Love Me My Wife

Love Me My Wife
Dua tahun, masa yg kelam.


__ADS_3

Hari telah berganti, Raga terlihat sibuk dengan pekerjaannya, ia berangkat pagi-pagi sekali dan ia akan kembali pada malam hari. bahkan therapy yg di jadwalkan pun ia lewati.


"Tuan saya sudah booking hotel untuk dua hari kedepan, kita akan berangkat besok pagi pada pukul enam pagi.."lapor asisten Raga.


"Hmm, terima kasih Nathan. "jawab Raga pelan,


Biasanya Raga akan selalu bersemangat jika pulang kerumah, karena ia dapat bertemu dengan istrinya, namun karena perdebatan beberapa hari yg lalu bersama gadis membuat ia mengerti bahwa dirinya tidak lah penting bagi gadis, Raga menyadari jika dirinya sudah membebani gadis dengan adanya dirinya.


Dengan malas ia memutar kursi rodanya menuju lift yg terdapat di dalam rumahnya, kemudian ia tekan tombol tersebut, lift tersebut terhubung ke lantai tiga dimana kamarnya dan kamar gadis berada, ia raih handle pintu, sebelum ia memutar handle pintu kamarnya, Raga menarik napas terlebih dahulu. "Fiuuhh"


Gadis melihat kearah pintu yg terbuka, kemudian kembali fokus pada benda yg di genggamnya, ternyata ia belum tidur, ia nampak acuh melihat Raga yg baru kembali dengan raut wajah yg lelah.


"Kau belum tidur, "Ujar Raga.


Gadis tidak menanggapi ia terlihat fokus pada hanphone di hadapannya, ia terlihat tidak perduli dengan sapaan Raga.


Raga mendekat, "Gadis besok aku akan pergi keluar kota, ada pekerjaan mendesak yg harus aku selesaikan disana, mungkin untuk beberapa hari aku tidak pulang, "Ucap Raga memberi tahu jika dirinya akan pergi.


Gadis tersenyum masam, kemudian menaruh hanphonenya di atas nakas, "Baguslah jika kau ingin pergi, dengan begitu aku tidak akan melihatmu untuk beberapa saat, "jawab gadis tersenyum sinis.


Raga menarik napas dengan berat, begitu tidak ber artikah dirinya untuk gadis, hingga membuat gadis terlihat senang saat dirinya akan pergi untuk beberapa hari, "Ini, "Raga memberikan satu black card kepada gadis. "pakai itu untuk membeli keperluanmu, maaf aku baru memberikannya sekarang.."lanjut Raga menaruh black cardnya di atas nakas.


Gadis hanya melirik, ia tidak ada niat untuk menjawab atau bicara dengan Raga.


Raga menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, ia memandang langit-langit ruang ganti yg saat ini menjadi tempat tidurnya, lelah dan pusing menjadi satu ia rasakan hingga membuat dirinya sulit untuk memejamkan mata. karena tidak dapat memejamkan matanya akhirnya Raga kembali duduk ke atas kursi rodanya, ia memutar kursi rodanya keluar dari kamar dan hal itu tidak luput dari pandangan gadis.


Raga masuk kedalam salah satu kamar yg tidak terpakai , di dalam kamar tersebut ada sebuah piano yg sudah lama tidak ia sentuh, ia buka pentup putih yg menutupi piano tersebut, ia sentuh dengan perlahan piano tersebut, terasa berdeyut di bagian dadanya saat ia menyentuh piano tersebut.


Ia teringat, begitu banyak kenangan yg ada pada piano tersebut, dua tahun yg lalu sebelum dirinya mengalami kecelakaan, malamnya ia masih memainkan piano tersebut bersama kekasihnya, ia masih mengingat dengan jelas, jika waktu itu mereka tertawa bersama, namun pada siang harinya ia yg akan melakukan pertemuan dengan kliennya, menabrak sebuah pohon besar, niatnya menghindar dari kecelakaan, namun naas ia malah menabrak pohon besar hingga membuat mobil bagian depannya rusak parah dan itu membuat kakinya terjepit.


Dan pada hari itu juga Raga hampir kehilangan kakinya, dua tahun yg lalu awal dirinya harus kehilangan sebagian dari kehidupannya, masa depan, kekasih, bahkan sahabat yg menjauhinya, Raga masih mengingat betul kejadian-kejadian itu, jika bukan karena ibu dan ayahnya, mungkin saat ini Raga sudah depresi.


"Tuan, apa yg tuan lakukan disini? "tanya kepala maid.


Raga melirik, kemudian kembali fokus melihat pada piano yg saat ini ada dihadapannya, "Keluar aku ingin sendiri, dan jangan lupa untuk menutup pintunya, "Usir Raga, ntah kenapa tiba-tiba ia ingin memainkan piano tersebut.


"Baik tuan, "jawab kepala maid patuh.


*

__ADS_1


*


*


Perputaran waktu begitu cepat, Raga yg tertidur duduk di atas kursi roda dengan kepala bertumpu di atas piano ia terbangun pada pukul lima tiga puluh menit, "Eum, "Raga mengerjap-ngerjapkan matanya, "Astaga jam berapa ini ? "ucapnya terkejut, melihat waktu yg sudah menunjukan pukul lima tiga puluh menit pagi, dengan terburu-buru Raga memutar kursi rodanya menuju kamarnya.


"Bu Nam, tolong siapkan pakaian untuk aku pergi selama dua hari, aku akan pergi untuk beberapa hari ke luar kota, "Ujar Raga.


"Baik tuan, "Bu Nam yg menjadi kepala maid masuk kedalam kamar tuannya, ia melihat gadis yg masih tertidur, ia hanya dapat menggelengkan kepala, ia mencurigai tuan dan nyonya itu memilki masalah dalam rumah tangganya, namun ia memilih diam.


Raga dengan terburu-buru mandi, setelah selesai mandi dan mengganti pakaian ia membangunkan gadis berharap gadis menyampaikan sesuatu untuk kepergiannya. "Gadis, "Raga memanggil gadis pelan.


"Gadis, "kembali Raga memanggil gadis.


Gadis terbangun, wajah Raga yg mendekat membuat ia dapat mencium wangi mint dari napas Raga, gadis terkesiap ia terpuakau melihat ketampanan Raga, namun sekian detik ia tersadar, "Apa yg kau lakukan ? "tanya gadis dengan nada membentak. "menjauh dariku, jangan berani-berani mendekat.."lanjut gadis angkuh.


"Sorry..." Ucapnya memundurkan kursi rodanya, "Gadis aku akan berangkat sekarang, jaga dirimu baik-baik, jangan pulang terlalu malam karena itu sangat berbahaya untuk dirimu. "pesan Raga.


"Cih, jangan sok mengatur kehidupan ku, lebih baik kau urus saja dirimu yg tidak berguna itu, karena aku tidak butuh perhatian dari pria cacat tidak berguna sepertimu. "jawab gadis angkuh.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, "Raga memilih pergi, menghadapi gadis bukan dengan menaikan oktaf, namun harus menurunkan oktaf, karena jika ia ikut menaikan oktaf, maka akan terjadi pertengkaran hebat antara dirinya dan gadis, Raga terdiam di depan pintu luar kamar, melihat kebencian gadis pada dirinya, itu membuat ia merasa bersalah.


"Hmm, "jawab Raga dengan gumaman.


Raga yg biasa banyak bicara dan mengobrol terlihat diam saja, masih bingung harus berbuat apa agar gadis bisa menerimanya, "Setelah pekerjaan ini selesai, aku akan fokus dengan therapy ku, mungkin dengan aku sembuh, gadis akan menerimakku, dan dia juga tidak akan malu lagi memiliki suami seperti ku, "Ucapnya dalam hati.


*


*


*


Sesampainya di kota tujan, Raga langsung masuk kedalam hotel yg sudah di booking asistennya, ia bergegas membuka dokumen yg ia bawa, setelah itu membaca ulang dokumen-dokumen tersebut .


"Tan, apa menurutmu kita akan menyelesaikan ini dalam waktu dua hari? "tanya Raga, pada asistennya.


"Ya tuan, Saya akan pastikan, dua hari semuanya sudah selesai. "jawab Nathan serius.


"Baiklah, semua sudah saya re-check, ini kamu pegang semua, dan tolong untuk tidak minum-minuman beralkohol nanti malam, karena saya takut, saya minum terlalu banyak dengan Mr Dave, kita tidak boleh lengah, jika diantara kita berdua mabuk, itu akan menjadi masalah untuk kita, "pesan Raga.

__ADS_1


"Baik tuan, selagi menunggu rapat dimulai, sebaiknya tuan istirahat saja dulu, masih ada waktu dua jam lagi untuk kita menemui klien, "Ujar Nathan, ia khawatir pada tuannya, karena terlihat jelas jika tuannya saat ini memiliki masalah, dan di bawah matanya juga terlihat berkantong mungkin bosnya itu tidak tidur dengan baik semalam.


"Thank Nat, kamu boleh keluar "Ujar Raga tersenyum sopan.


"Baik tuan.


*


*


*


Di tempat lain gadis sedang berada di sebuah mall, ia nampak senang dengan pemberian black card yg diberikan oleh Raga, "Ternyata ada gunanya juga pria cacat itu, "Ujarnya melihat black card yg di pegangnya.


"Ok, aku akan membuatmu terkejut dengan tagihan bulan ini pria cacat, "lanjutnya tersenyum menyeringai.


"Hai Dis, "sapa jaslyne.


"Eum, lo udah sampe, ayo kita shopping hari ini, setelah itu kita ke Club, malamnya kita karoke, dan paginya let's have fun, "Ujar gadis semangat.


"Hei, lo udah gila mau senang-senang sampai pagi, bagaimana dengan suami lo,? emang lo gak takut jika dia bicara dengan om Darwin? "jaslyne terlihat keberatan dengan ajakan sahabatnya itu.


"Oh si cacat itu kebetulan sedang pergi ke luar kota, jadi tidak akan ada yg menceramahiku ketika pulang nanti, "jawab gadis senang.


"Dis, apa suami lo tidak memiliki nama? kenapa lo memanggilnya dengan sebutan seperti itu? menurut gw lo keterlaluan deh, biar bagaimana pun suami lo tidak terlihat buruk, dia cukup tampan dan manis menurut gw. "komentar jaslyne.


"Tampan dan manis ? hahaha, mata lo buta, mana ada pria cacat seperti dia manis, bagaimana lo menyimpulkan jika dia manis, bukankah lo hanya pernah sekali melihatnya dulu, itu pun tidak terlalu jelas, karena jarak lo dengannya cukup jauh.


"Gw melihatnya beberapa hari yg lalu, saat gw mengantar lo pulang mabuk, gw ketemu dia, dia terlihat cemas melihat lo pulang dengan keadaan mambuk, gw rasa dia pria yg baik.


"Tidak ada pria yg lebih baik dari Alex, "jawab gadis tersenyum mengingat pria yg ia kagumi.


"Lo gila ya, Alex itu sudah bertunangan.


"Memang kenapa? dia memang bertunangan dengan Alona, tapi dia tidak mencintai Alona, jadi cepat atau lambat dia akan meninggalkan Alona, dan saat itu aku akan datang padanya.


Jaslyne menggeleng heran, bagaimana bisa sahabatnya itu berpikir seperti itu, sedangkan dirinya saja saat ini sudah memiliki suami. "Lo juga harus ingat satu hal Dis, saat ini lo sudah memiliki suami. "ujar jaslyne mengingatkan sahabatnya.


Gadis kembali tersenyum, "Memang kenapa?

__ADS_1


__ADS_2