Love Me, Please

Love Me, Please
26. Becky


__ADS_3

Oh! Dia kira si Songong masih ada di sini. "Gak usah, Bi. Anaknya udah pulang."


"Aduh, ya Tuhan! Bibi gak tahu, Non. Kalau tahu gitu tadi Bibi antarin minum ke depan," jelas Mrs. Crane gelagapan. Bagaimana tidak, sopan santun adalah nilai yang tertanam dalam di diri wanita itu.


"Udah, Bi, gak apa-apa. Dia juga buru-buru, kok," bujukku, berusaha menenangkan rasa bersalahnya yang pasti sedang membuncah. "Aku ke kamar dulu, ya, mau mandi. Gerah banget soalnya."


"Iya, Non. Nanti makanannya Bibi antar ke kamar."


"Thanks, Bi."


"Eh, Non!" seru Mrs. Crane saat aku sudah menaiki setengah dari set tangga menuju lantai dua. "Ngg, tadi Tuan pesan. Katanya Non dihukum gak boleh ke luar rumah sampai besok. Terus beliau juga bilang supaya Non segera memperbaiki nilai yang gagal. Pas pulang nanti beliau mau semua kekacauan yang ada sudah beres."


Rasa nyeri yang familier itu timbul lagi. Dada ini sesak lagi. Aku sepertinya harus sudah terbiasa dengan serangannya yang tiba-tiba.


"Maafkan Bibi, ya, Non. Bibi sebenarnya juga gak mau kasih tahu Non, tapi ...." Suara Mrs. Crane semakin mengecil hingga akhirnya hilang. Dia juga tidak melanjutkan kalimatnya.


Meski begitu, aku tahu. Aku tahu apa yang akan dikatakan Mrs. Crane. Karena sisa dari kalimat itu kini terpancar jelas di raut wajah sedihnya yang mulai mengerut.


Tapi, apalah daya, Papa tidak mau menyampaikan pesannya secara langsung padaku sehingga dia merasa hal itu bisa dititipkannya pada pengurus rumah tangga kami.


Kupaksakan senyum untuk sosok yang sudah mengurusiku sedari aku masih bayi itu. "Gak apa-apa, Bi. Santai aja. Lagian aku juga gak punya rencana keluar rumah, kok. Malas."


Senyum yang dikirimnya ke arahku berlumuran iba. "Baik, Non. Panggil Bibi kalau ada hal lain yang Non pengin, ya."


Aku mengangguk. "Thanks, Bi." Dan mengambil langkah seribu menuju ke kamarku, tak ingin terlanjur tenggelam dalam kesenduan yang diarahkan oleh Mrs. Crane padaku.


Ah, Mrs. Crane. Sungguh sayang saja sebenarnya karena dia tidak tahu bahwasanya tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa mengabulkan keinginan Nikita, Bi. Kalaupun ada, dia jelas-jelas tidak mau berurusan dengan aku.


****


Niatan untuk mandi sececah demi sececah lenyap bersama langkah menuju kamar. Terbukti dengan sesampainya aku di ruangan berukuran lima kali lima meter yang kudekorasi semauku ini, hal pertama yang aku lakukan adalah mengecek ponsel, bukan berjalan ke kamar mandi. Banyaknya jumlah pesan masuk yang tertera di layar kian memaku pilihanku.


Mandi bisa dilakukan nanti-nanti. Hal yang paling urgent ialah membaca pesan-pesan ini.


Sebagian besar pesan kuterima dari Weston, dimulai dari pagi tadi.


Kay : Hi, I'm home


Kay : aru beberapa menit pisah dan aku udah thinking about you lagi


Kay : Hope you're doing fine


Kay : Know that I really want to be with you right now


Kay : I love you, Sayangh


Kay : I love you


Kay : I miss you


Kay : Dan aku minta maaf ya Yang


Kay : jika selama ini aku terkesan gak ngertiin perasaan kamu


Kay : karena aku benaran gak tahu


Kay : sumpah deh serius gak tahu


Kay : ternyata jadi orang cantik itu juga bikin capek


Sebuah gelak; gelak yang sebenar gelak, gelak yang timbul akibat ada hal lucu, seketika saja tersembur dari mulutku. He got me there.


God, dasar jayus. But, God, do I love him.


Me : that's bad

__ADS_1


Of course I'm lying. Tidak boleh membuat dia tersanjung sedikit pun. Bisa besar kepala dia nanti.


Titik-titik langsung muncul dan menari-nari di skrin telepon selulerku. God, pasti dia sudah menunggu balasan dariku semenjak tadi.


Kay : hi Yang


Kay : akasih udah balas pesan aku, ya


Kay : aku gak nungguin, kok


Kay : benaran


Me : sorry, Yang, aku ketiduran


Me : terus ada tamu


Kay : siapa?


Me : nanti aku cerita, ya? Mau mandi dulu


Me : Lengket semua inii


Me : kayak kamu


Eeew. Aku tidak menyangka kalau aku baru saja mengetik dan mengirimkan pesan garing seperti itu pada Kay.


Kay : kalau aku bisa menemukan cara buat nempel terus sama kamu tanpa bikin kamu repot, aku pasti kerjain deh.


Kay : serius aku


Me : iiih, siapa bilang aku mau ditempelin kamu?


Kay : bodo


Kay : aku kan gak nanya kamu mau apa enggak


Me : you're crazy


Kay : yeah, crazily in love with you


Me : eeeeeew. That's lame


And of course I'm lying again.


Kay : i don't care


Me : lol.


Me : I love you Ayang


Me : thank you


Me : see you tomorrow?


Balasan dari Kayden langsung sepersekian detik kemudian.


Kay : what?????????????????


Kay : kamu bercanda kan?


Kay : Yang seriusan?


Kay : God it's 11 hours away Yang!


Kay : now I'm gonna be crazy for real

__ADS_1


Kay : I can feel it


Kay : kegilaan mulai menggerogoti jiwa aku Yang


Kay : hhhh


Kay : But ok


Kay : i'll try and wait


Kay : see you tomorrow Sayang


Dia mengirimkan begitu banyak emoticon kissy face setelah pesan terakhir yang baru saja dia dikirimkan.


Aku membalasnya dengan mengambil sebuah selfie sembari mencibir dan mengirimkannya pada Kayden.


Kay : ah, my heart


Kay : excuse me lady


Kay : jangan goda-goda aku pakai foto kamu kalau kamu mau aku masih dalam keadaan waras pas ketemu kamu besok


Me : yang, kayaknya kamu keseringan nonton tik-toknya Josh Nasar deh


Kay : terus aku harus gimana coba?


Kay : cuma itu bapak dan gombalannya yang bisa bikin aku ketawa


Kay : walaupun gak sebahagia waktu aku lagi sama kamu


Kata-katanya menghujam rasa.


Me : i know


Tiba-tiba saja rindu menyerbu, menghantamku tanpa permisi.


Kay : yang?


Kay : Ini titik tiga kenapa hilang-hilang timbul, ya?


Kay : Kamu lagi ngetik esai apa balas pesan aku?


That's it.


Me : kamu gak lagi sibuk, kan?


Me : ke sini yuk Ya g


Me : temenin aku belajar


Kay : omfg. Yes!


Kay : on my way


Kay : see you in 5 Sayaaaaang


God, he's hilarious.


Aku baru saja meletakkan ponsel di atas kasur saat benda itu berbunyi lagi. Sebuah pesan yang kukira dari Kayden, akan tetapi ternyata berasal dari nomor baru yang belum tersimpan di ponselku. Siapa, ya? Meskipun agak ragu, akan tetapi aku tetap membuka pesan itu.


+1 310 805 4558 : Silakan tanya kalau ada yang lo gak ngerti


+1 310 805 4558 : see you on Monday Nikita


Aku menghela napas panjang. Sudahlah. Tidak perlu ditanya lagi dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Kusimpan kontaknya segera tanpa membalas pesan dari nomor yang kuberi nama "Becky".

__ADS_1


This is your fault, World.


To be continued ....


__ADS_2