
Melihat perubahan warna itu, alisku sesenti demi sesenti naik ke garis rambut. "Iya, ya, Tan? Kok aku merasa kita udah gak lagi ngomongin soal makanan?" selidikku dengan nada menggoda.
Tebakanku dibenarkan oleh sipu wanita paling cantik di rumah keluarga Ford itu. "Hush, Kamu!" Tante Liz mengibaskan tangannya sekali, menepuk udara di antara kami. "Iya, lah, Niki. Tante serius! Kan, ada tuh orang bijak yang bilang kalau remaja wanita adalah makhluk paling tidak terduga seantero jagat raya. Nah. Itu," katanya sembari menunjuk-nunjuk.
"Aku rasa Tante ngarang, deh." Sama halnya dengan Kayden, aku juga tidak bisa menahan untuk tidak mempergarahkan mamanya.
"Ih, kamu kok gak percayaan banget, sih, sama Tante? Buat apa coba Tante mengada-ada soal ini? Tuh, silakan kamu Google sendiri kalau gak yakin." Wanita yang dulunya berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak itu berpindah ke sampingku. "Ayo!" desak Tante Liz seraya menyenggol lenganku dengan bahunya. Kedua lengannya kini sudah bersilangan di depan dada, tantangan dan godaan juga mengambang di udara sekitarnya.
Tak pelak kelakuan Tante Liz sukses melahirkan kekehan dari dalam diri lagi. Memanglah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Kayden adalah kombinasi 50:50 dari orang tuanya. Dia memiliki ketampanan dan kegagahan Mr. William, sedang hatinya besar, hangat, dan penuh kasih sayang layaknya sang Mama. Tuhan benar-benar menciptakan keluarga ini dengan kata sempurna sebagai acuan-Nya.
Belum sempat aku mengeluarkan gawai untuk memuaskan hati Tante Liz yang masih menunggu, sebuah suara berat lantas bergabung dan mengejutkan kami, atau setidaknya aku saja. "Ayo, Cewek-Cewek Cantik mau Google apaan pagi-pagi begini, hm?"
Aku mengangkat kepala dan melihat kepala keluarga Ford yang sedang berjalan mendekat. Pria yang tampak seperti Kayden versi tiga puluh tahun yang akan datang itu melewati sang istri untuk memasukkanku ke dalam dekapannya. "Aduh, mimpi apa Om semalam jam segini sudah dikunjungi calon mantu?"
Jadilah kini giliranku yang merona. "Ng, anu, Om. Eh ...."
Orang tua kekasihku terkakah menyaksikan aku yang salah tingkah.
Aku ikut terbahak satu-dua kala sebelum sebuah gagasan muncul di dalam benak.
Oh, betapa aku merindukan suasana rumah yang seperti ini.
Om Will dan Tante Liz berdiri saling berangkulan, bahagia yang mereka punyai dari dalam mencipta cahaya pada senyum yang merekah.
Dulu, Papa dan Almarhumah Mama juga begitu.
Tuhan sepertinya juga menciptakan keluarga kami kurang lebih seperti ini. Atau, mungkin hanya Mama. Karena setelah Mama tiada ....
God damned it!
Tidak, Nikita. Segera buang kalimat itu jauh-jauh!
"Ehm, Om, Tante, kira-kira Kay udah bangun, belum, ya?" Aku menyeringai hambar demi memutar haluan pembicaraan dan pemikiran. "Aku ke sini mau jemput dia karena rencananya dia gak bawa mobil hari ini."
"Astaga, iya! Keenakan ngobrol jadi lupa. Papa juga, sih!" Tante menepuk lengan Om Will sembarangan. "Tante belum cek dia. Kamu mau lihat sendiri apa mau tunggu di sini? Biar nanti Zara yang periksa."
__ADS_1
Tetap di sini atau kabur? Well, that is so freaking easy. Tentu saja itu merupakan pilihan yang sangat mudah. "Aku lihat sendiri aja, deh, Tan. Gak apa-apa, kan?"
Tante Liz menggapai pundakku dan mendaratkan tepukan lembut beberapa kali di sana. "Gak apa-apa, kok. Gih, sana, buruan! Nanti Kay malah kebablasan tidurnya, kalian jadi telat. Tante bikinin sarapan buat kalian dulu."
"Oke, deh, Om, Tante. Thank you. Aku ke atas dulu, ya." Tanpa menunggu jawaban, aku langsung saja berlari ke lantai 2 di mana kamar Kayden berada.
Kubuka pintu paling ujung di koridor sebelah kiri dari tangga.
Sudah pukul tujuh tiga puluh dan si Gentong masih saja pulas di atas kasur. Dada telanjangnya tersingkap sebab selimut yang hanya menutup sebatas pinggang. Badannya miring menghadap ke kiri, kepala beralas otot bisepnya sendiri. Damai membingkai Kayden-ku.
Pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Memandanginya saja membuatku ikut merasakan kesyahduan yang luar biasa.
Sungguh, Kay, aku tidak ....
Otak sontak mencari-cari alasan agar perkataan yang bersumber dari suara itu tak terselesaikan.
Mata tahu-tahu menangkap sebuah botol air mineral bekas yang menganggur di atas nakas. Sebagai gantinya, ide jahilku sekonyong-konyongnya timbul. Kutuangkan sedikit air ke telapak tangan, kemudian kupercikkan sekaligus ke muka Kayden.
"What the ..?!" Dia tersentak, memukul-mukulkan tangannya ke udara, dan segera bangkit dari posisi rebahnya. "What the ..?!" Tak jadi diselesaikannya umpatan itu setelah sadar siapa yang mengganggu. Bola mata birunya yang semula memelototiku lantas berganti bingung setelah benaknya berhasil bekerja dan meregistrasi apa yang dilihat. "Sayang?"
Ups. Aku rasa dia belum bisa mempercayai penglihatannya sendiri.
"Awas kamu, ya!" Kesudahannya dia bergegas turun dari ranjang untuk mengejar aku yang sudah lari terbirit-birit duluan.
"Sini kamu!" perintah Kay gemas. "Iseng banget bangunin orang pakai air segala. Ayo, sini biar aku bisa balas!"
Aku mencoba berkelit darinya dengan menggunakan kursi meja belajar sebagai tameng. "Gak, Yang. Ampun, ampun. Aku cuma bercanda," pintaku memelas. Namun, apalah daya tawa yang lepas membuat pengaruhnya bablas.
"Dari kemarin maunya jahilin aku terus kamu, ya."
"Enggak, kok. Mana ada?" kilahku lagi.
Kucondongkan daksa ke kanan bermaksud ingin mengelabui pemuda yang semalam rupanya tidur hanya memakai boxer itu sebelum berkelok ke kiri. Akan tetapi, apa yang kupikirkan? Membaca gerak-gerik tim lawan sudah menjadi makanan pokok baginya. Dengan mudah Kayden mencekau pinggangku.
"Dapat!" serunya bangga seperti baru menangkap buruan besar.
Gerakanku dan kekukuhannya memegangi tubuhku membikin Kay melangkah mundur, tegaknya belum begitu kokoh untuk menopang perlawanan. Dan, tiba-tiba saja kami sudah berbaring di atas kasur yang masih kacau.
__ADS_1
"Yang, ampun. Lepasin!" teriakku di antara kakah.
"Gak mau, enak aja. Kalau mau dilepas cium aku dulu," bisik Kayden tanpa rasa malu. Bibirnya pas berada di atas telingaku.
Embusan napasnya semakin membuatku geli. Aku semakin menjadi-jadi. "Kayyyyydeeeeeen!"
Dipertahankannya posisi kami, dia bergeming. Hanya saja kini dagunya bertelekan di bahuku, sibuk ... menunggu.
Tentu saja kelakuannya itu membuat detak jantungku berserak.
Menyerah—dan, let's be really honest here, aku juga menginginkan apa yang dia inginkan, sialan! Kay benar-benar tahu apa yang sedang dia lakukan dan sebabkan terhadap hormonku, aku menoleh demi mendaratkan sebuah kecupan di bibirnya, meski harus berpura-pura tidak rela dengan hanya "mengecupnya" saja sementara hati ini menghendaki lebih dari itu—dasar makhluk hormonal. "Nah, udah." Kutepuk tangannya yang bertaut di atas perut. "Mandi sana! Entar kita telat. Jangan lupa gosok gigi!"
Morning breath is real thing, folks!
Kayden mengakak. "Iya, iya, Bawel." Di kesudahan dia membebaskanku dari kungkungan. "Thank you, ya, Yang, udah bangunin aku." Dikecupnya keningku dengan sepenuh hati.
"Iya, sama-sama." Aku menyahut sembari kembali bangkit bersama dia.
"Walaupun caranya agak barbar, yaa," garah Kayden.
Aku mencibir.
Dia melanjutkan gerakan untuk bangkit. "Eh, Yang. Kamu, kok, tumben pagi-pagi banget bangunnya. Kenapa?"
Well .... "Aku pengen olahraga aja," jelasku seraya mengedikkan bahu. "Lumayan lah, hari ini dapat 30 menit di treadmill."
"Wiiiih," puji Kayden yang kemudian mengecup keningku sebagai hadiah. "Keren, ih. Pacar siapa dulu, dong?"
Mata, oh, mata, kapan kalian akan berhenti berputar jikalau dianya tetap bersikap seperti itu?
"Ya, udah. Pacar siapa-siapa, kek. Mandi dulu sana! Mama kamu udah bikinin sarapan, tuh." Aku bangkit dan berjalan ke cermin yang menjadi penanda pintu masuk ke walk-in closet kepunyaan Kayden. Sambil merapikan tampilan, aku terus saja merepet. "Aku baru sadar, setiap kali kamu ke rumah, kamu sebenarnya cuma mau sarapan bikinan Mrs. Crane, kan? Kali ini aku juga bakalan gitu. Aku pagi-pagi ke sini buat sarapan omelette andalan mama kamu."
Kayden lagi-lagi tergelak. "Balas dendam, nih, ceritanya?"
Kuangkat sebelah bahu.
"Oke kalau gitu. Balas dendam yang rajin, ya, Yang. Aku suka dijemput kayak gini. Kapan lagi coba aku dapat princess treatment dari kamu?" Dengan demikian, dia menghilang di balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
Dasar!
To be continued ....