
Cekat yang tertangkap dari suaranya terkesan sangat familier, menempatkanku di keadaan yang janggal dan tentu saja membikin kagok. Aku ... terlalu tidak biasa berurusan dengan hal-hal seperti ini.
Namun, rasanya juga tidak sopan tidak mengucapkan suatu setelah pengakuan yang dibuat Beck. "Ng, sorry. Gue gak tahu harus komentar apa lagi," akuku terlalu jujur.
Dia menoleh padaku dan tergelak. "Lo ini benar-benar, ya."
Tak kuhiraukan komentarnya. Aku berdiri dan berjalan mendekati meja belajar yang ada persis di balik punggungnya di arkian. "Makan, yuk, ah! Benaran lapar gue," ajakku sambil mengambil sepotong sandwich dan sebuah mangkok berisi salad sebelum membawanya ke atas kasur.
"Lo serius mau makan di sana?" Beck bertanya, heran dan sedikit jijik mewarnai air mukanya.
"Kenapa emang?" Aku balik menanyai.
"Jorok banget, sih, lo jadi perempuan."
Kugigit lagi sandwich tunaku dengan lahap. "Emang gue pikirin. Kalau seprainya kotor, ya, tinggal cuci, kok. Gampang."
"Bukan masalah kotor dan cucinya, Dodol. Tapi, urusan etika kesopanan." Beckham mengemukakan argumentasinya lagi.
"So? Gue juga cuma lagi sama lo, bukannya sama presiden dan ibu negara. Lagian, hidup ini udah rumit, Bro. Jangan dibikin tambah runyam dengan mempermasalahkan hal-hal kecil beginian!" Aku lalu menepuk-nepuk tangan untuk membersihkan remah yang menempel di ujung-ujung jari. Dengan mulut masih mengunyah campuran sayur, aku melanjutkan. "Why so serius? Dunia terlalu tak terkendali untuk kita pikirkan. Ya, gak, ya?"
Beck masih saja menatapku dengan kerutan di keningnya.
"What?" tanyaku lagi.
Sebuah gelak tertahan lolos dari bibirnya. Dia lagi-lagi menggeleng. Setelah memperbaiki letak kacamata, dia mencondongkan tubuh dengan tangan bertelekan di atas paha. Dengan sepasang manik gelap, dalam, dan penuh misteri itu dia menatapku lamat-lamat. "Kalau memang benar begitu, kenapa lo masih suka overthink dan berpura-pura bahagia?"
Deg. He didn't just say that. "Apa, sih, maksud lo?" Aku mencoba mengembalikan perhatian pada makanan yang ada di depanku.
Aku mendengar Beck menghela napas panjang. "Nikita," panggilnya memperingatkan. "Gak usah gitu. Lo gak perlu berpura-pura sama gue. Gue paham, kok."
"Apaan, sih, Beck? Gue gak ngerti. Jangan berbelit-belit, deh!" titahku lagi.
Kali ini aku bisa merasakan tatapannya di kulitku yang terbuka. Aku yakin dia tengah kembali menilikku dengan dua buah bola bermanik gelap nan penuh pemahaman itu. Terlalu jengah dengan perasaan ini, aku akhirnya mengangkat kepala. Dipandangnya aku tepat di titik mataku pula. Hanya butuh beberapa sekon dan aku berakhir dengan menundukkan pandangan lahi demi menghindari pengamatannya yang betul-betul tajam. Seakan-akan pandangannya bisa menembus bungkusan kulit dan daging-daging yang mengelilingiku dan melihat apa yang ada di dalam sumsum tulang.
Aku merasa seperti ditelanjangi.
Pernyataan barusan membuat aku semakin tidak nyaman.
__ADS_1
"Semua orang tahu kalau gue lahir dari pasangan dokter sukses dan menakjubkan." Dia memulai.
Dari balik bulu mata aku melihat Beck yang lagi-lagi telah menyandarkan tubuhnya kembali ke penopang kursi. Kepalanya mendongak, matanya terpejam. Ekspresi wajahnya menjadi kaku.
"Siapa, sih, yang gak kenal dengan Dokter Geraldino dan Barbara Pierce? Pasangan dokter yang menikah di dalam dan di luar rumah sakit. Yang berhasil membantu banyak keluarga dengan tangan dingin mereka di ruang bedah. Tetapi, mirisnya adalah, mereka bertekad membantu keluarga-keliarga kecuali keluarga yang mereka buat sendiri. Sebagai dokter-dokter yang berhasil membawa kembali pasien mereka dari gerbang kematian, yang mereka lakukan pada anak sendiri justru malah berkebalikan.
"Mereka gak pernah di rumah. Selalu di rumah sakit, atau di ruang-ruang seminar, atau di convention center dengan ribuan orang yang menyanjung kebesaran dan kehebatan mereka. Sekali pun ada di bangunan yang mereka beli untuk pulang, yang mereka lakukan hanya beristirahat atau sibuk berdua. Dari kecil gue biasa tumbuh bareng pengasuh. Dan Lita, panggilan gue untuk abuelita, yang waktu gue kecil masih sanggup bolak-balik Mexico-Los Angeles kapan pun bareng Lito, abuelito gue. Pas Abuelito mulai sakit-sakitan, gak salah waktu umur gue sepuluh tahunan, Lita mulai jarang ke sini. Setelah Lito meninggal, Lita juga mulai sakit dan gak pernah ke sini lagi.
"Gue masih ingat, di kunjungan terakhirnya, Lita pernah bilang ke gue kalau gue harus bisa melakukan semuanya sendiri, gue harus jadi anak yang mandiri. Karena gak ada yang bisa diandalkan di dunia ini kecuali diri kita sendiri. So, gue rasa gue terlalu menghayati pesan Lita sampai-sampai jadi begini. Di satu sisi, gue berterima kasih banget ada Abuelita yang suka ngasih pesan buat gue meski waktu itu gue terlalu kecil, terlalu polos, terlalu bodoh untuk mengetahui maknanya. Gue juga benar-benar bersyukur, di antara semuanya, yang otak gue pilih untuk diingat adalah kalimat yang paling gue butuh beberapa tahun kemudian.
"Gue udah biasa dianggap gak ada sama orang-orang yang seharusnya mementingkan gue, Niki. Saking terbiasanya, gue juga udah gak peduli sama mereka. Sebelum ini, apa pun yang mereka kerjakan masih berhasil bikin gue sakit hati, marah, dendam. Tapi, sekarang, yang ada hanya ... hampa. Kami pernah berantem, you know. Berantem hebat sampai akhirnya Barb—that's true, gue memanggil mereka dengan nama masing-masing, gue gak ingat kapan terakhir kalinya gue manggil mereka dengan titel yang jelas gak pantas mereka sandang itu—ngasih tahu gue kalau sebenarnya mereka tidak pernah berencana untuk memiliki anak. Akan tetapi, karena standar sosial yang "mengharuskan" pasangan menikah untuk memiliki anak agar dibilang sempurna, mereka memutuskan untuk melakukannya. Dan jadilah gue yang sekarang."
Beck tergelak getir. "Semenjak saat itu gue belajar mati-matian untuk membentuk hidup gue sendiri. Dan, sekali lagi, gue berhutang budi sama Lita dan Lito. Dua orang yang lebih dekat sama gue dari apa pun di dunia ini meninggalkan semua harta mereka sebagai warisan buat gue yang memang cucu satu-satunya. Dengan modal uang dan aset dari mereka, gue mengajukan permohonan emansipasi ke pengadilan di umur enam belas tahun."
Aku benar-benar tak mempercayai pendengaran. Oleh karena itu, sekonyong-konyongnya aku memekik. "What?"
Dia membuka mata untuk melihatku sejenak sebelum memicingkannya lagi. Sebuah senyum tawar lahir di bibirnya. "Gak semua orang tahu kenyataan yang mati-matian Dokter Gerald dan Barb tutupi. Dan, yeah. Menurut Negara Bagian California, gue udah "dewasa" dari setahun yang lalu."
Ini betul-betul mencengangkan. Bukan hanya saja soal apa yang baru saja dimuntahkan Beckham, akan tetapi juga tentang dia yang baru saja meluapkan sebanyak itu kata-kata dalam satu kesempatan. "Wow, Beck. Gue gak tahu harus ngomong apa."
Dia tertawa. Benar-benar tertawa.
"Lo lucu soalnya." Dia menimpali.
Semakin bingung aku dibuatnya. "Lucu dari mana?"
"Sifat blak-blakan lo itu."
Alisku terangkat, menantang dia dan pernyataannya. "Kenapa emangnya? Lo gak suka?"
Beck langsung menolak. "Gue gak bilang gitu."
Aku memutar bola mata. Dasar aneh. "Whatever. Suka gak suka gue gak peduli. Yang jelas gue begini adanya."
"Dasar lo!"
"Bodo."
__ADS_1
Senyap seketika menyelimuti. Untuk sejumlah kala, kami berdua menghabiskannya dengan bergelut dalam pikiran masing-masing.
"Kenapa?" Beck bertanya di kesudahan.
Aku menoleh padanya. "Kenapa apanya?"
"Kenapa lo ... begitu?"
"Maksud lo apa?" tanyaku balik, sungguh tak paham dengan ke mana arah percakapan ini menghadap.
Dia kembali mendelikku dengan matanya yang dalam. "Kenapa lo berpura-pura?"
Ibarat ada yang menjadikan jantungku seperti genderang dan menabuhnya kuat-kuat. Aku .... Tiba-tiba saja mangkuk kosong yang masih berada di pangkuanku terlihat lebih memikat.
"Hey," panggil Beckham lembut, dengan suara yang juga terdengar lebih dekat. Kaki kursi yang beroda tahu-tahu sudah berada dalam area penglihatan. "Gue cuma mau bilang kalau sama gue, lo gak perlu pura-pura baik-baik aja. Oke?"
Kini giliranku yang mempertanyakan alasannya. "Kenapa?"
Dia tersenyum tipis. "Karena berjuang melawan diri sendiri itu sulit, apalagi kalau lo lakukan sendirian. Dan lo butuh semua dukungan yang bisa lo bisa dapat. Apalagi dari orang-orang terdekat."
"Tapi, kita bukan orang dekat," sanggahku lagi.
"Lo benar." Beck setuju. "Kita gak dekat, setidaknya belum. Tetapi, gue adalah satu-satunya orang yang ada di sini saat ini."
Aku menatap Beck heran, sekali lagi tak berhasil untuk mengerti apa maksudnya.
"Just ... let's be friends, yeah?" Di arkian dia menyimpulkan.
"Friends?" Aku mengulang kata itu dengan agak canggung.
"Yeah, friends." Namun, sepertinya tidak dengan pemuda yang ada di hadapanku. Dia terlihat yakin dengan apa yang ke luar dari mulutnya.
Kupertimbangkan tawaran itu. Benar-benar kupertimbangkan. Meskipun aku memiliki beberapa"teman", akan tetapi boleh kuakui tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki pengalaman seperti yang kupunyai. Tidak ada di antara mereka yang mengerti posisiku sekarang, yang memahami apa yang aku rasakan. Hanya Beck.
Sesuatu di dalam diriku seketika memekar. Aku tidak tahu itu apa, akan tetapi aku menyukai sensasi yang ditimbulkan olehnya. Itulah sebab kenapa aku mengatakan apa yang aku katakan di kesudahan. "Okay."
Beck lagi-lagi melengkungkan bibirnya ke atas. Dengan cahaya dari senyuman yang berhasil menerangi seluruh wajahku, Beckham Lee Pierce terlihat sangat, sangat, sangat menawan. "Okay."
__ADS_1
To be continued ....