
Michel masih tetap diam di kamarnya, makan yg terhenti tadi tak ada niat untuk melanjutkannya lagi, "Kenapa wanita itu semakin hari semakin membuat kepalaku pusing saja! apa tadi dia dengan lancangnya memelukku, dasar wanita tidak tahu diri, "Umpat Michel, namun seusai ia berkata demikian, ia tersenyum ntah mengapa ia mengingat kembali wajah panik Mitha saat memeluknya.
"Tapi dia sangat menggemaskan saat panik seperti itu, "Ucapnya meluncur begitu saja dari mulutnya, "Shit Apa-apaan mulutku ini, sejak kapan dia terlihat menggemaskan, Dia adalah sebaliknya, bagaimana bisa dia naik ke atas tubuhku, lihat saja karena dirinya luka ini kembali mengluarkan darah "Ucapnya meralat kembali kata-katanya tadi.
Sementara Mitha dengan terburu-buru membereskan meja makan yg Michel tinggalkan, ia ingin segera masuk kedalam kamar dan menyembunyikan wajahnya di tumpukan bantal, ia malu, benar-benar malu jika harus bertatap muka kembali bersama Michel, "Please jangan keluar, jangan keluar...aku mohon jangan keluar.."Mitha terus merapalkan doa agar Michel tidak keluar dari kamarnya.
"Tunggu! "lanjut Mitha bicara sendiri, "Aku tadi naik keatas tubuhnya, apa lukanya tidak apa-apa? "Ujarnya baru mengingat jika ada luka di perut kiri suaminya, tapi dia tidak mengeluh dengan luka sebesar itu, jika aku yg memilki luka itu, sudah pasti aku akan menangis sepanjang hari dan malam.."Mitha terus bicara sendiri hingga menyselesaikan semua pekerjaannya.
Ke esokan harinya Mitha sudah kembali berkutat didapur, hari ini ia akan membuatkan bubur untuk Michel, "Michel pasti merasakan sakit sepanjang malam, lebih baik aku membuatkan bubur untuknya. "Ucap Mitha tersenyum tulus.
"Kenapa kau sangat bodoh mengurus hal sepele saja tidak becus. "Bentak Michel pada seseorang lewat sambungan ponselnya.
"Hah..."Mitha yg sedang menyiapkan sarapan untuk Michel terkejut dengan bentakan Michel yg ntah kepada siapa. "Kenapa kesehariannya hanya marah-marah saja, apa dia tidak lelah selalu marah-marah dan berteriak-teriak.! "gumam Mitha menarik napasnya pelan.
Michel pergi ke ruang kerja, ia nampak sibuk menelephone , berhenti bicara dengan satu orang, kembali menghubungi yg lain, dan itu terlihat oleh Mitha dari ruang tengah, Michel yg marah-marah sesekali membabanting barangnya, Michel terlihat kesal dan marah seusai menutup panggilan telephone yg terakhir.
"Bagaimana aku mau menawari dia untuk sarapan, jika moodnya saja jelek seperti itu, lebih baik aku menghindar darinya, jika aku dekat-dekat dengannya yg ada aku akan menjadi sasaran kemarahannya, "Ucap Mitha pelan.
"Kau, kemari. "panggil Michel kepada Mitha.
"A-aku. "Jawab Mitha menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, memang ada siapa lagi selain kau dan aku yg berada disini? "Seru Michel kesal.
Dengan langkah ragu, Mitha berjalan kearah Michel, Mitha merasakan hawa yg berbeda saat ia semakin mendekat kepada Michel. setelah Mitha mendekat Michel menarik Mitha agar lebih mendekat, setelah mendekat Michel merengkuh kedua pundak Mitha setelah itu ia putar tubuh Mitha beberapa kali.
"Tidak terlalu buruk. "Komentar Michel pada Mitha.
Mitha mengerutkan dahinya bingung, "Buruk, maksudnya apa coba! "Gumam Mitha.
"Bersiap-siaplah, nanti pukul sebelas siang kau akan ikut bersamaku untuk menemui wanita tua yg pernah menghancurkan wahahmu, ingat jika dia menghajarmu, kau harus melawan, jika kau kalah aku akan meninggalkanmu disana, namun jika kau menang saat melawannya, aku akan memberikan hadiah apapun yg kau mau. "Ucap Michel santai.
"Hah, apa dia akan melakukan itu lagi terhadapku? dia sangat menyeramkan saat mengamuk, aku tidak mungkin mampuh menghadapi nenek sihir seperti dia, aku tidak seberani itu. "jawab Mitha bergidik ngeri dan takut membayangkan wajah marah ibu tiri dari suaminya.
"Jika begitu, kau harus siap-siap menjadi tahanannya nanti, karena jika aku meninggalkanmu, dia pasti akan membawamu, dia tidak suka pada wanita yg berani mendekatiku, dia akan menghukum, menghancurkan, bahkan membunuh wanita tersebut, jika keinginannya tidak terpenuhi. "Michel memprovokasi Mitha agar Mitha mau melawan wanita yg membuat Michel jengah.
"Kenapa ayahmu mau menikahi wanita menyeramkan seperti dia,? apa tidak ada wanita lain yg mau pada ayahmu. "komentar Mitha polos.
"Karena dunia penuh dengan tipu muslihat, ingat disana akan ada beberapa kolegan papaku, bersikaplah baik, kecuali wanita tua itu berulah, dan jika dia berulah, kau harus bisa membalas apa yg pernah dia lakukan padamu. ingat kau tidak boleh lemah di hadapan wanita tua itu, karena aku tidak ingin memiliki istri yg lemah. "jelas Michel tak ingin dibantah
__ADS_1
"Aku akan berusaha, tapi jika aku benar-benar kalah, tolong jangan tinggalkan aku, aku tidak punya siapa-siapa disini, aku hanya punya kamu saja, tolong jangan pergi meninggalkan aku. "pinta Mitha memohon.
"Akan aku pertimbangkan jika kau bersikap baik dan menurut. "Jawab Michel tersenyum samar. Michel selalu suka dengan mimik Mitha yg ketakutan
Mitha melihat wajah Michel tak sengaja ia melihat senyum samar yg di perlihatkan oleh Michel, Mitha ikut tersenyum, ini kali pertama bagi Mitha melihat Michel tersenyum walau senyumannya terlihat samar, dan Michel terlihat hangat jika tersenyum seperti itu.
"Kenapa? "tanya Michel melihat aneh kepada Mitha, karena belum ada satu menit yg lalu Mitha terlihat ketakutan, namun sekarang dia tersenyum kearahnya.
"Kau tau, kerutan di dahimu akan hilang seiringnya waktu jika kau tersenyum seperti tadi. dan kau terlihat sepuluh kalilipat lebih tampan "puji Mitha tulus
Seketika wajah Michel kembali berubah kepada mode gelap. "Kau boleh pergi. "usir Michel dinging.
"Dasar aneh, tadi memanggil sekarang mengusir. "gerutu Mitha sambil berlalu.
Michel menutup pintu ruang kerjanya, ia berjalan menuju cermin yg tersedia, ia tersenyum pada pantulan dirinya didepan kaca, ia menyentuh dahinya, kemudian mengusap pipinya dan beralih menyentuh bibirnya, namun beberapa saat ia tersadar dengan apa yg ia lakukan. "Apa yg aku lakukan, kenapa aku menanggapi ucapan wanita itu. "Ucapnya, lalu kembali fokus pada map-map yg ada di atas meja tempatnya bekerja.
*
*
*
"Saya yakin tuan, hanya satu tandatangan dari tuan Darlan, semua akan kembali pada tuan. "jawab Nathan yakin.
"Hmm, aku juga ingin cepat kembali ke jakarta, aku sudah sangat merindukan anak dan istriku. "Ujar Raga membayangkan senyuman istri dan putranya.
Satu minggu sudah Raga berada di Singapore untuk menyelesaikan kekacauan yg telah dilakukan Om-nya sendiri, bahkan masalah pengalihan sahampun sudah terdengar oleh papa Ramond. dan itu membuat papa Ramond berang, pasalnya ia sudah mewaniti-wanti agar kakanya itu tidak mengulangi kesalahan yg sama, namun apa? dia kembali mengulanginya.
Raga masuk kedalam ruangannya, ia tersenyum takala melihat figuran istri dan putranya tersenyum bahagia, "Aku sangat merindukan kalian, aku sudah tidak sabar menunggu lusa untuk bertemu kalian. "Ucap Raga mengusap foto istri dan putranya.
Pukul sembilan pagi Raga duduk dengan satu cangkir teh menemaninya ia tersenyum setelah melihat hanphonenya. "Aku sudah katakan padamu Om ku yg malang, sebaiknya kau tidak bermain-main denganku. "Ucap Raga tiba-tiba berubah menjadi dingin.
"Sialan, Apa-apaan ini, ini tidak mungkin, bagaimana bisa anak ingusan itu dapat mengelabuiku, "Ucap Om Darlan marah, ia lempar semua berkas yg tadi ia baca. "Akan ku beri dia pelajaran karena telah berani bermain-main denganku. "lanjutnya marah.
*
*
*
__ADS_1
Jakarta
Gadis nampak sedang bersantai di gazebo dekat kolam berenang, duduk di gazebo pagi hari sudah menjadi kebiasaannya setelah keberadaan Nevan, karena di pagi hari ia akan menjemur tubuh Nevan.
Setelah selesai menjemur Nevan ia membawa Nevan kembali masuk kedalam rumah. "Kenapa Raga belum menghubungiku? "gumam gadis, ia langsung meraih ponselnya dan langsung melakukan panggilan terhadap suaminya.
"Good morning sayang.. "Sapa gadis pada suaminya melalui sambungan ponselnya
"Morning sayang, maaf aku tidak menghubungimu, pekerjaanku hari ini cukup banyak, hingga tidak ada waktu untuk menghubungimu. "jawab Raga merasa bersalah.
"Tidak masalah sayang, yg penting kamu sehat disana, yasudah jika kamu sedang sibuk, hubungi aku jika pekerjaanmu sudah selesai. "Ujar gadis mencoba memberi pengertian.
"Terima kasih sayang selalu mengerti aku, aku akan menghubungimu lagi nanti, oya sayang, jaga Nevan dengan baik, dan kau juga selalu jaga kesehatan, jika aku tidak ada, jadilah wanita yang kuat untuk Nevan dan diri kamu sendiri. "pesan Raga tidak biasa.
"Apa maksudmu,? kenapa kamu berpesan seakan-akan tidak akan kembali. "Sahut gadis tidak suka akan pesan Raga.
"Sayang aku hanya--
"Hanya apa? "Potong gadis, mengulang ucapan suaminya. "hanya ingin membuat aku khawatir, cemas. "Sehut gadis, ntah mengapa gadis menjadi emosi setelah mendengar pesan Raga.
"Sayang, kenapa kamu jadi marah-marah seperti itu! aku minta maaf jika membuatmu kesal, jangan marah-marah, nanti Nevan kaget loh mendengar suara kamu. "
"Lagian kamu, berpesan seakan-akan tidak akan kembali lagi. "Ujar gadis mereda.
"Maaf jika membuatmu kesal, yasudah, aku mau meneruskan pekerjaanku dulu ya. jangan terlalu lelah. love you. "Ucap Raga mengakhiri panggilannya.
Setelah selesai bicara dengan suaminya, gadis menghampiri putranya yg sedang di gantikan pakaian oleh suster yg membantu mengurus Nevan. gadis merasa ada yg aneh pada dirinya, dan ia juga tidak mengerti ada apa dengannya.
Sore telah tiba, namun Raga belum juga menghubunginya setelah tadi pagi, hingga sekarang Raga belum juga menghubunginya, "Apa Raga sesibuk itu hingga tidak ada waktu sebentarpun untuk menghubungiku. "Gumam gadis melihat pada layar ponselnya.
Ketika ia hendak bangun dari duduknya tak sengaja ia menyenggol figuran keluarga kecilnya yg berada di atas nakas, "Prangg" figuran tersebut pecah saat jatuh. "Astaga....Deg..."Tiba-tiba perasannya tidak tenang. "Ada apa ini? kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini?
*
*
*
Hayoo jangan lupa untuk meninggalkan jejak jempolnya ya.
__ADS_1