
Ah, Sudahlah. Biar esok menjadi urusan esok, biar menjadi rahasia dulu. Lagi pula aku sudah bilang, aku tengah tak ingin mengambil pusing dan memikirkan kejadian tadi. Atau ... mengurus urusan kehidupan secara general.
Bisakah aku minta waktu dan berhenti sebentar untuk melepas lelahnya menanggung rasa bersalah?
Kembali kutelantarkan pesan-pesan itu.
Akan tetapi, belum lagi sempat memasukkan telepon genggamku ke dalam saku, sebuah getaran menghentikan aksi. Apa lagi yang diinginkan si Setan ini?
Ternyata aku salah. Yang masuk merupakan sebuah notifikasi dari Instagram.
@Kayforsure menandai Anda dalam sebuah postingan.
Sudut-sudut bibir kini yang bergetar.
Secara otomatis ujung jari menyentuh pemberitahuan yang membawaku langsung pada postingan yang sebentar ini dibagikan Kayden.
Ah, my heart.
Di dalam gambar, aku tampak tengah menikmati pemandangan mentari yang sedang dalam perjalanan pulang ke peraduannya. Seiring gelincir, dia meninggalkan semburat jingga nan memesona di langit biru-kelabu, melatarbelakangi kehidupan manusia yang malah sebaliknya di senja akhir pekan itu.
Waktu pulang sang surya adalah waktu memulai hidup bagi para penghuni bumi.
Kay baru saja mengunggah sebuah foto yang aku tebak diambil ketika kami mengunjungi salah satu rooftop restaurant and bar di Seoul saat libur musim panas lalu. Meski cuma sebuah potret biasa yang diambil dari belakang dengan aku yang hanya mengenakan hoodie hitam kepunyaannya—karena suhu yang tiba-tiba saja turun drastis senja kala itu—dan topi putih, pemuda berhati tulus yang mencintaiku dengan sungguh tersebut berhasil membuatnya istimewa melalui caption yang menyertai.
My beautiful girl looking at that another beautiful thing. A beautiful life. Good night, Sayang. I love you.
You're my beautiful life.
#sunset #mygirl
Kenangan-kenangan arkian lantas lalu-lalang dalam ingatan. Mengantarkan aku pada hari-hari yang kami lalui tiga-empat bulan yang lalu.
Berbekal pengetahuan hasil bertanya pada Google, kami menghabiskan satu minggu pada libur musim panas lalu di ibukota negara yang budaya K-Pop-nya sukses mengguncang dunia. Kami menyewa sebuah kamar di Four Seasons yang terletak di pusat kota. Letaknya sungguh strategis sebab beberapa destinasi wisata yang disarankan seperti Istana Gyeongbokgung, Gwanghwamun Gate, Jogye Buddhist Temple, pasar tradisional Dongmyo Flea Market, dan pasar Gwangjang yang menyediakan jajanan kaki lima bisa dicapai dengan berjalan kaki saja.
__ADS_1
Sehari setelah sampai kami habiskan di kamar karena jetlag yang menyergap setelah menempuh kurang lebih lima belas jam perjalanan; dua belas jam yang digunakan untuk terbang langsung serta tiga jam yang diperlukan untuk mengurus hal-hal lain dan menuju ke hotel. Tiga hari setelahnya, barulah tempat-tempat itu bisa ditandai sebagai kawasan wisata yang telah kami kunjungi.
Pada hari keempat, kami mengunjungi K-Star Road yang menjadi destinasi wajib bagi pecinta musik pop Korea. Sesudah dua kali naik bus kira-kira satu jam dari Jongno-gu ke Gangnam-gu dan berjalan kaki beberapa menit, barulah kami dipertemukan dengan GangnamDol—nama yang diambil dari gabungan kata Gangnam, idol, dan doll—patung yang menjadi simbol tempat itu.
Sekali lagi, thanks to Larry Page and Sergey Brin for inventing Google, kami jadi tahu bahwa kami bisa mengambil booklet panduan dan membeli beberapa souvenir di Gangnamdol Haus terlebih dahulu sebelum memulai penjelajahan di kawasan yang ternyata dibagi menjadi empat zona; A, B, C, dan D tersebut.
Korea Selatan memang terkenal sekali dengan image imut dan manis yang direpresentasikan oleh sebagian besar artis papan atas lewat penampilan mereka. Semua produk, baik barang maupun orang, dikemas dengan warna-warna terang yang penuh keceriaan. Pun tidak ketinggalan warna pastel nan lembut dan menenangkan. Patung-patung yang kami lalui juga sama konsepnya.
Puas berfoto-foto dengan berbagai patung beruang berskala manusia yang di dadanya terdapat lambang boyband atau girlband kebanggaan negara semenanjung yang berbagi perbatasan darat dengan Korea Utara ini, kami melepas penat di sebuah kafe yang katanya dimiliki oleh salah seorang penyanyi dan rapper asal Amerika Serikat.
Tidak hanya menjadi rumah bagi patung-patung sebagai representasi, K-Star Road juga merupakan rumah bagi banyak kantor manajemen yang menaungi artis-artis kesayangan Korea Selatan. Selain itu, juga ada Figure Museum, Coreana Cosmetics Museum, dan kafe langganan para bintang.
Hal pertama yang aku lakukan setelah memesan makanan dan minuman adalah tentu saja membagi foto-foto kami di media sosial. Secara khusus aku juga mengirimkan satu foto bersama patung BTS nan melegenda ke grup chat.
Aku masih ingat sekali reaksi Paulina dan Marina yang heboh dengan keirianan mereka. Aku masih ingat bagaimana puasnya hatiku karena berjaya membikin mereka yang merupakan salah dua dari jutaan wanita penggila kelompok pemuda-pemuda itu terbakar api cemburu. Berkat mereka berdualah beberapa gerakan rutin tim tercipta menggunakan musik upbeat khas RM, V, dan kawan-kawan.
Aku juga masih ingat bagaimana Isobel—seperti biasa—menjadi yang paling tenang dan cuma membalas "have fun" diikuti oleh emoji kuning yang menyeringai. Hidup gadis itu benar-benar datar.
Akan tetapi, sayangnya, tidak semua bagian Seoul bisa langsung diterima. Tanya saja pada Kayden kalau tidak percaya.
Terlena, cowokku itu jadi besar kepala dan lupa daratan. Dia tanpa mengira-ngira mengecap hampir semua jajanan dari menu yang dijual oleh salah satu pedagang. Tanpa bertanya, dilahapnya sepotong makanan yang disodorkan dan kemudian diberi tahu bernama soondae.
Selang beberapa waktu sesampai kami di kamar, dia baru mengeluh tidak enak perut.
"Kayaknya aku keracunan makanan, deh, Yang. Kok, tiba-tiba perut aku melilit begini, ya?" keluhnya dengan wajah yang mulai berpeluh.
"Kamu kebanyakan makan aja, kali."
"Bisa jadi, sih. Tapi, ini rasanya beda, Yang. Aku curiga sama makanan terakhir yang dikasih ibu-ibu tadi. Apa namanya?"
"Hm. Apa, ya? Tunggu. Ah! Sundae," terkaku walau sedikit keliru melafalkan nama makanan itu.
"Ya, benar." Kalakian dikeluarkannya ponsel dari saku celana. Jari jemarinya seketika melompat-lompat di atas skrin dengan cepat. Tak lama terdiam, wajahnya yang sudah mandi peluh terlihat berubah hijau. Kayden tetiba menyumpal mulutnya dengan tangan dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Meninggalkan aku yang masih berdiri dan keheranan sendiri.
Lalu sayup-sayup terdengar suara-suara yang terlalu tidak sopan untuk digambarkan. Membuat kakiku sontak berlari menyusulnya.
Kulihat kepala Kayden sudah berada di dalam toilet bowl. Kudekati dia. Kugosok-gosok punggung besar itu lembut sementara perutnya memompa semua yang sudah dikonsumsi tadi ke luar lagi.
Soondae, yang merupakan makanan kombinasi darah babi dan ketan yang dimasukkan ke dalam usus dan direbus, sukses besar menaklukkan Kayden si Paling Tukang Makan.
"Enggak lagi-lagi, deh, Yang," sumpahnya dengan kepala tersandar lemah di dadaku.
Sambil tetap mengelus punggungnya, kudaratkan sebuah kecupan di rambut Kay yang masih basah oleh keringat untuk menyurukkan senyum. Kita lihat saja seberapa lama kalimat itu bisa dipertahankannya.
Keesokan hari kami harus absen dari agenda jalan-jalan dikarenakan perutnya yang masih merajuk.
Sore hari di kesudahan, dia yang mengaku lebih enakan mengumumkan bahwa kami akan merayakan malam terakhir kami di Seoul dengan makan malam di sebuah rooftop restaurant and bar bernama My Sky yang diketahuinya setelah seharian di kamar dengan ponsel di tangan.
What Kayden wants, Kayden gets. Pukul lima sore kami sudah tiba. "Bagus banget tempatnya, Yang," ungkapku seraya berjalan mendekati dinding pembatas.
Sekarang aku ingat bahwa ketika itu Kay tidak mengatakan apa-apa.
Suasana di sana begitu selesa. Berbagai pilihan menu yang dianggap Kayden aman untuk usus-ususnya yang masih sensitif setelah insiden semalam pun menjadi nilai tambah. Tempatnya yang unik, dengan hammock yang bergelantungan, tak pelak meninggalkan kesan.
Namun, aku tahu. Aku paham sangat bahwa yang sesungguhnya membuat semua itu menimbulkan bekas mendalam adalah pemuda yang malam itu duduk di seberangku.
Senyum yang bermaksud akan mengembang karena riang saat itu juga berubah sendu. Hari-hari bahagia seperti itu kini terasa begitu jauh dariku. Hari-hari yang ringan, ketika hidup belum terlalu campur tangan dan mengacaukan semuanya.
I miss those times.
I miss the old us.
I miss the old me.
"I love you, Sayang," bisikku pada udara senja buta seraya menatap huruf-huruf di layar. "Tapi, maafkan aku, ya. Karena, semakin hari, rasanya aku semakin gak pantas buat seseorang sesempurna kamu."
__ADS_1
To be continued ....