Love Me, Please

Love Me, Please
44. Kayden, the Jayus-Man


__ADS_3

"Biarin, weee." Kayden mencibir. "Yang penting aku bisa lihat bibir sama alis kamu mencong-mencong kayak barusan."


Well, sepertinya mukaku juga mengingkari segala upaya yang kulakukan. Dasar pengkhianat. "Diiih, mana ada," tampikku.


"Lucu, tahu, Yang." Setelah melepaskan pegangan tangan, disentuhnya tengah alis kiri dan sudut bibir kananku. "Alis sama bibir kamu tadi gini, nih." Kemudian dia menaik-turunkan titik-titik itu dengan ujung telunjuk-telunjuknya.


Serta-merta kakahku merdeka. "Ih, apaan, sih?" Kutepis tangan jahil Kay. "Enak aja kamu. Mana ada aku begitu."


Kekasih berhati malaikatku turut terbahak.


Kutepuk tangannya sekali lagi. "Jahat."


"Yuk, ah," ajaknya ketika tawa sudah mereda. "Kamu mau pulang sekarang? Atau kita boleh mampir dulu? Aku lagi pengen burgernya Lounge, nih, Yang. Lapar."


Oh, my God. Yes, please. "Boleh, boleh," setujuku bersemangat. "Aku juga jadi pengen milkshake cokelat, kan, gegara kamu nyebut Lounge."


Dia menyeringai, memamerkan deretan gigi putih, bersih, terawat miliknya itu. "Kalau begitu, markijal!" serunya sembari bangkit.


Pada kesempatan kali ini, aku bersumpah benar-benar gagal paham akan maksudnya. Kerutan di keningku bukan dibuat-buat seperti beberapa kesempatan sebelum ini. Tidak ada yang disengaja. "Ih, apaan lagi itu?"


"Mari kita jalan," ungkapnya dengan penuh percaya diri.


Aku mengerang. "Kamu abis nonton apa, sih, Yang? Kenapa kamu tiba-tiba jadi garing begini?" resahku sambil mengumpulkan barang-barang.


"Eh, sekarang, kan, emang zamannya yang singkat-singkat, tahu," kelit Kayden.


Dasar! "Tapi, gak segitunya juga keles. Semua mau disingkat." Aku menyatakan keberatan.


"Udah. Udah. Kamu gak usah banyak protes. Nikmati saja kejayusan aku yang spesial aku hadirkan hanya untuk kamu seorang."


Aaah. Ketika dia mengungkapkan hal-hal semacam ini, bungah betul rasa hati. Akan tetapi, tetap tak akan kuizinkan dia mengetahui pendapatku yang asli. "Gak ada yang bisa dinikmati, Kaydeen." Aku ecek-ecek merepet.


"Oh, hush, you!" Dia membungkuk dan membungkamku dengan ciuman. "Aku bilang gak boleh protes."


"Apa kata kamu, deh." Yaa, terserah dia saja jikalau setiap kali mengeluh aku dibisukan dengan cara seperti itu.


Kay terkekeh-kekeh lagi. "Gitu, dong, Yang." Dia mengangkat tas yang sudah selesai kukemas dan menyampirkannya di bahu. Lalu mengambil blazer dan memindahkannya ke tangan kiri agar bisa menggenggam tanganku.


Kami mulai berjalan bergandengan.


And they say chivalry is dead.


****


"Yang, main tebak-tebakan, yuk?" usul Kayden ketika ban mobil baru saja menggelinding meninggalkan area taman kota.

__ADS_1


"Emangnya kalau aku nolak, kamu bakal terima?" Aku bertanya hanya untuk menggoda pemuda yang pantas diberi piala Pacar Paling Sempurna Tahun Ini itu.


"Ciyeee. Yang udah pintar mainin kata-kata."


Kedua bahuku nyaris sampai ke telinga saking tidak mengertinya aku dengan maksud Kayden.


Dia menggeleng, ikut-ikutan tak habis pikir. "Itu ada kata 'nolak' dan 'terima' dalam satu kalimat, Yang. Kamu benaran gak sadar?"


Kini giliran aku yang tergeleng-geleng.


Sebuah gelak tertahan lepas ketika Kay kembali menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan tipis.


Sampai kapan kita akan bergeleng-geleng ria begini?


"Dan, untuk menjawab pertanyaan kamu, no freaking way. Karena aku sudah susah payah melakukan riset. Kamu gak akan percaya betapa banyaknya waktu yang aku habiskan buat ngumpulin semuanya, Yang. Serius."


Aku tergelak senyum. Kamu juga gak bakal percaya sama apa saja yang rela aku lakukan buat memastikan kebahagiaan kamu, Kay. Buah pikir itu menggema di dalam benak saat aku mencerap penampakannya dari samping. "Ya, udah. Kalau gitu, aku gak punya pilihan lain, kan?"


Dia menoleh padaku seraya cengir-cengir puas. "Oke. Yang pertama."


"Hm."


"Kenapa matahari tenggelam?"


"Well, that's easy. Karena dia terbit, makanya harus tenggelam lagi biar manusia di bumi bisa beristirahat," uraiku mantap. Dan penuh kepastian. Lupa kalau sekarang kami sedang bercakap soal hal-hal yang nonsense.


Well then.


Mau tidak mau kuikuti permainannya. "Hm ... karena dia ada di dekat laut," timpalku asal.


Pacarku itu meniupkan udara dari mulutnya yang tertutup, membuat bibirnya melambai-lambai dan saling beradu sehingga menghasilkan bunyi selayaknya napas kuda. "Please, Yang. Emangnya matahari adanya di dekat laut aja? Yangdi gunung gimana? Yang di gurun?" debatnya lagi.


Kini giliran aku yang memutar bola mata. "Please, deh, Kay. Aku kan cuma jawab pertanyaan kamu aja."


Dia terkekeh. "Iya, iyaaa. Jadi jawabannya apa?"


Aku hanya mengangkat bahu. Di kalakian kutambahkan sebuah komentar agar aku terlihat masih tertarik demi menghargai usahanya. "Emangnya apa?"


"Karena dia gak bisa berenang."


Aku sekonyong-konyongnya mencibir. Dang it. "Bolehlah, bolehlah."


"Lanjut," ujarnya sembari tetap memberikan perhatian besar pada jalanan. "Bisakah kita menjatuhkan telur ke lantai tanpa memecahkannya?"


Duh, Kayden. Ini tebak-tebakan macam apa, sih? "Ya, enggak lah. Yang ada, itu telur pasti udah pecah." Pertanyaannya itu langsung saja kubantah.

__ADS_1


"Bisa, dong, Yang," sahutnya saat mengganti persneling. Dia membantah jawabanku lagi. "Menurut kamu, emang ada telur yang bisa pecahin lantai, hm? Apalagi kalau lantainya terbuat dari beton, terus dilapisin marmer. Ya, gak ada lah! Yang ada itu telurnya yang pecah. Bukan lantainya."


What the .... "Ih, kamu!" Sontak saja punggung tanganku mengudara dan tak lama bertemu lengan atas kekasihku itu.


"Ouch!" seru Kayden berlagak kesakitan. Aku tahu dia hanya bergurau, sudah kupastikan sabetan tanganku tidak begitu keras tadi. Dia kesudahannya terkekeh-kekeh. "Lanjut, ya?"


"Iya." Aku menutupi kecintaan pada caranya menghiburku dengan berdesah pasrah.


Tiba-tiba tangannya terulur untuk mengacak rambutku. "Next. Aku dibeli untuk makan, tapi aku tak pernah dimakan. Apakah aku?"


"Piring. Sendok. Garpu. Pisau." Aku kali ini mengejeknya dengan sepenuh hati.


"Pintar kamu. Tapi, yang itu emang rada lurus, sih. Makanya gampang. Yang ini, deh." Kay mengalihkan perhatiannya sekilas dari jalan untuk mengecek kaca spion.


"Yee, jangan ngeremehin aku, Kamu!"


Tak dihiraukannya protes paling tidak niat di seluruh dunia dariku itu. "Pembangkit listrik apa yang paling kuat?"


"Nuklir."


Secepat apa aku menjawab, lebih gegas lagi dia menampiknya. "Salah."


"Terus?"


"PLTCP."


Sekarang kita kembali lagi ke singkatan, huh? "Apaan tuh?"


"Pembangkit Listrik Tenaga Cintaku Padamu."


"Ya, Tuhan." Jangan bilang kalau dia juga sudah punya amunisi tebak-tebakan gombal.


Dia tidak memberikan banyak jeda. Langsung saja dia menembakkan amunisi selanjutnya. "Bau, bau apa yang disukai cewek?" ungkap Kayden di arkian.


"Mana ada."


"Adaaaa."


"Aneh, ih."


"Ayo jawab!"


"Ah!" Aku menjentikkan jari. "Aku tahu! Bau duit. Bau barang-barang baru. Iya, kan? Iya, dong!"


"Hm, nope." Dia menolak lagi. "Tapi, aku bakal kasih poin untuk kejujuran kamu."

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2