
Lengking suara Paulina memecah kebingunganku. "Eh, jangan salah lo! Kan, tadi Niki udah bilang kalau dia minta maaf? Itu tandanya dia juga punya emosi. Dia itu manusia, bukannya robot benaran. Ya, pasti punya perasaan, dong? Gak mungkin banget enggak. Cuma aja dia gak menampakkan emosinya ke semua orang," jelasnya berapi-api.
Dia kemudian mengembuskan napas panjang. Mata nan semula berkilat-kilat kini melembut, lagi-lagi menatap kejauhan. Gambar hati berwarna merah muda begitu jelas meluap dari sana. "Nah, itu yang bikin kadar kekerenannya naik seribu kali lipat buat gue. Beckham itu sosok yang misterius. Aroma teka-teki kental banget keluar dari dia, bikin gue penasaran dari dulu."
Aku berbagi sinyal dengan Marina dan Isobel melalui sudut mata. Sungguh tidak terduga-duga. Paulina yang selama ini terlalu pilih-pilih soal lawan jenis nyatanya menyimpan rasa kagum yang hampir obsesif terhadap seseorang yang tak lain tak bukan adalah ... Beckham.
We. O. We. Be. Ge. Te. Wow banget.
And it's a lot to process. Otakku tak henti berputar-putar semenjak perbincangan dimulai.
"Dari dulu? Maksud lo?" Marina kembali membuka suara.
"Yaa, dari dulu," aku gadis di sampingnya enteng. "Dari awal masuk sekolah."
What the what?
"Seriusan lo, Paulin?" Keterkejutan Marina sekali lagi menjadi perwakilan dari perasaan kami bertiga.
Gadis cantik bernama lengkap Paulina Agnesia Willborough itu menguatkan pernyataan absurd yang baru saja dia lontarkan dengan berkobar-kobar. "Serius gue!"
Oh. My. God. Tampaknya Paulin betul-betul serius.
"Shxt, Girl. Kenapa lo gak pernah ngomong ke kita?"
Yang diumpat malah menyengih. "Ngg, gak tahu juga, sih, gue. Mungkin karena kita gak pernah bahas soal dia juga kali, ya." Dia lalu menghadapku. "Jujur, deh, Niki. Lo baru ngeh sama keberadaan Beckham di sekolah pas Kayden mention dia ke lo, kan?"
Hal yang tidak perlu susah payah kupikirkan karena memang begitulah kenyataannya. "Eh, iya juga, ya?"
"Nah, itu," ringisnya seraya mengangguk.
Akan tetapi, takah-takahnya Marina Quinn McAllister tidak mau melepaskan perkara ini begitu saja. "Tapi, itu gak masuk hitungan, dong," tudingnya. "Si Nikita, kan, udah dijelasin juga dari tadi kalau dia gak berniat perhatian sama cowok lain selain pacar malaikatnya. Nah, gue?" Ujung kuku lentiknya berhenti seangin di atas puncak hidung dia sendiri. "Is?" Pun arkian dia mengarahkan jarinya pada teman di seberangnya, di sebelahku. "Lo pernah sekelas sama Bexk, gak?" Pertanyaan dialamatkan pada gadis manis yang dari tadi hanya menjadi penonton setia percakapan tiga arah ini.
__ADS_1
"Pernah."
Sudah, begitu saja jawabannya. Duh.
"Gue juga pernah, kok." Marina membeo.
Sekeras-kerasnya Marina mendebat, sekuat itu pula Paulina bertahan. "Iya, itu maksud gue, Marina." Dia mengekor tindakan sahabat kami yang merupakan campuran Afrika-Amerika itu dengan bertanya pada Isobel. "Lo ngerti, kan, Is?"
Isobel—yang selalu berusaha sekuat tenaga menjaga perdamaian dunia—hanya manggut-manggut.
Paulina melanjutkan sesi "pengakuan"nya sebagai penggemar rahasia seorang Beckham Lee Pierce dengan antusiasme yang amat sangat tinggi. "Biar kata kalian pernah sekelas bareng dia, kalian gak pernah bahas dia, kan? Kenapa?"
Dia memperhatikan kami satu per satu.
"Karena dia gak mau dilihat, you guys! Karena dia sangat menjaga privasinya sehingga yang akan mengenal siapa Beckham sebenarnya adalah orang-orang yang dia pilih. Bayangin aja, betapa berharganya menjadi salah satu dari segelintir orang yang punya kesempatan kayak gitu? It's a very rare privilege! And look! Sekarang Tuhan ngasih gue jalan buat mewujudkan keinginan gue melalui Nikita. Mereka bakal belajar bareng. Lo bisa kenalin gue ke dia, terus mungkin nanti gue bisa ikutan ngumpul juga, dan gue akan gunakan itu buat kenal dia lebih jauh lagi. Terus, terus kita jadi semakin dekat, mengenal satu sama lain, dan ...."
Please, good God, jangan bilang kalau Paulin sudah membayangkan rencana pernikahan mereka di dalam benaknya yang padat akan awan romansa itu.
"Dan, ah .... Gue udah bisa lihat rumah kami dengan halaman yang luas, anak-anak kami yang pastinya bakal lucu-lucu banget lagi main kejar-kejaran. Juga ada anjing peliharaan kami, kucing—"
Terang saja pendapatnya ditepis mentah-mentah. "Ih, suka-suka gue!"
Thank God untuk jiwa suci Isobel yang tidak ikut tersulut di saat-saat seperti ini. Dia benar-benar harus dijadikan duta perdamaian setidaknya untuk urusan perdebatan antarsahabat yang sama-sama keras kepala. "Okay, okay. Paulina, maksud Marina bukan gitu. Ya, kan?" Is menatap Marina sejurus beberapa detik.
Lalu dia melanjutkan misi rekonsiliasinya dengan menghadap pada Paulina lagi. "Terserah lo mau bayangin apa, itu hak lo. Dan gue sama Marina dan Nikita berharap semua mimpi lo bisa jadi kenyataan. Tapi, gimana kalau kita fokusnya ke hari ini dulu? Ke saat ini, bisa? Baby step, okay? Biarin si Nikita mulai belajar dulu sama si Beckham. Biar dia lihat gimana gerak-geriknya. Nah, nanti, saat situasi memungkinkan, kita bakal bantu lo, kok. Kita pasti bakal bantu lo sebisa kita. You got me?"
"Yeah. Okay." Paulin akhirnya melunak.
"Okay, good," tutup Isobel.
Namun, Marina maaih memiliki bahan untuk dibicarakan. "Satu lagi, ya, Neng Paulin. Gimanapun lo harusnya mau bagi hal sebesar ini sama kita, sahabat lo. Lo gak perlu nyimpan ini sendiri."
__ADS_1
Fiuh. Mujur hanya itu yang disampaikan. Dan dengan halus pula.
Kusambut pernyataannya. "Iya, Paulin. Aduh, gue jadi kepikiran soal waktu itu. Gak kebayang gimana perasaan lo ketika tahu Kayden udah bikin cowok pujaan lo babak belur. Ditambah gue yang sering ngata-ngatain dia belakangan ini. Sorry banget, ya."
Sudut bibirnya terangkat satu. Dia mengibaskan tangan sekali. "Soal itu, mah, gak usah dipikirin. Salah dia juga. Biar dirasain."
Well, tanggapan yang sekali lagi tak disangka-sangka. Aku pikir dia akan berubah muram dan menyalahkanku serta Kayden. Yang terjadi justru sebaliknya. "Thanks, Neng."
"So, Niki," tutur Isobel sekonyong-konyongnya memutar haluan pembicaraan padaku. "Lo yakin rencana yang dibilang Kayden bakal berhasil?"
Aku menjawab tanpa ragu. "Seratus persen yakin. Soalnya yang jadi alasan gue keluar dari tim, kan, kalkulus. Kalau nilai kalkulus gue aman, gak ada masalah laugi, dong, berarti. Gak ada perkara lain yang menghalangi gue dan cheers."
"I second that," sambut Marina.
"Yep. Lo pasti berhasil. Lo harus berhasil, Nik. Secepatnya!" tambah Paulina yang kembali menggebu-gebu.
Kali ini kunikmati semangat yang juga tiba-tiba mengalir di dalam nadi. "Of course. Thanks udah dukung gue, ya, guys."
"Anytime, Neng."
Isobel kembali mengangguk dalam diam.
"Yuk, ah, berenang. Udah gerah banget gue dari tadi," cetus Paulin yang sudah melepas luarannya.
"Yeee, itu, sih, gegara elo yang terbakar gelora perasaan lo sendiri. Gak nyangka gue lo bisa senyala itu," seloroh Marina yang kini juga hanya memakai bikini.
Paulina si Penggemar Paling Berat Beckham terkikih-kikih. "Gue juga gak nyangka."
Entah untuk keberapa kalinya hari ini sesuatu yang tidak pernah terterka terjadi. Ada sesuatu yang terasa sedikit aneh di dalam diri.
Hm.
__ADS_1
Sama. Gue juga gak nyangka kalau pengakuan lo agak nyelekit, Paulina. Kenapa, ya?
To be continued ....