
Oh! Dia kira si Songong masih ada di sini. "Gak usah, Bi. Anaknya udah pulang."
"Aduh, ya Tuhan! Bibi gak tahu, Non. Kalau tahu gitu tadi Bibi antarin minum ke depan," jelas Mrs. Crane gelagapan. Bagaimana tidak, sopan santun adalah nilai yang tertanam dalam di diri wanita itu.
"Udah, Bi, gak apa-apa. Dia juga buru-buru, kok," bujukku, berusaha menenangkan rasa bersalahnya yang pasti sedang membuncah. "Aku ke kamar dulu, ya, mau mandi. Gerah banget soalnya."
"Iya, Non. Nanti makanannya Bibi antar ke kamar."
"Thanks, Bi."
"Eh, Non!" seru Mrs. Crane saat aku sudah menaiki setengah dari set tangga menuju lantai dua. "Ngg, tadi Tuan pesan. Katanya Non dihukum gak boleh ke luar rumah sampai besok. Terus beliau juga bilang supaya Non segera memperbaiki nilai yang gagal. Pas pulang nanti beliau mau semua kekacauan yang ada sudah beres."
Rasa nyeri yang familier itu timbul lagi. Dada ini sesak lagi. Aku sepertinya harus sudah terbiasa dengan serangannya yang tiba-tiba.
"Maafkan Bibi, ya, Non. Bibi sebenarnya juga gak mau kasih tahu Non, tapi ...." Suara Mrs. Crane semakin mengecil hingga akhirnya hilang. Dia juga tidak melanjutkan kalimatnya.
Meski begitu, aku tahu. Aku tahu apa yang akan dikatakan Mrs. Crane. Karena sisa dari kalimat itu kini terpancar jelas di raut wajah sedihnya yang mulai mengerut.
Tapi, apalah daya, Papa tidak mau menyampaikan pesannya secara langsung padaku sehingga dia merasa hal itu bisa dititipkannya pada pengurus rumah tangga kami.
Kupaksakan senyum untuk sosok yang sudah mengurusiku sedari aku masih bayi itu. "Gak apa-apa, Bi. Santai aja. Lagian aku juga gak punya rencana keluar rumah, kok. Malas."
Senyum yang dikirimnya ke arahku berlumuran iba. "Baik, Non. Panggil Bibi kalau ada hal lain yang Non pengin, ya."
Aku mengangguk. "Thanks, Bi." Dan mengambil langkah seribu menuju ke kamarku, tak ingin terlanjur tenggelam dalam kesenduan yang diarahkan oleh Mrs. Crane padaku.
Ah, Mrs. Crane. Sungguh sayang saja sebenarnya karena dia tidak tahu bahwasanya tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengabulkan keinginan Nikita, Bi. Kalaupun ada, dia jelas-jelas tidak mau berurusan dengan aku.
****
Niatan untuk mandi sececah demi sececah lenyap bersama langkah menuju kamar. Terbukti dengan sesampainya aku di ruangan berukuran lima kali lima meter yang kudekorasi semauku ini, hal pertama yang aku lakukan adalah mengecek ponsel, bukan berjalan ke kamar mandi. Banyaknya jumlah pesan masuk yang tertera di layar kian memaku pilihanku.
Mandi bisa dilakukan nanti-nanti. Hal yang paling urgent ialah membaca pesan-pesan ini.
Sebagian besar pesan kuterima dari Weston, dimulai dari pagi tadi.
Kay : Hi, I'm home
Kay : aru beberapa menit pisah dan aku udah thinking about you lagi
Kay : Hope you're doing fine
Kay : Know that I really want to be with you right now
Kay : I love you, Sayangh
Kay : I love you
Kay : I miss you
Kay : Dan aku minta maaf ya Yang
Kay : jika selama ini aku terkesan gak ngertiin perasaan kamu
Kay : karena aku benaran gak tahu
Kay : sumpah deh serius gak tahu
Kay : ternyata jadi orang cantik itu juga bikin capek
Sebuah gelak; gelak yang sebenar gelak, gelak yang timbul akibat ada hal lucu, seketika saja tersembur dari mulutku. He got me there.
God, dasar jayus. But, God, do I love him.
Me : that's bad
__ADS_1
Of course I'm lying. Tidak boleh membuat dia tersanjung sedikit pun. Bisa besar kepala dia nanti.
Titik-titik langsung muncul dan menari-nari di skrin telepon selulerku. God, pasti dia sudah menunggu balasan dariku semenjak tadi.
Kay : hi Yang
Kay : akasih udah balas pesan aku, ya
Kay : aku gak nungguin, kok
Kay : benaran
Me : sorry, Yang, aku ketiduran
Me : terus ada tamu
Kay : siapa?
Me : nanti aku cerita, ya? Mau mandi dulu
Me : Lengket semua inii
Me : kayak kamu
Eeew. Aku tidak menyangka kalau aku baru saja mengetik dan mengirimkan pesan garing seperti itu pada Kay.
Kay : kalau aku bisa menemukan cara buat nempel terus sama kamu tanpa bikin kamu repot, aku pasti kerjain deh.
Kay : serius aku
Me : iiih, siapa bilang aku mau ditempelin kamu?
Kay : bodo
Kay : aku kan gak nanya kamu mau apa enggak
Me : you're crazy
Kay : yeah, crazily in love with you
Me : eeeeeew. That's lame
And of course I'm lying again.
Kay : i don't care
Me : lol.
Me : I love you Ayang
Me : thank you
Me : see you tomorrow?
Balasan dari Kayden langsung sepersekian detik kemudian.
Kay : what?????????????????
Kay : kamu bercanda kan?
Kay : Yang seriusan?
Kay : God it's 11 hours away Yang!
Kay : now I'm gonna be crazy for real
__ADS_1
Kay : I can feel it
Kay : kegilaan mulai menggerogoti jiwa aku Yang
Kay : hhhh
Kay : But ok
Kay : i'll try and wait
Kay : see you tomorrow Sayang
Dia mengirimkan begitu banyak emoticon kissy face setelah pesan terakhir yang baru saja dia dikirimkan.
Aku membalasnya dengan mengambil sebuah selfie sembari mencibir dan mengirimkannya pada Kayden.
Kay : ah, my heart
Kay : excuse me lady
Kay : jangan goda-goda aku pakai foto kamu kalau kamu mau aku masih dalam keadaan waras pas ketemu kamu besok
Me : yang, kayaknya kamu keseringan nonton tik-toknya Josh Nasar deh
Kay : terus aku harus gimana coba?
Kay : cuma itu bapak dan gombalannya yang bisa bikin aku ketawa
Kay : walaupun gak sebahagia waktu aku lagi sama kamu
Kata-katanya menghujam rasa.
Me : i know
Tiba-tiba saja rindu menyerbu, menghantamku tanpa permisi.
Kay : yang?
Kay : Ini titik tiga kenapa hilang-hilang timbul, ya?
Kay : Kamu lagi ngetik esai apa balas pesan aku?
That's it.
Me : kamu gak lagi sibuk, kan?
Me : ke sini yuk Ya g
Me : temenin aku belajar
Kay : omfg. Yes!
Kay : on my way
Kay : see you in 5 Sayaaaaang
God, he's hilarious.
Aku baru saja meletakkan ponsel di atas kasur saat benda itu berbunyi lagi. Sebuah pesan yang kukira dari Kayden, akan tetapi ternyata berasal dari nomor baru yang belum tersimpan di ponselku. Siapa, ya? Meskipun agak ragu, akan tetapi aku tetap membuka pesan itu.
+1 310 805 4558 : Silakan tanya kalau ada yang lo gak ngerti
+1 310 805 4558 : see you on Monday Nikita
Aku menghela napas panjang. Sudahlah. Tidak perlu ditanya lagi dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Kusimpan kontaknya segera tanpa membalas pesan dari nomor yang kuberi nama "Becky".
__ADS_1
This is your fault, World.
To be continued ....