Love Me My Wife

Love Me My Wife
Tidak buruk


__ADS_3

"Pah, Om Darlan--


"Papa sudah tau, "potong papa Ramond, "bahkan kecelakaan empat tahun yg lalu terjadi padamu juga dia yg melakukannya, berpura-pura lah jika kamu belum sadarkan diri, karena dia akan datang kesini untuk menjengukmu, papa tidak ingin menjemputnya sekarang, papa ingin melihat sampai mana dia bermain-main bersama kita. "lanjut papa Ramond dingin.


"Pah, Om Darlan sangat berbahaya, aku tidak mau dia sampai menyakiti kalian, "Raga diam ia teringat sesuatu, putranya, ya ia ingat dengan putranya. "Pah bagaimana keadaan Nevan? pah aku ingat betul sebelum aku dipaksa masuk kedalam mobil, Om Darlanberkata, jika Om Darlan akan menyakiti semua keluarga kita termasuk Nevan, sayang.."Raga beralih melihat gadis, "Sayang Nevan-- "Raga napak panik, ia takut terjadi sesuatu kepada putranya.


"Kamu tenang saja sayang, Nevan baik-baik saja, bu Nam yg menjaga Nevan, dan ada beberapa bodyguard juga yg telah diperintahkan papamu untuk menjaga Nevan. kamu tidak usah memikirkan yg lain, kamu cukup memikirkan tentang kesembuhanmu saja, urusan yg lain semuanya sudah papa dan Nathan handle. "Jawab mama Serline, menenangkan putranya yg terlihat khawatir.


"Benar ga apa yg mama katakan, jangan memikirkan apapun, kamu cukup memikirkan kesembuhanmu saja, dengan kamu sembuh, semua yg terjadi akan dapat selesai. "Ucap Gadis menimpali.


"Ya, istirahatlah ga, karena Darlan sebentar lagi akan datang menemuimu, kita akan beri dia pelajaran yg setimpal dengan apa yg sudah dia lakukan. "Ujar papa Ramond, rencananya papa Ramond semalam ingin menyeret adiknya dan segera membuat pelajaran pada adiknya itu, namun rencana itu ia urungkan setelah mendengar kabar jika Raga telah siuman, papa Ramond ingin menghukum adiknya itu di hadapan putranya.


"Gadis istirahatlah sejenak, beberapa hari ini kamu tidak tidur dengan benar. papa akan menjaga Raga disini, kamu kembalilah ke hotel bersama mama. "Ujar papa Ramond memerintah.


"Tapi pah, aku--


"Kamu akan menemaninya nanti, "potong papa Ramond, "kembalilah ke hotel istirahat sebentar agar kamu terlihat segar, Nevan membutuhkanmu. "lanjut papa Ramond.


"Dan bawa Nevan saat kamu kembali kesini, "Raga menimpali.


"Baiklah pah, "Jawab gadis menurut. kemudian ia beralih melihat suaminya "Sayang aku ke hotel dulu, nanti aku kembali lagi..Ujar gadis, mengusap lembut pipi Raga


"Eum, "Raga mengangguk.."Hati-hati. "lanjutnya.


"Iya, ayo mah.."Ajak gadis.


Pukul sebelas siang benar saja Om Darlan datang untuk melihat Raga, ia bukan datang untuk menjenguk, melainkan datang untuk memastikan, memastikan jika keponakannya itu tidak akan bangun lagi.


"Kau datang Darlan. "Ucap papa Ramond mengejutkan.


"Kak Ramond, "Ujar Om Darlan terkejut.


"Nampaknya kau sangat terkejut melihatku. apa kau tidak merindukanku? "Papa Ramond nampak santai saat bicara kepada adiknya.


"Tentu saja aku sangat merindukanmu, kak "Jawab Om Darlan tersenyum paksa.


"Jika kau merindukanku, kenapa kau tidak pernah datang menemuiku? dan aku dengar sekarang kau sudah mempunyai saham yg cukup besar di perusahaan Raga, apa itu benar?


"Ya itu benar.


"Kau sangat hebat, dalam waktu dua tahun kau sudah mendapat pencapaian seperti itu, bagaimana caranya? kau membeli atau merampas. "Sindir papa Ramond.

__ADS_1


"Apa maksud dari perkataanmu? "Om Darlan nampak tak terima akan ucapan kakaknya.


"Kau tau Darlan, segala sesuatu yg datang dari sebuah rampasan dari orang lain, itu hasilnya tidak maksimal, karena hak orang lain akan kembali kepada pemiliknya...jadi biasakan memiliki sesuatu dari hasil kerja keras sendiri. "Sindir keras papa Ramond.


"Aku tidak mengerti apa yg kau katakan, tapi satu hal yg harus kau mengerti, manusia serakah sepertimu, tidak akan hidup tenang dalam kehidupan, lihat putramu begitu malang, dia selalu menjadi korban kecelakaan, itu semua karma darimu, karena dirimu selalu serakah. "Seru Om Darlan membalas sindiran papa Ramond.


"Kau sungguh tidak tahu diri, Darlan. aku serakah pada milikku sendiri, dan didalam keserakahanku, tidak ada sedikitpun milik orang lain yg aku rampas, aku bukan kau, yg selalu serakah ingin memilki sesuatu yg bukan milik sendiri. "Jawab papa Ramond sudah mulai tidak bisa menahan diri.


Kedua pria yg memiliki wajah hampir mirip itu saling menatap sengit.


"Kenapa kau memandangku seoerti itu? "tanya Om Darlan tak terima.


"Karena aku sangat membenci wajahmu, terkadang aku benci kepada tuhan, mengapa aku diberikan wajah yg begitu mirip dengan penjahat sepertimu. bahkan aku terkadang membenci wajahku sendiri. "Seru papa Ramond.


Om Darlan tersenyum sinis, "kau pikir aku mau memiliki wajah sepertimu, bahkan aku lebih membencinya. "Ujarnya sinis.


Papa Ramond melangkahkan kakinya mendekat pada adiknya, amarah yg tadi menggembu-gebu seakan hilang saat melihat iris wajah adiknya, "Darlan berapa kali aku memberimu kesempatan, tapi kenapa kau selalu menghianatiku terus menerus! apa tidak sedikitpun kau merasakan kepedulianku terhadapmu selama ini? kenapa kau selalu mengabaikan kata-kataku?


Om Darlan melirik sinis kepada kakaknya, "Karena aku membencimu. karena kau selalu menjadi pusat perhatian, karena kau selalu menjadi nomor satu, karena kau selalu mendapat perhatian lebih dari ibu dan ayah, dan karenamu, ayah dan ibu selalu abai terhadapku, itu semua karena kau yg pandai bersandiwara, karena kau, aku selalu mendapat hinaan dari semua orang, itu semua karena kau. aku bersumpah, aku akan membuat hidupmu, putramu bahkan cucumu menderita, aku akan membuat mereka semua merasakan bagaimana rasanya di acuhkan oleh semua orang, aku akan melakukan itu kepada seluruh keluargamu.


"Aku tidak akan mengijinkan itu Om, luka yg aku alami sekarang adalah luka terakhirku, karena aku akan mengembalikan luka ini padamu "Raga bangun dari berpura-pura tidur, ia tidak dapat menahan diri setelah mendengar Om-nya itu mengatakan akan menyakiti seluruh keluarga papanya termasuk cucu, yaitu Nevan putranya.


"Ra-Raga..."Ucap Om Darlan terkejut.


Om Darlan melangkah mudur, untuk pertama kalinya ia melihat keponakannya yg selalu terlihat diam dan tersenyum, kali ini benar-benar berubah terlihat sangat marah.


"Bahkan aku tidak mendengarkan kata-kata papaku, jika kau orang yg berengsek dan tidak tahu diri. aku tetap membantumu, aku tetap menghargaimu. namun apa, kau menghianatiku, bahkan kau ingin melenyapkan nyawaku, aku akan membuatmu merasakan apa yg aku rasakan "Raga terlihat dingin dan serius, bola matanya menatap tajam pada Om-nya.


"A-apa yg kau katakan Raga? "Ucap Om Darlan terlihat takut.


*


*


*


Sementara ditempat lain, Michel terlihat sibuk membuat bubur dengan bantuan tutorial yg berada di hanphonenya. "Ternyata sesulit ini membuat makanan , "keluhnya melempar spatula yg ia pegang, kemudian ia duduk frustrasi.


"Michel.. "panggil Mitha.


Michel menoleh "Hei apa yg kau lakukan disitu? kenapa kau tidak istirahat saja, kembalilah istirahat, aku akan memesankan makanan untukmu. "Michel memerintah Mitha agar kembali masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Aku lapar, aku mencium bau masakan, apa kau membuat sesuatu ? "tanya Mitha ragu-ragu.


"Tidak.."Dusta Michel.


"Eum, mungkin penciumanku tidak benar, "Ujar Mitha, lalu kemudian ia melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Kau, mau kemana? "Ujar Raga mencegah Mitha yg hendak ke dapur.


"Aku ingin mengambil air minum. "jawab Mitha mengerutkan dahinya.


"Kau masih sakit, kau tidur saja, aku akan membawakannya nanti untukmu, sekarang kau kembalilah ke kamar. "perintah Michel.


"Tapi aku-- "Tak sengaja ekor mata Mitha melihat panci kecil berisikan makanan yg masih mengepulkan asap. "Itu apa? "tunjuk Mitha pada panci yg masih ada di atas kompor.


"I-itu....itu--


Tidak menunggu jawaban dari Michel, Mitha berjalan cepat dengan kaki sedikit di seret, ia melihat dapur yg berantakan, dengan sebuah bubur di atas kompor. "Kau yg membuat bubur ini? "tanya Mitha menunjuk bubur yg terlihat berantakan.."Tapi sepertinya enak. "lanjut Mitha berbinar.


"Tidak...jangan, "Michel menghentikan langkah Mitha. "bubur itu rasanya sangat buruk, sebenarnya aku ingin membuatkanmu bubur untukmu sarapan, tapi aku tidak bisa membuatnya, karena aku tidak pernah membuatnya sebelumnya. "Ujar Michel dengan menghembuskan napasnya dengan berat.


Mitha tersenyum, pria yg berada dihadapannya saat ini terlihat berbeda, suaminya yg selalu dingin dan kasar, sekarang telah banyak berubah. dan itu membuat Mitha merasakan ada kenyamanan saat berada dekat dengannya.


"Bubur ini tidak terlihat buruk, hanya saja dapurnya yg terlihat berantakan, aku ingin memakan bubur buatanmu.."Mitha langsung mengambil mangkuk.


"Tidak...rasa bubur itu rasanya sangat buruk, "Cegah Michel mengambil mangkuk yg di pegang oleh Mitha.


"Ish, kau itu sangat pelit, "Seru Mitha kesal.


"Sakitmu akan semakin parah jika memakan bubur ini. "jawab Michel.


"Memang bubur yg kau buat menggunakan racun, sehingga akan membuat aku semakin sakit "Ucap Mitha merebut kembali mangkuk yg tadi Michel ambil darinya.


"Kau sangat keras kepala, "Michel tampak kesal saat mangkuk yg berada di tangannya direbut kembali oleh Mitha.


Mitha tidak perduli dengan kekesalan Michel ia menuangkan bubur kedalam mangkuknya, setelah itu membawa kemeja makan lalu memakannya. Mitha mengunyah pelan merasakan rasanya. "Enak. "Pujinya mengomentari bubur buatan suaminya.


Michel yg tidak yakin mengerutkan dahinya, tanda tak percaya, ia mendekat memperhatikan ekpresi wajah Mitha. "Jangan dimakan jika tidak enak. "Ujar Michel.


"Bubur ini enak, hanya saja kelebihan garam, "jawab Mitha tersenyum tulus.


Michel merebut sendok yg di pegang Mitha, kemudian menyuampkan kedalam mulutnya, "Oek-oek..uhuk-uhuk....Jangan dimakan, buang bubur itu! "Ucap Michel menjauhkan mangkuk dari hadapan Mitha. "Apa kau gila, apa lidahmu sudah tidak dapat membedakan makanan yg buruk dan makanan yg enak, kau bisa mati memakan makanan asin seperti ini. masuklah kedalam kamar, aku akan memesankan makanan untukmu. "Perintah Michel kesal.

__ADS_1


"Bubur itu tidak buruk, aku menyukainya, dan ini pertama kalinya kau membuatkannya untukku, jadi aku tidak boleh melewatkan hal yg tidak pernah kau lakukan sebelumnya, berikan bubur itu padaku, aku akan menghabiskannya. "Pinta Mitha memaksa.


"Jangan gila. "Michel menoyor kening Mitha dengan perasaan kesal.


__ADS_2