Love Me, Please

Love Me, Please
34. Judge A Book by Its Cover


__ADS_3

Aku akan mengulur waktu sampai aku benar-benar harus mengakuinya. Nanti, di jauh-jauh hari.


"Jiah! Siapa yang ngawur, coba?" sahut Marina sebelum memasukkan buah yang sukses ditangkapnya ke dalam mulut.


Minda yang sudah kelut-melut lantas memantik emosi dan membikinku merasa semakin diolok-olok. Semasih belum terjangkau, Isobel sudah lebih dulu menjauhkan piring. "Uh-uh," larangnya. "Gue bawa ini buat dimakan, ya, bukan dilempar-lempar. Lagian gak usah diambil hati. Lo tahu mereka berdua kalau udah kompak pengen jahil bakal kayak gimana."


Dia benar. Dan mereka, sekali lagi, tidak bersalah. "Argh! Terserah lo-lo pada, deh!" geramku. Kuambil lagi buku itu.


"Sorry, Nik, sorry," sesal mereka berbarengan. "Bercanda kita," imbuh Marina.


"Iya, Nikita My Baby Bala-Bala."


Sebuah gelak tersembur mendengar julukan tak jelas dari Paulina. "Eeew, sialan lo. Don't you ever ever call me that again."


Kemelut yang kutanggung akhirnya surut. Kami pun kembali menjadi zombi dan tiga orang penari yang menikmati kejayaan mentari.


****


Selang beberapa lama suara langkah lagi-lagi membuyarkan konsentrasi. Kulihat kini Pak Monti datang, sebuah cooler box berwarna perak dengan santai didorongnya. "Ladies, ini ada camilan sebagai teman bergosip kalian." Sebuah senyum membelah wajah latin ramahnya yang mulai keriput.


"Whoa! You're the best, Mr. Crane!" seru Paulina sambil menghampiri dengan girang. "Iiiiiiik," pekiknya setelah melihat apa yang ada di dalam kotak. "Banyak yang segar-segar, nih!"


"Thank you, Pak," ucapku pada pria paruh baya itu.


"No problem, Non. Mrs. Crane juga sudah bilang ke Chef Bruno untuk siapkan barbeque sebagai hidangan untuk makan malam nanti."


Oh, goodness. I can't wait.


****


Tambahan jam tidur dan asupan gizi berdampak sangat baik untuk Marina. Setelah mencuci muka di kamar mandi pool house, dia bergabung untuk menandaskan penganan yang sudah disiapkan.


Antara Marina, Paulina, Isobel, dan aku, salad; sate buah semangka, nanas, kiwi, dan blueberry; yogurt; dan es tangkai rasa mangga tidak ada apa-apanya. Dalam sekejap semua ludes kami lahap.


Walau kurus-kurus begini, soal selera makan tak perlu diragukan lagi.


"Oh, my God, begah gue."


"Kenyang banget, woy."

__ADS_1


"Sama, gue juga. Duh." Isobel menepuk-nepuk perutnya. Dia serta-merta menegakkan badan ketika menangkap apa yag ada di atas buku di depanku yang masih terbuka. "Eh, Nik, tulisan lo, kan, gak begini. Ini buku siapa?"


Pertanyaan tak berdosa Isobel kembali menarik perhatian dua gadis yang sebelumnya menyangga tubuh mereka dengan kedua lengan masing-masing. "Coba gue lihat?" pinta Marina.


Tanpa ragu buku keramat itu berpindah tangan.


Paulina menjulurkan kepalanya dari balik bahu Marina. "Eh, iya, loh. Bukan. Sumpah, tulisan siapa yang rapinya kebangetan ini? Pantas aja lo betah pelototin kalkulus dari tadi."


Aku memutar bola mata. Lagi, lagi, dan lagi, dia benar. Akan tetapi, kali ini aku tidak akan membiarkan kalimat itu meresap ke dalam hati. "Ledek aja terus."


Dia terkekeh. "Iya, iya, sorry."


"Tapi, serius, deh, Niki. Itu buku punya siapa? Tulisan Kayden, kan, juga enggak begitu." Isobel menyatakan pendapatnya.


"Gue gak bilang itu buku Kayden, kok," belaku, lagi pula bisa-bisanya dia sedikit-sedikit menyangkutkan semua urusanku dengan Kay. Huh. Meskipun kami memang saling menempel kayak perangko, akan tetapi aku juga bisa menjadi my own person, you know.


"Terus, terus?" desak Paulina lagi.


Marina bertanya dengan alis tinggi di kening. "So? Gak mungkin tutor baru lo di tempat les yang ngasih ini, kan? Biasanya kita disuruh bikin catatan sendiri, bukannya dibikinin."


"Ya, bukanlah!" Aku menukas semua perkataan mereka. "Itu punya Beck."


"Beck. Beckham. Si ... Songong."


"WHAT?"


Aku sudah tahu reaksi mereka akan seperti ini.


****


Yang tidak tertebak adalah respons sorang gadis di depanku setelah aku menceritakan soal kedatangan Beck kemarin siang. Tatapannya menjadi jauh, air mukanya penuh sipu, dan senyum tak berhenti merengkah wajah cantik itu. "Aaaaa, uwu banget gak, sih, si Beck? Pakai acara nganterin buku segala lagi. Aaaaa, gue juga pengeeen."


Aku menatap Paulina dengan ... aneh.


"What?" timpal gadis berambut pirang itu. "Beckham ganteng banget, tahu. In the nerdy kind of way. Kalian gak sadar apa? Coba, deh, perhatiin. Cowok berkacamata punya daya tarik tersendiri. Seksinya lain. Ya, gak? Ya, gak?" Dia menaik-turunkan alisnya dengan cepat.


"Gak salah juga, sih, teori lo itu," dukung Marina setengah-setengah. Terbukti oleh alisnya yang bertaut, seakan dia perlu benar memikirkan perkataan Paulina lamat-lamat.


"Iya, kan?" Si Paulin menyambut sokongan sahabat di sebelahnya sambil menepuk-nepuk lengan Marina yang kontras sekali dibanding dengan kulitnya yang pucat. "Benar, kan, benar, kan, gueeeee," ulangnya bersemangat.

__ADS_1


Wow. What is this? What is happening to her?


Aku mengalihkan pandangan ke samping, menatap Isobel dan menunggu tanggapannya terhadap fenomena yang terjadi di depan mata kami semua.


"Hm, biasa aja, sih, kalau menurut gue," ungkap Is sudahnya dengan bahu terangkat.


Sayang komentar Isobel tidak dapat diterima oleh Paulin yang seakan-akan sudah kesurupan. Yep, mungkin saja itulah sebabnya kenapa dia berperilaku ajaib seperti sekarang ini. Dia sedang kesurupan.


Kesurupan setan pemuja Beckham.


Oh, no. Please, God, no.


"Gue gak sadar itu cowok songong punya penggemar juga ternyata." Oops! Kalimat yang sudah kucoba tahan sedari tadi kesudahannya lolos jua.


Tentu saja hal ini mengundang tatapan menusuk tak setuju dari Paulina. "Yeee, itu karena di mata lo yang ada cuma Kayden. Makanya gak lihat yang lain." Dia memprotes. Tak lupa dibubuhinya sebuah cibiran sungguh-sungguh di akhir.


Sontak gelak melompat keluar. "Iya, dong. Emang harusnya begitu, kan? Masa gue pacaran sama Kay terus mata gue tetap aja jelalatan perhatiin cowok-cowok lain? Gue gak segenit itu juga keles."


"Nah, itu benar," sambut si Blondie. "Lo gak usah lirik sana-sini, fokus sama Kayden aja. Lagian kalian tu udah serasi banget. Hashtag—"


Secepat kilat kutikung ucapannya. "Ya, ya, ya. Gue udah hafal semua hashtag lo, Paulina. Gak usah diulang."


"Tapi, benar, kan?" sosornya tak mau kalah.


"Iya, iya, Paulina Sayang. Thank you, ya. Hashtag you are the bestest of friend every girl could ask for, ever."


Yang diucapkan terima kasih langsung mesem-mesem sendiri untuk beberapa detik sebelum tersadar. "Woy!" tegur Paulina tiba-tiba. "Kita kok jadi ngomongin Kayden, sih? Beckham, dong!"


Kini giliran Marina yang memutar bola mata bermanik pekatnya. "Elo sendiri yang mulai. Dasar! Emang apa lagi yang mau dibahas soal Beckham lo itu?" Dia mendebat dengan memberi penekanan saat menyebut nama Beck.


Kusembunyikan gelak dengan berdeham.


"Yaaa, banyaklah!" sergah si cewek yang baru diketahui ternyata adalah closet fans-nya cowok paling ... eng ... paling "populer" di Rockefeller. Dia lalu merapal satu-satu kualitas pujaannya itu. "Kegantengannya. Kejeniusannya. Kekerenannya. Apa lagi? Hm ...."


"Jenius, sih, gue akui. Se-Los Angeles malah. Kalau ganteng, relatif lah, ya. Keren? Hm. Bolehlah, boleh," urai Marina, masih dengan setengah-setengah. "Tapi, apa artinya semua itu kalau orangnya kayak robot, gak punya emosi?"


Okay, wait a minute. Kenapa Marina bilang begitu, sih, soal Beckham? Jangan langsung nge-judge, dong!


Aaaaand, wait another minute. Kenapa aku jadi ikut-ikutan merasa sebal begini, sih?

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2