
Ah, daaang.
Akhirnya simpati melanda hati. Dia benar-benar tampak tidak nyaman berada di sini dan dalam kondisi yang seperti ini. "Okay, gue maafin lo. Thanks," sambutku dengan tiga perempat hati.
Yeah, karena aku tidak terlalu berniat, akan tetapi juga lebih dari sekadar tidak berniat. Begitulah kira-kira.
Kelegaan sungguh-sungguh mengubah bahasa tubuhnya. Dia tidak lagi "bergoyang-goyang". Tidak ada tangan yang disekakan celana. Dehamannya pun seketika sirna. "So, maksud gue ke sini itu gue mau bantu lo belajar. Gue udah dengar soal keanggotaan lo di tim pemandu sorak yang dicabut gara-gara mata pelajaran ini."
Beckham berdeham lagi, untuk yang ke seratus dua puluh delapan kali. Maybe. "Gue rasa itu agak gak adil, tapi ada baiknya juga. Lo jadi bisa lebih fokus ke nilai lo." Dia di kalakian melanjutkan. "Kalau perkembangan yang lo capai dalam waktu dekat bagus, mungkin lo bisa bujuk Mrs. Lekovich dan Miss Valencia untuk ngomong ke wakil kepala sekolah lagi. Siapa tahu dia puas dan bolehin lo balik ke tim. Gimana?"
Hm. Well, well, well.
Ada isinya juga itu kepala. Gak cuma gede doang ternyata.
Apa yang baru saja ke luar dari mulut Beckham terdengar betul-betul menarik sebenarnya. Namun, itu bukan berarti aku harus mengatakan hal yang sama pada si Songong ini, ya, because, hello. Dia dapat julukan itu juga karena ada alasannya tahu!
"Gue tahu kalau lo juga berpikir ide gue bagus," bebernya saat aku tak menanggapi tawarannya.
"Udah sombong, sok tahu lagi lo." Kan? Apa aku bilang.
Dia mengangkat bahu. "Gue rasa gak ada salahnya sombong selagi gue mampu. Dan apa namanya masih sok tahu jika gue benar-benar tahu kebenarannya?"
Idih! What a real freaking snob. "Dasar! Sombong itu tetap gak boleh biar kata lo mampu juga. Suatu saat lo pasti akan butuh bantuan orang lain. Disombongin balik baru tahu rasa lo!"
Suasana kembali senyap. Kentara sekali dia sedang mematut-matut perkataanku barusan. Di keningnya muncul dua buah kerutan. Melihatnya membuat aku ikut mempertimbangkan apa yang telah aku ucapkan.
__ADS_1
Kuhela napas dalam saat menyadari bahwa yang kubicarakan tak hanya berlaku untuk dia saja, akan tetapi juga untukku. Kalau aku terlalu sombong untuk menerima uluran tangan dari si sombong nan sok tahu ini, itu berarti kami berdua akan berakhir sama. Lagi pula, dalam situasi begini, aku akan menjadi pihak yang lebih banyak merugi.
Karena kendatipun belagu setengah mati, idenya benar-benar patut diperjuangkan.
"Oke, deh, kalau gitu. Thanks lo udah mau bantu gue. Tapi, gue gak bisa belajar sekarang. Lagi kurang enak badan." Aku berdalih. Kugosok-gosokkan telapak di sepanjang kulit lenganku yang terbuka, seperti tengah merasa dingin dan ingin mendapatkan kehangatan.
Dia menatapku lamat-lamat, lalu menggelengkan kepala sebelum menerima alasan yang aku akui lumayan tercium bau ke-bullshxt-annya itu. Sempat kulihat sudut kiri dari bibirnya tertarik sedikit ke atas. "Hm, alright then," simpulnya sambil terus memperhatikanku. "Tapi, gue pikir ada baiknya buku ini lo pegang dulu aja. Mungkin nanti lo bisa mulai baca-baca kalau udah agak mendingan. Senin kita mulai belajar barengnya. Deal?"
"Oh, oke." Buku yang menjadi alasan perdebatan sebelumnya pun berpindah tangan. "Deal." Kini giliran aku yang sedikit salah tingkah. Kenapa juga dia melihatku seperti itu?
"Kalau belajar di perpus lagi, lo gak ada masalah, kan?"
Pertanyaannya sontak membikin buku kudukku berdiri. Aku mengerang. "Gak, gak, gak!" tolakku dengan berapi-api. "Gak mau gue. Cari tempat yang lain aja. Berasa udah terlanjur diharamkan gue masuk ke sana. Lagian gue juga gak bisa lama-lama di tempat kayak gitu. Gak bebas. Yang ada guenya yang jadi gila entar. Mau tanggung jawab lo?"
Buset! Barusan si Songong ini senyum? Dua kali lagi. Waaah, ternyata bisa senyum juga dia, ya.
"Iya, deh. Kalau gitu lo yang cari tempatnya. Lagian gue juga gak punya waktu buat tanggung jawab sama hal-hal yang gak gue lakuin,"
katanya sembari sekali lagi mengangkat bahu, berlagak tidak terjadi apa-apa.
"Heleh," cemoohku. Aku lalu memutar bola mata.
Setelah itu kami kembali sama-sama terdiam.
Dia membersihkan tenggorokannya lagi. "Well, kalau gitu gue balik dulu. See you on Monday," pamitnya sebelum melambaikan tangan dengan kikuk dan berbalik. Dan setelah beberapa langkah kemudian masuk ke dalam SUV Jaguar berwarna hitam.
__ADS_1
Aku memandangi mobil itu, mengekor lajunya di atas driveway casa de Levine sebelum mengambil tikungan ke kanan dan melintasi Chalon Road sampai jarak benar-benar menelannya. Rasanya kejadian barusan sedikit tak masuk di akal mengingat interaksi kami yang bisa dibilang kacau di pertemuan-pertemuan yang terdahulu. Dan hari ini, aku menjadi saksi hidup atas kemampuan berkomunikasi cowok yang selama ini digelari Songong itu.
Aku menggeleng.
My day has gotten more complicated as it passes. Sekarang di dalam benakku berputar-putar tanda tanya sebesar lapangan football. Kenapa? Kenapa dia membiarkan anak-anak melabelinya dengan nama itu?
Sementara dia sama seperti manusia lainnya; punya emosi. Bisa merasa. Apa yang sebenarnya dia lakukan? Kalau nyatanya dia tak seburuk itu, kenapa dia harus bersembunyi di balik topeng berekspresi datar dan langkahnya yang terburu di sekolah? Nada bicaranya yang dingin, percakapannya yang kelewat to the point?
Atau, kami yang salah? Orang-orang lain ini yang tidak mau melihatnya lebih dekat? Memutuskan untuk menghakiminya sebelum benar-benar memberi kesempatan untuknya membuka diri? Tenggelam dalam kesoktahuan kami sendiri?
Ah, shxt.
Kubanting pintu setelah menyadari hal itu. Sialan, benar-benar sialan. Kebiasan menghakimi tanpa alasan dan berspekulasi sungguh harus dibasmi dari muka bumi. Pronto.
Panggilan Mrs. Crane membuyarkan analisa yang sedang kuproses di dalam benak. "Non, mau makan siang apa? Bibi bikinin sandwich tuna, ya?"
Mendengar nama salah satu menu favoritku perut ini lantas bergemuruh. Aku lupa telah melewatkan sarapan. "Boleh, deh, Bi. Tolong diantar ke kamar, ya. Sekalian teh lemon dingin. Masih ada, kan?"
Mrs. Crane membuka salah satu dari empat pintu yang ada di lemari pendingin untuk mengecek ketersediaan minuman yang kutanyakan. "Siap, Non. Masih ada. Dua jadinya, ya? Nanti Bibi antar ke kamarnya Non."
"Loh, kok dua?" timpalku agak kebingungan. "Satu aja kalj, Bi."
Sekarang gantian perempuan itu yang terlihat ragu. "Temannya gak dibikinin juga sekalian, Non?"
To be continued ....
__ADS_1