Love Me, Please

Love Me, Please
33. Jangan Ngadi-Ngadi


__ADS_3

Matahari masih berupaya merangkak ke puncak, akan tetapi teriknya sudah tak ketolongan. Membakar diri dan membuat kadar air dalam tubuh menguap. Lalu, seakan segan dengan keagungan sang surya, semilir angin berembus malu, menciptakan rasa sejuk di kulit yang berkeringat.


Walaupun sudah berlindung di bawah patio umbrella yang cukup untuk memayungi empat buah kursi malas, tetap saja tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan bola api besar berpuluh-puluh ribu derajat Fahrenheit itu.


And I like it.


Aku suka berada di bawah sinarannya. Merasakan setiap pori-pori disengat cahaya. Aku suka berada di ruang lepas, bebas. Tidak ada dinding-dinding yang mengungkung jiwa, yang membikin tak lasuh jalan napas.


Dan aku benar-benar butuh kelapangan sekarang, berharap agar otak juga akan sama lawasnya hingga mau dan mampu menyerap informasi yang ada di kertas-kertas dalam genggaman.


Kenapa harus belajar kalkulus, sih? Bagian kehidupan mana yang membutuhkan implementasi dari mata pelajaran ini?


Kembali kumenyelam dalam lautan bilangan-bilangan. Terlalu sibuk memindai angka-angka di pagina membikin sedikit tersentak saat mendengar bunyi sesuatu yang jatuh tak jauh dariku. Sekonyong-konyongnya kualihkan perhatian ke sumber suara tak jelas barusan.


Pemandangan yang kudapati tak kalah mengejutkan. Di samping kiri telah berdiri sesosok yang jujur saja baru pertama kali muncul setelah hampir lima tahun persahabatan kami. Sebuah tas pantai yang padat pula sudah teronggok di ujung kursi.


Dia lalu menyeret kakinya seperti terdapat beban berat yang menahan. Piama yang dipakai berkerut. Rambut keritingnya digelung sembarangan di atas kepala, bentuknya lebih mirip sarang burung daripada sanggul biasa. Pun bekas-bekas riasan kemarin masih mewarnai—atau bisa dibilang mencoreng—wajah eksotisnya.


Aku bertaruh di balik kacamata Gucci Round Cat Eye yang dipakai orang ini tersembunyi mata rakun yang disebabkan oleh eyeliner yang luber ke mana-mana.


Zombi di serial Walking Dead saja masih lebih bagus dan lebih bersemangat dibandingkan dengan yang sekarang meringkuk di atas sunlounger di sebelah kiriku.


"Sehat lo?" tanyaku sedikit was-was. Bagaimana tidak? Sangat meresahkan melihat Marina si ratu fashion keluar dari rumahnya dengan tampilan awut-awutan begini.


Zombi Marina menggumamkan sesuatu yang tak jelas, mengalas kepalanya dengan tangan, kemudian kembali tertidur.


Setengah hati keheranan melihat tingkahnya, setengah yang tersisa senang karena entah kapan lagi aku bisa mengambil potret seorang Marina yang pulas dan menganga.


Tepat setelah aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja, terdengar suara langkah-langkah kaki ringan menjelang. Penglihatanku kembali berpindah.


"Pool time!" seru Paulina semringah. Di tangannya terdapat baki berisi gelas-gelas dan satu teko sedang berembun penuh lemon squash.


Isobel mengekor di belakangnya sambil membawa piring yang diletakkan di atas meja di antara kami. "Hi, Nikita," sapanya saat mengambil tempat di kursi sebelah kananku.


"Hi, Is." Aku mengangguk ke arah Marina. "Kenapa, tuh?"

__ADS_1


Dia menjawab dengan menganggukkan kepalanya ke arah Paulina.


Aku menoleh pada sahabatku yang ditunjuk.


"Jadi gini, Nik." Paulina menyeringai. Matanya berkilat nakal. Dia kemudian mencondongkan tubuh ke depan sehingga bibirnya berada tak jauh dari telinga Marina. "Si Marina ini mau berbagi kebahagiaannya ke kita. Secara, kan, kemarin dia habis senang-senang di Heaven. Gak ngajak-ngajak lagi, hm?"


Si Zombi terperanjat karena suara Paulina dan mengerang. "Apaan, sih, Pauliiiin," rengek Marina dengan kantuk yang menyelimuti pita suara. Dia membuka kacamata lalu mengucek-ngucek indra penglihatannya. Kesudahan dia merengek lagi. "Gue udah minta maaf, ya, Neeeng. Masa lo masih dendaaam?"


Paulina si yang Paling Sensitif dan Penyimpan Sakit Hati melengos. "Bodo amat. Gue gak peduli! Yang jelas lo udah ninggalin kita."


"Tapi, ya, gak perlu juga pake nyeret gue pagi-pagi buta ke sini kalau mau dengar cerita doang, kan?" Marina masih mencoba protes.


"Bodo amat!" Paulina bersikeras.


"Serah lo, deh. Gue mau tidur lagi. Ngantuk banget. Baru tidur dua jam aja udah dibangunin lagi sama Mak Lampir."


"Eh, jangan tidur lagi lo! Cerita!" Paulina menggoyang-goyang tubuh Marina. Belakangan dia memandangku. "Niiiik, bantuin, dong! Lo gak kesal apa ditinggal si Curang ini?"


Aku memutuskan untuk menyerah duluan. Meskipun aku tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan Paulin, akan tetapi tak ada pilihan lain. Dan, tidak dipungkiri, aku juga benar-benar penasaran dengan cerita soal pengalamannya semalam, pasti seru banget, aku tidak tega melihat keadaan Marina yang memang betul-betul sekarat itu. "Udahlah, Paulina. Biarin si Marina tidur bentar. Kasihan."


"Loh? Kok lo gitu?" Pauline malah balik menyerangku. "Marah juga, dong!"


Jawaban itu membuatnya terdiam. "Iya juga, sih." Paulina meringis. "Eh, tapi, tetap aja. Si Culas ini udah gak setia kawan."


Kuhela napas pasrah, sebab rengutan Paulina tidak akan selesai sampai maksud hatinya tercapai. "Tahu, ah, gue. Urus aja berdua. Tapi, kalau lo mau berantem jangan di sini. Gue lagi belajar, nih," ujarku sembari mengangkat dan melambaikan buku catatan dari Beck.


Paulina sekonyong-konyongnya tersentak. Dia tercengang. "Eh, you what?" tanyanya meminta konfirmasi


Marina yang sedari tadi menyandar di kursi malas itu kini terduduk, tak malas-malasan lagi. "Apa lo bilang?"


Kenapa reaksi mereka begini banget, sih? Aku menoleh pada Isobel yang ternyata juga sama terkejutnya. Kedua alis tipisnya sudah naik ke dahi.


"Apa-apaan, sih? Kok lo pada kaget banget dengar gue belajar? Sebegitu malasnya, ya, gue?" Aku memutar bola mata dan membuka halaman terakhir yang kubaca.


Eh, gue tadi udah sampai di mana, ya? Yang ini? Hm, kayaknya bukan, deh. Apa yang ini? I don't think so. Jadi, yang mana? Gue kok gak ingat satu pun?

__ADS_1


Sialan!


Kututup buku itu dengan gusar. Dongkol pada diri sendiri dan jengkel pada gadis-gadis ini. Aku bisa merasakan tatapan menyelidik mereka yang tak terlepas. Mengerling ke kanan dan ke kiri, kuberi tanda bahwa aku tahu apa yang mereka lakukan. "What?" sungutku seraya melipat tangan di depan dada.


"E-enggak ada apa-apa," sangkal Isobel cepat dengan tangan terangkat. "Bagus, dong, kalau lo belajar. Right, guys?"


Aku berpaling pada Marina dan Paulina, satu alis terangkat tinggi menunggu pernyataan mereka sendiri-sendiri.


Keduanya seketika melupakan perseteruan yang tadi terjadi dan berubah rukun kembali. "Yes, yes," ringis Paulina yang kini mengenyakkan bokongnya di sebelah gadis yang dikatainya tak lama sebelum ini.


"That's great, Girl," imbuh Marina. "Sorry kalau untuk sepersekian detik kita shock dengar pengakuan lo. Secara, kan? Ini hari Minggu, cuaca lagi cocok-cocoknya buat ke pantai. Biasanya lo udah gak tahan pengen lari-larian sepanjang jalanan Rockefeller, ngajakin kita outing. Tak dinyana tak diduga lo malah ngedekam di rumah aja."


Well, honestly, she's not wrong.


Paulina mengangguk-angguk setuju.


"Kayden mana?" sela Isobel.


Aku menoleh sebentar ke arahnya. "Hari ini dia ngantar mamanya belanja."


"Oooh, okay," sahutnya lagi. Kalakian dia berdeham.


"So, ada apa gerangan yang bikin lo insaf weekend gini? Jadwal les tambahan juga biasanya hari sekolah, kan?"


Kuiakan pertanyaan Marina itu.


"Ah, gue tahu!" seru Paulina seraya menjentikkan jari. "Pasti karena Kayden sibuk, kan? Makanya lo gabut dan gak tahu mau ngapain lagi." Dia dan Marina kemudian ber-high five ria.


Aku mengerang. "Please, deh! Emang semua aspek kehidupan gue tergantung sama dia, ya?"


"Hello, Neng! Lo gak sadar? Hidup kalian tu udah kayak gini, nih." Marina meliuk-liukkan tangannya laksana dua ekor ular yang saling memilin. "Kalau istilah matematikanya Kayden sama dengan Nikita. Nikita sama dengan Kayden. Di mana ada Nikita, pasti selalu ada Kayden. Gitu. Yep, benar gitu."


Mereka berdua terkakah dan kembali saling bertepuk tangan, jelas untuk memancing reaksiku.


Dan, tentu saja mereka berhasil. "Jangan suka ngadi-ngadi, ah!" tolakku sambil melemparkan sebuah anggur merah yang dibawa Isobel tadi.

__ADS_1


Pikiran-pikiran aneh mulai berkelebat di benak. Jauh, jauh di dalam, aku tahu apa yang mereka katakan adalah benar adanya. Hanya saja, diri tidak ingin memikirkan itu sekarang. Apalagi di depan mereka.


To be continued ....


__ADS_2