
Kenapa sepertinya orang-orang suka menyampaikan pesan dengan sembunyi-sembunyi pada hari ini, ya? Apa yang salah dengan berkata langsung? They all know I don't like talking in riddles. Ugh! "Iya, Bi, iya, aku tahu. Sekali lagi terima kasih banyak ya, Bi, yaaa. Dan, setelah aku pikir-pikir, mungkin sebaiknya kita harus menjadikan hal itu sebagai rahasia kita, deh, Bi." Aku kembali mengeluarkan jurus mengalihkan jalur pembicaraan.
Who knows, sebentar lagi jurus ini akan menjadi jurus andalanku jika dilihat dari seberapa seringnya aku menggunakannya akhir-akhir ini.
What is wrong with these people?
Bertambahlah keriput di paras yang, walau sudah tidak muda lagi, masih memancarkan semangat kehidupan itu. "Heh? Memangnya kenapa, Non?"
"Soalnya–" Aku mendekati Mrs. Crane, memberikan isyarat agar diajuga ikut mencondongkan tubuhnya seperti yang sedang kulakukan sekarang, dan menurunkan volume suaraku, tidak lupa ekspresi yang kubuat seserius mungkin, seperti hendak membagi sebuah rahasia besar. Well, it may as well be it because if he get the wind of this, then ... I don't have any idea what will happen to the both of us. Gombalan everyday and tebak-tebakan jayus every time of the day. "Kalau Kayden tahu soal ini, dia juga pasti bakal menyiksa Bibi dengan gombalan dan guyonan recehnya. Bi, please, itu akan jadi sesuatu yang bahaya banget buat kita."
Lepas sebuah gelak dari bibirnya wanita paruh baya itu. "Iya, ya, Non?" Dia bertanya memastikan.
Kutegakkan badanku lagi. "Iya, Bi," yakinku sembari mengenyakkan tubuh ke atas stool yang berjejer di depan breakfast bar. "Ugh! Bibi gak akan percaya seberapa banyak tebak-tebakan yang aku dapat seharian ini. Apalagi si Kay itu sekarang lagi suka-sukanya nonton funny short videos di TikTok. Aduh, Bii. Serius, deh. It's so ... awful." Aku memutar bola mata. Dari lagakku, aku terkesan tengah membicarakan soal sesuatu yang memang betul-betul buruk, padahal jika harus kuakui tidak ada hal yang buruk dari apa yang sudah dilakukan Kayden untukku hari ini dan di hari-hari sebelumnya, akan tetapi apakah daya. A little dramatic effect won't hurt, right?
Yeah, right.
Mrs. Crane terkekeh geli, entah karena apa yang aku katakan atau karena caraku mengungkapkannya. "Tapi, Non Niki pasti suka, kan?" tanyanya kemudian dengan mata yang penuh dengan kilatan menggoda, tidak seperti sebelum-sebelum ini yang lebih banyak mencerminkan keteduhan.
Heh? Duh! Jangan bilang kalau Mrs. Crane mau bilang .... "Suka apa, Bi?"
"Digombalin," tembak Mrs. Crane dengan cepat. Dan tepat sasaran.
__ADS_1
Ugh! Where's the riddle when I need it? Di saat-saat begini saja, Mrs. Crane tiba-tiba kembali menjadi seorang yang to the point. Nembaknya langsung di antara kedua mataku lagi. "Ng, itu ...." Aku tentu sajaa tidak dapat berkata apa-apa setelah tertangkap basah seperti ini.
Dan tentu saja hal itu malah membuat Mrs. Crane semakin bersemangat untuk menggodaku. Kali ini tidak hanya mencondongkan tubuh, wanita yang berdiri di seberangku itu tak hitung-hitung untuk mencolek daguku. Satu sudut bibirnya terangkat dengan nakal. "Ah, jujur aja sama Bibi. Gak usah bohong gitu lah, Non."
Shooot. Kututupi rasa malu dengan mencebik. "Ih, si Bibi kenapa jadi ngetawain aku, sih? Ah, gak asik!" Untung saja aku masih memiliki setidaknya tiga puluh persen kewarasan di dalam diriku sebelum aku mulai menghentakkan kaki seperti anak kecil yang manja dan memuakkan.
"Bibi gak ngetawain Non, kok," sanggahnya dengan setengah hati. Setelah menelan kakah, Mrs. Crane berkata lagi. "Non tenang aja. Hal ini juga bakal jadi rahasia kita. Tapi, setelah Bibi pikir-pikir ya, Non, kalau yang gombalin Bibi berondong secakep Kayden, sih, respons Bibi juga pasti akan sama kayak Non."
Hah, Mrs. Crane! I know what you just did there. "Eeeew, Bibi," protesku sembari mengernyit. Aku tidak paham kenapa aku masih mempertahankan upaya untuk tampil sok terganggu seperti yang kulakukan sekarang padahal kita semua tahu bahwa aku adalah seorang pembohong yang super duper tidak berbakat dalam berdusta.
Wanita paruh baya itu seketika menunduk untuk menyurukkan sipu yang membuatku semakin geli. "Maaf, Non. Tapi, yaa gimana lagi, kan? Pak Monty juga dulu waktu masih muda begitu orangnya. Suka godain Bibi. Sekarang udah jarang, mungkin karena udah lebih sering masuk angin kali, ya."
Kapan terakhir kali aku tertawa di dalam rumah ini? Kapan terakhir kali aku memiliki percakapan seperti yang baru saja kulakukan dengan Mrs. Crane di sini? Kapan terakhir kali aku mempunyai kesempatan hanya untuk menjadi seorang anak yang diperhatikan seperti sikap yang ditunjukkan oleh seorang wanita paruh baya, yang bukan siapa-siapa, yang hanya salah satu dari hired help di rumah kosong ini? Di mana orang yang seharusnya melakukan itu padaku? Mengecek keberadaanku? Memedulikan keadaanku?
Fxck. Selalu saja begini akhirnya. Aku sepertinya tidak akan pernah lagi mendapatkan sedikit kebahagiaan, atau hanya secercah kenormalan, tanpa dibayang-bayangi oleh mendungnya kenyataan hidupku. Awan yang menaungi hari-hari tampaknya semakin besar dan semakin berat saja. Aku tidak tahu apakah aku bisa lari dari kungkungannya atau tidak.
Jawaban dari pertanyaan itu terlihat berat pada pilihan yang terakhir.
Dang. See how fast this is going south? Fxcking bad emotions are always fxcking slipping on every surface and cracks of me and raining down on my parade in no time. Turning me from a puddle of goo because of Kayden's cheesy-ness into an emotional mess on the inside.
Nope. I'm not doing this here. Not with Mrs. Crane and her understanding eyes and her big heart and her tender soul. Nope. Abso-fxcking-lutely not.
__ADS_1
Dasar sialan kau, Rasa Bersalah! Rendah Diri! Rasa Cemas! Rasa Takut! Sialan kalian semua!
O-fxcking-kay. Aku tidak ingin melakukan hal ini lagi. Berpura-pura bahagia. Berlagak baik-baik saja. Bersikap sok normal. Because ... I am not.
Not happy.
Not okay.
Not normal.
Not ... everything.
"Ya, udah, deh, Bi. Aku mau ke atas dulu. Mau mandi, gerah sumpah." Kupaksa sebuah senyum melengkungkan bibir demi Mrs. Crane yang sudah terlalu baik untukku malam ini. Demi dia yang sudah mencoba untuk memperlakukan aku seperti biasanya.
Demi usahanya.
Karena, let's face it, Folks, tidak banyak yang melakukan itu untukku lagi sekarang.
Mrs. Crane mengangguk. Curiga seketika merangkak dari sudut matanya, membuat apa yang seharusnya menjadi garis tawa malah sedikit menegang. Meskipun begitu, sinar-sinar yang ditinggalkan oleh gelak yang sebentar ini tercipta di antara kami masih ada di wajah dan mata itu. Setidaknya sebelum emosi negatif juga mengambil alih tubuh wanita paruh baya di depanku. "Iya, Non Niki. Baiklah kalau begitu. Ada hal lain yang bisa Bibi bantu gak, Non?"
To be continued ....
__ADS_1