
"You ready?"
Kami sedang bergandengan menuju kawasan parkir sekolah. Meski sudah kutolak berkali-kali, Kayden—my perfect boyfriend, atau yang dijuluki pacar malaikatku oleh Marina—tetap kekeh ingin mengantarku ke tempat yang kupilih untuk sesi pertama belajar tambahan dengan Beckham. "Let's do this."
Jarak antara sekolah dan lokasi tujuan kami kira-kira hanya satu menit, empat menit dengan berjalan kaki. Maka dari itu, belum-belum mobil sudah berada di lapangan parkir lagi, kali ini di depan salah satu kedai kopi yang kerap kami kunjungi.
Pukul tiga lebih sedikit menjelang sore, pencinta minuman berkafein masih setia menunggu giliran untuk mendapatkan dosis harian racikan yang telah membikin candu itu. Walau tak begitu padat, tempat ini selalu sarat akan aktivitas.
Beck sudah berada di sebuah meja dengan dua kursi di pojok ruangan.
"Hi." Kusapa dia setelah jarak tak lagi begitu kentara.
"Gue bingung gimana lo bisa belajar di tempat ramai kayak begini."
Ya, memanglah aku yang memilih Starbxcks sebagai tempat belajar kami. Aku suka suasananya, kesibukan di sekitar berefek beda dengan ruangan hening dan tenang yang sekala berjaya membuatku kelimpungan. Apalagi menu-menunya. Lihat saja pilihan-pilihan yang terpampang.
Lalu kenapa? Apa salahnya memilih tempat ini jikalau di sinilah tempat yang memicu perasaan happy?
"Well, fxck to you too, Xsshole. Setidaknya lo bisa balas sapaan orang dulu sebelum mulai ngomel," geram pacar malaikatku. Kayden mencondongkan tubuhnya ke depan dengan bertelekan di kedua lengan. Kini hidung mereka hanya berjarak beberapa senti. "Dan kalau gue jadi lo, gue bakal jaga bacot gue. Karena gue gak mau berurusan sama ini lagi." Dia kemudian menaikkan tangan kanannya yang terkepal sejajar dengan muka Beck.
Bergantian cowok berkacamata itu melirik antara wajah Kayden dan tinjunya. Sehabis itu dia menggeleng dan mengembuskan napas. Diliriknya aku. "Kayaknya selain harus menyesuaikan diri sama lo, gue juga harus belajar terbiasa sama pacar lo dan sikap agresifnya ini, ya?"
What the heck? Jangan bilang kalau makhluk ini mulai cari masalah lagi. "Udah, Yang, gak usah didengerin." Aku menengahi. Kutarik tangan Kay sampai dia kembali tegak. "Apa-apaan, sih? Kita di sini buat belajar, ya, bukan mau adu jotos atau adu mulut. Lo udah janji sama gue. So, please, bisa gak kita semua bersikap sopan satu sama lain dulu? Seenggaknya sampai gue masuk tim dan semua ini berlalu."
Tak terlalu berharap pada pengertian Beckham, aku menoleh pada Kayden. "Please, Sayang. Do it for me?"
Dia serta-merta menghela napas panjang dan mengembuskannya. Aroma permen mint kesukaannya lantas menyapu wajahku, memberikan sensasi familier yang menenangkan. "Okay. Okay. Anything for you." Dia mengecup keningku. "Sorry," ucapnya asal pada Beck.
"Gue juga." Si cowok ngeselin itu membalas dengan tak kalah masa bodoh.
Setidaknya sekarang mereka berdua bisa melakukan gencatan senjata. "Thank you."
Lengan Kayden menyusup dan melingkari pinggang. "Ya udah, Yang, aku balik ke sekolah lagi kalau gitu. Nanti abis latihan aku jemput, ya." Satu kecupan lembut berlabuh di bibirku. "I love you, Sayang. Sampai nanti."
Kukepung pula tubuh hangatnya dengan lengan-lenganku. "I love you. Sampai ketemu lagi."
Sebelum beranjak dari sana, Kayden masih menyempatkan diri untuk menunjuk Beckham seolah-olah ingin menyampaikan peringatan melalui ujung jarinya.
Beck hanya menatap kekasihku dengan sebelah alis terangkat.
__ADS_1
Aku yang kali ini menggeleng tak habis pikir. Dasar laki-laki. Tak pernah bisa melewatkan kesempatan untuk unjuk gigi.
Selepas punggung Kayden tak tampak lagi dari tempatku berdiri, baru aku menarik kursi di seberang Beck dan duduk di seberangnya.
"Hi, Niki," sapanya.
Otomatis alisku mendaki dahi. "Agak telat kayaknya, ya, balas nyapa gue sekarang."
Dia mengedikkan bahu tanpa rasa bersalah. "Seru aja bikin cowok lo emosi."
Aku tidak bisa mengerem kata-kata yang keluar dari mulut. "Setan lo."
"Mungkin." Beck dengan enteng menyetujui.
Tatapanku sejenak berhenti di wajah di seberangku sebelum menggeleng-geleng. Lagi. "Oke, deh. Langsung aja. Mulai dari mana?"
"Lo udah baca buku yang gue kasih kemarin?"
Kukeluarkan buku yang disebut. "Udah. Salfok gue sama tulisan lo. Rapi banget anjir."
Sebuah gelak agak tertahan terdengar.
Beckham si jenius nan menjengkelkan mengernyit. "Kenapa lo bilang gitu?"
"Ya, buktinya gue udah baca seharian kemarin, tapi gak ada yang nempel satu pun di otak gue." Yaa, mungkin karena aku juga tidak terlalu fokus bacanya, sih. Banyak sekali gangguan dari sana dan sini. Namun, aku jelas tidak akan memberitahukan hal itu pada si Becky.
"Masa?" tanyanya terheran-heran. Jelas tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Kenapa juga gue harus bohong sama lo? Kayak gak ada kerjaan lain aja. Lagian, kan, tujuan dari pembelajaran ini adalah agar gue bisa masuk tim lagi. Jadi, gak mungkin gue main-main dan buang kesempatan, dong. Ini tahun terakhir kita sekolah, Beck. Hello. Ini peluang terakhir gue buat tunjukin siapa gue ke Rockefeller High."
"Hm." Dia bergumam.
"Dih, gue udah ceramah panjang kali lebar tanggapan dari lo cuma hm aja, gitu? Najis banget, sih, lo." Aku bohong. Dari dulu-dulu pun tidak ada kalanya di mana aku berusaha untuk menyortir ucapan-ucapan yang lahir dari bibir ini.
"Hm-mm," ulangnya lagi.
Well, siapa yang menyangka kalau itu akan cukup untuk membuatku naik darah? "Udah, deh, ah. Ham-hem, ham-hem aja. Terserah lo. Ayo, cepetan ajarin gue!"
Namun, Beck malah diam saja. Dia sibuk memandangiku dnegan mata gelapnya nan ... tajam.
__ADS_1
"Woy, Beck. Cepetan belajar!" ajakku dengan paksa. Aku tidak suka caranya menatapku.
Dia masih saja menusukku dengan tatapannya.
"Apaan, sih, ini anak? Ngapain lo ngelihatin gue kayak gitu?"
Tetap dia mempertahankan arah penglihatannya.
"Ih, Beck! Jangan aneh-aneh, deh!" Sungguh, tatapannya membuatku sangat tidak nyaman. Kuputuskan untuk beranjak dan memesan minuman. "Sinting lo. Gue mau pesan minuman dulu. Lo mau apa?"
Akhirnya dia mengakhiri aksi bungkam dengan mengutarakan ordernya. "Iced americano aja. Nih, duit gue," ungkap si Aneh sambil menyodorkan selembar Benjamin.
Tak kuindahkan kertas berwarna kebiruan tersebut. "Gue gak butuh duit lo."
Sengaja aku menunggu pesanan kami siap, berlama-lama di depan counter sembari membuang-buang waktu. Tak berani dulu rasanya untuk lekas kembali bergabung bersama cowok itu. Jujur saja, aku merasa kelewat risih menghadapi mata hitamnya yang ... dalam.
"Serius lo?" ejeknya ketika melihat minumanku.
"What?" Aku betul-betul tidak memahami dari mana nada cemoohnya berasal.
"Lo sering minum yang beginian?"
Beginian? Yang dia maksud beginian adalah salah satu penemuan terbesar abad ini? "Emang kenapa? Suka-suka gue kali."
"Dih. Pantas."
"Apa, sih, Beck? Jangan suka ngomong gak jelas, deh."
"Lo sadar sama jumlah kadar gula yang lo konsumsi cuma dengan ngabisin itu?" Dia melihat Red Velvet Frappuccino-ku dengan jijik.
"Gue pesan ini karena gue sadar gue butuh asupan gulanya, tahu! Sebagian mau dipakai otak gue buat belajar, dan sebagian lagi mau gue pake buat ngadepin lo!"
"Pernyataan lo gak ada benarnya. Kalau kebanyakan dikasih gula, yang ada otak lo bakal overdrive, txlol."
What the fxck? "Sxtan banget lo seenak jidat ngatain gue txlol!" hardikku.
"Ya, emang txlol, kan?"
To be continued ....
__ADS_1