Love Me, Please

Love Me, Please
29.l Ah, Marinal


__ADS_3

"Nah, itu kamu tahu. Aku gak peduli siapa yang dapat jatah, ya. Kalau mereka berani nyakitin kamu seujung kuku kamu aja, hm, tunggu giliran, deh," jelasnya sambil meniup kepalan tangannya.


"Ih, apaan, sih. Kan, gak harus gitu juga, Yang. Kamu, kok, jadi barbar gini?" Kayden sebelumnya tidak pernah se- ... seagresif ini. Namun, tiba-tiba saja, dia bisa menjadi sosok yang seperti sekarang.


Hm. Meskipun sudah bertahun-tahun mengenal Kay, ternyata masih banyak lapisan baru dari dirinya yang akan aku temukan setiap waktu. Well, I am all for it.


"Biarin. Lagian, siapa bilang gak harus gitu? Menurut aku harus gitu, kok. Titik. Gak ada tawar-menawar. Ini bukan pasar."


Buuut, all for it doesn't mean I can accept this such Neanderthal thing all of a sudden, ya. Aku juga harus melalui proses pembiasaan kalau begini. "Dih. Terserah kamu, deh. Dibilangin gak mau." Aku menyilangkan tangan di depan dada, pasai dengan tingkahnya.


Pacarku itu akhirnya menyerah. Kepasrahannya ditandai oleh embusan napas yang lumayan panjang. "Okay, fine. Whatever the heck buat si Songong itu." Dia mengibaskan tangannya di udara antara kami, seakan-akan ingin mengusir Beckham yang sudah menjadi alasan perdebatan kami dari sini. "Udahlah, Yang, ngapain bahas itu mulu. Gak banget. Sini kamu, aku kangen."


Wow. Ekspres sekali perubahannya? Padahal baru beberapa detik lalu dia sewot perihal Beck, akan tetapi muka sebalnya tiba-tiba saja berganti cebikan manja. Well, I'm all for this part too. And the part when I can do all the things to make him beg.


"Yeee, perasaan baru tadi pagi ketemu, deh. Semalam juga nginap di sini kamu." Aku menepis uluran tangan Kayden, tidak tahan untuk tak menggodanya. Kuambil buku yang sudah dicampakkannya ke atas meja, lalu berjalan kembali ke kursi malas.


"Yang," rengeknya seraya mengekor gerakanku. "Beda kasus itu, Yang. Yang. Sayaaang."


Gelak serta-merta menyembur mendengar renyehan cowok sebesar ini. "Ih, kamu." Aku pukul keningnya dengan jengkel-jengkel cinta menggunakan buku di tanganku.


Kayden terpicing sesaat dan malah cengengesan di kesudahan. "Yaaang." Dia, yang tak jua jera, melanjutkan aksinya.


Bola mataku rasanya sudah melekat dan tak mau dibalikkan lagi ke tempat semula saking jauhnya mereka berputar. "Uuuugh," erangku setengah geram. Sedangkan setengahnya lagi masih dikuasai perasaan sayang yang tak masuk di akal ini.


Kalakian dia mendahuluiku duduk dan mengatur posisi. "Sini, sini," suruhnya sambil menepuk-nepuk ruang di antara kaki-kakinya.

__ADS_1


Aku, yang memang dimabuk api asmara, tentu saja sekonyong-konyongnya menyerah. Tanpa berpikir malah. Seolah-olah aku sudah kehilangan kendali atas tubuhku sendiri saat kaki ini menyongsong pemuda itu. Seperti terhipnotis saat aku dengan otomatis mendekat demi masuk ke dalam pelukan pria yang kujadikan rumah.


"Hm," gumamnya sembali mengalungiku dengan lengan kekarnya. "I love you." Dia kemudian mengecup rambutku.


Selagi dia menghidu aromaku, kunikmati rasa yang selalu ditimbulkan sentuhan-sentuhan Kayden dengan mata tertutup. Dan kejengkelan yang ada seketika sirna, menguap bersama udara yang keluar seiring helaan napas yang terima kasih Tuhan masih ada. "I love you," bisikku pada bayangannya di dalam benak, pada rangkulannya, pada kehangatan tubuhnya yang menempel di punggungku, yang menyebar dan menyelimutiku.


Kayden menghujani wajah bagian kananku dengan kecupan. "Ayo, belajar, Yang. Biar aku temanin."


Sebuah hm lolos dari dalam dada akibat ulahnya itu. Aku benar-benar menikmati cara dia menunjukkan rasa cintanya padaku. Setelah beberapa saat otak baru meregistrasi apa yang baru saja dia katakan. "Okay. Thank you, ya," syukurku setelah mendongakkan kepala untuk mendaratkan sebuah kecupan di dagu yang masih didominasi oleh bulu-bulu tajam itu.


Kayden lalu mengeluarkan ponsel dan airPod-nya.


Aku membuka lembaran pertama buku yang diberikan Beckham dan tercengang kala mendapati tulisan yang sungguh-sungguh rapi. Well, isn't that interesting? Siapa sangka pemuda sepertinya bisa menulis seapik ini?


Aku berdeham. Okay, then. Okay. Sorry. Aku menggumamkan permintaan maaf pada dunia di dalam hati. Saatnya mencoba pola pikir baru.


Tak lama berselang hening membungkus kami dalam dekapannya yang nyaman, yang tenang. Menyokong niatan untuk memperbaiki keadaan dengan memulainya dari buku ini.


Entah seberapa waktu berlalu sebelum pekik telepon genggamku mengusik. Tak hanya sekali, akan tetapi acap kali.


Ponselku seperti hendak meledak sebab dentingannya.


Siapa gerangan yang mengirim chat sebanyak itu?


Aku mengerling kepada Kayden yang ternyata sudah memperhatikanku dari tadi. "Apa? Mau ngambil ponsel, kan?" tebaknya tepat sasaran.

__ADS_1


Aku terkikih-kikih. Malu karena belum-belum saja niatanku sudah terbaca olehnya.


"Kan, lagi belajar?" debat pemuda itu kemudian.


Aku tak mau kalah. Kubalas lagi argumennya. "Tapi, kan, handphone-nya bunyi terus, Yang. Berisik. Aku jadi gak konsentrasi." Dan tak tanggung-tanggung. Kukeluarkan jurus andalanku.


Ready, steady, go!


Tiba-tiba saja Kayden menggulungku ke dalam dekapannya dan mengguncang tubuh kami. "Eeerghh," geramnya. Kesal dan gemas membuat rongga dadanya bergetar. Dikuatkannya pagutan yang mengelilingiku sebelum dikendurkannya beberapa saat setelah itu. "Bisa apaaa aku sama kamu, Yang? Haaa?" tanyanya dengan gigi bertaut.


Kikihku berubah menjadi kakah yang berderai memenuhi petak kamar. "Yaang, lepasin!" perintahku di antara sesak napas yang disebabkan oleh gelak. "Aku mau ambil hape dulu," putusku dengan final. Tidak meninggalkan ruang sedikit pun untuk protes dan debat dari siapa saja.


Dia lagi-lagi mengerang, sudah hafal sekali dengan kekeraskepalaanku. "Cek aja siapa yang chat. Abis itu duduk lagi ke sini. Oke?"


"Hm-mm," sahutku cepat, tanpa komitmen. Aku tidak mau berjanji yang tidak dapat kupastikan ketepatannya. Kutarik lengan yang bersilangan di atas dada.


But, we all know that that won't be the case. Right? Niatku untuk belajar sudah bubar ketika mendengar bunyi ponsel yang memekik selang lima belas menit sesudah memulai peperangan tersebut.


Kecuali ... tentu saja aku bisa pastikan bahwa aku akan kembali ke dalam pelukannya.


"Oh, my gosh! Crazy girl!" seruku saat melihat pesan-pesan di layar yang ternyata berasal dari group chat aku dan para gadis. "Aaaah, emang si Marina jni bikin jealous aja! Argh! Dasar gelo dia! Emang benar-benar sinting. Tapi, beruntung banget. Aaa, beruntung banget dia, ah! Marinaaaa." Aku terus saja mencak-mencak. Rasa bahagia untuknya, akan tetapi juga disisipi oleh rasa iri sekonyong-konyongnya mengungkung diri. Bagaimana tidak? Dia akhirnya bjsa melakukan apa yang dari dulu hanya menjadi rencana bagi kami. Dia akhirnya bisa mengerjakan sesuatu yang selama ini hanya menjadi sebuah mimpi dan ambisi bagi kami. Dia ....


Ah, Marina!


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2