Love Me, Please

Love Me, Please
49. Ah, No


__ADS_3

Aku menggeleng sembari berjalan ke arah lemari pendingin. "Enggak ada, Bi. Aku gak butuh apa-apa lagi." Lalu aku mengambil satu botol air mineral dari rak yang ada di pintu kulkas. "Good night, Bi," ucapku saat berlalu.


"Selamat malam, Non Nikita. Mimpi indah, ya, Non."


Ah, untung saja Mrs. Crane sudah berada di balik punggung ini, jadi dia tidak sempat melihat apa yang ada di wajahku sekarang setelah mendengar kalimat yang sebetulnya sangat innocent dan lazim diucapkan itu. Maksud dari rangkaian kata itu sungguh begitu baik, akan tetapi ....


Ah, mimpi.


Sekilas aku kembali menggeleng, di dalam kepala padahal aku membayangkan melakukan hal itu dengan super duper kuat dan cepat. Aku gak pengen mimpi indah, Bi. Karena ....


Bagaimana kalau yang aku minta adalah kenyataan yang indah? Boleh, kan?


***


Setelah mandi dan berganti pakaian, lalu mengucapkan selamat malam pada Kayden melalui pesan, aku mematikan lampu kamar dan berbaring. Di kesendirian, dikelilingi oleh kegelapan, hanya lampu-lampu taman belakang di luar yang masuk melalui celah-celah tirai, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk mencerna apa yang terjadi sehari ini.


Sekurang-kurangnya mengunyah apa yang terjadi di taman sore tadi.


Kenapa dia bersikap seperti itu? Apa yang sebelumnya kukatakan?


.... "Karena gak ada yang peduli sama pendapat lo di sini."


Saat ingatan berhasil merekonstruksi bagian akhir dari ping-pong verbal kami, dan otak berhasil meregistrasi makna yang terkandung di dalamnya, hati rapuh ini lagi-lagi jatuh.


Apa yang terjadi padanya?


Apakah dia juga ...?


Tidak mungkin. Bagaimana bisa?


Kenapa?


Oh, Beckham.


Otomatis saja tanganku ini menjangkau ponsel di nakas, padahal tidak ada yang memerintahkannya. Aku sendiri tidak mengerti apa yang aku kerjakan. Setelah membuka chat room dengan Beckham dan mengetik sebuah pesan, aku tersadar oleh sesuatu. Keraguan tiba-tiba saja melanda. Kirim. Tidak. Kirim. Tidak. Kirim. Tidak. Kirim tidak, ya?

__ADS_1


Namun, lagi-lagi sesuatu mengambil alih dan membuat keputusan untukku. Kirim.


Satu pesan berubah menjadi sederetan pengakuan.


Me : Hey Beck


Me : gue mau minta maaf kalau gue ada salah sama lo


Me : Sebenarnya bukan kalau sih


Me : Kayaknya emang benaran salah gue


Me : gue salah


Me : menilai dari reaksi lo setelah mendengar perkataan gue


Me : ya kan?


Me : Sorry banget Beck


Me : sekali lagi gue minta maaf


Me : gue harap lo mau maafin gue


Me : so


Me : Are we still on for tomorrow?


Lagi dan lagi kesadaran lambat untu datang. Aku di kalakian menatap deretan kata-kata yang baru saja kukirimkan itu. Layar seketika mengabur dalam pandangan. Lekas-lekas aku mematikan ponsel dan meletakkannya kembali ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Tak disadari tanganku bergetar. Entah karena gugup atau adrenalin yang kudapat setelah mengerjakan apa yang baru saja kukerjakan.


Ya, Tuhan, apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku bisa mengirim pesan sebanyak itu padanya?


Kugapai lagi gawai itu, berniat untuk menghapus pesan-pesan yang kini terkesan sangat ... memalukan. Akan tetapi, tidak ada yang menandingi rasa bera yang mendera ketika melihat tanda delivered di keterangan pesan sudah berganti dengan read.


Oh. My. Freaking. God. Noooooo!

__ADS_1


****


Benar-benar sialan!


Gara-gara pesan-pesan itu aku tidak bisa tertidur. Mataku dibuat menyalang oleh rasa gelisah yang semakin menjadi-jadi. Kenapa aku harus mengirimkan pesan itu? Kenapa aku harus merasa bersalah? Padahal, nyatanya aku tidak mengetahui apa-apa soal hidup Beckham. Jadi, aku tidak tahu apa yang boleh dikatakan dan apa yang tidak, bukan?


Ah, dasar gadis yang mudah penasaran!


Tidak bisakah aku membiarkannya berhenti di situ saja? Sampai di titik di mana aku mengucapkan kalimat-kalimat itu, kemudian dia merasa apa pun yang dirasa, dan pergi begitu saja. Kenapa aku harus ikut campur urusan orang lain? Kenapa aku harus memedulikan sialan itu?


Sekarang lihat akibatnya. Nikmati sendiri bagaimana rasanya tertawan oleh rasa ingin tahu pada hal yang tidak seharusnya kaupikirkan.


Pukul setengah lima pagi aku bangkit dari tempat tidur dan bersiap-siap. Sudah tak ada lagi harapan untuk terlelap. Lebih baik kugunakan saja waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang memang ada manfaatnya.


Tiga puluh menit berada di atas treadmill sungguh tidak memberikan efek apa-apa terhadap pikiran yang melanglang buana. Jalan napas yang tersengal-sengal tidak mampu mengusir bayangan wajah Dom sore itu. Diri ini masih saja terfokus pada pesan-pesan di handphone yang sudah dibaca. Hanya dibaca dan tak berbalas.


Pesan dibaca, akan tetapi tak dibalas seperti ini memang membikin frustrasi!


Jam di ponsel baru menunjukkan pukul enam empat puluh tujuh ketika aku telah berada di dalam si Cantik. Daripada menunggu kayden dan kembali tenggelam dalam lamunan, aku memutuskan untuk menjemput pacarku ke rumahnya.


Kediaman keluarga Ford yang tepat berada di sebelah casa de Levine sudah menjadi rumah kedua bagiku karena rasanya tidak berlebihan jika aku mengatakan kalau aku juga besar di sini bersama pacarku itu. Oleh karena hal tersebut, aku memilih untuk mengitari pekarangan depan dan masuk lewat pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur kedua.


Dapur utama merupakan ruangan dengan peralatan memasak super lengkap yang dipakai untuk menyiapkan hidangan dengan skala besar, seperti jamuan makan malam para kolega, terletak di sayap timur bangunan.


Benar saja. Tante Liz sedang sibuk di sana bersama pembantu mereka.


"Good morning, Tante," sapaku sambil melenggang masuk tanpa permisi.


Wanita yang usianya di pertengahan empat puluh tahun itu lantas mendongak. "Oh, my God! You!" serunya histeris. Dia menyeka tangannya di celemek sembari berlari kecil ke arahku. Tak lama kemudian kami berpelukan. "Kenapa baru datang sekarang? Ke mana aja kamu dua minggu ini? Dan, kenapa pagi-pagi sekali? Are you okay, Honey?" Dengan tangannya masih memegang kedua bahu, Mrs. Elizabeth Ford menilikku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Mari, mari. Sini, duduk. Tante lagi bikin sarapan buat Om kamu yang lagi asyik main tenis sama teman-temannya. Sekalian Tante bikinin buat kamu juga, ya? Kamu masih suka omelette Tante, kan?" berondong perempuan yang akrab kusapa Tante Liz itu.


Aku terkekeh-kekeh. "Ya, masih lah, Tante. Masa baru beberapa hari gak ke sini selera aku langsung berubah? Gak mungkin banget, dong."


"Eh, mungkin-mungkin aja, tahu!" tandasnya. "Tante dulu pas seumuran kamu enggak pernah punya makanan favorit. Semua aja mau dicoba." Kalakian dia mulai terkikih-kikih. Wajahnya bersemu kemerahan.


Ah, we're no longer talking about food, aren't we?

__ADS_1


To be continued ....


__ADS_2