
"Itu sungguh membuat Papa malu sekali, Nikita Bliss, kamu tahu itu?"
Setidaknya sekarang aku tahu. Papa sendiri yang memastikan bahwa aku tahu akan hal itu.
Aku sering beranggapan bahwa ada tiga jenis pertanyaan di atas bumi ini; pertanyaan yang seharusnya dijawab, yang sepatutnya tidak dijawab, dan yang tidak mempunyai jawaban atau jawabannya belum bisa dipastikan.
Nah, sekarang katakan padaku, masuk kategori mana pertanyaan yang barusan diajukan oleh Papa?
That's why I didn't answer dear old daddy's question. He was just asking for the sake of asking.
"Kenapa kamu bisa sebodoh itu? Kenapa kamu bisa membiarkan dirimu terlarut dalam kegagalan? You had never done such things before. Kamu selalu bisa membuat Papa bangga. Tapi, sekarang? Ke mana anak gadis Papa yang dulu? Apa yang terjadi pada Nikita yang sebelumnya?" berondong Papa dengan intonasi yang semakin lama semakin meninggi.
Pertanyaan demi pertanyaan yang semakin lama semakin menyusutkan hati.
Kukatupkan gigi rapat-rapat. Saking kuatnya hingga bunyi gemeretak jelas terdengar di telinga. Kukepalkan kedua tangan erat-erat, hingga kuku-kuku terasa menembus kulit telapak.
Namun, aku tetap bungkam.
Aku bisa merasakan, atau lebih tepatnya melihat, amarah Papa mulai naik. Napasnya mulai memburu, ujung-ujung telinganya memerah. "Jawab pertanyaan Papa, Niki." Dia menggeram.
Aku masih memilih untuk diam.
"Kamu dengar Papa, gak? Ha?!"
Lagi-lagi aku tidak menghiraukannya.
Aku tidak bisa. Jikalau kubuka mulut ini ....
"Nikita Bliss Levine!" Papa tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja. Tangannya mengenai piring alas cangkir, membuat cangkir di atasnya tergolek. Kopi tumpah mengenai koran. Akan tetapi, Papa tak peduli. Dia masih saja menghantamku dengan pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar tak berperasaan itu. "Sebenarnya apa, sih, mau kamu? Kenapa kamu jadi pembangkang begini? Kenapa, ha? Jawab! JAWAB!"
"NIKI MAU MAMA HIDUP LAGI!" teriakku pada akhirnya. Sadar tak sadar aku pun sudah berdiri meniru gaya berdiri lelaki yang sudah membesarkaku itu. "KALAU ITU BISA MEMBUAT PAPA SADAR KALAU NIKI ADA, NIKI MAU ITU! NIKI MAU MAMA HIDUP LAGI BIAR PAPA ADA DI RUMAH DAN PEDULI SAMA APA YANG ADA DI DALAM SINI LAGI. PUAS?"
Seketika ruang makan yang biasa digunakan untuk jamuan besar itu sekali lagi berubah menjadi zona perang antara anak dan ayahnya.
"JANGAN GILA KAMU!" balas Papa tak kalah panas sambil menunjukku.
"APA MEMANG SEGILA ITU PERMINTAAN NIKI, PA? NIKI CUMA MINTA PAPA LEBIH PERHATIIN NIKI, TAPI APA? PAPA MALAH SIBUK BERSAMA SI ****** DAN MENGURUS ANAKNYA SEMENTARA PAPA MENELANTARKAN DARAH DAGING PAPA SENDIRI!"
Mata penuh berang itu melotot ke arahku. "JAGA UCAPAN KAMU, YA! JANGAN BAWA-BAWA NAMA MEREKA! SARAH DAN LEON TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN KEBODOHAN DAN KENAKALAN KAMU!"
"WHAT THE FXCK!"
Teriakan dari sumber suara yang lain sekonyong-konyongnya mengalihkan perhatian kami. Kayden—dengan muka merah padam dan dada yang kembang kempis, aku tidak tahu kenapa dia bisa terlihat lebih marah dan beringas dari pada Papa—berdiri di pintu menuju ruang makan. Dan dalam sekejap dia sudah berada di hadapan pria paruh baya yang baru saja mengataiku gila.
__ADS_1
"Stop right there," geramnya pada sosok yang sebelum ini selalu dia hormati. Kini rasa segan yang biasa terlihat dari cara Kayde memandang Papa pun telah pergi. Atau setidaknya begitu penilaianku. "Stop right fxcking there or I swear I will fxcking pummel you to the ground and I won't fxcking stop at nothing! Am I making myself clear, Om?"
Kekuatan yang sejak tadi kupaksakan ada sirna ketika melihat Papa yang tanpa perlawanan lantas mengangguk setelah diancam oleh Kayden. Begitu mudahnya dia meredam amarah. Begitu ringan baginya untuk menyerah. Pada orang-orang yang bukan aku.
Apa aku setidak berharga itu, Pa? Apa aku tidak boleh menuntut hakku sebagai anak untuk diberi perhatian juga? Apa aku tidak pantas untuk dijaga pula perasaannya? Apa aku sudah tidak layak untuk dicintai lagi oleh Papa?
Kepalaku otomatis menunduk, menggantung di antara kedua lengan yang bertelekan di atas meja yang tak hanya menahan beban tubuh, akan tetapi juga tekanan perasaan. Hal yang bukannya berkurang, malah semakin hari semakin menjadi-jadi.
"Come on, Sayang." Tiba-tiba saja aku sudah berada dalam pelukan Kayden. "Let's get you upstairs."
Tak dibiarkannya aku menjawab sebelum dia mengangkat tubuhku. Dengan enteng Kay menggendongku menuju kamar di lantai dua.
Aku memang tak berniat sedikit jua untuk melawan. Aku segera meringkuk, menyuruk ke dalam dekapnya dalam-dalam.
Dan berharap apa yang baru saja terjadi tidak benar-benar terjadi.
****
Lambat-lambat dibaringkannya aku di atas kasur yang masih semrawut sebelum akhirnya ikut berbaring di sebelahku. Dia kembali mengulurkan lengan kokohnya, mengundangku untuk masuk. Sontak tubuh ini mendekat dan bergelung di dalam rumahku.
Dielusnya rambutku dengan lembut. Dikecupnya kepalaku lama-lama. Berulang kali diucapkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
No. We all know that's not true.
Semua sudah hancur berkeping-keping. Keluargaku. Pendidikanku. Aku.
"Ini bukan pertama kalinya Papa kamu ngomong kasar gitu ke kamu, kan, Yang?"
Aku membiarkan pertanyaannya berlalu.
Sebuah umpatan keluar dari bibirnya. "Sejak kapan dia berani begitu?" Kay merenggangkan pelukannya. "Dia cuma ngomong aja, kan? Gak sampai main tangan, kan?" cecarnya dengan nada yang mulai diwarnai kepanikan.
Aku bisa merasakan tatapannya menusuk wajahku. Namun, aku tidak ingin menatapnya. Aku tak ingin dia membaca semua jawaban pertanyaannya di ekspresiku.
"Yang, jawab aku." Kini dia sudah bangkit dan serta-merta membawaku hingga kami berada dalam posisi duduk. Dipeganginya bahuku. "Aku harus tahu yang sebenarnya biar aku bisa melindungi kamu. Aku itu pacar kamu, Yang, aku seharusnya tahu apa yang terjadi sama kamu."
Kini kututup muka dengan kedua tangan untuk menghindari tatapannya. Isak semakin membelah isi dada.
"Yang, please, jawab aku. Aku gak bisa tenang kalau aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari aku begini."
Hanya sedu sedan yang menjadi jawaban.
"Aku mohon, aku mohon, Yang, aku mohon, cerita. Cerita sama aku, Niki, aku mohon," pinta Kay. Panik dalam suaranya berganti permohonan yang penuh harapan akan dikabulkan.
__ADS_1
Aku sudah tidak tahan.
"Get out," titahku dari balik telapak tangan.
"W-what?" Kayden begitu terkesiap sampai-sampai membuatnya tergagap-gagap.
"Get out, Kay," ucapku lebih keras. Kini tanganku sudah tak lagi menutupi muka, namun aku masih menghindari tatapannya dengan menunduk.
"No! Fxck no. Aku gak akan pergi sebelum kamu ceritain semuanya," tolaknya kilat.
Aku menyeka kedua pipi dengan pinggir bajuku. "Gak ada yang perlu diceritain."
"Jangan bohong kamu!" serunya seraya mengguncang tubuhku.
Kali ini giliranku yang tersentak. Sudah susah payah menyembunyikan muka untuk menghindari pengamatan tajamnya, Kayden masih saja bisa menebak isi kepalaku. "Get out."
"No," tolaknya, masih saja bersikukuh.
Lelah tetiba saja datang menyergap. Menghisap sisa-sisa kekeraskepalaan yang masih ada.
Akhirnya aku kembali berbaring dan berbalik memunggunginya. Kutarik selimut hingga ke bawah dagu.
"Get. The. Fxck out, Kayden," lirihku. Setiap kata butuh satu helaan napas sendiri-sendiri agar bisa ke luar dari dalam dada ini.
Rupanya dia masih ingin mendebatku. "Why are you doing this? Aku cuma minta kamu cerita sama aku, Yang. Aku sayang sama kamu. Apa selama ini kamu masih belum paham kalau luka kamu luka aku juga?"
Yes, why yes, Kayden. Aku paham betul akan hal itu makanya aku minta kamu untuk pergi. Kalau kamu ada di sini, melihat aku seperti ini, rasanya jadi tiga kali lipat lebih hebat. Karena luka kamu luka aku juga.
Aku harus menanggung rasa sakitku, rasa sakitmu, dan rasa sakit karena sudah membuat kamu sakit sekaligus.
Dan sekarang aku benar-benar gak sanggup.
Tambah kubenamkan diri ke balik selimut. "Please, Sayang, go. Just give me time. Okay?"
Kayden di kalakian menghela napas dalam dan mengeluarkannya perlahan sebelum ikut berbaring. Dipeluknya tubuhku yang terbalut selimut dari belakang. I love being the little spoon. "Kamu yakin kamu gak mau aku ada di sini temenin kamu?" tanyanya lembut di tengkukku.
Kugelengkan kepala sekilas. "Aku mau proses semuanya sendiri dulu."
"Tapi, kamu harus janji bakal cerita sama aku."
"Iya, aku janji." Aku janji akan menceritakan semua ini padanya, akan tetapi tidak tahu kapan itu akan terjadi.
"Okay, then," sahutnya dengan helaan napan yang super duper besar, pasrah. Kayden lalu menyibak selimut sedikit hingga bahuku terbuka dan menenggelamkan kepalanya di sana. Ditariknya napas dalam beberapa kali sebelum berkata, "I love you, Sayang. I love you so much. It hurts seeing you like this."
__ADS_1
Iya, Kay, iya. Aku paham. Pedih betul rasanya melihat kamu tersiksa seperti ini.
To be continued ....