Love Me, Please

Love Me, Please
28. Awas Aja


__ADS_3

"Yeah, that was my reaction too." Aku menunjuk mata Kayden yang terbelalak. "Gak nyangka tiba-tiba aja dia udah berdiri di depan pintu rumah."


Kedua manik biru itu mengelam, mulai diliputi oleh hitamnya rasa berang yang sedikit demi sedikit menyala lagi. Dia kemudian menggeram. "Terus dia bilang apa? Gak macam-macam, kan? Belum puas juga ngerasain bogem mentah aku sampai-sampai mau minta tambah kayak gitu, ha?"


"Whoa, whoa! Take it easy, Hulk. Jangan langsung ngamuk, dong," bujukku, mencoba menenangkannya dengan bergurau. "Dia gak macam-macam, kok, kamu tenang aja. Tapi, ya, gitu, deh. Mulutnya tetap sama." Aku mengangkat bahu. "Dia ... menurut aku kemarin itu dia lumayan civil, loh, Yang. Dia ...." Sesuatu, terasa seperti rasa bersalah, sempat melandaku selayaknya ombak yang tiba-tiba saja menerjang, sehingga membuatku mengulur kata-kata. "Dia ... dia gak seburuk itu ternyata."


Api di mata Kayden meredup. Secepat itu marahnya berubah menjadi bingung. "Maksud kamu?" tanya si pemuda yang nyaris saja berubah menjadi monster hijau sebentar ini.


Kupilah dan kupilih kata-kata yang akan kugunakan. Entah apa, akan tetapi rasanya tidak ingin membuat si Songong, eh, Beckham—aku benar-benar harus membiasakan diri memakai namanya dengan benar mulai sekarang—terdengar aneh, atau terkesan lebih ganjil lagi. "Iya, hm, dia gak ... sesongong itu." Aku sontak menyeringai. Pernyataan yang baru saja ke luar dari mulutku terdengar susah dipercaya, bahkan oleh telingaku sendiri. Lagi pula, pernyataan itu juga benar -tidak benar. Tidak bisa dikatakan terlalu benar, pun tidak bisa juga dipungkiri kebenarannya. Kadang-kadang.


"Dia minta maaf, pinjamin aku buku catatannya, dan katanya mau bantu aku belajar mulai hari Senin. Dia juga ngasih saran ke aku buat ngomong lagi ke Mrs. Lekovich dan Miss Valencia kalau nilai aku udah naik. Siapa tahu mereka bisa ngebujuk Mrs. Contreras buat izinin aku kembali ke tim. Ide bagus, kan?"


Kayden diam saja mendengar ceritaku. Keningnya masih penuh kerutan, sorotan matanya juga sama. Selain bingung, kini rasa tidak percaya menghampirinya.


Yep, that's right.


Kubuka lipatan kaki yang bersilangan, kuluruskan kedua tungkaiku itu, dan beringsut ke depan. Ketika sudah di tepi tempat tidur, kujangkau tangan Kayden kemudian menariknya hingga kini kami saling berhadapan; kakiku berada di antara kakinya yang terkangkang, tangannya dalam genggamanku. "Kayaknya dia sengaja menciptakan image itu, deh, Yang, di sekolah. Karena yang barusan ke sini itu beda banget. Dia ... dia .... Ah." Kugelengkan kepala beberapa kali. Gusar dengan diri yang tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk mewakili versi Beckham yang datang ke sini. "Pokoknya, ya, gitu deh. Kamu pasti paham maksud aku. Kan? Serius."


Kay masih saja mengernyit. "That doesn't sound familiar, like, at all, Sayang. Yang selama ini ada di sekolah kita, ya, yang begitu. Pendiam. Kalaupun ngomong, pasti dengan nada yang sarkastis. Air mukanya datar. Jadi, kebayang, dong, gimana susahnya semua yang kamu bilang ke aku ini aku proses? Otak aku terus-terusan bilang 'the data you entered is invalid'. So, I would be lying kalau aku bilang aku paham maksud kamu apa."

__ADS_1


Sebuah helaan napas lepas begitu saja. Iya juga apa yang dikatakannya. Bagi orang yang sudah begitu "lama" berkutat dengan pencitraan yang dilakukan oleh Beck, aku pahami pasti memang tidak mudah untuk menerima apa yang kukatakan. Mungkin itu juga yang membuat aku "terbuka" dengan pencerahan ini karena konsepsi di kepalaku tentang si Songong baru tercipta tidak selama itu. "Yeah, I know. I know, alright? Kamu bakal percaya kalau kamu lihat sendiri nanti." Aku masih mencoba meyakinkan.


Karbondioksida berkejaran keluar saat dia mengembuskan napas kuat-kuat dari mulut. "Okay. Kalau dia benaran niat mau bantuin kamu, pasti akan ada banyak waktu untuk membuktikan apa yang kamu bilang barusan. Tapi, Yang, misalkan nanti dia macam-macam barang secuil aja, aku gak peduli dia beda apa enggak, ya. Yang jelas dia akan berurusan sama aku."


"Iya, iyaaa. Thank you, ya," ucapku kalakian mengecup pipinya gemas. "Kamu baik, deh."


"Emang baik." Dia mencibir. "Tapi, thank you buat apaan dulu, nih?"


"Thank you udah mau kasih kesempatan buat Beckham."


Kayden menjuruskan tatapannya padaku. Sejenak kemudian, dia tergelak dan menggeleng. "Dasar," tuturnya. "Aku ngerti sekarang kenapa kamu se-excited ini."


"Iya, gini." Dia mengibaskan tangannya ke arahku, lalu bersandar lagi ke kursi. Daksanya tak lagi setegang tadi. "Kamu bela dia karena kamu penasaran sama dia, kan? Kamu merasa tertantang untuk mengupas semua sisi si Songong ini. Iya, kan? It's like he's your shiny new toy you couldn't wait to play with. A present you can't wait to unwrap. Okay, okay, aku sekarang paham, Yang. Paham." Kekasihku itu lalu tertawa lagi. Dia menggeleng-geleng lagi.


Hah? What? Apa benar?


"Kamu kayaknya butuh liburan, deh, Yang. Stres soal kalkulus bikin kamu menganggap keberadaan orang baru aja sebagai hiburan."


"Tapi, kan, idenya benaran bagus, Yang," debatku, masih belum ingin menerima pendapat Kay. Apa iya yang dikatakannya?

__ADS_1


"Iya, Sayang, iya. Idenya bagus. Liburannya juga bagus, kan? Minggu depan, deh, kita ke Santa Monica. Mau, ya? Udah lama juga gak ke sana. Nanti kalau musim pertandingan aku udah selesai, dan nilai kamu udah naik, kita cari destinasi yang agak jauhan. Gimana?"


Aku mengangguk, seketika bersemangat. "Yeay!" seruku seraya meluruskan kedua lengan ke atas sehingga membentuk huruf V, layaknya seorang cheerleader sejati. Because I am, or I was. Dan kemudian memeluknya. "Thank you, Ayaang."


"Anything for you," balasnya seraya mengecup keningku.


"Jadi," imbuhku setelah melepas lenganku dari keliling tubuh Kay, "hari Senin bagusnya belajar di mana, ya, Yang? Aku gak mau ke perpus dan ketemu ibu-ibu itu lagi."


"Hm," gumamnya turut berpikir. "Perpus sekolah juga no?"


"Nope," tolakku lekas-lekas. "Aku gak mau ke tempat kayak gitu lagi. Merasa terhina aku di sana."


"Setan banget mereka yang udah bikin kamu merasa kayak gini!" gusarnya. "Ya udah. Cari tempat yang nyaman di kamunya aja. Bodo amat sama si Songong sialan itu!"


Ups! Sepertinya aku salah bicara. "Eeeey, gak gitu juga, dong, Yang. Dia, kan, mau ngajarin aku. Entar kalau dianya gak mood, aku juga yang kena."


"Aku, kan, udah bilang. Awas aja kalau dia berani macam-macam lagi."


Duuh, kenapa jadi tambah tegang begini, sih? "Iya, iya, Mr. Yang Belakangan Ini Suka Ngasih Ketupat Bengkulu Gratis," godaku. Lagi-lagi aku berusaha untuk meredam emosi Kayden agar dia tak naik pitam. Atau ... pitamnya tidak lebih tinggi lagi dari yang sekarang. Whatever.

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2