
Raga menarik napas dengan berat saat akan pergi meninggalkan kamarnya, lima menit yg lalu ia berdebat dengan kedua orang tuanya melalui sambungan telephone , kedua orang tuanya tidak setuju akan keputusan Raga yg akan meninggalkan gadis dirumah tanpa membawanya ikut.
Raga memutar kursi rodanya menuju kamar yg di tempati oleh gadis, ia hendak berpamitan kepada gadis, dan di dalam kamar gadis terlihat masih tidur dengan lelapnya, Raga memandang wajah gadis dengan seksama, rasanya ia tidak rela meninggalkan gadis, namun ia harus tetap pergi, memberikan waktu sendiri untuk gadis adalah pilihan yg tepat, dengan begitu gadis akan berpikir tanpa emosi.
"Aku pergi dulu, semoga dengan aku pergi itu dapat menguragi rasa bencimu padaku, jaga dirimu baik-baik, Dis, semoga ada sedikit saja perasaanmu untukku, aku tidak perduli kamu seperti apa, aku mencintaimu, seberapa kamu membenci aku itu tidak mengurangi rasa cinta aku padamu, namun jika melepaskanmu akan membuatmu bahagia, aku rela, aku akan berusaha melupakanmu.
"Jaga dirimu baik-baik, maaf aku harus pergi, terima kasih atas kesempatan yg kamu berikan untukku beberapa bulan ini, aku bahagia walau hanya melihatmu, namun tolong untuk kali ini tertidur lah dengan lelap, sekali ini ijinkan aku menyentuhmu. "Raga bicara seakan gadis dapat mendengarnya, ia bicara di tengah lelapnya gadis tertidur.
Raga menyentuh rambut, pipi, dan hidung gadis dan berhenti di bibir ranun milik gadis, "Cup, "satu kecupan berhasil ia daratkan tepat di dahi gadis.
"Deg"
Gadis yg berpura-pura tidur, merasakan jantungnya berbacu dengan cepat, ia diam semakin memejamkan matanya, kini aliran darahnya seakan berhenti, entah perasaan apa yg ia rasakan hingga saat ini, yg jelas ia rasakan saat ini terasa nyaman saat Raga menyentuh dan menciumnya.
"Tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin aku merasa senyaman ini saat dia mendekati dan menciumku, "Gumam gadis dalam hati.
Kini Raga kembali menyentuh buku jari milik gadis, "Maaf karena aku telah lancang menciummu, aku pergi dulu.."lanjutnya bicara, usai bicara ia pun pergi meninggalkan kamar gadis.
"Tuan kita berangkat sekarang, "Nathan yg sudah menunggu langsung mempersilahkan tuannya untuk masuk kedalam mobil.
Gadis mengintip Raga dari jendela kamarnya, ia tidak mengerti dengan perasaannya saat ini, rasanya ia tidak rela melihat Raga pergi, ini memang konyol, seharusnya dia bahagia karena Raga akan jauh dari pandangannya, dan itu akan membuat ia bebas dari larangan dan ocehan raga yg selalu melarangnya jika ingin pergi atau melakukan sesuatu.
Disaat gadis memandang kebawah dengan pandangan tidak lepas memandang Raga saat itu pula Raga mendongkak melihat kearah jendela yg saat ini gadis sedang berdiri. dengan gerakan cepat gadis bersembunyai tidak sengaja kakinya tersandung oleh kaki sebelah kirinya.
"Gubrakk..Aw ....ah bokongku "keluhnya memegang bokongnya yg terbentur nakas yg ada didekatnya. "Oh sial, gara-gara pria cacat itu aku menjadi seperti ini, aku seperti maling yg sedang tertangkap saja, benar-benar sial.."Umpatnya kesal. dengan memegang bokongnya ia berjalan tertatih-tatih menju tempat tidurnya.
Di halaman rumahnya Raga napak kembali menghirup udara dengan banyak, ia memiliki harapan jika gadis datang menghampirinya dan mengucapkan kata selamat tinggal, namun keinginan hanyalah keinginan. "Berangkat. "perintah Raga pada sopir yg akan mengantar dirinya dan Nathan ke bandara
"Tuan, saya akan mengurus semuanya, jika tuan tidak nyaman berada disana, saya berjanji akan mengurus semuanya dengan baik, seperti yg tuan inginkan, "Ujar Nathan, melihat tuannya yg terlihat nggan meninggalkan rumah membuatnya merasa iba, Nathan mengetahui sedikit banyaknya persoalan rumah tangga tuannya itu, karena Nathan sering ditugaskan untuk mengikuti istri tuannya.
Raga tidak merespon ia hanya melirik, kemudian kembali ke posisi semula.
"Tuan maaf jika saya lancang, tuan bukankah meninggalkan nyonya sendiri tanpa pengawasan tuan, nyonya akan semakin-- "Nathan berhenti bicara, tidak mungkin kan ia mengatakan jika nyonyanya akan semakin liar jika tuannya tidak mengawasinya langsung.
__ADS_1
"Fokus saja dengan pekerjaanmu, dia adalah istriku, tugasmu hanya melakukan pekerjaan kantor, bukan urusan pribadiku. "jawab Raga dingin.
Nathan meneguk salvianya berulang-ulang, ini mode bosnya yg dulu sebelum kecelakaan kenapa sekarang kembali lagi, "Ya ..ok tuan ini memang bukan urusanku, tapi kau selalu melibatkanku jika istrimu menghilang, aku hanya memberimu masukan, kenapa kau berubah menjadi dingin seperti itu, aku baru merasakan kehangatan padamu dua tahu, jangan kau kembali pada mode dinginmu itu.." Nathan nampak diam saat tuannya berkata dingin.
"Pak Dirman, tolong awasi istri saya selama saya tidak berada disini, pastikan bapak mengikuti kemana saja istri saya pergi, laporkan apapun yg ia lakukan setiap hari, "perintah Raga pada sopirnya.
"Baik tuan.
Nathan yg duduk di sebelah sopir hanya dapat menggelengkan kepala, ia heran pada tuannya itu, pasalnya istri tuannya itu benar-benar wanita yg kasar dan keras kepala, istri tuannya itu lebih pantas di sebut wanita yg urak-urakan, tapi anehnya tuannya itu begitu mencintainya bahkan ia selalu diam saat istrinya mengumpat habis dirinya.
"Tuan saya harap anda cepat sadar, jika wanita yg tuan nikahi itu bukanlah wanita yg baik, dia adalah wanita liar dengan sifat yg buruk, "Gumam Nathan dalam hati.
Sesampainya di bandara Raga dan Nathan langsung melakukan check-in
*
*
*
"Mah tenanglah, Raga pasti memiliki alasan untuk semua ini, jadi kita lihat saja, percayalah padanya mah.
"Percaya seperti bagaimana pah? dia itu sekarang memiliki tanggung jawab, dia memiliki istri, tapi dia meninggalkan istrinya begitu saja, dia pergi karena sejumlah uang, dia sudah punya segalanya pah, kenapa dia masih mengejar uang, apa yg harus kita katakan kepada Darwin coba.."Ujar mama Serline kesal, mama Serline marah setelah mendengar laporan dari bu Nam jika tuannya sudah pergi untuk waktu yg tidak bisa di tentukan. dan itu sontak membuat mama Serline menjadi kesal, karena pasalnya ia sudah mengatakan pada Raga, agar Raga membatalkan kepergiannya itu.
"Sudah papa akan atur tiket kepulangan kita nanti, mama tenanglah, kita akan tanyakan langsung pada gadis ada apa sebenarnya, dan kita juga akan bicara pada Darwin. "Papa Ramond mencoba menenangkan istrinya.
*
*
*
Tiga hari sudah Raga pergi, gadis yg baru terbangun dari tidurnya mencoba meraba nakasnya mencari susu yg biasa sudah tersaji di atas nakasnya, namun tiga hari ini tidak ada susu mau pun air putih di atas nakasnya, Ia bangun lalu duduk bersender di dinding kasurnya, ia melihat kearah nakas, ia seperti melihat bayangan Raga yg sedang membakan susu dan sarapan untuknya, gadis tersenyum, tak lama kemudian ia tersadar.
__ADS_1
"Oh ini gila, kenapa aku membayangkannya, tidak, ini tidak mungkin, tidak mungkin aku membayangkannya, tidak, tidak, tidak. "gadis meremas rambutnya, ia benar-benar tidak habis pikir pada dirinya sendiri, bagaimana mungkin pikirannya terus terarah kepada Raga, pria yg setiap hari ia hina dan cemoh karena keperbatasannya.
"Oh aku bisa gila jika dirumah terus menurus, aku harus keluar, ya aku butuh hiburan, aku tidak mau terus memikirkan pria cacat itu, "Lanjutnya bicara sendiri, dengan sesekali mengumpat dirinya sendiri.
Kini gadis sudah rapih dengan pakaiannya, ketika ia turun, ia terkejut karena kedua mertuanya berada di ruang tamu sedang menikmati teh buatan Bu Nam.
"Mama, "panggil gadis
"Oh sayang, kamu sudah bangun nak, "Mama Serline berdiri dan merentangakan tangannya untuk memeluk gadis.
Gadis berjalan cepat menerima pelukan ibu mertuanya, "Mah kapan mama sampai? kenapa tidak ada yg memberi tahuku jika mama dan papa akan pulang, tau begitu aku akan menjemput mama di bandara, "Ujar gadis. Setelah melepas pelukannya dari ibu mertuanya ia beralih memeluk ayah mertuanya.
"Kenapa papa dan mama tidak mengabari jika akan kembali? "gadis kembali bertanya.
"Kami khawatir kepadamu nak, mama tidak mengerti kenapa Raga meninggalkan mu, mama tidak habis pikir, dengan dirinya itu, yg memutuskan mengurus langsung proyek disana. "Jawab mama Serline.
"Tidak apa mah, Raga ingin yg terbaik untuk perusahaannya makanya dia secara langsung yg mengurusnya, aku akan mendukung semua keputusan Raga, karena aku yakin keputusan Raga adalah yg terbaik. "Ujar gadis bijak.."Cih aku benar-benar memuji pria itu, aku yakin ada yg tidak beres denganku. "Gadis berkata dalam batin.
Mama Serline tersenyum diiringi dengan membelai rambut gadis, "Mama benar-benar bersyukur memiliki menantu sepertimu sayang, terima kasih sudah mau menerima dan mengerti Raga. "Ujar mama Serline berkaca-kaca.
"Sama-sama mah, bukankah kewajiban kita sebagai istri mendukung setiap keputusan suami, "Gadis membual, seakan yg ia ucapkan adalah benar.
"Kamu benar sayang, oya kamu mau kemana sudah rapih seperti ini? "tanya mama Serline yg melihat rapih menantunya.
"Eum, i-itu aku, aku mau kerumah papa, aku pikir kalian tidak ada jadi aku berpikir untuk pergi kerumah papa Darwin. "Dustanya.
"Pergilah jika kamu ingin menemui papamu.
"Tidak mah, masa aku pergi saat kalian ada disini.
"Tidak masalah sayang, pergilah, jangan khawatir kan kami.
"Tidak mah, aku pergi karena aku jenuh tidak ada teman, sekarang ada mama, jadi aku akan tetap dirumah.
__ADS_1