
Raga menghela napas setelah keluar dari kamarnya. gadis memang banyak berubah dalam beberapa hal, namun bicara dengannya masih sama seperti dulu. setelah banyak berpikir Raga pun merasa pusing, ia pun tidur di kamar yg semalam di gunakan oleh ibunya.
Gadis keluar dari kamarnya, apartemen yg kini ia tempati begitu sunyi, tidak terdengar suara apa pun di dalam apartemen tersebut, hingga membuat gadis melihat ke semua sudut untuk menemukan Raga. "Kemana dia pergi? kenapa tidak terdengar suaranya, "Gumam gadis, sambil berjalan menuju dapur.
"Apa dia marah padaku, karena ucapanku tadi? "lanjutnya bergumam, setelah memutari isi apartemen dan tidak menemukan suaminya, gadis berjalan kembali hendak masuk kedalam kamarnya, namun tak sengaja ia melihat pintu kamar yg di tempati ibu mertuanya tadi malam terbuka sedikit. gadis berjalan untuk melihatnya,
"Jadi dia tidur disini, dasar pria tidak peka, tidak bisakah kau mengerti dengan ucapanku, "gumamnya kesal.
Sesudah menemukan suaminya, gadis pun kembali ke dalam kamarnya, didalam kamar ia nampak merenung, dalam hatinya ia ingin sekali berkata maaf dan ingin memberbaiki semuanya , namun egonya yg besar seakan tidak mengijinkan ia untuk berucap hal demikian.
Sore harinya Raga sudah rapih, ia keluar dari kamar dengan rambut masih terlihat basah. "Gadis kamu ingin makan apa malam ini? biar aku pesankan. "tawar Raga.
"Aku akan memasak, kau akan makan dirumah bukan? "jawab gadis.
"Kamu mau memasak? "ulang Raga kurang yakin.
"Ya, memangnya kenapa,? masakanku tidak buruk, aku sudah banyak belajar dari mama Serline, jadi kau duduk saja tunggu aku selesai memasak, "Ujar gadis percaya diri.
"Hmm, dengan senang hati, "jawab Raga sambil duduk di bangku yg tak jauh dari dapur.
Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit, gadis pun menyelesaikan masaknya kemudian menghidangkan hasil masakannya di hadapan Raga yg sudah menunggu. "Ayo makan, "seru gadis
Dengan perlahan Raga memasukan makanan kedalam mulutnya, ia mengunyah secara perlahan, setelah terasa enak ia pun dengan cepat mengunya seraya mengulas senyum. "Wah masakanmu sangat lezat, masakanmu persis seperti masakan mama, terima kasih dis, "Ucap Raga antusias melahap makanan yg ada dihadapannya.
Gadis menarik bibir atasnya membentuk senyum samar, namun kemudian kembali pada wajah angkuhnya,
Seusai menyelesaikan makannya, Raga berijin untuk keruang kerjanya, ia mempunyai banyak pekerjaan saat ini karena ia tidak berangkat ke kantor hari ini.
"Kamu istirahat saja dulu, aku akan mengerjakan pekerjaan yg tertinggal sebentar. "Ujar Raga.
"Hmm.. "jawab gadis acuh.
Waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, namun Raga tidak kunjung masuk kedalam kamar, dan itu membuat gadis tidak dapat memejamkan matanya. "Kemana lagi dia pergi ? kenapa dia belum juga tidur jam segini? "gumam gadis terus memandangi pintu kamarnya, menunggu Raga yg tak kunjung masuk kedalam kamar.
Karena tak sabaran gadis pun keluar dari kamarnya, ia berjalan nenuju ruang kerja, namun seluruh ruangan sudah terlihat gelap. "jadi kemana dia? "kembali gadis bergumam.
__ADS_1
Gadis beralih memandang pintu kamar yg tadi siang Raga pakai untuk istirahat, ia pun mendekat, sesaat ia ragu untuk mengetuk pintu, namun beberapa detik kemudian ia pun memaksakan diri mengetuk pintu tersebut, satu kali, dua kali, hingga tiga kali, tidak ada jawaban dari dalam sana, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut secara perlahan,
Setelah pintu terbuka, gadis mendapati suaminya yg sudah tertidur dengan pulasnya, "Oh, sialan. aku menunggunya seperti orang gila, ternyata dia sudah tidur dengan nyenyaknya disini, dasar pria menyebalkan, "umpatnya kesal.
Dengan kesal ia membanting pintu kamar tersebut, hingga membuat suara yg keras, dan itu berhasil membangunkan Raga.
"Hah, ada apa? "ucap Raga kaget, "Aku yakin itu suara pintu, tapi pintu ini terlihat sama seperti sebelumnya , "lanjutnya pelan, Raga yg terbangun, keluar dari kamarnya, ia mencoba masuk kedalam kamarnya yg saat ini digunakan oleh gadis.
Raga mengetuk pintu kamar tersebut sebanyak dua kali, karena tidak dapat sahutan dari dalam, ia pun masuk, mendapati gadis yg masih membuka matanya dengan rawut wajah kesal, "Kamu belum tidur, kenapa ? "tanya Raga mendekat
Gadis nampak acuh, ia begitu kesal saat ini kepada Raga, dan itu menjadikannya terlihat sangat angkuh.
"Dis ada apa denganmu ? kenapa kamu terlihat begitu kesal, apa yg membuatmu menjadi kesal? "lanjut Raga bertanya.
Gadis memandang Raga dengan tatapan yg tak biasa, setelah itu mendekat pada Raga, "kenapa? apa sekarang kau merasa sudah menjadi pria sempurna, sehingga tidak ingin mendekatiku lagi, oh atau kau ingin membuat masalah agar disaat kita mengakhiri pernikahan ini, semua permasalahan ada padaku, dan kau tidak disalahkan, begitu kan. "seru gadis menggebu-gebu.
Raga mengerutkan dahi, ia bingung dengan apa yg disampaikan gadis padanya, "Gadis bicara yg jelas, aku tidak mengerti dengan apa yg kau katakan, aku--
"Tidak mengerti ? "gadis tersenyum masam, "kau hanya pura-pura tidak mengerti biar kau tidak disalahkan. "Ucap gadis kesal.
Gadis nampak diam, ia menjadi bingung harus bicara apa, "A-aku aku, mengantuk. "Dalihnya terbata, mengakhiri percakapan, "Kenapa aku jadi gugup seperti ini, "Lanjutnya dengan gumaman.
"Tapi kamu terlihat ada masalah saat ini,
"Tidak ada apa-apa, aku hanya mengantuk, tapi kau menggangguku, "Seru gadis ketus.
"Baiklah kalau begitu, tadinya aku ingin bicara padamu, tapi kamu sudah mengantuk, yasudah besok saja kalau begitu kita bicaranya, selamat malam,
"Eh tunggu, apa yg ingin kau bicarakan? "cegah gadis, saat Raga akan keluar dari kamar,
"Tidak terlalu penting,
"Katakan sekarang, aku tidak ingin penasaran dengan apa pun,
Raga menyunggingkan senyum, "Aku hanya ingin bicara setelah therapyku selesai, kita akan kembali ke Jakarta, mungkin aku hanya akan melakukan satu atau dua kali lagi, dan setelah itu kita akan kembali ke Jakarta, aku harap sesampainya disana, kita dapat memperbaiki hubungan kita, "
__ADS_1
"Jika kau ingin memperbaiki hubungan pernikahan ini, kenapa harus menunggu sampai di Jakarta, kenapa tidak dari sekarang saja kau memperbaiki diri. "Ujar gadis sinis.
"Dis aku sudah memperbaiki apa yg membuatmu tidak mau menerima ku, sekarang apa lagi yg harus aku perbaiki? "jawab Raga tak terima, "Jika ada yg harus memperbaiki diri disini adalah kamu, sikapmu selalu semaumu, kau yg harus merubah dirimu, bukan aku, aku diam bukan karena aku menerima sikapmu, namun aku diam karena aku yakin dengan aku diam kamu akan berubah dengan kesadaran dirimu sendiri, tapi aku salah, sembilan bulan bukanlah waktu yg sebentar untuk aku menunggu kamu berubah, tapi aku mencoba sabar menunggu kamu berubah. hingga saat ini aku masih setia menunggu kamu untuk berubah.
"Apa-apaan, dia pikir aku Black Canary atau Mystique yg dapat berubah, "Ucap gadis dalam hati.
"Namun kamu berkata, aku yg harus memperbaiki diri, apa yg harus aku perbaik lagi? membiarkanmu, mabuk-mabukan? melihatmu disentuh oleh pria mana pun? membiarkanmu menggunakan pakaian yg mengexpose tubuhmu di hadapan semua orang? atau membiarkanmu bersenang-senang hingga pagi hari? Dis, kamu adalah wanita bersuami, mungkin kamu berpikir pernikahan ini adalah pernikahan palsu, atau pernikahan sejenisnya, tapi tidak denganku, bagiku pernikahan ini adalah pernikahan nyata, jadi sudah kewajibanku untuk melarang dirimu melakukan hal yg tidak seharusnya kamu lakukan.
"Kesabaranku ada batasnya, jika kesabaranku sudah habis, aku tidak bisa berjanji, jika aku akan perduli lagi dengan apa pun yg kamu lakukan, jika memang ada yg harus di perbaiki disini adalah kamu, "Ujar Raga serius,
"Aku sudah berusaha menjadi istri yg baik, aku sudah belajar memasak, aku juga menghindari pesta malam bahkan aku sudah tidak pernah lagi menyentuh minum-minum beberapa bulan ini, tapi apa, kau malah pergi meninggalkan aku tanpa kabar, apa itu adalah tanggung jawab yg kamu janjikan di depan tuhan, kau pergi demi menghindari keadaan dan masalah, apa kau pantas di sebut pria bertanggung jawab yg akan membahagiakan seorang istri,? apa kau tidak dapat melihat banyak perubahan dariku? bahkan kau seperti tidak ingin tahu dengan perubahanku--
"Aku tidak memintamu untuk pandai memasak, aku hanya ingin kamu berubah, menghargai aku sebagai suamimu, namun aku senang jika kamu memang berubah ingin menjadi istri yg lebih baik, dis, aku tahu bagaimana kondisiku waktu kita menikah dulu, aku memahami perasaanmu waktu itu, tapi sekarang aku sudah sembuh, tidak bisakah sedikit saja kamu membuka hatimu untukku. "potong Raga, melihat intens wajah gadis.
"Glek. "Gadis menelan salvianya berulang-ulang, kenapa Raga belum juga memahami perasaan dirinya yg banyak berubah, karena menurut gadis ia sudah sangat banyak berubah, "Kau itu pria yg menyebalkan, "Ucapnya keras.
Raga kembali mengerutkan dahinya, begitu banyaknya pembicaraan yg Raga sampaikan, namun hanya kalimat menyebalkan yg gadis katakan. "Gadis, sekarang aku bertanya padamu, ini pertanyaan terakhir yg akan aku tanyakan padamu, karena setelah ini aku tidak akan pernah bertanya lagi tentang apapun padamu. Apa tidak ada sedikit pun nama ku dalah hatimu selama ini? "tanya Raga serius.
Gadis tersenyum hambar, mengakui akan menurunkan imagenya, tidak mengakui akan memperburuk keadaan, namun egonya seperti mendorongnya agar tidak mengakuinya. "Aku menerima pernikahan ini hanya karena papa, seandainya papa tidak memaksa waktu itu, tidak mungkin aku menerima pernikahan ini, "Jawab gadis, berhasil membuat Raga diam,
"Baiklah, aku sudah tahu jawabannya, setelah kita kembali, aku akan mendatangi papa Darwin, mari kita berceri, "Ujar Raga berat.
Gadis melabarkan matanya terkejut. "Apa maksudmu dengan bercerai? "tanya gadis menggeleng tidak terima.
"Aku ingin sebuah rumah tangga, bukan sebuah drama, mari kita akhiri sandiwara ini "jawab Raga lalu bangkit dari duduknya hendak meninggalkan gadis.
"Tu-tunggu, tunggu Raga, "Gadis mengejar Raga, dan menarik lengannya, "apa yg kau katakan? aku tidak ingin bercerai, aku tidak ingin mengakhiri pernikahan ini, tolong jangan lakukan itu, "Seru gadis memelas.
Raga menatap bingung pada gadis, baru saja gadis berkata tidak akan mau menikah dengannya jika bukan karena papanya, dalam kata lain ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini, tapi kenapa dengan sekarang, ia memelas tidak ingin berpisah, drama apa lagi ini pikir Raga.
"Apa yg sebenarnya yg kamu inginkan dis? "tanya Raga.
"A-aku aku-- "gadis tidak meneruskan ucapannya, ia memilih diam untuk beberapa saat.
"Gadis, katakanlah apa yg ingin kamu katakan, "Raga menunggu gadis yg sedari tadi setia dengan diamnya. "Baiklah, sepertinya aku terlalu berharap kepadamu, aku anggap diammu sebagai jawaban ia untuk perceraian kita, "Lanjut Raga pergi meninggalkan gadis.
__ADS_1
Raga masuk kedalam kamarnya, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa keputusannya ini salah? memang benar gadis banyak berubah, namun untuk apa perubahannya jika sampai saat ini gadis belum juga bisa menerimanya. "Arrghh" Teriaknya, Raga menjambak rambutnya sendiri.