Love Me, Please

Love Me, Please
37. Please, Stop


__ADS_3

Dari sudut mata aku menangkap perhatian beberapa orang sedang tertuju pada kami. "Sialan!" Aku mengumpat dengan gigi terkatup.


Yang disumpah malah tak mendengarkan. "Kebanyakan gula juga bikin lo hyperactive dan mengalami mood swing. Terdengar familier gak di telinga lo itu, ha?"


"Emang benar-benar sialan lo!" Aku merutukinya di balik gigi-gigiku.


"Nah, itu lo tahu kalau gue benar." Dia masih saja mencari perkara tanpa peduli dengan pandangan ingin tahu dari sekitar.


"What?"


"Akui aja lah, Niki."


Kuremas struk yang masih berada dalam genggaman dengan kuat, sehingga kepalan tanganku itu bergetar. "Shut that trap door up, ya, Beck. Gue ke sini mau belajar. Dan sebaiknya kita mulai belajar se. Ka. Rang!"


Dia menggeleng lagi. Tidak terbayang betapa penatnya leher si Sialan itu nanti. Dilihat dari frekuensi gelengan yang sudah dilakukannya dalam tiga puluh menit pertama pertemuan ini, sepertinya dia akan membutuhkan perawatan khusus. "Whatever," tuturnya singkat.


What. The. Fxck. Ever. Indeed.


Kuseruput salah satu pilihan di menu secret recipes milik kedai kopi dengan jaringan terbesar di seluruh dunia dengan kenikmatan yang sengaja kulebih-lebihkan. Tanpa memedulikan tatapan meloya yang secara—tidak terlalu—sembunyi-sembunyi diarahkan Beckham pada minumanku itu.


Bodo amatlah sama si Sialan ini. Dia mau bilang apa juga gak bakal aku hiraukan. Lagi pula lihat aja, tuh, minumannya. Pahit, persis kayak selera humor dia. Keruh, kayak warna jiwanya. Cocok banget emang itu minuman sama yang minum.


Ya, ya, ya.


Hampir saja gelak menyembur ke luar dari mulut, akan tetapi terima kasih Tuhan bisa kulebur dengan ecek-ecek terbatuk.


"Makanya jangan suka yang manis-manis. Keselek, kan, lo."


"Jangan komentar, deh. Diam."


Kami pun akhirnya bisa memulai apa yang seharusnya sudah dikerjakan semenjak tadi.


Lima, sepuluh menit di muka, keadaan masih aman. Aku masih mampu memusatkan perhatianku pada suara dan gerakan tangan Beckham. Akan tetapi, lebih dari itu?


Sesuatu terasa menjalari tubuh ini, membuatnya berhasrat untuk bergerak; melakukan hal lain. Suaranya sedikit demi sedikit memudar ....

__ADS_1


Eh, ada sepasang pelanggan yang lagi minum bareng terus mereka foto-foto. Uwuuu, kelihatan bahagia banget. Jadi ingat Kayden, deh. Hm. Dia masih latihan pasti.


Ya ampun, itu celana yang dipakai cewek yang lagi antre di depan sumpah demi apa super duper keren abis! Beli di mana, ya? Aku harus cari nanti di toko online.


Waaah, lagi golden moment, loh! Sinar mataharinya pas buat ngambil foto. Aduh, aduh, apa—


Akal yang sedang melanglang buana seketika kembali ke sini usai menangkap dehaman tutorku. "Oke. Udah gue jelasin sejelas-jelasnya. Buat latihan, coba lo kerjain dua soal ini dulu. Abis itu kita lanjutin lagi. Balik dari kamar mandi gue periksa."


Uh-oh. "Okay." Aku menjawab sekenanya. Mataku membulat setelah melihat apa yang tertulis di kertas. Akan tetapi, tak lama kemudian kelegaan menyelimuti diri.


Jika fungsi (f) x sama dengan ....


Ah. Ini, sih, gampil.


Belum lagi Beck kembali dari kamar mandi, selesai sudah soal-soal itu kubantai.


Heh. Gini doang, mah, aku pasti bisa. Kutepuk-tepuk tangan lalu meniupnya. Tak lupa kucolek puncak hidungku sendiri. Dalam pikiranku.


"Udah selesai?"


Beckham terdiam sejenak sebelum menjeritkan sebuah "what the fxck" yang tertahan. "What the fxck is this, Nikita?" ulangnya lagi. Dia tidak menahan suara dan emosinya kali ini.


"What?" Aku balik bertanya, tak mengerti. "Itu jawaban soalnya, kan? Kenapa? Lo kaget banget gue bisa jawab?" Sebuah seringai puas terbit dari bibir ini.


"Gue kaget banget lo masih gak bisa jawab!" gertaknya seraya menekankan kata masih.


Aku semakin bertanya-tanya. Eh, what? "Maksud lo?"


"Dua pertanyaan, Nikita, cuma dua pertanyaan kalkulus dasar dan lo berhasil jawab dua-duanya dengan keliru!" semprot Beckham dengan bengis. Dia menekankan ujung jari telunjuknya pada soal-soal itu. Saat kulirik sekilas tadi, aku khawatir dia akan mematahkan jarinya jika dia terus-terusan menekan kertas itu dengan kuat.


"What?" Kini giliran aku yang setengah berteriak setengah berbisik. "Yakin lo? Lo yang salah kali, bukan gue. Periksa benar-benar, deh. Coba ulang lagi."


Beck mendengkus keras, mengalahkan napas banteng yang bersiap menerkam matador yang mempermainkannya dengan sehelai kain berwarna merah. Dipejamkan kedua mata lekat-lekat. Sedetik, dua detik kalakian, diembuskan napas panjang dengan sedikit lebih lunak. But not that much either. "Sini," perintahnya. Suara Beck masih kaku dan penuh dengan kekesalan.


Sekonyong-konyongnya aku beringsut ke tepi kursi.

__ADS_1


"Gue kasih tahu cara menyelesaikan soal ini." Dia mengambil buku latihan tersebut, membaliknya ke lembaran baru yang kosong, kemudian menuliskan soal yang sama. "Mata lo ke sini, Nikita! Jangan malah perhatiin orang lain. Kita ke sini buat belajar, ya. Bukan buat people-watch," tegurnya seraya menunduk, mengerjakan angka-angka itu. "Focus on the job, will you?"


Aku bergidik. Kok dia tahu aku sedang menonton orang-orang?


"Jangan tanya kenapa gue bisa tahu apa yang lo kerjain. Udah ketebak."


Buset. Dia juga bisa baca pikiran sekarang?


"Nih, coba lu bandingin jawaban gue sama bualan yang lo tulis itu!"


Dengan geram aku menuruti perkataannya. Aku tahu dia benar, akan tetapi tetap saja itu bukan berarti dia bisa mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati seenaknya, bukan? Terus saja batin menggerutu seraya otak mencerna apa yang dilihat oleh mata.


Hm. Dia membuat angka-angka menyebalkan ini terdengar dan terlihat sangat mudah. Kenapa aku masih tidak mampu menyelesaikannya? Apa aku betul-betul segoblok itu?


Rasa tidak yakin sejengkal demi sejengkal mulai mencemari benak. Diikuti oleh gerombolannya yang lain. Rasa cemas; takut; putus asa berpadu, berkuasa di arkian.


"Hey." Kurasakan sentuhan ragu-ragu di tanganku yang tanpa sadar sudah gemetar.


"What the fxck? Lo apain cewek gue, ha?!"


****


Laksana mesin yang bekerja secara autopilot, sistem di otakku berubah seketika gelombang suara itu sampai ke telinga. Seperti ada sebuah sakelar, sekonyong-konyongnya keriuhan yang sebelumnya soal kebebalan diri ini berubah menjadi kehebohan yang lain.


Jangan sampai bikin Kayden kepikiran! Act like everything is fine, now! Jangan nambah masalah lagi buat dia!


"What the fxck? What did you do, you motherfxcker? Tell me! Fxcking tell me!"


Selagi aku berupaya menguasai ekspresi dan menenangkan nafsi, tahu-tahu Kay sudah mencengkeram kerah baju Beck. Jangka kala menyadari kegentingan situasi mataku membulat. Oh, shxt. No. "Yang, stop!" Kutarik tangannya sekuat tenaga. Urat-urat semakin menyembul di lengan kekar nan sedang berkontraksi itu.


Seperti yang sudah-sudah, Kayden terlalu larut dalam emosinya sampai-sampai acuh terhadap sekitaran. "Gue udah kasih lo peringatan, ya, tapi tetap aja lo mau cari masalah sama gue. You piece of shxt!" hardiknya dengan muka merah padam.


"Yang! Kay, Kayden! Kay, please, stop."


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2