
Satu titis air mata jatuh tanpa permisi saat pintu ruang Wakil Kepala Sekolah tertutup di balik punggungku. Bulir itu hanya sesecah singgah di pipi sebelum meneruskan perjalanannya dan berlabuh entah di mana.
Sebuah lagi dengan kilat mengekor si pendahulu.
No, no, no. Fxck, no, Niki! You can't cry. Not here. These people cannot see your tears.
Gegas kaki ini bergerak dan menelan bulat-bulat bentangan jarak. Tergopoh-gopoh, hingga tentu saja langkahku berserak. Jalanku semakin lama semakin lajak, rasanya tak lagi kuat menahan sesak. Sehingga pada kesudahannya aku memutuskan untuk mengambil langkah seribu sebelum duka meledak dan berceceran di segala penjuru.
Persetan dengan aturan yang membilang tidak boleh berlari di sepanjang koridor sekolah.
Who cares about the rules. Who cares about classes. Who cares about some stupid cheering squad for this stupid school team. Who cares about school. Who cares about it all.
Who cares about me.
Who. The. Fxck. Cares!
Tak lagi tampak apa yang ada di samping kanan dan kiri. Tak lagi ada niatan untuk kembali ke dalam kelas dan menyelesaikan pembelajaran hari ini. Tak lagi kupeduli. Mendudu saja kaki sampai ke tempat West memarkir mobil tadi.
Kubebaskan luka dari dada di dalam kungkungan kendaraan mewah yang dengan lasuh dibeli Papa sebagai hadiah ulang tahunku yang keenam belas tahun lalu. Satu dari sekian barang yang dikiranya bisa menambal liang kosong yang ada selepas ditinggal mama.
Kumerdekakan duka yang mencabik-cabik asa, memorakporandakan isi dada. Sekali-dua kuhantam setir sambil mengumpati dunia sepenuh jiwa. Kuteriakkan rasa sakit dan kecewa yang membuncah bersama air mata.
"Fxck, fxck. Fxckfxckfxck. FXCK!"
Baru sebentar kurasa lelahnya mengemban beban emosi. Baru kemarin malam kukosongkan ruang dada dari rasa yang menyernak hati. Akan tetapi, rupanya dunia sedang hendak mempergarahkan aku. Pagi ini sudah mulai lagi dia berlagu.
And to think today will be a good day. What a big, fat fxcking liar.
"What do you want, World? What the fxck do you want from me? Gak cukupkah semua yang telah terjadi? Sampai-sampai kau masih ingin mengambil apa yang tersisa? Kalau begitu, ambil saja! Bawa segalanya! Aku sudah muak denganmu!" pekikku sembari menghantamkan tinju berulang kali pada benda berbentuk lingkaran itu.
Aku terus saja meraung hingga kulit pembalut setir mulai terasa lengket di dahi yang berpeluh. Kubiarkan lepas beberapa isak lagi sebelum mengangkat kepala dan mengusap jejak perasaan yang luruh.
Mesin mobil menyala dengan mulus.
__ADS_1
Aku dan si Cantik segera bergabung dengan pengendara lain di jalanan Sunset Boulevard yang lengang.
Sepuluh menit kemudian aku sampai di Westwood Valley Memorial Park.
Kaki secara otomatis melangkah menyusuri jirat-jirat yang berjejer rapi. Hampir semua kediaman memiliki bunga sebagai bukti kunjungan mereka yang mengasihi.
Tak lama, sampailah aku di tujuan.
Ah, di sana dia, malaikatku. Sudah menunggu kedatanganku. Seperti biasa, selalu setia menunggu.
"Hai, Mama," sapaku seraya mengecup puncak batu nisannya. "You look beautiful today, as always."
Kupandangi lamat-lamat lambang keberadaan sekaligus ketiadaannya itu. Di dalam potret yang terpasang di sana, dia tersenyum. Senyum yang sungguh mati-matian ingin aku lihat secara langsung.
Tak kuasa lagi air mata ini kubendung.
"Nikita bawain Mama bunga." Kuletakkan satu tangkai bunga matahari merah kesukaannya di atas batu. "Niki masih ingat saat Mama jelasin kenapa Mama suka banget sama bunga ini."
Kuulang lagi cerita untuk kali sekian pada angin sambil menggigit bibir yang mulai bergetar. "Mama suka bunga matahari karena mereka melambangkan sikap positif, kebahagiaan, dan kekuatan. Khusus buat yang merah, Mama memutuskan bunga matahari merah adalah yang paling Mama sukai setelah papa kasih bunga ini ke Mama pada kencan pertama kalian. Mama selalu bilang kalau Niki harus jadi seperti bunga matahari yang senantiasa tegak berdiri, berseri, dan kuat hati. Terus bertumbuh. Bahkan di hari-hari tergelapnya, bunga matahari akan selalu tegap demi menemukan cahaya."
"Tapi, sekarang rasanya sulit sekali, Ma. Sulit sekali. Niki gak kuat. Niki gak sanggup. Niki gak setegar itu, Ma."
Berderai sudah. Akhirnya aku bisa mengizinkan diri untuk betul-betul pecah.
Sedu berkejaran keluar dengan kencang, sedan menyelingi dengan tak kalah lantang. Suasana tempat pemakaman yang semula hening, damai, kini berubah ramai oleh bisingnya ratapan seorang gadis muda di depan kubur ibunya. Dia sedang mengadu tentang kejamnya dunia pada orang yang tak tinggal lagi di dunia yang dia kutuk. Pada orang yang hanya tinggal nama.
Dua puluh sembilan derajat celsius tidak berpengaruh apa-apa terhadap dinginnya hati ini. Hangat cahaya mentari tetap saja tak bisa menembus kulit yang rasanya terlanjur mati. Langit Los Angeles yang biru, tanpa ada awan yang mengganggu, tak cukup indah untuk menceriakan perasaan yang kelabu.
Maafin Niki, Ma. Maafin Niki yang sudah gagal menjadi anak yang bisa membanggakan Mama. Maafin Niki karena tidak bisa menjadi layaknya bunga matahari yang Mama kagumi. Maafin Niki, Ma.
Rasa lelah dan rendah diri menarik tubuh lebih rendah hingga akhirnya rebah. Bergelung aku di atas tanah di samping makam mama, mencoba mengelabui diri dengan berpura-pura bahwa yang sedang kusentuh adalah kulitnya. Yang sedang kugenggam adalah tangannya. Yang sedang kupeluk adalah tubuhnya.
Bukan permukaan batu keras dan dingin ini.
__ADS_1
"Ma, Niki rindu," bisikku pada tanah yang mengalasi pipi, berharap apa pun yang tersisa dari mama enam kaki di bawah sana bisa mendengar pilu hati. "Mama, Niki rindu Mama."
****
Tubuhku serasa melayang sebentar sebelum kembali bersentuhan dengan sesuatu yang keras. Namun, kali ini ada yang berbeda. Rasanya aku tak lagi seorang diri. Mungkinkah pada akhirnya aku benar-benar bisa merasakan pelukan mama?
"Ma," racauku.
Rangkulan yang mengelilingi tubuh kurasakan semakin erat. Sesuatu diucapkan, tetapi tak bisa kutangkap maknanya sebab alam bawah sadar lagi-lagi menarikku ke dalam.
Kegelapan pun melingkupi. Saat-saat berlalu hingga sesuatu membuatku mendapatkan kembali kesadaranku. Benak akhirnya bisa memproses informasi yang diperolehnya dengan benar.
"Sayang, wake up. Ini aku. Please, Sayang, please. Wake up. Come back to me. Please."
Suara itu.
Kayden.
Yang sedang memelukku.
Yang sedang menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan tubuhku, tubuh kami, ke depan dan ke belakang dengan pelan sambil terus memanggilku. "Come on, Sayang. Wake up. It's me. It's me. I love you. Come back to me."
Air mata seketika tersulut mendengar suara dan kata-katanya.
"Shh, shh. Hush, Sayang, hush. It's gonna be alright. I'm right here. Everything is going to be fine. I promise."
Kusurukkan muka ke dalam dadanya yang bidang. Berharap keras otot-otot itu bisa menular dan meneguhkan diri yang sedang dalam titik terendah.
"It's okay, Sayang, it's okay," yakinnya sambil mengelus rambutku, menciumi keningku, dan meletakkan keningnya di atas kepalaku secara bergantian.
Aku tahu semua tidak baik-baik saja. Aku tahu tak semuanya akan menjadi baik-baik saja. Akan tetapi, untuk sekarang ini, biarkan aku menambah daftar panjang aksi kepura-puraanku. Biarkan aku berpura-pura baik dulu. Setidaknya, di dalam sini, di dalam dekapan anak laki-laki yang selalu setia menemani, semuanya terasa mungkin.
Mungkin aku memang akan baik-baik saja bersamanya.
__ADS_1
To be continued ....