
"Fxck, man. Where have you been? Coach udah ngamuk-ngamuk dari tadi gak lihat batang hidung lo!" Gyan mengejar saat melihat kami mendekati ruang ganti yang disediakan untuk tim pendatang di Palmdale High.
"Sorry. Car trouble," jawab Kayden asal.
Tentu saja dia tahu bahwa West baru saja berbohong. Gyan kemudian melirik ke arahku. "Yeah, right," sahutnya dengan nada yang agak ... mencemooh. Akan tetapi, itu mungkin hanya perasaanku saja. "Come on, then. Pasang gear lo sebelum Coach meledak beneran. Gue paling gak bisa kalau mood itu bapak tua rusak sebelum tanding."
"One second," izin Kayden pada linebacker The Lions itu. Dia lalu berbalik dan memasukkanku ke dalam dekapannya. "You sure you'll be okay?" bisiknya di rambutku.
Kuhela napas dalam. "I'm fine, I promise." Aku melepaskan pagutan kami. "Ya udah. Ganti baju sana. Aku bakal semangatin kamu dari kursi penonton. Cari aja satu-satunya cewek yang pakai seragam belepotan begini," selorohku sembari menunjukkan ujung rok penuh noda tanah yang menyembul di balik jersei bernomor punggung Kay yang sempat kuambil di loker tadi.
Dia tersenyum. Kayden mengaku dia sangat suka saat aku menggunakan pakaiannya. "Gak perlu nyari-nyarilah, Yang. Aku bakal tahu kamu ada di mana. Soalnya, kan, kamu dan aku seperti dua kutub magnet yang berbeda; saling tarik-menarik."
"Eeew," ledekku sambil mengerutkan hidung. "Tadi itu gombalan paling payah di antara koleksi gombalan-gombalan jayus kamu, tahu, gak?" Akan tetapi, diri ini tak kuasa menahan tarikan benih-benih bahagia di sudut-sudut bibir.
"Come on, Kay, cepetan! Kita gak punya banyak waktu lagi sebelum pertandingan dimulai," desak Gyan yang terdengar lebih dari sekedar gusar.
Dari awal berkenalan, memang Gyan terkesan tidak terlalu suka padaku, apalagi hubunganku dengan Kayden. Tidak tahu kenapa.
"Oke, oke, calm your ****, Man. Gak heran kenapa cewek-cewek banyak banget yang suka sama sikap sabar lo itu." Kayden menyindir anggota tim yang bisa dibilang paling dekat dengannya itu. Dia menggeleng sebelum menoleh padaku lagi. "I love you, remember that."
Aku mengangguk, berusaha meyakinkannya. "I'll try. And I love you."
Setelah mengecup keningku, Kayden melangkah mundur. "See you later, Sayang."
****
Kayden—seperti biasa—memimpin tim dengan sangat luar biasa. Kemampuannya menganalisis kemampuan lawan, mempelajari teknik dan strategi mereka, mencari jalan untuk meraih kemenangan sambil fokus menangkap bola dan mencetak angka benar-benar mencengangkan. Tak heran kenapa Coach Jordan begitu uring-uringan saat tidak melihat kehadiran pemain terbaiknya sebelum pertandingan.
Tim betul-betul bergantung padanya. Dan dia hampir saja mengecewakan sekolah dengan tidak datang. Cuma gara-gara ingin menemaniku.
Hatiku serasa diremas menyadari ini.
"Hey, lo Nikita, kan? Kapten tim pemandu sorak Rockefeller High? Lo kok gak turun, sih? Apa lo lagi cedera, ya?" Tetiba saja seorang gadis seusiaku berhenti di sampingku. Tangannya penuh dengan makanan dan minuman. Tanpa segan, dia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu mengangkat bahu sekali. "Sorry banget kalau beneran gitu. Eh, gue ke sana dulu, deh. Teman gue manggil. Bye! Cepat pulih, ya, cedera lo."
Aku hanya bisa tercengang sepeninggalnya. Well. That's pretty ... I don't know, strange? Bisa-bisanya seorang yang tidak dikenal datang, lalu dengan cueknya berkomentar seperti itu, dan kemudian pergi sesuka hatinya tanpa peduli dengan efek yang ditimbulkan?
__ADS_1
Apakah generasi sekarang sungguh sudah serusak ini?
****
Rockefeller menang telak dengan skor 42-17. Seperti yang diharapkan, lima touchdown yang dilakukan Kayden menyumbang 30 angka dari keseluruhan poin.
Dia sedang dikerubungi oleh anggota tim, para pelatih, dan pemandu sorak untuk merayakan kesuksesan itu. Biasanya, di tengah-tengah kerumunan ada aku; orang pertama yang dicarinya setelah wasit menyatakan permainan selesai. Menang atau kalah, Kayden akan berlari padaku dan mengutarakan rasa terima kasihnya melalui pertemuan bibir kami.
Menang ataupun kalah.
Except for today.
Pengamatanku tak pernah lepas sedikit jua dari Kayden sepanjang pertandingan hingga saat ini. Aku tahu bahwa dia mempunyai kemampuan yang luar biasa, akan tetapi untuk pertama kalinya aku menyadari arti sesungguhnya dari kebolehannya itu.
Untuk pertama kalinya aku memahami bahwa dia bisa menjadi lebih dari sekadar Kayden James Ford, pewaris tunggal dari Ford Investment and Securities, perusahaan raksasa di bidang investasi dan sekuritas Amerika.
Untuk pertama kalinya aku memafhumi nilai seorang Kayden di atas bentangan lapangan hijau itu. Di tengah-tengah anggota tim yang mempunyai visi dan misi yang sama dengannya; memberikan usaha terbaik yang mereka punya.
Untuk pertama kalinya mataku terbuka akan satu sisi dari Kayden yang hampir saja dia korbankan hanya untuk seorang aku. Hanya karena dia mencintaiku lebih dari apa pun, rela berkorban demi memberikan segalanya untukku, hari ini aku nyaris merenggut hal yang—walau baginya tak lebih penting, akan tetapi tetap saja krusial di dalam kehidupannya; his dream.
Dan aku hampir saja menghancurkan masa depannya.
Kalau begini, pantas Gyan tidak pernah suka padaku. Pantas saja mereka menganggap kehadiranku tidak sehat bagi mimpi-mimpi Kay.
Aku ... aku ....
Mungkin saja mereka benar.
Kutangkap lambaian tangan Kayden dari tepi lapangan beberapa meter di depan. Senyum lebarnya menampilkan deretan gigi putih bersih terawat. Akan tetapi, bukan itu yang membuat wajahnya berseri, melainkan kebahagiaan yang dia rasakan jauh dari dalam lubuk hati.
Rasanya ada yang sedang mengiris hatiku.
Aku balas melambai ke arahnya sambil meniupkan sebuah kecupan. Kuucapkan selamat melalui gerak bibir. Kayden membalasnya dengan mengucapkan I love you.
Rasanya hati ini menjadi lebih ngilu.
__ADS_1
****
Koridor yang menghubungkan stadion dan ruang ganti pemain tampak kosong, membikin bergidik. Tidak pernah sebelumnya aku melihat situasi seperti ini setelah pertandingan.
Ah, mungkin karena ini juga merupakan kali pertama aku menjadi penonton biasa, bukan bagian dari keramaian. Okay, then.
It's a hard pill to swallow, but what can I say? There's always the first time for everything.
Di ujung lorong ini terdapat sebuah siku yang mengarah ke kiri. Suara-suara mulai terdengar ketika aku mendekati belokan itu. Thank God, suasananya jadi tak seseram tadi.
"Kau hampir menghancurkan masa depanmu, Kid."
Kalimat tersebut sontak menghentikan langkahku tak jauh dari tikungan. Keseriusan yang melapisi nada suara orang itu membuatku salah tingkah. Aku baru saja mencuri dengar percakapan yang sangat pribadi. Apa yang harus aku lakukan?
"Sorry, Coach, but I'm not sorry for that."
Suara itu ....
Oh, no.
"What do you mean? Maksudmu kau rela membuang sebuah kesempatan berharga hanya karena seorang gadis? Hah!"
"Jaga cara bicara Anda, Coach. Saya tidak akan segan-segan bertindak jika Anda masih membicarakan kekasih saya dengan nada seperti itu."
"Okay, okay. I'm sorry. Tapi, Kayden, hear me out. Ini musim terakhirmu di Rockefeller. Bapak sudah mengisyaratkan bahwa para pencari talent sedang memperhatikan permainanmu sekarang. Bapak sengaja tidak memberi tahumu secara detail karena takut hal ini akan membuatmu gugup. Beberapa orang scout datang ke pertandingan tadi, kau tahu? Mereka dari universitas-universitas di Divisi-1. Kini kau bayangkan sendiri bagaimana jadinya jika kau tak jadi datang hanya karena gejolak darah mudamu, kenekatan bodohmu, dan kebutaan terhadap nafsu yang kauanggap cinta!
"Sadar, Anak Muda, sadar! Kau masih tujuh belas tahun, bukannya tiga puluh tujuh. Belum saatnya kau memikirkan pernikahan dan mendedikasikan hidupmu sepenuhnya pada seorang wanita. Kau sepatutnya sibuk mencari pengalaman, mengekplorasi dunia, have some fun. Bukannya begini. Bapak tahu Nikita adalah temanmu dari kecil, pacar dan cinta pertamamu, juga orang tua kalian mendukung kedekatan yang entah apa namanya, yada yada yada. Bapak tahu bahwa Nikita membutuhkan keberadaanmu karena dia masih berduka. Namun, bukan berarti kau boleh membiarkan itu menjadi alasan yang dapat merusak hidupmu sendiri, bukan?
"Di dalam dunia keolahragaan, Kayden, tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Saat ini adalah satu-satunya kesempatan yang akan kau dapat. Satu kali kau berbuat kesalahan, sekecil apa pun itu, boom! Kariermu bakal hancur bahkan sebelum kau sempat untuk memulai. Pikirkan baik-baik perkataan Bapak. Bapak tidak hanya menganggapmu dan teman-temanmu yang lain sebagai siswa yang Bapak latih, akan tetapi juga sebagai anak Bapak sendiri. Dan sebagai orang tua, Bapak ingin anak-anak Bapak mendapatkan semua kesempatan yang patut mereka terima.
"Ingat itu. Kredibilitasmu sebagai atlet dipertaruhkan dalam setiap keputusan yang kau ambil. Pikirkan semuanya dengan matang. Jangan sampai kau salah langkah. Bapak tahu kau tidak membutuhkan beasiswa dan orang tuamu bisa memberikan apa saja yang kau minta di dunia. Akan tetapi, sebagai seorang laki-laki, Bapak yakin kau masih punya harga diri. Dan apa yang lebih membuktikan hal itu daripada mewujudkan mimpi dengan jerih payahmu sendiri, hm? Apa yang lebih membanggakan bagi seorang laki-laki selain membangun kehidupan dari keringat, darah, dan air matanya sendiri? Camkan itu, Kayden. Bapak tak akan pernah mengulanginya lagi."
Oh. My. God
To be continued ....
__ADS_1