Love Me, Please

Love Me, Please
24. Daaaang


__ADS_3

Suara ketukan di pintu lagi-lagi menyentakku dari tidur. Kali ini, Mrs. Crane mempersilakan dirinya sendiri untuk masuk. Sebagian besar karena dia tahu aku hanya sendirian di sini. Ah, jangan tanya. Sekarang aku tengah benar-benar tidak tahu kenapa aku masih saja memanggil Lizza Crane dengan Mrs. Crane sedangkan aku memanggil suaminya menggunakan nama depan.


"Non, ada tamu," ucap perempuan yang selayaknya kupanggil Oma itu dari balik punggungku.


Aku berniat menyahut pernyataan wanita yang sudah berjasa sekali soal urusan rumah tangga dan perdapuran—is that even a word?—itu dengan, "Bilang ke Kayden kalau aku masih mau istirahat dulu, Bi". Akan tetapi, yang ke luar dari mulut terkatup kantuk ini lebih terdengar seperti racauan orang teler. "Wilung e Aydun olou oku masuh mou sstiruut ulu, Wi."


Betul-betul tidak jelas.


Namun, pengalaman hidup selama lebih dari lima putuh tahunnya ternyata tak sia-sia. Mrs. Crane berhasil memecahkan teka-teki ucapanku. "Masalahnya tamu ini bukan Kayden, Non."


That got my attention. Kuurak kelumunanku dan menoleh padanya. "Terus siapa?" tanyaku dengan mata yang masih seperempatnya terpejam.


"Dia bilang tadi namanya Beckham."


Alisku serta-merta terbang ke garis rambut. What? Mrs. Crane bilang apa? Tidak mungkin. Ini pasti hanya tipuan otakku yang masih diselubungi kabut. "Bibi tadi bilang siapa?" selidikku dengan penuturan yang lebih jelas.


"Beckham, Non. Kayak nama pemain bola itu."


Faktanya, pendengaranku sebelum ini tidak salah. What in the actual hell?


****

__ADS_1


Lima menit kemudian aku turun dari kamar dan menuju pintu depan. Tidak peduli dengan kaos kebesaran milik Kay yang sering kupakai untuk tidur dan kini telah penuh dengan kernyutan, rambut yang hanya kusepit sembarangan, dan mata bengkak sehabis tidur dan tangisan. Dan, benar saja. Di sana dia.


Thank God atas kebijaksanaan Mrs. Crane yang tidak bertepi karena dia tidak menyuruh "tamu" yang satu ini masuk.


Di teras sudah terparkir—maksudku berdiri, maafkan mulutku yang masih dendam kepada makhluk ini— seorang anak lelaki berambut cokelat bergelombang, memakai kaca mata petak berbingkai hitam. Dia mengenakan kaos oblong berdesain grafis—aku gak tahu itu gambar apa—warna putih, kemeja kotak-kotak putih, hitam, dan biru dongker, serta celana jins hitam. Kakinya dialas dengan Converse Chuck yang juga berwarna hitam.


Aku sengaja memperhatikannya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki karena melihatnya menggeliat akibat ketidaknyamanan yang aku ciptakan menimbulkan suatu kepuasan yang tak disangka-sangka. "Ngapain lo ke sini?" todongku di kesudahan. Semakin cepat urusan dengannya selesai semakin baik. "Tahu rumah gue dari mana?"


"Emang cowok lo doang yang bisa bayar hacker sekolah?"


Aku menjuruskan tatapku pada matanya.


Dia menggeleng sekilas dan mengumpat dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar, akan tetapi tentu saja aku masih bisa menangkap desisan itu, lalu berdeham. "Gue cuma mau ngantar ini," tuturnya seraya mengeluarkan sesuatu dari balik punggung.


Namun, dia menahan tindakanku. "No, no, no. Wait! Plakai aja. Gue bisa pake yang lain. Itu urusan gampang," desaknya sambil masih saja menyorongkan benda itu semakin dekat padaku.


Sebuah gelak getir meloncat keluar dari mulut. "Yeah, gampang. Silakan bawa gampang lo itu pulang ke bagian neraka mana lo berasal!"


Dia mengumpat lagi. "Bukan gitu maksud gue."


Kuakhiri aksi dorong-dorongan pintu itu dan menyilangkan tangan di dada. "Dengar, ya. Los Angeles boleh aja bangga sama prestasi dan otak lo itu, tapi apa yang lo dan ibu-ibu rempong penjaga pustaka fans lo pernah lakukan ke gue tetap gak bisa diterima. Kalian pikir kalian siapa, ha? Oh, mentang-mentang gue gak punya nilai bagus, atau cuma karena gue pakai baju yang menurut standar kalian gak benar untuk dibawa ke tempat macam perpus, kalian bisa seenaknya bilang kalau gue gak punya otak? Menganggap gue gak punya perasaan?

__ADS_1


"Asal lo tahu, ya, Anak SMA Paling Pintar se-California, kemarin itu gue udah usahain buat gak terlambat lagi. Gue sadar sama kesalahan gue, dan gue mau memperbaikinya. Gue bela-belain datang ke perpus langsung dari sekolah, habis latihan cheers, makanya gue gak sempat ganti baju selain dari yang ada di loker gue. Tapi, pas sampai di sana? Ck." Tak sadar napasku sudah terengah. Segera kuhela satu dalam-dalam untuk menenangkan diri. Aku tidak mau menambah apa yang audah menumpuk di atas pundakku dengan urusan bersama si Bxrengsek ini lagi. "Dih, ngapain juga gue jelasin sama lo, ya? Gue, kan, gak ada utang penjelasan apa pun ke lo. Lagian gue juga udah bilang. Fxck you. And I really meant it. Fxck you and now fxck off. Gue gak butuh bantuan lo."


Tidak ada tanggapan yang keluar dari mulut cowok di depanku. Teras tetiba saja diliputi keheningan yang canggung.


Matahari bersinar dengan bangga. Langit bersih dari bentangan awan, hanya ada beberapa yang berani menampakkan diri di arah timur sana. Angin sesekali berembus, membuat daun-daun pohon palem bergoyang. Begitu pun dengan tanaman-tanaman lain di halaman. Begitu pun dengan si robot.


Dia berdiri dengan gelisah. Kaki kanannya berayun ke depan dan ke belakang, sebelum di tumpukan pada ujung sepatu dan diketuk-ketukkan ke lantai dengan pelan beberapa kali. Kemudian dia berdeham. Sekali. Dua kali. "Sorry," bisiknya. Suaranya masih terdengar serak meski dia sudah membersihkan tenggorokan berulang-ulang.


Wait, what? Apa tidak salah dengar? Dia bilang apa barusan? "Ngg, apa, ya? Lo barusan ngomong? Ngomong apa lo? Gue gak dengar yang keluar dari mulut lo itu. Lo bilang apa?"


Dia kembali mendeham, kali ini juga ditambah dengan menyeka telapak ke celana jeans yang dipakainya. "I said I'm sorry," ulangnya secepat kilat.


Benar-benar ajaib ini cowok. Minta maaf saja layaknya hendak terjun bebas dari pesawat tanpa memakai parasut. Jelas sekali dia tidak terbiasa dengan hal-hal manusiawi seperti ini. "Apa gue gak salah dengar?" Aku tidak tahan untuk tidak meledeknya.


"Jangan mancing-mancing, deh. Lo gak akan dapat lebih dari itu," timpalnya ketus.


Aku tergelak. Kala ini pun gelakku masih terasa agak pahit. "Lo pikir gue pengen apa-apa dari lo, gitu? I told you to go fxck your-oh so fxcking high-self, didn't I? Dan lo sendiri yang datang ke rumah gue. Tanpa diundang, gak diharapkan juga. So, yang salah masih gue? Hello? Setinggi apa, sih, ego lo sampai-sampai bisanya cuma merendahkan dan menyalahkan orang lain? Heran gue."


Dia sekali lagi—ya Tuhan, masih saja—membersihkan tenggorokannya. Tebakanku adalah dia sudah terlalu lama tidak mempergunakan pita suaranya dengan benar sehingga terlalu banyak jaring laba-laba di dalam sana. Oleh karena itu dia sering mendeham. Yes, yes, pasti benar begitu. "Nikita, gue minta maaf. Gue akui gue salah dan gak seharusnya Bu Vanessa nge-judge lo kayak gitu. Gue juga mau minta maaf atas nama Bu Vanessa juga sekalian."


Sekonyong-konyongnya sebuah pertandingan siapa yang paling lama diam dimulai. Sambil terus menutup rapat mulut dan mempertahankan kemarahanku, sesekali aku masih saja mencuri pandang pada cowok yang masih berdiri tak nyaman beberapa langkah di depan. Sialan, dia benar-benar kagok banget. Pasti jarang berinteraksi sama manusia. Kelamaan temanan sama setan dalam kepalanya, sih! Makanya begitu.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2