Love Me, Please

Love Me, Please
38. Wish You Were Here


__ADS_3

Sudut mata menangkap sejumlah gerakan sebelum seorang lelaki paruh baya bertubuh seperti raksasa menahan Kayden dengan mudah dan mengunci lengannya. Sedang seorang petugas kedai berdiri agak jauh sembari mengawasi.


Kay menyentak tangan yang mengungkung. Seketika dia lepas, dia lalu mundur selangkah dan berhenti tepat di depanku.


Masih saja menjadi benteng bagiku.


"Calm down, Anak Muda. Kalau mau berkelahi bukan di sini tempatnya. Jangan ganggu pelanggan yang ingin menikmati minuman mereka! Ini tempat umum. Cari tempat lain!" Pria itu Kayden dan Beckham bergantian, memastikan kedua pemuda mengerti maksudnya.


Dom mengangguk dan segera membereskan barang-barang. Sementara Kayden masih berdiri dengan napas yang memburu.


Pun aku ikut buru-buru memasukkan buku dan peralatan menulis ke dalam tas. Pria besar dan petugas kedai masih berdiri di dekat kami. Selesai, kugenggam tangan kekasihku yang sepertinya masih dikuasai emosi. "Sorry," kataku pada mereka. Rasa bersalah dan malu karena telah menyebabkan keributan meliputi. "We're leaving."


Si Pria Besar menatapku penuh selidik. "You sure you'll be fine, Young Lady?"


Aku hanya mengangguk. "Let's go," titahku pada Kay yang terima kasih Tuhan menurut saja.


Jadilah. Sesi belajar tambahanku kembali berakhir mengenaskan.


Kay melepaskan tanganku sesampainya kami di samping mobil yang terparkir tak jauh dari kedai. "Mana tu anak sialan? Biar aku kasih dia pelajaran benaran supaya kapok!"


Kutahan gerakannya dengan meletakkan telapak di atas dada bidang Kayden. "Yanh, udah. Ini semua cuma salah paham."


Kayden sontak memandangku dengan tatapan penuh rasa tidak percaya. "Salah paham gimana? Aku lihat kamu gemetaran terus dia coba megang-megang kamu, Yang! Itu apa namanya kalau bukan kurang ajar?"


"Bukan, Yang. Kamu salah." Kupejamkan mata sedetik dua lalu kubuka perlahan seiring dengan embusan napas yang kuhela. "Aku tadi lagi ngerjain soal aja. Kamu tahu, kan, kalau aku gak bisa diam? Ya, aku goyang-goyangin tangan aku. Beck cuma nyuruh aku berhenti melakukan itu biar bisa lebih konsentrasi, kok, Yang. Dia gak ada maksud lain pas nyentuh aku. Gitu."


Kekasihku itu menatapku dengan cermat. Keningnya mengernyit kala memindai dan mencari apa saja yang bisa digunakan untuk mendukung teorinya. Akan tetapi, sayang beribu kali sayang, tak 'kan ditemui apa pun meski menggeledah luar dalam.


Aku sungguh berharap demikian.


Karena, kalau selama ini Kayden sudah memasteri ilmu membaca setiap perilaku aku, dalam setahun terakhir aku rasa aku sudah mulai menghaki seni berpretensi. Kepura-puraan yang membuat aku bisa berlayar di atas gelombang kehidupan dengan "baik" selama hampir dua belas bulan ini. "Yang, aku serius. Aku gak apa-apa. Dia gak ngapa-ngapain aku." Kutatap mata birunya tak berantara. "Kamu gak percaya, ya, sama aku?" Langsung saja kukeluarkan jurus andalan yang menjadi kelemahan Kayden.


Aku rasa semua hal yang berkaitan dengan aku merupakan kelemahan bagi dia. Atau bisa dikatakan bahwa ... aku adalah kelemahan itu.


Neraka, tunggu kedatanganku.


Benar saja, tatapannya yang semula tajam serta-merta melembut. Ditiupnya napas kuat-kuat. "You sure?"

__ADS_1


"Of course," dustaku sementara paru-paru terisi napasnya. "I'm fine, Sayang. Dan karena kamu sekarang di sini, aku merasa seratus persen fine."


Fiiiine.


"Okay, then." Kayden mengecup ubun-ubun dan membenamkanku dalam ke dalam dekapannya. Jari-jemari tangan kanannya menyusup di antara helai rambutku, telapak dengan kokoh memegangi bagian belakang kepala sedangkan tangan kirinya beristirahat di dasar punggungku. "Tapi, kamu jangan berharap aku akan minta maaf sama si Berengsek itu. Penilaian aku gak akan pernah berubah tentang dia. Sekali bangsat tetap bangsat."


Kuserap hangat dan nyaman dari tubuhnya dengan mata terpicing. "Tapi, Yang," bandingku pada dada Kay. "Kamu, kan, udah janji bakal jaga sikap? Please, jangan ada lagi kejadian kayak gini kedepannya, ya? Aku mohon, Yang. Aku pengen masuk tim lagi."


Kurasa tubuh kami bergerak bersamaan di momen dia lagi-lagi menarik napas dalam-dalam. "Okay. I'm sorry. Anything for you. I will do anything for you. I will give you anything you want."


Aku lalu mengangkat kepala dan mendaratkan sebuah kecupan di rahang tegas yang menjadi salah satu dari sekian banyaak hal yang membuat aku jatuh cinta padanya. Tampilan fisiknya yaa g sempurna hanyalah bonus. Yang benar-benar menjadi hadiah utama adalah apa yang tersimpan di balik rongga dada ini. Hatinya. Jiwanya. "Thank you. Love you." Ketika itulah ain ini melirik ke arah kedai. Dari dinding kaca terlihat pasang-pasang mata yang masih mengawasi kami.


Kurasakan badan ini ikut bergerak seiring dengan tarikan dan embusan napasnya yang dalam. Lagi. "I'm so fxcking sorry, Sayang. Aku selalu lepas kendali soal hal-hal yang berhubungan sama kamu."


Aku paham sekali dia tidak bermaksud untuk mengatakan hal itu sebagai suatu keluhan, akan tetapi apa boleh buat; diri ini menangkapnya denga cara lain. Rasa menjadi beban karena terlalu menyusahkan cowok ini terasa semakin mengental.


I'm the one who should be saying that to you, Sayang.


I'm so fxcking sorry.


****


Pesan singkat itu sudah masuk dan bersemayam di ponselku dari beberapa jam yang lalu. Kubuka, kubaca, akan tetapi kubiarkan saja kedua centang itu membiru tanpa balasan.


Apa nan hendak dikata?


Apakah aku baik-baik saja? Tidak. Namun, apa pedulinya?


Rasa-rasa itu kembali berkecamuk. Kuhabiskan perjalanan pulang kami dalam diam, berdalih kelelahan pada Kayden. Setelah sampai di rumah, kubuka kembali buku catatan pembahasan kami tadi.


Jangan pikirkan! Jangan pikirkan! Aku terus mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Dengan harapan keajaiban akan datang dan benar-benar mengalihkanku dari rasa yang tak ingin kurasai.


Lembaran pembahasan kembali terpampang di atas meja. Kujuruskan frustrasi pada angka-angka di sana. Kenapa aku masih tidak bisa mengerjakannya?


Sambil mencomeli mata pelajaran yang mulai kuyakini memang penuh kesialan, kuteliti lagi jawaban yang ditulis oleh Beckham sambil memicing. Kenapa aku tidak bisa mengerjakannya? Padahal aku pikir aku tahu bagaimana cara menyelesaikan soal ini. Kenapa bisa? Apakah otakku benar-benar sudah kacau?


Angkara seketika saja meraja. Tiba-tiba buku itu sudah melayang dan berakhir menabrak dinding sebelum jatuh ke lantai dan teronggok lusuh. "Argh!" pekikku pada ruangan yang terasa semakin sempit.

__ADS_1


No. No, no, no. Aku harus keluar dari sini!


Melesat aku ke luar dari kamar, dari rumah yang kosong lewat pintu samping sebelum menyambar kunci yang ada di gantungan. Dalam sekejap Casa de Levine sudah menjadi sebuah titik hitam hingga akhirnya menghilang dari kaca spion tengah mobilku.


Kubiarkan si Cantik membawaku ke mana pun dia mau. Sonder sadar, dengan tidak diduga-duga kami sudah berhenti di pelataran parkir yang sangat familier.


Dia tahu apa yang aku butuhkan.


"Hi, Mama," sapaku pada angin. "Niki mau istirahat di sini dulu. Boleh, ya?"


Kututup mata. Kusandarkan badan nan letih di batu yang masih hangat sebab paparan sinar matahari. Kubiarkan rasa itu menjalar dan merasuki jiwa. Agar berkurang rontanya. Agar tenang gelisahnya.


I wish you were here, Ma.


****


Getar di saku kemeja membuatku terperanjat. Seketika saja kukatalogkan keadaan sekitar. Aku masih ingat aku ada di mana. Aku masih menyimpan memori bagaimana aku bisa sampai di sini. Aku tidak kehilangan kesadaran.


Itu ... pertanda bagus, bukan? Aku rasa.


Baskara ternyata sudah begitu rendah di langit.


Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur.


Sekali lagi getaran yang membangunkanku hadir. Sudah ada beberapa pesan yang masuk rupanya.


Becky : it's okay. Jangan terlalu dipikirin. Besok kita coba lagi


Becky : giliran gue yang nyari tempat


Becky : besok gue kasih tahu


Becky : see you there


Hm.


To be continued ....

__ADS_1


__ADS_2