Love Me, Please

Love Me, Please
45. Not-So Lounging at Lounge


__ADS_3

Sekali lagi lengan Kayden menjadi sasaran siksaanku. "Aku gak kayak gitu, ya."


"Really?" debatnya dengan kedua alis tebal tinggi di dahi.


Kukedikkan bahu. Paham benar kalau apa yang dikatakan oleh Kayden ada sedikit benarnya. Kalau tidak mencintai bau barang-barang baru dan bermerek, mungkin ruang wardrobe di kamarku tidak akan sesesak itu.


"Yang, jadi jawabannya apa?" Kayden memecah pemikiranku dan memusatkan perhatianku lagi padanya.


"Gak tahu, nyerah. Aku gak suka bau apa pun. Kalau bau, kan, konotasinya yang busuk gitu, ya. Kalau yang bagus sering dibilang wangi, bukan bau." Aku mencoba merasionalisasikan perkataannya demi berkelit agar tidak menjawab.


"Iya, iyaaaa." Kayden setuju dengan nyeleneh. "Jadi jawabannya apa, Yaaang?"


"Nyerah aku."


"Huuu," ledeknya setengah hati. Aku tahu itu karena dia sangaaaat menyukai jika kalimatnyalah yang membuat aku tertawa. "Jawabannya adalah ... jeng, jeng, jeng, jeng! Bau amis!"


Seratus poin untuk efek yang diciptakannya, akan tetapi seribu poin untuk kebingungan yang juga dia ciptakan di kepalaku. "Lah, kenapa?"


Sepertinya dunia sedang mendukung usaha Kayden karena tepat saat itu juga lampu lalu lintas berubah merah. Mobil sedikit demi sedikit mulai meragkak hingga sepenuhnya berhenti. "Amis," ulangnya sembari menatap padaku. "Amis you." Kay lalu menggerakkan alisnya naik-turun.


Butuh beberapa saat bagi otakku untuk mencerna perkataannya. Setelah kalimat itu selesai diproses, sebuah erangan seketika lahir dari dalam dada. "Ya, Tuhan, Yaaang." Bola mataku juga tak tahan untuk tidak berputar-putar di rongganya.


Namun, tidak dipungkiri pula kalau usahanya untuk menghibur diriku berhasil seratus persen. Hatiku menjadi terasa lebih lega. Jiwa juga rasanya jadi lebih ringan. Otot-otot tubuh seketika mengendur, lebih relaks lagi dari waktu pertama kali aku bertemu dengannya tadi. Aku ....


Dia ....


Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan yang aku punya untuknya. Cinta saja rasanya sudah kurang begitu mendeskripsikan apa yang ada. Meskipun begitu, aku juga tidak tahu apa ada kata yang lebih baik lagi dari cinta.


Tak terasa Rubicon Kay sudah memasuki pelataran parkir Lounge. Seperti biasa, kami otomatis berpisah. Aku mencari tempat duduk sementara pemuda itu mengantre untuk memesan makanan dan minuman kami.


Aku melihatnya mengeluarkan ponsel. Tak sampai beberapa detik kemudian, ponselku yang terletak di atas meja bergetar.


Kay : Oke, selanjutnya.


Kay : Ngemil apa yang gak akan pernah aku tolak sampai kapan pun?


Me : Gak ada deh kayaknya.


Me : Kamu kan gentong.


Me: Apa pun dimakan


Kay: ngeledek


Kay : aku masih dalam masa pertumbuhan tahu


Kay : Jadi masih butuh asupan gizi yang banyak


Kusembunyikan kikih di balik telapak. Dasar. Udah tukang makan, sekarang mau jadi tukang ngeles lagi. Kalakian kuketik balasan pesannya.


Me : Demi apa yang?

__ADS_1


Me : Mau jadi segede apa lagi kamu?


Dari bilik yang tak jauh dari counter pemesanan, aku bisa menyaksikan ibu jarinya menari di atas layar. Dia sedang menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum.


Kay : Aku dengar cewek suka sama yang gede-gede


Kay : benar gak yang?


Sekonyong-konyongnya pipiku memanas. Aku menunduk. Menyurukkan wajahku yang sudah berubah menjadi warna kepiting rebus di balik uraian rambut. Dang this guy!


Me : Kayden!


Kay : what?


Kay : what did i do?


Kay : eh btw aku suka muka kamu merah gitu yang


Me : Resek!


Me : ingat kita lagi di tempat umum ya


Me : aku gak mau kita diusir lagi kayak kemarin


It's a low fxcking blow, I know. But I can't let this boy get me in a mood before we even get our food. I need my fuel first before I drive him wild.


Kay : sorry


Sebuah perasaan bersalah melanda hati setelah melihat balasannya. Aku berusaha untuk menyetir percakapan kami ke arah yang benar lagi.


Kay : masa kamu gak tahu?


Untung dia menurut.


Me : Hm.


Me : Ngemil apa yang gak akan kamu tolak?


Me : makanan basi


Aku tidak bisa untuk tidak menjawab asal dan menggunakan kesempatan yang aku punya untuk meledek pacarku itu.


Kay : awas kamu ya


Setelah mendapat pesan tersebut, aku mendongak dan bertemu pandang dengan si super duper jahil itu. Bagaimana tidak? Caranya menatap, kilat nakal di matanya, sunggingan senyum yang penuh janji di bibirnya, membuat diri ini merasa ....


Panas dan dingin secara bergantian.


Oh, my God. No, no, no. Kenapa aku kembali ke perasaan ini, sih? Kan tadi sudah kutinggalkan. Come on, Nikita. Head out of the gut, please? And by the way, you should abort while you can. Before his mind get to same place as you were ....


Abort! Abort! Abort! Alihkan pembicaraan! Lagi!

__ADS_1


Me : jadi jawabannya apa???????????


Sengaja kutambahkan tanda tanya sebanyak itu demi mempertahankan kewarasanku. Aku tak bisa meluapkan apa yang kurasa langsung pada Kayden, jadi aku menghempaskannya ke pesan yang kami tukar saja.


At least the target is the same.


Kay : Ngemil


Kay : yang


Kay : gak akan pernah


Kay : aku tolak


Kay : adalah ...


Tiga buah titik berwarna kelabu itu bergoyang-goyang, mengejek jantung yang detaknya semakin lama menunggu semakin bertalu-talu.


Kay : ngemilikin kamu selamanya


Kay : i love you sayang


Kay : you're my life


Oh. My. God. He didn't. He didn't just say that.


But ... he did. Dia benar-benar mengatakan itu. Walaupun tidak secara langsung, akan tetapi efek yang ditimbulkan tetap saja sama.


Air mata merebak lagi. Oh, no. Jangan di sini, please!


Buru-buru kukirim balasan.


Me : yang aku ke kamar mandi dulu


Well, it doesn't sound so strange, like, at all. Blah.


Dalam langkah tergopoh-gopoh, sudut mata ini sempat menangkap kerut kening Kay. Akan tetapi, untungnya waktu itu bertepatan dengan giliran dia memesan jadi dia tidak bisa melakukan apa pun selain membiarkanku berlalu.


Untuk saat ini.


Hanya saat ini yang kuperlukan.


Seseorang juga baru saja keluar dari kamar mandi saat aku akan masuk ke dalam ruangan itu.


Di wastafel, kuhidupkan keran sebelum meletakkan kedua tangan di bawah aliran air hanya untuk merasakan sejuknya. Atau ... apa aku hanya membutuhkan pengalihan fokus dari apa yang sedang berkecamuk di dalam dada?


Entah. Aku tidak, belum, bisa memutuskannya.


Pesan-pesan yang dikirim oleh Kayden tadi masih terbayang-bayang di dalam benak.


Kutelekan kedua tangan di tepi granit putih itu, kepala serta-merta menggantung di antara bahu. Tak sanggup rasanya menghadapi pantulan yang ada di cermin. Aku sedang tidak ingin bertemu dengan gadis itu dulu. Dia ... dia terlalu berbeda dan aku tidak ingin mengakui keberadaannya.

__ADS_1


Maafkan aku, Kayden.


To be continued ....


__ADS_2