
Waktu berjalan cepat, hari pun telah berganti, gadis dan Raga sudah mulai terbiasa satu sama lain, dan mama Serline yg melihat kedekatan putra dan menantunya begitu senang.
Suara panggilan, masuk kedalam ponsel milik mama Serline, "Ya Farhan.. "jawab mama Serline.
"Maaf menganggu waktu anda nyonya, Nyonya tuan Ramond semalam jatuh pingsan, saat ini tuan sedang berada di rumah sakit,
"Apa? apa yg terjadi pada suamiku, "Teriak mama Serline khawatir.
...Gadis dan Raga yg mendengar mama Serline berteriak langsung bangun, Raga yg sedang duduk di sofa dan gadis yg sedang tiduran di atas tempat tidur, langsung bangkit dari posisi mereka masing-masing,...
"Ada apa dengan mama? "tanya gadis pada Raga.
"Ntahlah, mari kita hampiri mama, "jawab Raga khawatir.
Raga berjalan tanpa menggunakan kursi roda, sedangkan gadis mengekori Raga dari belakang, tanpa menyadari jika saat ini Raga berjalan tanpa menggunakan kursi roda.
"Mah...mah ada apa? "tanya Raga khawatir.
"Raga? "Bukan menjawab mama Serline malah di buat terkejut oleh menampakan Raga yg tidak menggunakan kursi roda.. "Sayang apa ini nyata? "mama Serline mendekat lalu memegang kedua bahu putranya.
Raga dan gadis yg bingung akan ucapan mama Serline saling memandang bingung.
"Sayang, ka-kamu, kamu sudah dapat berjalan ? "lanjut mama Serline berkaca-kaca.
Gadis langsung melihat pada Raga dan benar saja saat ia melihat Raga tanpa menggunakan kursi roda. gadis memandang Raga dengan tatapan tak percaya.
Raga langsung melebarkan senyum bahagia, "A-aku, mah, aku sudah dapat berjalan, "Raga langsung memeluk ibunya, kemudian bergantian memeluk istrinya,
Gadis terperanga saat Raga tiba-tiba memeluknya, ia mematung antara bahagian dan terkejut. "Aku senang melihat kau sudah dapat berjalan "Tutur gadis pelan.
Raga melepaskan pelukannya lalu memandang gadis dengan seksama, tidak ada penolakan dari gadis membuat ia semakin bahagia. "Terima kasih. "Balas Raga.
Mama Serline tersenyum, kemudian ia kembali teringat akan ucapan asisten suaminya tadi, bahwa saat ini suaminya sedang berada di rumah sakit. "Sayang mama harus segera kembali ke kanada, papa kamu tadi pingsan dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit. "Ujar mama Serline kembali panik.
"Apa, papa masuk rumah sakit ? terus bagaimana keadaannya sekarang mah? "tanya Raga ikut khawatir.
"Mama juga tidak tahu, sekarang kamu hubungi Nathan, katakan padanya pesankan mama tiket pesawat untuk penerbangan yg paling cepat. "Mama memerintah Raga.
"Aku akan ikut bersama mama, sekarang mama tenang ya, gadis tolong temani mama dulu, aku ingin menghubungi Nathan sebentar "pinta Raga.
"Raga, mama akan berangkat sendiri, kamu tetaplah disini bersama gadis. mama akan memberimu kabar setelah sampai disana nanti.
"Tapi mah--
"Kamu tidak perlu khawatir, papamu hanya pingsan mungkin papamu hanya kelelahan, kamu tahu betul, papamu sama persis denganmu, dia selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja dan bekerja, kamu ajaklah gadis untuk pergi jalan-jalan selama berada disini, gadis pasti membutuhkan waktu denganmu, dan dia juga butuh liburan, karena selama di Jakarta gadis hanya menemani mama sepanjang hari. "
"Aku tidak tenang mah, jika tidak melihat papa langsung, aku khawatir.. "Ujar Raga khawatir.
"Percaya kepada mama, semuanya akan baik-baik saja,
Raga menarik napas dengan berat, kemudian membuangnya secara perlahan, "Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi Nathan dulu.
*
__ADS_1
*
*
Pukul enam pagi mama Serline sudah berada di bandara, Raga dan gadis ikut mengantar mama Serline sampai bandara.
"Jaga diri kalian baik-baik, dan dengarkan mama baik-baik, jika kalian ada masalah bicarakanlah, jangan menghindar satu sama lain, jika kalian menghindar dari masalah, maka permasalahan akan semakin rumit dan besar.....sayang, "Mama Serline menggengam tangan gadis, "mama mengerti dengan keadaan kalian berdua, kalian bersama tanpa menganal satu sama lain sebelumnya, namun mama berharap kalian dapat bersatu, memberi pengertian pada pasangan satu sama lain akan membangun rumah tangga yg bahagia, bicaralah jika ada yg perlu di bicarakan, katakan keluhanmu jika memang ada yg membuatmu tidak nyaman.
"Dan kamu juga Raga, "mama Serline beralih melihat kepada Raga "kamu adalah kepala keluarga, tidak semestinya kamu menghindar dari permasalahan, anak mama bukan lah pria pengecut, jadilah pria yg bertanggung jawab. sayangi gadis seperti kamu menyayangi mama. "lanjut mama Serline.
Raga menghela napas, "Maafkan aku mah, aku tidak ada maksud untuk menghindar, aku hanya --
"Bukan kepada mama, tapi kepada gadis, dia adalah istri yg kamu tinggalkan tanpa kabar, mama tidak ingin mendengar hal seperti ini lagi, kamu mengerti ! "Seru mama Serline.
Raga meraih pundak ibunya lalu memeluknya, "Aku berjanji demi mama, aku tidak akan melakukan hal seperti ini lagi, kabari aku jika sudah sampai disana , berhati-hatilah saat di perjalanan. "Ujar Raga, lalu melepaskan pelukannya dari sang ibu.
"Baiklah mama berangkat dulu, jaga diri kalian baik-baik, berikan mama cucu secepatnya. "setelah mengatakan hal yg ingin ia katakan mama Serline pun pergi meninggalkan Raga dan gadis.
*
*
*
"Kita mampir ke lestoran dulu ya, "Ujar Raga di tengah keheningan.
"Hmm.."jawab gadis tanpa mengubah posisinya yg setia memandang keluar melalui jendela kendaraan yg mereka tumpangi.
"Aku minta maaf untuk kesalahan yg aku lakukan, "lanjut Raga.
Sesampainya di restoran Raga dan gadis langsung memesan makanan yg mereka inginkan, setelah lima belas menit makanan yg mereka pesan sudah sampai.
"Gadis apa kamu tidak keberatan jika setelah ini kita pergi ke rumah sakit dulu, sebenarnya hari ini aku ada janji bersama dokter therapy. "Ijin Raga.
"Hmm. "dan lagi-lagi gadis hanya menjawab dengan gumaman.
"Jika kamu keberatan, sopir akan mengantar mu pulang terlebih dahulu, biar aku pergi naik taxi. "lanjut Raga tidak ingin membuat gadis merasa kesal atau tidak nyaman.
Gadis menyimpan sendoknya lalu memandang Raga dengan tatapan kesal, "Aku akan ikut mengantarmu, jadi sekarang berhenti bicara, karena suaramu sangat mengganggu ku, dari tadi kau bicara terus hingga membuat selera makanku hilang, "Sahut gadis mengomentari Raga yg sedari tadi bicara.
"Maaf jika membuatmu kehilangan selera makan, silahkan teruskan. "jawab Raga selalu mengalah.
Empat puluh menit Raga dan gadis baru menyelesaikan makanya, setelah menghabiskan makannya mereka pun langsung pergi meninggalkan restoran tersebut.
Kini mereka sudah sampai di depan rumah sakit dimana Raga akan melakukan therapy. "Duduklah disini aku akan menemui dokternya sebentar. "Ujar Raga memerintah gadis.
Gadis tak menjawab namun ia menurut dengan apa yg di katakan oleh Raga.
"Tuan Raga ? "dokter therapy yg menangani Raga terkejut dengan penampakan Raga yg tanpa menggunakan kursi roda.
Raga tersenyum melihat reaksi yg dokter perlihatkan.
Dokter menggeleng seraya mendekat, "Jadi, sejak kapan rasa ngilu yg anda rasakan menghilang? "tanya dokter "duduklah, "lanjutnya seraya menyentuh kaki Raga.
__ADS_1
"Semalam dok, bahkan saya tidak menyadari jika saya berjalan tanpa bantuan apapun.
"Oh itu sangat bagus tuan, ya.. saat ini anda sudah benar-benar sembuh, selamat tuan,
Tidak ada penyakit yang lebih kuat dari cinta, lebih besar dari hidup, dan lebih lama dari keyakinan tuan, sabar adalah kunci kesembuhan, Sulit dipercaya bahwa anda menggunakan waktu sebanyak ini untuk pulih. tapi janji tuhan itu nyata, jika anda percaya pada tuhan dan cinta, maka yg harus terjadi akan terjadi. "tutur dokter ikut bahagia akan kesembuhan pasiennya.
"Terima kasih dok.
"Sama-sama tuan, kembalilah lagi minggu depan.
"Baik dok sekali lagi terima kasih. "Ucap Raga.
Gadis menunggu di depan ruangan yg saat ini di gunakan untuk therapy Raga, ia terlihat sabar menunggu tanpa mengomel, atau mengeluh, tidak lama Raga keluar dari ruangan tersebut dengan senyuman bahagianya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama, "Ujar Raga setelah keluar dari ruangan perawatan.
"Hmm, "jawab gadis seperti biasa dengan gumaman.
"Mau mampir kesebuah tempat dahulu? "lanjut Raga bertanya.
Gadis melirik, setelah itu membuang napasnya dengan kasar , "Tidak, "jawabnya pendek. ia merasa tidak nyaman saat harus berdekatan atau menatap wajah Raga, karena setiap ia berdekatan atau memandang wajah Raga, ia akan merasakan ada yg aneh pada dirinya.
"Pulang saja, aku ingin istirahat "lanjutnya acuh.
*
*
*
Setelah sampai gadis langsung masuk kedalam kamar, sedangkan Raga duduk diruang keluarga, setelah duduk merenung beberapa saat, Raga mengetuk pintuk kamar, ia akan bicara pada gadis tentang pernikahan mereka.
"Gadis ada yg ingin aku bicarakan denganmu, "Ujar Raga duduk di tepi tempat tidur yg dimana saat ini gadis sedang tertidur.
Gadis tak berbalik atau menjawab, namun ia mendengarkan perkataan Raga.
"Apa kamu belum bisa menerimaku? gadis aku sudah berusaha menjadi seperti yg kamu mau, sekarang aku sudah dapat berjalan, apa kamu masih belum bisa menerimaku? "tanyanya memelas
Gadis masih bertahan dengan diamnya.
"Jika memang kamu masih belum bisa menerimaku, aku tidak akan pernah memaksamu lagi, aku akan memberimu kebebasan seperti yg kamu inginkan dulu, aku tidak ingin membuat dirimu lebih tertekan lagi hidup bersama denganku, aku ingin melihatmu bahagia, maka katakan padaku apa yg harus aku lakukan, agar kamu bahagia? "Tutur Raga.
Gadis yg tidur membelakangi Raga nampak menggerutu kesal. "Dasar pria tidak peka, kau pikir untuk apa aku datang kesini, jika bukan untuk memberbaiki semuanya. otakmu memang sangat lamban, "gadis menggerut seraya mengumpat akan ke pekaan suaminya.
Setelah puas mengumpat dan menggertu, gadis berbalik melihat Raga yg masih setia berada di posisinya. "Kenapa kau bertanya hal ini dengan berulang-ulang? oh aku tahu, itu karena kau sekarang sudah sembuh kan, jadi kau berpikir mudah untuk mencari wanita lain yg lebih cantik, lebih sempurna dariku. begitu, kan? "ucapnya berdalih, gadis adalah gadis yg tetap keras kepala, bahkan untuk mengakui perasaannya saja ia sulit karena egonya yg besar.
"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya--
"Semua Pria memang pandai kilah. "potong gadis ketus.
"Tidak Dis, aku--"dengan gerakan spontan Raga meraih buku jemari gadis
" Deg"
__ADS_1
Kembali gadis merasakan gemuruh di dadanya. "Apa yg kau lakukan, "Ucap gadis menepis tangan Raga.