
"Kenapa apanya?" Beck balik bertanya. Mata hitamnya kali ini membalas tatapan mataku.
"Kenapa lo bisa secuek itu? Lo beneran gak mikirin apa yang orang lain bilang soal lo?"
"Yes."
"Why?"
"Karena mereka gak penting."
"Terus?"
"Terus apanya? Lo kalau mau nanya yang jelas, dong!"
"Maksud gue, kenapa lo bisa berpikiran seperti itu?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar sebelumnya dijawab Beckham dengan pendek dan tegas. Namun, tidak kali ini. Untuk segenap waktu, dia hanya membisu. Kembali sibuk dengan penghapus sialan itu. "Udah, ah. Yuk belajar. Kenapa malah jadi ngobrol gak jelas gini?"
Aku mafhum akan tangkisannya. "Beck." Entah apa yang membuatku merasa harus mendesak.
Akan tetapi, jawaban yang keluar benar-benar tidak terprediksi. "Shut the fxck up, Nikita! Urus aja urusan lo sendiri!"
Beckham Lee Pierce seketika berubah dingin lagi.
****
Kuikuti petunjuknya dengan separuh hati. Sebagian berupaya memahami dan sebelah lagi masih dongkol karena dia mengumpat padaku. Padahal aku pikir kami sama-sama menikmati senda gurau timbal-balik yang kami lakukan karena dia sepertinya mulai terbuka. Lamun, tak dinyana, malah begini jadinya.
Maju satu langkah untuk mundur seribu.
Stop it, Nikita! Fokus kamu sekarang bukan pemuda yang sedang duduk di seberangmu, akan tetapi nilai mata pelajaran yang sedang kamu pelajari.
Kukumpulkan niat sampai bulat. Sembari melihat soal semacam yang diberikannya tempo hari, aku merapal mantera dalam hati. Aku bisa. Soal ini mudah. Aku bisa menyelesaikannya.
Akan tetapi, tetap saja fakta yang menyata tak semudah berkata-kata.
Pikiran-pikiran tahu-tahu telah menaklukkan kepalaku lagi. Kau bodoh, Nikita! Mengerjakan soal begitu saja tidak mampu. Apa yang bisa kaulakukan, ha? Tidak becus!
Kenapa suaranya kian mirip dengan suara berat Papa?
Kau memang tidak pantas untuk Kayden.
Kay.
Oh, God. No.
Kay.
No.
Sebuah sentuhan lembut menyentak perhatianku kembali pada masa kini.
__ADS_1
"Hey." Tepukan lembut berulang di tanganku yang tak disadari telah gemetaran. "You okay?"
You okay? Masih saja persoalan yang sama. Pun jawabannya tak akan beda.
"Ye-yeah," gagapku seraya menarik tangan ke pangkuan. "I'm okay. I'm totally okay."
Dua buah kerutan dalam terbentuk di kening Beckham yang bekernyut. "Tapi ... lo gak kelihatan baik-baik aja."
"Kerutan di kening lo lucu," ungkapku sembarangan.
Beck menepis komentarku. "Kening gue gak ada hubungannya sama ini. Sekarang jawab gue!"
Wow. Benarkah dia baru saja bilang begitu? Betapa double standard-nya si Berengsek ini!
"Kenapa lo peduli? Bukannya lo bilang urus aja urusan masing-masing?" bentakku. Enak saja. Dia tidak mau aku mencampuri urusannya, akan tetapi dia bisa dengan bebas masuk ke kehidupan pribadiku? Hell no!
Aku bangkit, mencoba melenturkan otot-otot yang menegang karena stres. Damn it, Nikita! Kamu harus berhasil menaikkan nilaimu. Itu satu-satunya jalan agar kamu bisa masuk tim lagi.
Kuayunkan lengan ke depan dan ke belakang, sesekali telapak bertemu dan bertepuk lunak. Kulemaskan kaki dengan berjalan-jalan dalam langkah kecil, lalu memutar pergelangan kaki bergantian. Begitu juga dengan kedua tanganku.
Ayolah, Nikita! Kamu bisa. Kamu pasti bisa. Kamu harus bisa.
Namun, bagaimana cara memenangkan pertikaian jika yang terlibat adalah otak dan hati sendiri?
Jawabannya ... tidak seorang pun yang tahu.
"Ng ... sorry." Terdengar permintaan maaf ragu-ragu dari seberang meja.
"Gue gak butuh permintaan maaf lo." Bergegas aku menolaknya.
Kubiarkan kalimatnya berlalu tanpa tanggapan.
"Relax."
Aku tetap diam.
"Chill out."
Bungkam.
"Calm down."
"Leave. Me. The. Fxck. Alone." Kalakian aku menggeram.
Sebuah gelak tertahan lolos dari bibir cowok yang beberapa saat yang lalu dengan tololnya kupertimbangkan untuk menjadi seorang teman. "Gimana gue mau ngebiarin elo? Kita, kan, di sini mau belajar bareng."
"Ya udah! Kalau gitu lo belajar sendirian aja," usulku seraya membuang muka.
"Tapi, yang gak lulus kalkulus, kan, elo bukan gue."
What a freaking snob! "Bisa gak, sih, mulut lo dikasih filter dulu? Biar yang keluar dari congor lo itu gak selalu bikin nyelekit hati orang!"
__ADS_1
Dom berani-beraninya mengedikkan bahu. "Atau orangnya aja yang disuruh gak usah terlalu baper. Gimana?"
"Lo itu benar-benar bxrengsek, tahu, gak, lo?"
"Apa? Gue kenapa?" tanyanya jelas-jelas hendak mengejek.
Aku tidak akan menjadi objek kebangsatan pemuda ini. "Udahlah!" seruku sembari berdiri dan membereskan barang-barang. "Gue mau pulang aja."
Pun hal itu membuatnya ikut bangkit. "Eits! Shxt. Eh, maksud gue sit, duduk. Jangan pulang dulu, dong. Kita, kan, belum selesai."
"Bodo amat."
"Seriusan lo? Mau bodo amat aja sama posisi lo di tim?"
Persetanlah! Persetan soal dia dan kesombongannya! Persetan dengannya dan kegeniusannya! Persetan dengan semua tentang Beckham sialan!
Kuhela napas dalam-dalam lalu kukeluarkan perlahan. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Kembali kuatur posisi dengan duduk bersila. Kulepaskan tangan dari benda-benda yang kugenggam. Blazer dan dasi sudah kubuka dari tadi. Lengan kemeja yang kupakai pun sudah tergulung sampai ke siku.
Daun-daun rimbun pohon ek ini menanungi kami dari sengatan matahari sore hari bulan September Los Angeles yang panas terik. Akan tetapi, ironisnya, mereka tidak mampu melindungi hatiku yang palak menghadapi cowok paling tidak konsisten di hadapanku.
"Mau lo apa, sih, Beck?" risikku rendah setelah menguasai emosi.
"Maksud lo?" Guratan tak mengerti melukis rupa mukanya yang—mengutip Paulina—tampan untuk seorang kutu buku.
"Ya, mau lo apa? Lo mau kita belajar aja? Okay, fine. Sorry kalau gue sempat komen atau nanya tentang hal yang gak mau lo bagi. Gue bakal hargain privasi lo. Tapi, itu berarti lo juga harus melakukan hal yang sama ke gue. Hargai juga persoalan pribadi gue."
Sekonyong-konyongnya dia menggeleng. "Gak," tandas Beckham. "Gue pikir dalam hal ini kita gak bisa gitu, deh."
Kebingungan mengunjungi kami silih berganti. Kini giliranku yang bertanya-tanya. "Gak bisa kenapa? Apa alasannya?"
"Ya, soalnya gue punya beberapa teori tentang ...." Beck membengkalaikan kalimatnya di sana.
Kuberikan kesempatan untuknya melanjutkan. Namun, setelah sejumlah waktu berlalu, dia tetap saja membatu. "Soal apa?" desakku di arkian.
Dia menggeleng. Lagi. "Gue belum bisa bilang. Tapi, nanti kalau semua udah pasti, gue bakal kasih tahu lo, kok. Karena ini memang tentang lo."
Rasa ingin tahuku sungguh sudah di ubun-ubun. "Apaan, sih, Beck?"
"Kasih gue waktu sampai besok."
Pun ulahnya yang penuh rahasia tak pelak membikin darahku mendidih hingga ke puncak kepala. "Dasar gak jelas!"
Untuk kesekian kalinya dia mengedikkan bahu. "Buat gue jelas banget malah."
"Gue gak punya waktu buat meladeni teka-teki lo, ya."
"Lo gak punya atau gak mau menyisihkan waktu?"
"Whatever." Kusandang tas lalu kuraih blazer berwarna biru dongker itu. "I'm leaving."
Akan tetapi, baru saja berbalik, kata-kata yang dimuntahkan Dom berhasil memakuku di tempat. "Lo takut, kan?"
__ADS_1
What the ....
To be continued ....