
Friends.
Yeah, friends.
Bagi sebagian orang mungkin kata tersebut tidak berarti apa-apa karena mereka memiliki terlalu banyak nama yang masuk di dalam kategori itu. Namun, tidak bagiku.
Atau, setidaknya hal yang tidak sama bagi diriku yang sekarang.
Aku memang masih memiliki Paulina, Marina, dan Isobel sebagai teman, teman dekat, akan tetapi semakin ke sini semakin aku menemukan bahwa mereka tidak benar-benar berarti begitu. Mereka masih menjadi temanku, akan tetapi bukan teman dekatku lagi.
Mereka tidak mengerti aku.
Mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam diriku dan kehidupanku sekarang.
Aku ... aku tidak mempunyai niat untuk memberi tahu mereka perihal apa yang sepatutnya seorang teman dekat ketahui tentang aku. Atau setidaknya ... belum. Entah di kemudian hari perasaan ini berubah. Namun, aku tidak bisa melihat bahwa keadaan ini akan berubah dalam waktu dekat.
Aku memang masih memiliki Kayden. Meskipun begitu, perasaanku padanya kini sudah dinodai oleh rahasia-rahasia yang kutanam di antara kami. Rahasia demi rahasia yang, seperti ranjau yang tertanam di dalam tanah dan aku tidak tahu apa pun soal lokasinya, sewaktu-waktu bisa menghancurkan kami jika aku salah melangkah. Rahasia-rahasia yang ... sudah terasa seperti pengkhianatan itu sendiri.
Aku benci diriku karena telah merusak apa yang aku dan Kayden punya. Sesuatu yang dulunya sangat suci, sangat pure, sangat baik, sangat indah, tak luput dari kekacauan dan kehancuran yang aku bawa bersamaku. Kini, tidak ada lagi sesuatu yang suci, pure, baik, dan indah itu. Yang tersisa hanya puing-puingnya saja.
Walaupun Kayden belum menyadari keadaan ini.
Walaupun dia masih dilingkupi oleh gelembung yang sebelumnya juga melingkupiku, melindungi kami dari kenyataan dan dunia luar. Namun, aku yakin tidak akan lama lagi dia juga akan tahu bahwa semua tidak seperti yang terlihat.
Friends.
__ADS_1
Let's be friends.
Beckham and I.
Beckham.
Beckham berbeda. Dia mengerti apa yang aku rasakan karena dia juga sudah hidup di atas dunia yang kejam ini jauh sebelum aku. Dia sudah menyadari bahwa tidak ada yang suci, yang pure, yang baik, dan yang indah di atas bumi ini. Semuanya penuh noda, penuh luka, penuh keburukan, dan penuh kejelekan. Namun, dia masih tetap bertahan. Dia masih bisa bertahan. Dan dia sudah membuktikan kalau dia bisa menghadapi tantangan yang dunia berikan bahkan keluar sebagai pemenang.
Aku butuh itu.
Aku butuh kekuatan Beck. Aku butuh mata Beck. Aku butuh bimbingan Beck.
Aku butuh itu semua karena aku juga ingin bertahan. Dari kehancuran yang dunia bawa ke arahku dan dari apa-apa yang akan kuhancurkan di dalam prosesnya.
Aku butuh kekuatan dan pengertian Beckham saat aku akhirnya harus menghancurkan ikatan terakhir yang kumiliki dengan dunia lamaku ya g penuh fatamorgana.
Cepat atau lambat, aku pasti akan menghancurkan pemuda itu.
Dengan semua beban yang kubawa. Dengan semua keburukan yang membayangiku. Bahkan, aku bisa menghancurkan semua kebaikan yang ada di dalam diri pemuda itu hanya dengan keberadaanku saja.
Aku pasti akan menghancurkan Kay, akan tetapi di waktu yang sama aku juga akan bisa menyelamatkan dia dari ... aku.
Friends.
Let's be friends.
__ADS_1
Karena memang irulah yang aku butuhkan sekarang.
Selamat datang, my friend Beckham.
Selamat tinggal, my love Kayden.
Aku tidak akan membutuhkan cinta lagi untuk ke depannya. Aku yakin aku tidak akan bisa mencintai orang lain selain kamu. Oleh karena itu, aku berikan semua yang baik yang pernah aku punya untuk kamu karena aku percaya itu semua diberikan Tuhan padaku untuk aku kembalikan ke kamu.
Okay.
Dengan begini, aku sudah mengunci masa depan kita. Aku akan menerima Beckham sebagai temanku, dan aku akan melepaskan Kayden dari kungkungan burukku.
Friends.
Let's be friends.
Aku tidak akan meminta untuk dicintai lagi karena sekarang aku tidak punya apa pun untuk dicintai.
Friends? Yes.
Love? No.
What's to love, huh?
Nothing.
__ADS_1
The end.