Love Me, Please

Love Me, Please
21. Eyes Wide Open


__ADS_3

Hening. Tak ada suara lagi setelah Coach Jordan mengakhiri pidatonya. Aku harap begitu. Tak sanggup rasanya mendengar lebih banyak lagi dari ini.


I should get out of here. Quick.


Sambil mengawasi ujung lorong, kueja langkah mundur agar tapak sepatu tak menghasilkan bunyi yang dapat mengumumkan keberadaanku kepada mereka. Kutiti langkah sehati-hati mungkin. Setelah kurasa jarak di antara kami cukup jauh, keberadaanku cukup aman, aku berbalik dan mulai berlari.


Sesampai di luar, langkahku terhenti sebab bingung yang serta-merta melanda. Entah diri ini hendak lari ke mana. Aku tak bisa menghilang begitu saja. Kayden yang terlalu peka pasti akan bisa menerka ada yang salah dalam sekali coba.


Sesak tiba-tiba menghantam dada kala teringat apa yang disampaikan Coach Jordan pada Kay baru saja. Terlalu banyak informasi baru yang harus dicerna. Terlalu banyak emosi melanda yang harus dirasa.


Dia sedang dilirik scout? Bagaimana bisa aku tidak tahu akan hal itu? Bagaimana bisa aku ....


"Oh, my God." Isak seketika menghambur ke luar dari bibir. Lekas kusumpal mulut dengan kedua tangan demi membendung perasaan yang sepertinya akan tumpah ruah.


No, Niki. Not here. Not now.


Namun, sayang. Tidak semudah itu menghentikan laju pikiran.


Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God. Dadaku semakin sesak sebab menahan gejolak yang selayaknya terasa benaran mengamuk raga. Rasa ini terus saja meronta supaya dimerdekakan.


Get a fucking grip, Nik!


Kuhirup napas dalam setiap kali selesai menyebut nama tuhan, mengeluarkannya perlahan sebelum mengulangi hal yang sama di kemudian. Oh, my God. Oh, my God. Oh, my God.


Apa yang sudah kuperbuat? Apa yang sudah kulakukan pada Kayden? Apa yang sudah terjadi? Dan ... dan aku mengatakan aku mencintainya? Bagaimana itu cinta bila membahagiakanku membuatnya terluka?


I'm the worst girlfriend in the whole world. I'm the worst person in this world.


Oh, my God. I am. I am. Aku terlalu sibuk mengatai orang berengsek, songong, kepo, belagu sehingga tidak sempat melihat ke dalam diri sendiri dan menyadari bahwa sebenarnya akulah semua hal itu. Aku terlalu egois untuk peduli akan keadaan orang lain, termasuk Kayden. Orang yang selalu mendahulukan kepentinganku. Sosok paling sempurna yang ada di dekatku.


Oh. My. God.


Kuembuskan napas panjang sekali lagi demi menghapus getaran yang sudah menguasai bibir.


"Calm down, Nikita. Calm. Down. Kamu gak boleh panik, kamu gak boleh nangis sekarang. Kamu gak boleh jadi beban lagi buat Kay. Dia udah berkorban terlalu banyak buat kamu. Kamu gak boleh merenggut lebih banyak lagi dari yang sudah kamu curi selama ini," titahku dalam hati pada diri sendiri.


Kamu sudah terlalu merepotkan.


God. Stop!


Suara langkah-langkah kaki menuntutku untuk menguasai diri secepatnya. Kutelan ludah dengan paksa dan berdeham. Dalam hitungan ketiga, aku berbalik.


Benar saja. Gerombolan anggota The Lions telah selesai berganti pakaian. Kayden yang berjalan di tengah-tengah kerumunan menoleh dan tersenyum saat melihatku. Dia melambai dan segera berlari menghampiri. "Hey, Sayang," sapanya sembari membungkusku dengan tubuh kekar beraroma segar khas produk perawatan yang dipakainya setelah membersihkan badan dari sisa-sisa pertempuran di lapangan. Yang ada kini hanya sinar bahagia dari kemenangan yang mereka raih.


"Hey, you," balasku lembut.


Percakapan diganti dengan pergumulan bibir dan lidah kami. "Lengkap sudah ritual hari ini," paparnya setelah selesai membagi rasa mint pasta giginya denganku.


Aku tersenyum tipis.


Seketika itu keningnya langsung berkerut. "You okay?" selidik Kayden dengan mata yang dipicingkan.

__ADS_1


Damn it, Niki. Act normal!


Aku langsung memasang senyum terbaikku. "Yeah, yeah, I'm fine," sambutku dengan dusta. Lantas kulancarkan strategi selanjutnya; pengalihan bahan pembicaraan. "By the way, kamu keren banget tadi di lapangan."


Mission accomplished. "Well, yeah," jawab Kayden seraya mengangkat bahu dengan abai. Dia tidak pernah terlalu serius menanggapi tanggapan yang orang berikan soal kemampuannya dalam football. "It was a good game."


Permainannya tadi lebih dari sekadar bagus, sangat luar biasa malahan, akan tetapi begitulah Kayden. Rendah hati sampai ke akar-akarnya.


"Yo, Kay! Lo ikut ke rumah gue, kan? Giliran gue yang ngadain after party, nih." Gyan berteriak dari samping bus sekolah yang akan membawa tim kembali ke Rockefeller beberapa slot parkir dari tempat kami berdiri.


Kayden menoleh, ragu mengarsir sebagian wajahnya. "Ngg, lihat nanti, deh, Yan!" serunya sebelum kembali menghadap padaku.


Dari balik punggung Kayden, Gyan menusukku dengan tatapan tajamnya.


"Yuk, ah, pulang. Kamu pasti capek." Dia menggandeng tanganku dan kami pun mulai berjalan mendekati si cantik.


"Gak, kok. Enggak capek." Aku buru-buru berkilah. Sudut mata masih menangkap pandangan penuh rasa tak suka dari seberang sana. "Kalau kamu mau ke pestanya Gyan, pergi aja. Aku gak apa-apa kok. Serius."


"Yee, gaklah, Yang," timpalnya segera. Aku bahkan belum sempat mencari alasan yang lebih meyakinkan dia. "Ngapain aku ke sana kalau gak bareng kamu?"


"Emangnya kamu mau pergi?"


"Kamu?" Dia balik bertanya.


Hal itu menjadi penentu keputusan bagiku. Kayden tidak akan mengatakan hal yang menyangkut dengan dirinya sebelum memastikan pendapat orang lain. Seharusnya ini menjadi perhatianku dari jauh-jauh hari. "Kalau gitu, yok lah."


"Serius?"


Aku mengangguk sekali, mengerahkan kemampuan berakting yang paling mumpuni. "Ya, ayok."


"Kita gak usah lama-lama, ya, Yang. Kira-kira setengah jam aja. Soalnya aku capek banget, tapi gak enak aja sama si Gyan dan anak-anak lain kalau nolak," terang Kayden saat mobil sudah berada di depan rumah keluarga Dickinson di Greenock Lane.


"Iya, terserah kamu aja."


Kami mulai berjalan ke arah bangunan yang sudah dikuasai oleh dentuman bass di malam yang sudah berumur setengah sebelas. Halaman rumah dua lantai itu dipenuhi oleh muda-mudi yang tak pelak sibuk menikmati hidup.


"Well, isn't this the Almighty Kayden Ford, The Lions most precious quarterback?" Gyan meneriakkan sambutannya saat dia melihat kami—no, Kayden—memasuki ruang tengah. Entah bagaimana suaranya bisa bersaing dengan suara musik yang literally menggetarkan kaca-kaca jendela dan menang. Mereka lalu ber-high five ria, anggota tim football lain—sebagian besar dari mereka setelah kuperhatikan—yang ternyata sedang berkumpul di satu titik itu sontak mengikuti.


Aku hanya mendapat jatah lambaian tangan atau sekadar anggukan. Okay, then. Kuputar badan demi mengecup pipi Kayden dan berpamitan untuk mencari teman-temanku. Aku ... aku merasa tidak ingin menjadi sasaran untuk lirikan dan cemberut Gyan lebih banyak dari yang sudah aku terima malam ini.


"I'll find you later, okay?" janji Kayden setelah melepaskan pagutan bibir kami. Sungguh tidak berlaku bagi pacarku itu kecupan-kecupan sekilas seperti yang baru saja kudaratkan di pipinya.


Aku mengangguk.


Meski menjadi pusat perhatian sudah berupa kebiasaan, akan tetapi kini pandangan yang dilayangkan padaku oleh mata-mata itu rasanya sedikit berbeda. Kental, lengket. Jengah, aku mempercepat langkah.


"Niki!"


"Niki baby!"


"Girl!"

__ADS_1


Batin dibanjiri kelegaan ketika mendengar suara-suara nan familier tersebut hampir bersamaan.


"Niki, I'm so sorry. Mrs. Penyihir tega banget keluarin kamu dari tim," gerundel Paulina sambil memelukku setelah kami berdekatan. "Tim jadinya berasa gak lengkap kalau gak ada kamu."


"Setuju. Apalagi udah dekat sama kompetisi ini. Gue gak yakin kita bisa bawa pulang tropinya lagi." Marina ikut mengemukakan pendapatnya sambil menggamit lengan kananku dengan lengan kiri yang memegangi sebuah cup. "Ups, sorry, Is. Gue bukannya bermaksud gitu, sih, tapi, ya, gitulah." Gadis berambut keriting ketat itu meringis pada Isobel.


Aku menatap mereka bingung karena memang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.


Marina menangkap ekspresiku. "Lo belum tahu kalau Isobel yang gantiin posisi lo jadi kapten?"


Wait, what? Aku .... No, aku tidak tahu apa-apa soal itu. Tiba-tiba tenggorokan rasanya tercekat. Aku berdeham dan menggeleng. "Belum. Gak sempat cari info juga tadi."


"Sorry, Nik. Gue—" Isobel buka suara.


Lekas kupotong apa pun yang ingin dikatakannya. "Gak apa-apa lagi, Is. Santai aja." Aku mengangkat bahu. "Yang penting gue sekarang bisa lebih fokus belajar."


Yeah, right. Fokus belajar. Yeah. That. Whatever.


"Terus jadinya les di mana?" tanya Paulina di kemudian setelah beberapa detik berlalu dalam canggung. Setidaknya itu yang kurasakan di dalam diri.


"Gampang lah itu," sahutku seraya mengibaskan tangan. Apa pun untuk menjual lagak "baik-baik saja" yang kupasang.


"Okay, good. But we'll be missing you at practice," rengeknya lagi.


"Tapi, kita jadi punya alasan buat sering-sering hangout, dong," timpal Marina yang menaik-turunkan alisnya. "Ya, gak, Nik?"


"Pasti."


"Ladies." Tiba-tiba saja suara Kayden menginterupsi obrolan kami.


"Kayden," sahut Marina sambil mengangkat gelasnya tanda salut.


"Kayden bestie," balas Paulina. Panggilan itu selalu sukses memancing gelak renyah dari Kay.


"Hai," timpal Isobel dengan malu-malu seperti biasa.


Kayden mengulurkan sebuah kaleng berisi soda rasa lemon padaku. "How is it going?"


Marina dengan cepat menyambar kesempatan untuk berbicara. "Yeah, you know. Kita kaget mampus pas Mrs. Lekovich kasih tahu soal keputusan Mrs. Penyihir. But, rules is rules, right?" Dia memutar bola mata saat mengutip kalimat yang paling sering diucapkan oleh Mrs. Contreras itu. "So, ginilah. Dengan Isobel sebagai kapten baru kita. Yeay."


Akan tetapi, Marina tidak terlihat terlalu "yeay" saat mengatakannya.


"Cool," jawab Kayden seadanya. Dia kemudian menelengkan kaleng dan menenggak soda yang ada di dalam genggaman. "Cabut, yuk, Yang."


Aku sontak menatapnya untuk memastikan. "Udahan?"


"He-eh. Capek banget."


Fiuh. Susah payah kusembunyikan perasaan lega yang seketika itu juga melanda. Akhirnya. Tanpa ragu segera kusambut tawarannya. "Let's go then."


"Huuuu, payah," sungut Paulina dan Marina serempak ketika kami bersiap untuk mengundurkan diri.

__ADS_1


Aku mencibir. "Bye, guys. Kapan-kapan kita jalan, okay?


To be continued ....


__ADS_2