Love Me My Wife

Love Me My Wife
Berikan aku alasan, kenapa aku harus memaafkanmu.


__ADS_3

Tiga hari berlalu, namun gadis masih setia dengan diamnya, itu membuat Raga gusar dan tidak tenang dalam bekerja. "Nath, pesankan aku hotel untuk malam ini, aku akan tidur di hotel malam ini, "perintah Raga, sambil memijat-mijat atas batang hidungnya.


Nathan mengerutkan keningnya hingga menjadi beberapa lipatan "Pesan hotel? "ulang Nathan meyakinkan pendengarannya.


Raga melirik kesal ke arah Nathan, Nathan yg mengerti akan tatapan tuannya langsung berkata. "Maaf tuan... Saya akan pesankan sekarang untuk anda. "Ujar Nathan patuh, setelah kejadian pertengkaran dirumah sakit tiga hari yg lalu, Raga terlihat gusar dan dingin, Raga juga selalu membentak memberi ultimatum kepada seluruh kariawan yg melakukan kesalahan walau hanya sedikit, dan itu membuat Nathan kewalahan menghadapinya.


Nathan segera terfokus kepada laptopnya, ia langsung membooking satu kamar hotel untuk tuannya, namun ia berpikir apa permasalah tempo itu belum terselesaikan juga? hingga sampai sekarang tuannya itu terlihat terus uring-uringan. "Apa tuan dan nona gadis belum juga baikan? kenapa mereka membuat masalah menjadi sangat rumit, padahal inikan hanya salah paham saja, lagi pula tuan Raga tidak banyak membantu nona Mitha, tapi kenapa permasalahannya sampai sebesar ini. wanita memang merepotkan "gumam Nathan.


Pukul tujuh malam Raga baru meninggalkan kantornya, ia tidak pulang ke kediamannya, malam ini ia memilih hotel untuknya beristirahat sekaligus menenangkan pikirannya. Semampai di hotel Raga langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa membuka pakaian serta sepatunya ia langsung berbaring sambil pandang langit-langit, kembali ia teringat ketika istrinya menangis sewaktu mengetahui jika dirinya telah menemui wanita lain, "Arghhh" teriaknya frustasi.


"Ini salahku, kenapa aku yg harus menghindar, kenapa aku yg harus menenangkan diri, tidakah ini akan membuat gadis berpikir yg tidak-tidak dan -- "Raga memberhentikan gumamannya, kemudian bangun lalu mengambil kunci serta dompetnya yg berada di atas nakas, kemudian ia pergi meninggalkan hotel yg baru saja ia tempati. di dalam perjalanan Raga mengutuk dirinya sendiri, karena berusaha menghindar dari permasalahan.


Sesampainya dikediamannya Raga langsung masuk kedalam kamarnya, namun ia tidak menemukan istrinya, kemudian ia kembali keluar, ia berjalan cepat menuju dapur untuk menanyakan kepada bu Nam dimana istrinya berada. "Bu Nam, "panggil Raga.


"Tuan, selamat malam.."jawab bu Nam membungkuk sopan


"Kemana istriku? dia tidak ada didalam kamar, "tanya Raga khawatir, tanpa membalas sapaan bu Nam.


"Oh, itu nona muda sedang berada diruangan baca, tuan. nona bilang jenuh seharian didalam kamar saja, sekarang nona sedang membaca buku diruang baca. "jawab bu Nam.


"Lalu kenapa bu Nam meninggalkannya? kenapa bu Nam tidak menemaninya, "Seru Raga terlihat tak suka..


"Itu, nona muda meminta saya membuatkan jus dan camilan, saya disini membuatkan jus dan camilan untuk nona muda, "jawab bu Nam menunduk.


"Huuh" Raga membuang napas kasarnya, kemudian pergi menuju ruang baca untuk menemui istrinya.


"Sayang, "panggil Raga, "Apa yg kamu lakukan disini?


Gadis melirik kemudian kembali fokus kepada buku yg ia baca. karena merasa tak dihiraukan, Raga semakin mendekat, ia duduk bertumpu di hadapan gadis, lalu meraih tangan istrinya kemudian menggenggam erat kedua buku jemari istrinya. .


"Katakan apa yg harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku? dan bicaralah untuk hal apapun, aku lebih suka kamu berteriak, mencaci, mencemohku, dibandingkan mendiamkanku seperti ini, tolong jangan mendiamkanku, aku tidak bisa terus-terusan seperti ini, katakan sesuatu padaku, jangan mendiamkanku seperti ini. "Ujar Raga memelas kepada istrinya.


Jika harus memilih, Raga lebih memilih istrinya berteriak memarahinya, atau membentaknya dibandingkan harus didiamkan seperti ini, tiga hari sudah gadis mendiamkannya tanpa mengatakan sepatah katapun, selain dua hari yg lalu menyuruhnya untuk tidur dikamar, setelah itu, gadis tak bicara lagi kepadanya, keberadaannya hanya di anggap angin lalu oleh istrinya.

__ADS_1


Gadis menghembuskan napas kasarnya, "Berikan aku alasan kenapa aku harus memaafkanmu atau bicara padamu? "tanya gadis menatap tajam kepada Raga.


"Karena aku sangat mencintaimu.


"Alasan lain!


"Karena aku sangat mencintaimu. "jawab Raga sama.


"Aku tidak percaya dengan alasan itu, karena jika kau mencintaiku, kau tidak akan pernah membohongiku. "Seru gadis mengingat kembali saat ia melihat secara langsung suaminya menemui wanita lain.


"Sayang, aku melakukan itu semua karena aku tidak --


"Cukup ga, aku sedang tidak ingin berdebat, tolong tinggalkan aku, aku sedang tidak ingin di ganggu. "usir gadis memotong ucapan suaminya.


"Tapi say--


"Aku bilang cukup.."potong gadis kembali. Raga diam setelah mendapat ultimatum yg kesekian kalinya. ia terlihat menghembuskan napasnya dengan berat.


"Baiklah aku akan diam, tapi tolong ijinkan aku tetap disini menemanimu, aku janji tidak akan bicara atau mengganggumu. "pinta Raga.


Raga terdiam beberapa saat lalu kemudian tersenyum bodoh, "Baiklah aku akan pergi, "Ucap Raga lemah, pusing, lelah, merasa bersalah, dan tidak memiliki semangat menjadi satu, mungkin dengan pergi meninggalkan gadis lebih baik, karena kadang kesabaran ada batasnya, dan Raga berusah untuk tidak ikut emosi. hingga ia putuskan untuk pergi meninggalkan gadis. mengalah itulah hal yg baik saat ini, jika amarah di balas dengan amarah maka bukan penyelesaian yg ada malah akan menumbukan permasalahan baru.


Raga masuk kedalam kamarnya, kemudian langsung masuk kedalam kamar mandi, sepuluh menit ia sudah keluar lagi dengan setelan tidurnya, ia langsung merebahkan tubuhnya kemudian langsung terlelap.


"Bu Nam, apa tuan tadi makan sebelum masuk kedalam kamar? "tanya gadis.


"Tidak nona, tadi sewaktu tuan sampai, tuan langsung mencari nona, setelah keluar dari ruang baca, tuan langsung masuk kedalam kamar dan sampai sekarang tuan belum keluar lagi, "Jawab bu Nam.


"Hmm, baiklah, ini sudah malam bu Nam sebaiknya istirahat, karena aku juga akan pergi ke kamar, "perintah gadis.


"Baik nona, saya akan pergi istirahat setelah anda masuk kedalam kamar, "Jawab bu Nam sopan.


Sesampainya didalam kamar, gadis melihat suaminya yg sudah tertidur pulas, "Apa kau sekarang sedang melakukan aksi protes kepadaku, ga? sudah berapa malam kamu melewatkan makan, kita baru tiga hari bertengkar, tapi kau terilhat begitu tidak terawat. "gumam gadis sedih, sebenarnya ia juga tidak bisa berdiam-diaman seperti ini dengan suaminya, namun kadang rasa egois tidak mengijinkannya hanya untuk sekedar menyapa.

__ADS_1


*


*


*


Pagi hari Mitha sudah terbangun, ia membuka jendela kamarnya, angin sejuk langsung menyeruak ditubuhnya, ini yg selalu ia tunggu dan senangi, membuka jendela di pagi hari, menanti angin yg akan menghampirinya. Mitha tersenyum merasakan angin sejuk yg menghampirinya. matanya terpejam bibirnya melengkungkan senyum dengan kedua tangan direntankan kesamping ia mengambil udara sebanyak -banyaknya.


"Tok...tok.."suara ketukan pintu menghentikannya dari aktivitas menghirup udara pagi ini.


"Siapa yg bertamu sepagi ini? "gumamnya


Mitha langsung membuka pintu rumahnya tanpa mencari tahu terlebihdulu siapa yg mengetuk pintunya. matanya melebar seketika saat pintu rumahnya terbuka, ia kembali mentutup pintunya dengan cepat, namun sayang tenaganya tak sekuat pria yg saat ini sedang mendorong pintu dari depan. "Ka-kau, kau kenapa kau tahu keberadaanku? "ucap Mitha terbata, tubuhnya bergetar hebat takala tatapan tajam menyapa dirinya.


Pria itu tersenyum mengejek, "Kau pikir aku tidak tahu tentang keberadaanmu selama ini? haha, kau itu terlalu bodoh mengajaku untuk bermain-main. "ucapnya santai, lalu kemudian duduk dengan menyilangkan kakinya .


"Apa yg kau inginkan? kenapa kau selalu mengikutiku terus menerus, lepaskan aku, aku tidak ingin hidup dengan pria tak berperasan sepertimu, "Ucap Mitha dengan intonasi tinggi.


"Tentu saja aku tidak boleh melepaskanmu begitu saja, kau memiliki banyak hutang kepadaku, bahkan kedua orang tuamu harus menerima akibat dari kepergiannmu, "lanjut Michel tersenyum sinis.


"Apa yg kau lakukan kepada kedua orang tuaku? jika kau berani menyakiti mereka, kau akan tahu akibatnya, aku tidak akan melepaskanmu.


"Oh, tapi sayangnya, aku sudah melakukan sesuatu kepada kedua orang tuamu, mungkin sekarang mereka sudah menjadi gelandangan dijalanan, atau mungkin ibumu yg rakus akan uang itu sudah menjadi orang gila karena depresi tidak memiliki uang lagi, "Michel menarik bibir atasnya membentuk senyum, ia terlihat senang melihat kekhawatiran Mitha terhadap kedua orang tuanya. "atau mereka sudah mati karena kelaparan, "Michel terlihat senang dengan wajah terkejut Mitha.


"Kenapa kau lakukan ini semua pada keluargaku ? apa salah kami terhadapmu? sehingga kau melakukan itu semua terhadap keluargaku. "Ucap Mitha menangis.


"Permasalahannya sederhana, permasalahannya ada padamu, kau yg membuat mereka harus menerima semuanya, mereka hanya menerima kesalahan yg kau lakukan, aku sudah memberimu banyak kesempatan untuk kembali secara suka rela, tapi kau terus pergi, terus menjauh, terus menghindar, dan itu membuat aku kesal, "Ucap Michel dingin, wajah yg sedari tadi mengukir senyum kini berubah menjadi gelap.


"Tolong jangan sakiti atau mempersulit kedua orang tuaku, aku mohon. "Ucap gadis lirih seraya memohon.


:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::


Bersambung

__ADS_1


Aku gak akan bosen-bosen meminta dukungan kalian melalu like dan komen, dan jika berkenan memberi vote pada tulisan recehan ini. terima kasih.


__ADS_2