udah janji." Aku memperingatkan kekasihku yang sedang melotot ke arah Beckham yang ternyata sudah duduk di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon.
"Fxck." Dia menyugar rambutnya dengan frustrasi. Dia benar-benar tidak bisa menahan diri dengan apa pun yang berkaitan dengan cowok yang ada di luar sana itu.
Dan aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. "Please, Sayang." Opsi yang tersisa hanyalah memohon.
Bahu lebar Kay tampak naik-turun bertepatan dengan helaan napas panjangnya. Arkian, setelah beberapa kali tarikan napas, dia mulai menganggukkan kepala.
"Thank you." Kuremas tangannya sebelum ke luar dari mobil.
Alis Beckham sudah tinggi di dahinya ketika kami mendekat. "Well ...."
Terasa Kayden mengeratkan pegangan tangannya di tanganku. Sialan! Tak kubiarkan dia menyelesaikan apa pun yang ingin dikatakannya. "Shut it, Beck. Jangan mulai lagi, deh!"
Si Pencari Masalah mengangkat kedua tangan tanda menyerah tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Aku berbalik menghadap Kay sewaktu kami sudah berada di bangku yang ditempati Beckham. "Oke. Thanks, Yang. Kamu jalan lagi sana. Nanti telat."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, ya." Kay memberi tahu seraya mendelik ke arah belakangku. Pada siapa lagi kalau bukan pada yang dikatakannya si Berengsek bin Songong bin Belagu itu.
__ADS_1
"Kamu, kan, gak pegang HP." Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berlagak pilon.
"Ya, sama siapa, kek. Yang bisa langsung kasih tahu aku." Kay bersikeras.
Bola mataku otomatis berputar di dalam rongganya. "Iya, iya. Bawel. Lagian gak perlu kali. Aku pasti akan baik-baik aja."
"I hope so." Lagi-lagi Kay menanggapi perkataanku tanpa benar-benar melihat lawan bicaranya.
"I know so." Dan sekali lagi kuremas tangannya untuk mengalihkan perhatian Kayden kembali padaku. "Ya udah, pergi sana. Hati-hati, ya." Aku mengingatkan ketika mata indah itu sudah bertemu mataku.
"Oke, deh. Aku jemput nanti, ya. I love you, Sayang. See you later." Kalakian Kayden menarikku hingga tubuh kami beradu. Tanpa melewatkan momentum, dia menciumku, dalam. Tanpa pernah gagal membawaku hanyut dalam sensasi yang diciptakannya.
Bilamana bukan karena membuat kerusuhan, pasti kami akan ditahan polisi karena perbuatan tak senonoh di ruang publik.
Hingga sebuah dehaman yang agak keras membuatku tersadar dari sihir bibir Kay. Membuatku insaf bahwa dia sengaja melakukan itu untuk memperlihatkan klaimnya terhadap diriku.
Hendak marah, akan tetapi dia benar. Dialah yang memiliki segala aku. Namun, aku rasa tetap saja hal itu tidak perlu dikerjakan. Meskipun begitu, apa yang aku tahu? Laki-laki jelas memiliki bahasa mereka sendiri.
Dasar laki-laki.
"I love you, Sayang. See you soon."
"Lo gak merasa terkekang dikintilin terus sama cowok posesif, agresif, dan overprotektif lo itu?"
Kuletakkan tas di atas meja dan mendongak. "Maksud lo apaan?"
Dia mengangkat sebelah bahunya cuek. "Gak, cuma nanya. Gue yang ngelihat aja, kok, berasa sesak gitu, ya. Lonya enggak?"
Jangan bilang kalau si Beckham Lee Pierce ini mau cari gara-gara lagi. "Ya enggak lah. Kenapa juga gue ngerasa gitu? Lo aja yang gak ngerti gimana rasanya punya pacar. Belum pernah pacaran, kan, lo?"
"Cih, ngapain?" Cowok genius di depanku memasang tampang jejap. Satu sudut bibir itu kentara sekali miringnya. "Pacaran tuh cuma buang-buang waktu doang. Setiap detik dalam hidup gue terlalu berharga untuk dilewatkan dengan hal-hal begituan. Perhatian sama orang lain, mikirin dia, jagain dia. Beuh, ribet!" cerocosnya seraya memperbaiki letak kacamatanya yang melorot menggunakan jari tengah.
Jari tengahnya, ladies and gentlemen.
"Hati-hati kalau ngebacot. Kena karma baru tahu rasa lo!" Bukan maksud hati hendak menyumpahinya, sungguh. Aku hanya memperingatkan, sebagai teman.
Yep. Kalaupun sekarang kami bisa dikatakan teman.
__ADS_1
Lagi-lagi diangkatnya bahu berukuran sedang miliknya tak acuh. "Gue gak kenal sama siapa pun yang namanya karma."
Ini anak sikap arogannya udah mendarah daging banget, ya Tuhan. Sepertinya dia sudah tak bisa diselamatkan.
Aku menggeleng, tidak berniat melayani bengah si—yang dengan berat hati kuakui benar-benar cocok dengan julukannya ini—Songong. Kualihkan pokok percakapan. "Terus kenapa lo mau membuang waktu berharga lo buat ngajarin gue? Apa untungnya buat lo?"
"Hm. Apa, ya?" Dia terlihat menimbang-nimbang. "Kalau dipikir-pikir lagi, gak ada gunanya juga," putusnya di kesudahan, seolah-olah mengatakan hal seperti itu di depan muka orang yang dibantunya adalah hal yang sepele.
Mungkin baginya memang benar, tetapi tidak bagiku. "Nyebelin lo! Xsshole." Melayanglah sebuah penghapus yang berhasil mendarat dengan lumayan keras di kening cowok yang setelah pikir punya pikir layak sekali dijuluki belagu.
"Aduh!"
Bukan alang kepalang rasa puasku. "Syukurin!"
Beckham memungut karet berwarna hitam itu dari atas tanah dan meniup beberapa kali agar pasir yang melekat berterbangan sebelum meletakkannya kembali ke atas meja. "Gue juga gak paham kenapa. Mungkin karena hati nurani gue masih ada kali, ya?"
Aku mendesah. Mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa meski mulut Beck lebih berbahaya daripada sekumpulan binatang paling berbahaya sekali pun di dunia, dia tetaplah seseorang. Dengan enggan kutelan ejekan yang telah berada di ujung lidah dan menukarnya dengan komentar sungguh-sungguh dari dalam. "Of course lo punya perasaan. Siapa yang bilang enggak? Lo, kan, juga manusia."
"Lo tanya siapa yang bilang? Oke. Coba gue ingat-ingat. Ah, anak satu sekolahan?" tawar Beck—sekali lagi—dengan masa bodoh.
"Jadi lo tahu?" Aku memastikan.
"Tahu apa?" sahutnya lagi. Dia kini memainkan si karet penghapus hitam; memutarnya, menggelindingkannya, mengetuk-ngetukkannya. "Tahu kalau gue dikasih julukan songong?"
Aku mengangguk sekali.
"Ya, tahu lah. Gue, kan, punya kuping."
Rasa tidak enak hati serta-merta menghampiri. "Sorry," pintaku tulus. Diam-diam bertujuan untuk mewakili seluruh siswa-siswi Rockefeller High yang sudah mengatainya.
"Ngapain lo minta maaf?"
Aku merasa dipojokkan oleh pertanyaan tak berdosa itu hingga dibikin salah tingkah. "Ng, karena .... Karena .... Itu, ehm ...."
"Udahlah." Beck berkata sembari melempar karet hitam berbentuk persegi panjang itu ke udara sebelum menangkapnya. "Gue juga gak pengen ambil pusing. Terserah orang-orang mau berkomentar apa. Gue gak peduli. Seperti yang gue bilang tadi, cuma buang-buang waktu aja."
Sebuah kesimpulan mulai terbentuk di dalam benak. Agaknya ketidakpedulian sudah menjadi pengaturan pabrikan seorang Beckham. "Kenapa?" selidikku.
__ADS_1
To be continued ....