Love Me, Please

Love Me, Please
53. Beckham's Layers


__ADS_3

"Sorry."


"Maafin gue."


Tanpa disadari kami mengutarakan permintaan maaf secara bersamaan.


Beckham menggosok-gosok tengkuknya, sedang aku masih sibuk memegang ice pack. Rasa terbakar yang sebelumnya ada karena benturan kini berubah menjadi rasa menggigit sebab dinginnya benda segiempat yang tengah kutempelkan ke pipi.


"Gue–"


"Gue–"


Tak disangka tak dinyana hal itu terjadi lagi. Setelahnya kami pun sama-sama tergelak oleh kekonyolan sikap kami.


"Lo duluan, deh," suruh Beck di kalakian, setelah kakahnya reda.


"Wow. Really?" Aku sekonyong-konyongnya memasang tampang terkejut. "Siapa sangka cowok kayak lo punya manner juga, ha?"


Cowok yang masih ada di sana itu hanya mengedikkan bahu. Satu sudut bibirnya terangkat, kali ini oleh senyum kecut. Hilang sudah tawa lepas yang membuat wajahnya rileks sebentar ini. Dang, perasaan menyesal segera menggerogoti hati saat menyadari hal tersebut. "Bukan soal manner, sih. Lebih ke ...." Fia menimbang-nimbang pilihan kata yang akan dipakainya. "Gue kasih lo kesempatan untuk minta maaf ke gue duluan karena emang lo yang duluan ngelakuin salah. So? Cuma masalah urutan kejadian yang sebenarnya aja, sih, sebenarnya."


I should have known. "Sialan lo!" Kujauhkan ice pack untuk beberapa detik sebelum kembali melekatkannya ke bagian pipiku yang masih cenat-cenut itu. "Hilang sudah keinginan gue buat minta maaf tadi. Serius, ya, Beck. Lo benar-benar nyebelin banget tahu, gak?"


"Iya, ya?" sahutnya tidak peduli. Dikembalikannya pertanyaanku dengan pertanyaan pula.


"Nah, itu contohnya." Aku tak segan-segan menunjuk mukanya dengan ujung telunjuk kiriku.


Lagi-lagi Beckham si Sialan ini hanya mengangkat bahunya. Sembari memutar-mutar kursi ke kanan dan ke kiri, dia kembali menanggapi. "Gak tahu. Soalnya gak ada yang pernah protes sama gue sebelumnya. Baru lo doang."


Aku menyambar kesempatan untuk mengatai cowok songong di depanku. "Itu karena baru gue doang yang benar-benar ngomong sama lo, Songong. Yang lain mana pernah? Setiap saat lo sibuk sama diri sendiri, telinga disumpal pakai airPod, jalan buru-buru, muka lempeng aja kayak gak ada emosi. Sekalinya ngebacot, eh, malah yang ke luar dari mulut lo itu duri. Gimana orang mau protes coba?"


Matanya menatap sejurus padaku. Serius. "Gitu, ya? Hm."

__ADS_1


Dia benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di sekelilingnya selama ini. Dia betul-betul tidak mengerti apa akibat yang ditimbulkan oleh sikap acuh tak acuhnya itu. Kenyataan ini tak dipungkiri juga membuat aku bimbang. Di satu sisi aku merasa kasihan terhadap coeok yang memang sudah dewasa di mata hukum, sudah bisa mengurusi kebutuhan lahiriahnya sendiri, akan tetapi jika melihat ke dalam dirinya, Beckham masih memiliki "keluguan". Yep. I'm pretty sure there's still a boy who wants to be protected, to be cared for, to be loved beneath those hard exterior and doesn't give a fxck attitude he puts on all this time.


"Ah, udahlah! Gue ngomong panjang kali lebar juga tanggapan lo itu doang. Lagian hobi banget, sih, lo ham-hem, ham-hem. Gak jelas." Well. Meskipun sedikit demi sedikit sudah memahami siapa Beck, akan tetapi sungguh sulit rasanya untuk mengubah sikapku terhadap pemuda itu. Dia selalu saja bisa menyulut emosiku dengan mudah.


Hening kalakian menyelimuti ketika dia terlihat mempertimbangkan apa yang kukatakan.


Sudah merasa lumayan kebas, aku mencampakkan ice pack di tanganku ke atas kasur. "Eh, by the way, kenapa lo ke sini?"


Beckham menghentikan gerakan kursi yang sedari tadi dia putar-putar dengan menanamkan kakinya ke lantai. "Kan, kita mau belajar bareng," jawabnya enteng.


Kedua alisku dengan pelan tapi pasti mendaki dahi. "Really?" Aku memastikan kembali. "Soalnya kalau gue gak salah ingat, kemarin kayaknya lo gak mau berurusan sama gue lagi, deh. Ditambah chat gue yang cuma di-read doang."


Disandarkannya kepala ke penopang kursi di belakangnya lalu dia mengembuskan napas panjang. "Yeah," desah si Pemuda Genius dengan sendu. "Soal itu."


Soal itu. Yeah, what about it? Dalam diam kunanti kelanjutan kalimatnya. Penasaran dengan penjelasan yang akan ke luar dari mulut Beck.


"Lo benar," ungkapnya setelah sekian waktu berlalu.


Welcome to the club, Beckham Lee Pierce.


"Sorry," bisikku sepenuh hati. Bagaimanapun jua, aku berharap sesuatu seperti pengabaian dan tidak didengarkan tidak menimpa orang lain. Tetapi, tentu saja bukan begitu cara kerja dunia, bukan?


Dia kembali menaikkan bahu. "Well, me too."


Suasana berulang menyenyap. Akan tetapi, kali ini terasa lebih berat. Padat oleh pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di langit-langit. Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan itu padanya?


Dan kawan-kawannya yang serupa.


Namun, tak kukatakan. Mendapatkan jawaban darinya berarti harus memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam kepala Beck pula.


Dan itu tidak akan terjadi. Tidak hari ini.

__ADS_1


Or, selamanya. Jika aku mempunyai pilihan.


Demi mencari alasan untuk mengisi kekosongan dan agar tidak terlihat salah tingkah dengan kecanggungan yang ada, perhatian kukembalikan pada ice pack instan yang tadi kulempar sembarangan. Kupindahkan bungkusan yang telah mengotori bed cover itu ke atas nakas.


"Gue rasa gue tahu cara belajar yang tepat buat lo." Suara Beck memecah lengang setelah sejumlah jangka kala.


"Heh?" ujarku tak mengerti. Fokusku lebih kepada permukaan kasur yang kuseka saat dia berbicara sebentar ini. "Gimana, gimana? Lo ngomong apa barusan?"


"Cantik-cantik budek lo," cemooh Beck. Kalimat yang diucapkannya kini tidak lagi ada gigitan sama sekali.


"Hus!" Tiba-tiba Mrs. Crane sudah berada di dalam kamarku. "Nak Beckham ngomongnya gak boleh begitu! Apalagi sama wanita. Harus lebih sopan kalau jadi laki-laki."


Mendengar teguran wanita paruh baya yang tengah meletakkan baki berisi makanan dan minuman ke atas meja belajar itu, Beck langsung memperbaiki posisi. Kini punggungnya lurus, badannya sigap seperti patung. "S-so–, eh, ma–maaf, Bi," katanya dengan gelagapan.


Oh, my Gosh! Bersusah payah aku menyurukkan tawa dengan pura-pura berdeham. Beckham yang mengetahui hal ini lantas mengirimiku sebuah kerlingan peringatan yang tak kuindahkan. Betul-betul lucu mendapatinya bersikap seperti sekarang di depan Mrs. Crane. Ditambah dengan Mrs. Crane yang tidak segan untuk menegur cowok belagu yang kini mati kutu itu.


"Ini, Non, udah Bibi siapin. Silakan disantap. Sengaja Bibi kasih salad dan buah juga. Dihabiskan, ya." Mrs. Crane berpesan sembari berbalik untuk memandangku.


"Iya, Bi. Thanks, ya." Kububuhi terima kasihku dengan sebuah senyum manis nan tulus.


"Sama-sama, Non. Ya, sudah. Kalian lanjutkan belajarnya. Tapi, Nak Beckham ingat pesan Bibi, ya. Gak boleh galak-galak sama cewek. Apalagi kalau ceweknya Non Niki. Awas aja kalau Bibi sempat dengar lagi kalimat yang kayak tadi." Dia mengucapkan itu seraya mengarahkan kepalan tangan yang penuh keriput ke arah muka Beck yang masih duduk dengan tegak.


Si Kunyuk hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kaku satu kali.


"Kalau begitu, Bibi permisi dulu."


Setelah tubuh Mrs. Crane tak terlihat lagi dari pintu kamar yang terbuka, barulah Beck meniupkan napas lega.


"Kenapa, sih, lo tegang banget sama Mrs. Crane?" Aku tidak dapat menahan rasa ingin tahu untuk yang satu ini.


Beck sekali lagi menatap ke arah pintu. "Lihat pembantu lo gue jadi ingat abuelita, nenek gue dari keluarga nyokap. Orang terakhir yang rasanya sungguh-sungguh peduli sama keadaan gue. Beliau udah meninggal beberapa tahun yang lalu."

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2