Love Me, Please

Love Me, Please
43. Seuprit Demi Seuprit


__ADS_3

"Apa lo bilang?" Aku berbalik dan menantang Beckham mengulang ucapannya.


Tentu saja dia melakukan apa yang orang lain sebenarnya tak mau dia lakukan. "Lo takut," beber pemuda itu tanpa perasaan. "Iya, kan?"


Kedongkolan yang tadi sudah mencapai puncak kepala kini meruah, bersepah-sepah ke segala arah. "Jangan sok tahu lo!" sentakku tak kenal tempat.


"Gue gak sok tahu." Dia menimpali tak mengagak perasaan lawan bicara. Yang dia tahu hanya melawan.


"Kalau gak sok tahu, yang barusan itu apa namanya, ha?"


"Mengungkapkan apa yang benar-benar terjadi."


Geram. Betul-betul geram aku dibuatnya. "Jangan ngarang lo, ya!" larangku seraya berjalan merentak kembali ke hadapan Beck yang masih duduk. Dengan bertelekan ke atas meja, kucondongkan badan ke depan hingga hidung kami nyaris bertemu. "Gue gak takut. Gak ada cerita. Yang lo bilang itu cuma bullshit!" Aku menegaskan, setengah berteriak, setengah berbisik.


"Oh, really?" cemoohnya.


"Yes," desisku.


Dia menyergah pengakuanku dengan hidung berkerut. "No, I don't think so."


"What the fxck?" Mataku terbelalak penuh rasa tak percaya. Tubuhku lantas berdiri tegak-tegak karena terperanjat akan kekeraskepalaan cowok di seberang meja. Bukankah dia terlalu bagak untuk menolak jawaban yang aku berikan dengan telak?


"Come on, Nikita. Jujur aja sama gue. Lo gak perlu berpura-pura."


"Jangan. Sok. Tahu!" Kuberi penekanan pada setiap kata. Entah kenapa aku masih berupaya membikin Beck mengerti bahwasanya aku tidak ingin membahas ini.


"Gue emang tahu, kok. Dan gue juga tahu kalau sekarang elo lagi di posisi gak mau menerima kenyataan."


Ah, sudahlah. Sudah habis cara. "Fxck you! Fuxck you! Fxck your bullshxts! Just. Fxck. You, The Almighty Mr. Know It All!" Aku murka.


"Hey," tegurnya seraya berdiri.


Pergerakannya membuatku menarik diri supaya tak membungkuk lagi. Akan tetapi, tetap saja, tak kulepas mata hitam yang lampau kerap memicu rasa tak nyaman itu. Aku yakin bola cokelat terang yang kupunyai tak kalah kelam sebab tersaput oleh gelapnya kalap. Dengan 170 sentimeter, pun aku tak perlu menengadah untuk menghadang tatap Dom yang hanya kira-kira lima senti lebih tinggi.


"Gak perlu ngata-ngatain gue gitu, dong! Gue, kan, cuma menyatakan pendapat gue aja," imbuhnya rada kesal—lebih baik perasaan itu ada untuk dirinya sendiri karena aku tahu aku tidak bisa menerima kejengkelannya lagi.


Sedari tadi dia tidak paham apa yang kutanggung, akan tetapi sewaktu dirinya tersentil baru seujung kuku, sudah seperti tertembak bedil hebohnya. Betul-betul cowok egois sialan! "Lo gak dengar barusan gue bilang apa?"


"Lo seharusnya yang dengarin gue," kata Beck bersiteguh.

__ADS_1


Aku mengerang—bukan, meraung, benar-benar meraung keras saking marahnya aku terhadap dia yang sedang melipat tangan di depan dada dengan congkak. "Aaaargh! Gue gak mau dengar apa-apa lagi, okay? Simpan segala omong kosong yang ada di dalam otak lo itu buat diri lo sendiri. Gue gak peduli. Ngerti lo?"


Beckham menggeleng. Kesudahannya dia berdecak mencemeeh. "Gimanapun, reaksi lo bikin gue tambah yakin kalau teori gue benar."


"Oh?" Satu gelak tertahan melompat. Masih mau bersitegang urat leher dia rupanya. "Jadi itu teori lo? Kalau gue takut. Iya?" Kupelototi dia. "Lo salah. Puas lo?"


"Lo yang salah karena gak mau ngaku."


"Lo tahu apa? Ha?" Berulang lagi kutelekan badan ke depan. Tak mempan dengan teriakan, kulampiaskan angkara yang membara dengan geraman. "Go to hell, Beck! Gabung sama teman-teman lo di neraka sana, gih! Karena gak ada yang peduli sama pendapat lo di sini."


Kontan saja manik gelapnya mengosong. Emosi-emosi yang semula ada, meniada. Seakan kata-kata yang baru saja kukeluarkan kelewat batas dan menyebabkan tirai jendela ke hati Beckham menutup.


Suasana mendadak melengang. Ketidaknyamanan pula serempak menyerang.


Beck masih saja antap. Berbilang masa kami lewatkan dalam senyap sebelum dia berucap datar, hambar. "Yeah, right. Lo benar." Dijangkaunya tas punggung abu-abu tempat dia menyimpan MacBook-nya. "Don't I know it," gumamnya lunak, nyaris tak tertangkap pendengaran. Namun, aku masih bisa menangkapnya, entah kenapa.


Berlalu sudah dia, tanpa menoleh ke belakang barang sececah. Meninggalkan aku yang tak terduga-duga merasa ... bersalah.


Apakah aku sudah salah bicara?


Fxck. Bagaimana bisa begini?


Kuiringi Jaguar hitam dengan pandangan sampai tak terlihat lagi setelah belokan ke arah kanan.


Seketika itu aku menyadari bahwa pasang-pasang mata di taman mengawasiku penuh pertanyaan.


Sialan.


Aku rasa aku baru saja mengungkap satu lagi kesamaan antara jatuh cinta dan pertikaian; keduanya sama-sama membuat partisipan lupa daratan.


Demi Tuhan.


Kutundukkan penglihatan. Kukeluarkan lagi peralatan dan mulai berlagak melakukan kegiatan. Berpura-pura bahwa kejadian barusan bukanlah suatu hal yang patut dipikirkan.


Bohong-bohongan.


Sialan!


Meski yang diperhatikan mata adalah angka-angka, akan tetapi yang terkenang adalah roman yang terpampang di wajahnya.

__ADS_1


Ada sesuatu yang salah. Di ucapanku sehingga membuatnya berputih mata. Di hidupnya sampai-sampai dia bisa berubah sekejap mata.


Ada apa sebenarnya?


****


Aku kehilangan jejak waktu. Tahu-tahu Kayden sudah menghampiri dan menghempaskan badan besarnya di sampingku.


Untung aku tadi masih ingat untuk mengembangkan buku serupa tak terjadi sesuatu yang besar beberapa kala lalu.


"Hey, Sayang," sapanya seraya melabuhkan satu kecupan di suraiku. "Kok kamu sendirian? Si Kunyuk mana?"


Pacarku semakin kreatif saja dengan julukannya.


"Dia udah pulang duluan." Aku beralasan. Tanpa memperhitungkan satu-dua hal, memang begitu kenyataannya, bukan?


Bukannya berkenan aku tak lagi berduaan dengan si Musuh Bebuyutan, Kayden malah terheran-heran. "Loh? Kenapa?"


Tak tahu malu, kupasang tampang lugu terbaikku. "Gak tahu. Ada urusan katanya." Kutambah sedikit kedikan di bahu agar terlihat lebih tentu.


"Oh, okay."


Aku tersenyum sambil lalu. Lekas-lekas kuberpaling muka sebelum Kay menyadari betapa kakunya sudut-sudut bibirku.


"Gimana belajarnya?" Digesernya bokong ke belakang sejumlah sela, bermaksud menumpukan siku-sikunya di atas meja. Kaki panjangnya lurus ke depan, mengarah ke taman yang ada di balik pungkurku.


"Ya, gitu, deh. Tapi, untung aja udah ada yang nempel walau cuma seuprit." Kuangkat tangan kanan dan membentuk isyarat dengan telunjuk dan ibu jari.


Kayden serta-merta meraih tanganku dan mengecupnya. "Gak apa-apa, Yang." Dia meyakinkan. "Yang penting kamu harus tetap semangat, ya. Demi tim." Kalakian ditautkannya jemari kami dan digenggam kuat-kuat.


"Demi tim," ulangku seraya meremas tangannya yang berada dalam cekaman.


Diturunkannya tangan kami ke pangkuan, kini seliranya dibiarkan bersandar pada meja sepenuhnya. "Kan, ada tuh pepatah yang bilang–" Dia menyusuri garis-garis di telapak tanganku. "Seuprit demi seuprit lama-lama jadi seuprit-uprit."


Aku menatapnya aneh. "What?" tanyaku meminta konfirmasi, takut-takut aku salah tangkap. "Kamu barusan bilang apa?"


Ujung-ujung bibir Kayden berkedut, mengkhianati usahanya mempertahankan air muka sungguh-sungguh. Diangkatnya bahu lebar nan ketat itu.


Sekuat tenaga kutelan gelak yang hendak merebak. Sebagai gantinya, kuputar bola mata. "Oke, aku bakal biarin yang ini lewat. Soalnya kentang banget, Yang. Serius."

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2