
"Mau pulang sekarang?"
Suara Kayden memecah keheningan tempat pemakaman. Dengan mata yang terpicing, aku menggeleng.
"Okay, then," sepakatnya sembari memperbaiki posisi. Kini dia menyandarkan tubuhnya di dinding makam, sedang aku—seperti biasa—bersandar padanya. Kakiku berada di antara kakinya yang juga mengunjur.
Angin yang bertiup sepoi lembut membawa kesejukan bersamanya. Sinar matahari mengintip malu-malu dari balik dedaunan yang bergoyang.
Entah sudah berapa lama kami di sini, duduk berangkulan dan hanya diam menikmati perasaan masing-masing.
"Why are you here?" tanyaku dengan tenggorokan yang tercekat.
"Maksud kamu apa, Yang? Kamu gak mau aku nemenin kamu di sini?"
"Bukan gitu. Kamu tahu maksud aku apa. Why are you here, Kayden?" Aku mengulang pertanyaan yang sama.
"Because you are here. And I want to be with you," timpalnya enteng.
Aku tidak tahu kenapa keentengan yang ada dalam caranya berbicara membuatku kesal. "Kayden, kamu ada jadwal pertandingan hari ini!" debatku dengan nada yang agak meninggi. Aku kemudian bangkit dan berbalik menatapnya.
Dia hanya mengangkat sebelah bahu.
"Kay! You can't do this!" tegasku. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan. "Masih jam setengah empat. Kamu masih bisa ikut. Ayo!"
"No!" Kayden balik berseru. Dia menarikku kembali untuk duduk. "Gak apa-apa, Yang. Itu cuma football."
Aku tersentak mendengar perkataannya. "Cuma football gimana? Football bagi kamu bukan sebuah cuma, Kayden! Football itu hidup kamu!"
Ditatapnya aku dalam sebelum menggeleng. "You're wrong," ungkapnya tak kalah tegas.
"What?"
__ADS_1
"Bagi aku football bukan segalanya, Yang. Hal yang paling penting dalam hidup aku itu kamu."
Bisa-bisanya dia mengeluarkan gombalan di saat seperti ini. "I know, I know." Aku menanggapi dengan asal. "Tapi, kamu gak bisa melewatkan pertandingan ini. Nanti Coach bisa marah besar sama kamu."
"No, no, you don't know," bantahnya. "Kamu gak paham. Kalau kamu masih maksa aku buat ada di pertandingan saat kamu di sini, berarti kamu gak paham sama sekali tentang perasaan aku ke kamu. Aku gak peduli sama pertandingan itu, Yang. Aku gak peduli Coach Jordan mau semarah apa sama aku nanti. Yang aku pedulikan saat ini, detik ini, adalah kamu, perasaan kamu. Aku gak mau melewatkan kesempatan untuk ada buat kamu di saat kamu butuh. I love you. And this is what we supposed to do for someone we love. Be there for them, with them."
"Kay, tapi aku ...."
Dia terlebih dahulu memotong dan menangkis kilahku. "No, stop right there. No but. Kalau kamu mau terus maksa aku buat pergi, aku gak mau dengar apa-apa lagi. Sekarang kamu yang harus dengerin aku." Kayden kemudian menangkup wajahku dengan lembut. Manik-manik biru itu terlihat semakin terang dan semakin indah di bawah cahaya bola api yang membara siang ini.
"Kamu gak tahu betapa cemasnya aku waktu aku nyari kamu ke kelas dan tahu kalau ternyata kamu gak ada di sana. Lalu aku tanya ke teman-teman kamu dan mereka juga sama gak tahunya. Untung, Yang, untung aku papasan sama Mrs. Lekovich. Dia yang cerita semua sama aku. Pas aku ke parkiran dan lihat mobil kamu udah gak ada, aku langsung todong si Gyan buat antar aku ke sini.
"Dan ketika aku lihat kamu tiduran di sini, Yang? God." Dia menunduk dan menghembuskan napas berat. Kayden lalu menggeleng sekilas sebelum mengembalikan tatapannya padaku. "Aku paham betul kalau buat kamu jadi anggota tim pemandu sorak bukan hanya sekedar gaya-gayaan biar populer. You love cheering. You love dancing, because it makes you feel closer to your mother. Tapi, Sayang, yang harus kamu pahami adalah bahwa jadi anggota tim bukan satu-satunya jalan buat dekat sama mendiang mama kamu. Masih banyak cara yang lain.
"Dan satu hal lagi, mereka boleh aja mengeluarkan kamu dan mencari pengganti kapten tim yang baru, tapi mereka gak akan bisa menemukan pengganti kamu. You have a gift in dancing. You're special. It's them who lost by kicking you out, Sayang. Mrs. Lekovich sendiri yang bilang sama aku."
Benarkah? Benarkah semua yang diucapkan oleh Weston? Aku ... aku tidak tahu harus berkata apa. "Yeah?" tanyaku lirih, minta untuk diyakinkan.
Okay, then. Namun, tetap saja hal itu membuat aku memutar bola mata. Beraninya dia berjanji atas nama Pramuka padahal tidak pernah sekalipun menjadi anggota. Hati ini lantas tergelitik untuk menggodanya. "Kamu gak bohong?" pancingku sambil mempertahankan ekspresi muram.
"Ya enggaklah, Yang." Lekas Kayden menepis tuduhan itu. "Lagian kapan aku pernah bohong sama kamu?"
Gotcha. "Waktu kamu bilang kamu gak nangis pas kita nonton film The In-Between. Aku lihat air mata kamu, kok. Kamunya aja yang gak mau ngaku," beberku dengan sikap acuh tak acuh yang dibuat-buat.
Kayden terlihat sedikit terkejut. Matanya yang teduh kini berubah panik. "Shxt. Kamu lihat, ya?" resahnya sebelum akhirnya tergelak. "Oke, oke. Aku ngaku, deh. Kemarin itu aku memang nangis. Haabisnya itu film sedih banget, Yang. Iya, kan? Kan? Yang! Iya, kan?"
"Iya, iyaaa," jawabku sambil terkekeh. Tidak tahan melihat raut muka tampan Kayden yang memohon minta diselamatkan dari kenyataan bahwa dia benar-benar meneteskan air mata saat menonton film yang disebutnya "film cewek". Kalau boleh, aku akan mengutip langsung kalimatnya kala itu. "Cowok macho macam aku gak akan terpengaruh sama yang beginian."
And look what had happened. Cowok macho macam dia akhirnya nangis juga.
Tetiba kurasakan perbedaan di udara. Suasana terasa lebih ... tenang. Dada rasanya lebih lega. Napas lebih lepas. Pikiran jadi lebih lapang. Dan aku tahu kenapa.
__ADS_1
Kupandang dia yang menjadi alasan semua itu.
Kayden tersenyum sebelum mendaratkan kecupan-kecupan kecil di kening, kedua mata dan pipi, puncak hidung, hingga berakhir di bibirku. "A little bit better now?"
Aku menghela napas panjang dan mengalungkan kedua lengan di lehernya. "So much better. Thank you."
Dia balas memelukku. "Anything for you, Sayang. I love you, and I promise you anything. I really mean it."
"I love you." And I really mean it too.
"So, kamu sekarang mau ke mana? Pulang?" Kayden bertanya saat aku melepaskannya.
Aku menggeleng. Kulirik iWatch-ku lagi. "Gear kamu di mana?"
"Di loker sekolah," sahutnya seraya memiringkan kepala, sedikit kebingungan.
"Ke sekolah aja kalau gitu. Kita ambil perlengkapan kamu dan cabut ke Palmdale. Masih kekejar, kok. Pertandingan, kan, mulai jam tujuh."
Keterkejutan mewarnai air mukanya. "Yang, gak usah lah. Kita balik aja, atau ngopi dulu. Gak usah ke Palmdale. Aku gak mau kamu baper lagi."
Segala puji bagi Tuhan yang sudah menciptakan Weston dengan hati sebesar samudra. "Enggak, Yang. Aku mau temenin kamu tanding. Dan aku janji aku gak akan baper-baperan nanti di sana."
Matanya menyelidiki setiap sudut wajahku. Mencari tanda-tanda yang dapat mengindikasi adanya dusta di antara kami. "You sure?" tanya Kayden di kesudahan.
"One hundred," ungkapku mantap. "I love you, Kayden James Ford. And like you, I will do anything for the one I love."
Senyumnya perlahan mengembang. Kilau yang terpancar mengalahkan indahnya pantulan cahaya matahari Los Angeles di lautnya yang terkenal cantik. "Thank you so much, Sayang."
Kayden berdiri, kemudian mengulurkan tangan untuk menarikku bangkit. Bersama-sama kami tegak menghadap Mama. "Hai, Tante. Sorry baru bisa nyapa sekarang. Habisnya tadi sibuk bujuk dia, nih," selorohnya sambil menyiku lenganku. Aku balas menyinggungnya dengan bahuku. "Tenang-tenang aja di surga ya, Tante. Biar aku yang urus Niki di sini. Aku bakal jaga dia dengan usaha terbaikku. Tante gak usah ragu akan hal itu."
"Bye, Mama. I'll see you soon. Love you."
__ADS_1
To be continued ....