Love Me My Wife

Love Me My Wife
Peran ibu dan istri


__ADS_3

Pagi hari gadis sudah di sibukan dengan perannya sebagai ibu dan istri. menyiapkan sarapan untuk Raga dan putranya sudah menjadi rutinitas paginya sekarang..


"Sayang, hari ini aku ingin menggunakan kemeja putih yg kamu belikan waktu itu ya.."Teriak Raga menyembulkan kepalanya di daun pintu.


"Huwaaa..."tangisan Nevan menggelegar di pagi hari, tangisan meminta di gendong oleh sang ibu..


"Aishh..."Kamu dan papamu setiap pagi seperti ini. "Omel gadis, namun tangannya meraih tubuh gembil Nevan yg sudah menarik-narik celana yg di gunakan oleh gadis.


"Anak pintar tidak menangis ok.. "Ujar gadis menghapus air mata putranya. Nevan mengangguk patuh, dengan senyuman menggemaskan.


"Sayang kemejanya mana? "kembali sang raja berteriak.


Gadis menarik napas seraya berjalan menghampiri suaminya..walau cape, dan kadang kesel juga oleh teriakan suaminya dan tangisan Nevan, namun gadis menikmatinya dengan sepenuh hati..


"Ya ampun sayang, kamu tuh bisa gak sih gak teriak-teriak.."Omel gadis, menaruh Nevan di atas kasur kemudian mengambilkan kemeja yg suaminya ingin kenakan.


"Hehehe...maaf "Ucap Raga tanpa merasa berdosa.


"Hei jagoan, apa pagi ini kamu membuat mama mu kewalahan? "Raga duduk mengajak putranya bicara.


"Pakai dulu pakaiannya, nanti baru main bersama Nevan. "Perintah gadis memberikan kemeja yg suaminya pinta tadi..


"Siap ibu negara, "jawab Raga mengecup kilas pipi istrinya.


Gadis menggelengkan kepalanya, ia merasa kesal dan juga senang menikmati perannya sebagai ibu dan istri.


"Sayang bantu aku pakaikan dasinya.."Panggil Raga kembaali dari kamar ganti.


Suaminya ini memang luar biasa, tidak ada hal tanpa meminta bantuannya. "Kau ini.."Gadis meraih dasi yg sedang di pegang suaminya lalu kemudian mengenakannya pada suaminya.


Raga tersenyum, ia menarik pinggang ramping istrinya hingga merapat pada dirinya, kemudian ia hadiahi wajah istrinya dengan ciuman bertubi-tubu.."Terima kasih. "ucapnya.


"Hmm..ayo nanti Nevan jatuh dari kasur.."Ujar gadis yg lupa sudah meninggalkan Nevan sendiri. keduanya tersenyum saat melihat Nevan yg sedang asik bermain di atas tempat tidur sendiri.


"Anak baik.."Puji Raga membelai sayang rambut putranya, Nevan hanya membalas dengan senyuman kemudian kembali fokus pada mainannya..


"Ayo kita sarapan dulu, setelah itu main sebentar.."lanjut Raga menggendong putranya, kini keluarga kecil itu berjalan menuju ruang makan, dengan tangan kiri menggendong putranya, kemudian tangan kanan menggandeng istrinya. sebuah rumah tangga yg harmonis, bahkan Raga dan gadis tidak pernah berpikir jika kehidupan rumah tangga mereka akan sebahagia dan seharmonis seperti saat ini.


*


*


*

__ADS_1


"Aku mengajakmu disini bukan untuk tebar pesona. "Ketus Michel kesal.


"Apa maksudmu! aku tidak merasa melakukan itu. "jawab Mitha tidak terima.


"Oya..lantas tadi apa? semua pria melihatmu tanpa berkedip, kau pikir itu bukan tebar pesona! "Seru Michel kesal. Pagi ini Mitha dan Michel pergi untuk olahraga pagi dengan menggunakan sepeda, namun sepanjang perjalanan semua pria nampak memandang Mitha dengan penuh antusias. bahkan para pria itu nggan mengedipkan matanya saat Mitha melewati mereka, dan dengan kekesalannya Michel rasanya ingin sekali mencokel bola mata pria yg sudah berani memandang istrinya itu. "Awas jika kau berani keluar sendiri aku akan menghukumu, "Lanjutnya ketus.


Mitha mengerutkan dahinya tanda tak mengerti " Ada apa dengannya, dia selalu marah-marah tanpa sebab. "Gumam Mitha tak mengerti


"Kenapa masih diam disitu, siapkan pakaianku "Perintah Michel mengagetkan Mitha yg sedang bermonolog.


"Astaga, kau mpengagetkanku. "Protes Mitha menyentuh bagian dadanya karena merasakan deguban yg hebat karena terkejut.


"Cih..kau pasti sedang memikirkan pria-pria tadi kan? kau pasti senang banyak pria yg memandangmu, "Kembali Michel membahas para pria yg Mitha sendiri tidak tahu dan tidak mengerti. karena Mitha tidak memperhatikan ke kanan atau pun kekiri , jadilah dia tidak tahu jika ada banyak pasang mata yg memperhatikannya.


Mitha hanya diam, ia tidak mengerti harus menjawab apa.


"Awas jika kau berani keluar lagi, apalagi menarik perhatian para pria-pria seperti tadi.."Michel kembali memberi ultimatum ancaman.


"Baiklah.."Jawabnya satu kata, dari pada panjang urusanya lebih baik katakan iya saja, agar pertikaian cepat selesai pikir Mitha.


"Michel apa kamu akan pergi melakukan pertemuan? "tanya Mitha.


"Hmm..."jawab Michel dengan gumaman.


"Sebenarnya aku ingin--


"Aku belum selesai bicara."protes Mitha.


"Aku tahu apa yg kau mau, kau ingin ijin keluar bukan? aku tidak mengijinkannya. kau hanya boleh berdiam diri hotel, jika kau berani membantah ucapankku habis kau nanti malam.."Ancam Michel dengan senyuman menyeringai.


"Hah..tapi-- "Ucapnya terhenti saat sorot mata Michel memandang dirinya. "Glek.."Mitha menelan ludahnya yg terasa pahit. "A-aku akan berdiam diri, dan menunggumu pulang. "lanjut Mitha takut.


Michel tersenyum penuh makna, "Nah..Seperti itu kau akan aman dariku. "ucapnya menyeringai. lalu pergi meninggalkan Mitha yg terlihat kesal.


"Ya...tauhan, hanya pandangannya saja membuat aku gemetar, bagaimana jika dia benar melakukan pembalasan padaku, aku pasti akan mati hanya dengan satu cekikan.."Ujar Mitha dalam hati, ia bergidik ngeri membayangkan mati hanya dengan sekali cekikan..


*


*


*


"Ada apa? "tanya Michel setelah duduk berhadapan bersama Raga.

__ADS_1


"Istriku ingin bertemu dengan istrimu, jika kau tidak keberatan, istriku mengundang kalian untuk datang ke kediamanku nanti malam. "jawab Raga.


"Aku tidak bisa. "tolak Michel.


"Kenapa ?


Michel hanya mengedikan bahu tidak ingin mengatakan alasannya.


"Chel, apa aku pernah membuat kau tersinggung hingga kau menjauh dan menghilang, bukankah kau mengatakan jika persahabatan kita bukan hanya sekedar persahabatan, melainkan kita adalah keluarga. tapi kenapa kau seperti menghindar, dan menjauh dari kami semua.."Lanjut Raga bertanya.


Michel memandang Raga, kemudian membuang pandang, "aku hanya ingin menghilangkan masa lalu dari kehidupanku, aku tidak ingin terkurung dari masa laluku yg suram. aku hanya ingin mencari kehidupan baru, dan membuka lembaran baru, kisah baru, kehidupan baru, "jawab Michel sayu.


Raga menarik napas lalu membuangnya secara perlahan, "Semua manusia memiliki masa lalu, masalalu buruk dan masalalu yg manis, kau adalah sahabat terbaik yg ku kenal, aku tahu kau bisa menghadapi semuanya dengan baik, hanya saja kau tidak mau memulai, kau menyerah sebelum memulainya. ya walau ku akui kau sekarang menjadi pria yg sukses. "Tutur Raga panjang.


Michel tersenyum masam, "Aku sudah mencoba, namun aku selalu kalah, dan kau tahu, satu keinginanku, menghancurkan ayahku. "Ujar Michel dingin.


"Aku mengerti untuk itu, tapi setidaknya kau jangan menjauh dari kami, berikan kami kesempatan untuk membantumu, kami adalah keluargamu. bukan itu yg kau katakan! "ucap Raga.


Tidak menghiraukan ucapan Raga, Michel pergi begitu saja meninggalkan Raga yg hanya dapat menarik napas.


*


*


*


Siang telah berganti malam, saat ini Michel tengah sibuk dengan laptopnya.. ia melirik Mitha yg sedang melihat siaran televisi, namun sepertinya tidak ada siaran TV yg Mitha sukai, terlihat beberapa kali ia memindahkan siaran TV bahkan Mitha berulang-ulang menarik napas dan itu tidak lepas dari perhatian Michel.


"Ganti pakaianmu, kita akan pergi ke kediaman sahabatku. "Ucap Michel tiba-tiba.


"Sahabatmu, siapa? "tanya Mitha penasaran.


"Kau ingin melihat luar atau tidak" Michel melirik sinis kepada Mitha yg banyak bertanya.


"Tentu saja mau, aku mau..aku akan mengganti pakaianku terlebih dulu, "Mitha langsung mengambil pakaian ganti yg masih berada di dalam koper kemudian membawanya masuk kedalam kamar mandi.


Merajuk, dan kesal yg Mitha perlihatkan, selalu membuat Michel tersenyum, ia menyukai semua ekpresi yg ada pada Mitha ..


*


*


*

__ADS_1


Tinggalkan jempolnya..


Bersambung


__ADS_2